
'Sepertinya aku pernah melihat sepasang mata itu' gumam Alex dalam hati.
Sepasang mata yang Alex lihat bagai cahaya yang menenangkan hatinya, sangat berbeda dengan sepasang mata buram yang ada didepannya.
‘Apa iya itu Almira? Cara jalan dan juga pakaian nya sih iya’ Alex bertanya-tanya dalam hati.
Saat dua wanita itu duduk di meja no 15, salah satu dari mereka yakni wanita bercadar itu menoleh kearah Alex. Hal itu menguatkan dugaan Alex tentang wanita itu.
Alex mencoba melambai kearahnya dan wanita itu membuang muka persis seperti Almira.
“Orang tuaku telah salah memilihmu sebagai calon menantu mereka” sindir Beliana mengganggu Alex, “Selain sudah menikah, kau juga pintar menghina”
“Kau tidak ngaca? Disini kau yang pintar menghina, entah kau dapat dari mana pelajaran itu. Kau pasti mendapar sertifikat menghina terbaik di kampus terhina. Ups” canda Alex tertawa sendiri.
Byur
Sayangnya, Beliana tidak sesabar itu hingga mengguyur wajah Alex dengan sisa jus miliknya. Namun Alex tidak melakukan apa-apa, mungkin nanti.
“Kau tidaklah beda dengan sisa jus ini! Sama-sama bekas” maki Beliana dengan pose santai, “Kau jangan khawatir! Aku juga tidak akan sudi dijodohkan dengan dirimu. Jadi, jangan pernah mimpi melakukan malam pertama denganku”
Setelah itu Beliana memakai kaca matanya dan pergi begitu saja. Alex yang diguyur sangat ingin mengumbar amarah, namun sepasang mata istrinya itu sedang menikmati pemandangan memalukan ini.
‘Malu sekali aku dilihati begitu’ gumam Alex berdeham canggung.
Alex bangkit menata penampilan nya, lalu melangkah menemui dua wanita yang masih menatap kearahnya. Tanpa embel-embel permisi pria itu langsung duduk bergabung dengan mereka.
Alex mencondongkan wajahnya dan mengusapnya dengan kain cadar milik Almira.
“Tuan, jangan, kotor!!” pekik Almira sadar lalu menarik cadarnya dari wajah Alex.
Lalu Alex memperbaiki duduknya, “Sepertinya kau menikmati sekali aku diguyur air seperti tadi”
“Ti-tidak” jawab Almira terbata-bata.
“Buktinya, kedua matamu sampai ingin keluar! Rasanya aku ingin mengambilnya dan aku pajang di dinding villa” kata Alex dingin menakut-nakuti Almira.
Almira menelan ludahnya susah.
“Hei! Kau itu baru datang langsung mengomel… jangan gunakan kata-kata itu kepada sahabatku ya” marah Irene lalu melihat Almira yang menunduk saja, “Inikah suamimu Al? Kok perilakunya kayak anak psikopat”
Alex menyipitkan matanya heran, “Kau mengenalku?”
__ADS_1
“Tentu! Almira sudah menceritakannya kepadaku” jujur Irene membuat Alex besar kepala.
“Seberapa jauh kau mengunggulkan diriku?” tanya Alex penasaran melihat kearah Almira.
Sebelum Almira menjwab Irene lebih dulu tertawa, “Jangan terlalu percaya diri… Almira tidak pernah mengungulkan dirimu”
“Tidak ada yang bertanya denganmu” balas Alex tidak mau kalah lagi. “Sebaiknya kau pergi karena kau hanya menjadi obat nyamuk disini”
Irene membolakan kedua matanya, “Heii lihatlah, wajah dan perilakunya yang baik hanya di depan kamera. Entah bagaimana bisa masyarakat tertipu dengan wajah buruk sepertinya”
“Kamera?” alis Alex terangkat satu.
“Aku sering melihat wajahmu ada di brosur-brosur yang sering kutemui. Aku sempat tidak menyangka sahabatku akan menikah dengan dirimu dan ternyata perilakumu sangat buruk. Baguslah, setidaknya aku tidak menyesal telah membuang brosur itu ketengah jalan dan membiarkan kendaraan melintas dan melindas” ucap Irene tidak peduli.
“What!!” Alex terpaku dengan bola matanya yang ingin copot, “Kau membuangnya?”
Almira menjadi was-was takut kalau pria ini melukai Irene sahabatnya.
“Iya!” jawab Irene lantang dengan berkacak pinggang, “Aku membuangnya karena aku tidak butuh dan bingung juga mau aku simpan dimana. Alhasil, aku membuangnya saja”
Alex terkikik sinis lalu merubah mimik nya menjadi datar, “Kurang ajar!”
“Astagfirullah Al… kamu kasian banget sih dapet suami kok kayak gini” rintih Irene lalu teringat sesuatu, “Apa jangan-jangan ini yang kamu maksud dengan hambatan ya Al? Suami kamu ngelarang kamu buat nemuin—”
“Irene!!” pekik Almira membungkam mulut teman nya ini dengan segera. Takutnya Irene keceplosan, “Hem, maaf ya tu-tuan… teman ku Irene ini memang suka berbicara semaunya. Nanti akan aku ingatkan lagi”
“Tunggu dulu… tadi mau ngomong apa? Nemuin siapa?” tanya Alex sangat penasaran.
“Nemuin ustad Syahbana. Tadi malam sebenarnya ada pengajian ya Irene ya di pondok ustadz Syahbana…” Almira melepas bekapan tangan nya supaya teman nya ini bisa menjawab.
“Masak sih?”
Almira langsung menyikut lengan Irene, “Kamu kan alumni santri disana”
“Ahhh iya-iya… “ Irene pun mengangguk dan mencoba menambah alasan nya, “Aku selalu mengajakmu kesana dan kau selalu menolak kan… katanya tidak pantas lah! Nye nye nye”
“Shutt” sergah Almira karena wajah pria didepan mereka sudah sangat tidak percaya.
Pria itu hanya diam menyaksikan drama tanpa penghayatan mereka. Sangat ketara sekali jika mereka sedang berbohong.
“Ayo pulang” ajak Alex menarik lengan kanan Almira.
__ADS_1
“Ehhhhh” pekik Irene menarik lengan kiri Almira. “Mau kau bawa kemana temanku? Seenaknya jidat kau ya”
Alex mengernyitkan dahinya dan menepis genggaman tangan Irene pada Almira, “Dia ini istri saya dan kau… jika mau pegang-pegang harus ijin dulu dengan saya. BUKAN MUHRIM”
Langsung saja Irene mengeluarkan gelak tawa mengejek setelah mendengar ucapan pria itu. Sementara Almira terkejut dan Alex sendiri terlihat sombong betul.
Niatnya ingin sok pintar malah membuatnya dipermalukan.
“Kayaknya kamu bangga banget ya setelah mengatakan aku dan Almira itu bukan muhrim” ejek Irene menahan tawa.
“Kau pikir aku tidak tahu bahasa itu?” Alex yang merasa sok pintar itu segera menarik Almira lagi, “Ayo kita pergi saja”
“Eh Al—"
“Nggak papa Irene… aku pulang dulu ya! Sampaikan maafku kepada ustadz Syahbana” ucap Almira mengedipkan satu matanya memberikan kode lalu pergi.
“Ustadz Syahbana atau Ronald? Dasar pria angkuh!! Kasian sekali Almira” ucap Irene yang sudah tahu maksud perkataan itu.
Diperjalanan Alex masih memikirkan kata ‘Bukan muhrim’. Entah mengapa kata itu membuatnya dilema, takut jika dia salah mengartikan.
Sejenak Alex melihat Almira lalu melihat kearah jalan lagi. Ia berulang kali berdeham untuk melepas rasa gugup nya ingin bertanya.
‘Bagaimana jika wanita ini menertawai diriku karena bodoh? Tapi jika tidak bertanya, bisa-bisa aku mati penasaran’ monolog Alex dalam hati meremat kuat stir mobilnya.
“Ada yang ingin aku tanyakan” akhirnya Alex menurunkan egonya.
Almira menoleh dan kembali menunduk, “Iya boleh”
“Apa arti kata bukan muhrim?”
Almira yang terkejut mencoba tetap tenang, “Bukan muhrim itu, bila seorang wanita bersentuhan dengan seorang pria. Itu namanya bukan muhrim. Jadi, jika wanita sama wanita itu tidak apa-apa kayak aku sama Irene”
Alex menelan ludahnya sedikit malu dengan kalimat terakhir Almira. Namun ada kata yang masih ia bingungkan.
“Kata muhrim sendiri apa?” tanya nya masih belum paham sembari menyetir.
“Keturunan” jawab Almira sebisanya.
“Bukan muhrim, bukan keturunan…” Alex mencerna lalu tersentak sampai membulatkan kedua matanya, “Berarti aku tidak boleh menyentuhmu? Kan kita bukan muhrim”
To be continued
__ADS_1