
Almira sadar jika satu hari penuh telah lupa untuk menemui dirinya. Namun, dibalik itu bukankah Almira masih mengingat Ronald dengan membeli barang-barang untuk anaknya? Hanya saja Ronald belum tahu akan hal itu.
Almira memperbaiki posisi Ronald supaya menghadap dirinya, "Ronald, ibu minta maaf karena belum sempat menemui Ronald. Ibu mengakui itu, tapi ibu melakukan itu karena ingin memberi Ronald kejutan"
"Ibu bohong" balas Ronald manyun.
"Ibu tidak bohong! Hem, kau mau apa? Baju baru, mainan baru, sepatu baru, atau perlengkapan sekolah baru?" tanya Almira menyerbu dengan berbagai opsi.
Lalu apa Ronald akan suka? Tentu saja anak ini akan bahagia karena ibunya yang memberinya banyak pilihan. Tandanya...
"Apa ibu punya uang untuk membeli baju, mainan dan yang lainnya?" antusias Ronald.
"Tentu sayang! Ibu punya uang dan Ronald bisa meminta apapun" jawab Almira berhasil membuat wajah Ronald nampak senang.
Anak ini langsung berpikir keras, "Aku mau sepatu baru, ibu"
"Kita telpon kurirnya langsung ya"
Ronald mengangguk semangat. Sementara Almira segera menghubungi supir taxi tadi untuk membawakan barang-barang nya.
"Tunggu ya sayang"
Berapa menit kemudian terdengar suara ketukan pintu. Ronald yang tidak sabaran memilih untuk membukanya sendiri.
Cklek
"Waw" pekik Ronald terkejut setelah membuka pintunya. Ia melihat banyak sekali barang-barang dan supir taxi berdiri didepan.
"Atas nama ibu Almira?"
"Saya" jawab Almira memberikan bayaran. "Terimakasih ya pak"
Pak supir itu mengangguk lalu pergi, meninggalkan Ronald yang sedang berbahagia mendapat kejutan. Anak itu memegang semua barang-barang tersebut.
"Al, ini beneran kamu yang beli?" tanya Irene agak berbisik di telinga Almira.
"Nanti aku ceritakan" jawab Almira sejenak, lalu kembali mendekati Ronald. "Ronald suka?"
"Suka!!"
"Kalau begitu bawa semuanya kedalam rumah. Nanti kalau ada yang lihat bisa dianggap ria" nasihat Almira memasukan semuanya kedalam rumah.
Beberapa menit berlalu...
Almira tidak berhenti tersenyum melihat antusias Ronald anaknya yang mencoba beberapa baju yang dibelikan Vara, serta membuka kemasan mobil mainan.
Ada rasa senang melihat anaknya sebahagia itu, ada juga perasaan gelisah, takut jika Ronald akan marah jika tahu kebenaran ini.
"Ronald suka?"
__ADS_1
"Suka ibu" jawab Ronald tanpa melihat kearah Almira karena fokus dengan mainannya.
"Sebenarnya, tidak semua dari ibu. Ada juga seseorang yang membelikan baju dan mainan untuk Ronald"
Ronald menghentikan kegiatannya lalu melihat kearah Almira, "Siapa ibu?"
"Hem, sini deh" pinta Almira melambaikan tangannya supaya anaknya itu datang. Dan benar saja, anaknya itu langsung datang.
"Ronald suka dengan nenek tidak? Apa Ronald pengen punya nenek?" tanya Almira pelan-pelan.
Sejenak Ronald berpikir, "Waktu pertama kali Ronald masuk sekolah. Ada teman Ronald yang diantar neneknya! Ronald juga pengen diantar nenek Bu. Apa kita akan bertemu dengan nenek?"
"Barang-barang ini dari nenek buat Ronald loh" kata Almira mencoel ujung hidung Ronald.
"Apa iya Bu?"
"Iya" jawab Almira mengangguk.
"Jadi, Ronald punya nenek?"
Almira mengangguk, membuat Ronald semakin bahagia melompat-lompat kegirangan.
"Horeee Ronald punya nenek. Nenek membelikan Ronald banyak mainan ini ya Bu?"
"Iya" Almira kembali mengangguk.
"Nenek siapa yang kamu maksud Al?" tanya Irene memilih bertanya.
"Ibunya tuan Alex"
Kedua mata Irene membola karena terkejut, "Astaghfirullah Al, kamu bohongin Ronald? Tuan Alex itu kan bukan ayahnya Ronald, otomatis kedua orangtuanya itu bukan neneknya Ronald"
Almira melangkah menarik Irene menjauh dari Ronald yang sedang asik bermain.
"Aku tahu Irene. Tapi, ibunya tuan Alex mengira bahwa Ronald itu cucunya. Dia mengira bahwa tuan Alex mau menikah karena telah menghamiliku. Dan tuan Alex malah mengakui itu didepan ibunya. Jadi, aku tidak bisa apa-apa selain mengikuti mereka berdua" jelas Almira.
"Tapi itu akan menjadi semakin rumit Al. Bagaimana kalau mertuamu itu tahu jika Ronald bukan cucunya?" cemas Irene.
"Mungkin kami akan diusir. Tidak masalah, kami sudah biasa hidup berdua bersama" jawab Almira membuat Irene terharu.
Sahabatnya itu memegang kedua bahu Almira, "Aku juga ada bersama mu. Jangan lupakan aku ya!"
"Tidak ada niatan aku ingin melupakan dirimu. Kau adalah teman, sahabat, keluarga yang tebaik untukku" jawab Almira memeluk Irene sahabatnya.
"Sekarang aku ingin mengabari mertuaku terkait masalah ini. Dia sangat ingin bertemu dengan Ronald. Setidaknya, dia bisa merasakan menjadi seorang nenek dan Ronald bisa merasakan rasanya mempunyai nenek" ucap Almira mengambil ponselnya.
"Iya-iya Al..."
Jawab Irene tersenyum. Asalkan sahabatnya ini bahagia, maka dia pun juga sama. Kebahagiaan Irene yang begitu sederhana.
__ADS_1
_____
"Really!!!!" pekik Vara setelah mendapatkan kabar bahagia ini dari gagak menantunya. Saking kagetnya, ia sampai beranjak dari tempat duduk.
"Iya macan, Ronald sudah menerima dan dia suka jika punya nenek" jawab Almira diseberang telpon.
Vara yang kelewat bahagia bingung harus berbuat apa, "Hem... aku ingin bertemu dengan cucuku. Kirim lokasinya, aku ingin kesana"
"Sekarang?"
"Iyalah!! Masa tahun depan" ketus Vara memutar bola matanya malas.
"Iy-iya macan. Almira akan segera kirim lokasinya ke macan ya" jawab Almira gugup.
"Ya udah! Kamu sama Ronald itu tunggu disana, macan akan datang sebentar lagi" ucap Vara mengapit ponselnya diantara telinga dan bahu, karena kedua tangannya sibuk mencari-cari baju saking antusiasnya.
"Iya macan, hati-hati"
"Hm"
"Assal---"
Tut
Ucapan Almira terpotong saat Vara memutus telponnya secara sepihak. Astaga, anak dan ibu sama saja. Tidak pernah mengucapkan salam dan harus diajarkan.
Sejenak Almira mengingat awal pernikahan, dimana Vara bersikap buruk terhadap dirinya. Namun, melalui ini sikap Vara berubah.
"Mungkin ini, jalan dari Allah untuk menyatukan hubungan keluarga hambanya" monolog Almira merasa bersyukur.
_____
Sementara itu dikediaman Hedwin. Vara sangat-sangat tidak sabar ingin bertemu dengan anak Almira yang ia aku sebagai cucunya.
"Astaga! Aku ternyata punya cucu... aku masih tidak percaya! Akhirnya garis keturunan Hedwin tidak putus" gumam Vara.
Saat wanita ini sedang senang, lalu kenapa dengan ekspresi Stevano kali ini. Wajahnya yang muram seakan tidak memiliki gairah hidup.
"Kau kenapa?" tanya Vara sambil memakai antingnya. "Apa kau tidak mau bertemu dengan cucumu? Aku yakin anak Alex itu akan mirip dengan Alex kecil"
"Papah masih tidak percaya jika Alex punya anak dari wanita itu" jawab Stevano setelah banyak merenung.
Vara menghela nafas jengah dengan suaminya ini. Tidak sekali Stevano mengatakan itu, tapi sudah berulang-ulang kali dan itu membuat Vara muak.
"Papah! Sudah mamah beritahu kepada papah sedari awal kan, kalau Ronald itu memang anak Alex... cucu kita pah!! Orang Alex sendiri yang mengakui itu" bantah Vara.
"Coba kita tes DNA saja"
To be continued
__ADS_1