
Setelah menyiapkan kemeja biru tua yang Alex inginkan, Almira segera mengganti pakaiannya karena tadi sehabis masak ia lupa berganti pakaian.
Ting
Pesan masuk didalam ponsel Almira. Karena itu dari Irene, pasti itu juga dari anaknya.
Almira yang tersenyum segera membaca, 'Ibu, ibu ada dimana? Bibi Irene bilang akan mengantar diriku ke sekolah untuk mendaftar lagi. Apa ibu akan mengantarku?'
Almira yang sedih itu masih bisa membalas, 'Ibu akan mengantar Ronald. Tapi untuk sekarang ibu sedang ada pekerjaan. Ronald kan sudah besar dan pintar, jadi berangkat dengan bibi Irene dulu ya sayang?'
Pesan itu telah dibaca Irene untuk anak yang belum bisa membaca berdiri didepannya.
"Ronald, ibu sedang kerja! Jadi, Ronald berangkat dulu dengan bibi Irene ya? Atau Ronald mau di antar sama bibi Elma juga?" antusias Irene supaya Ronald tidak sedih.
Namun, anak itu mengerucutkan bibirnya kesal. "Ronald mau ibu... Ronald mau ibu yang mendaftarkan Ronald"
"Ronald sayang! Katanya Ronald mau jadi Superman... Superman itu berani sendirian loh, masak Ronald nggak mau sekolah kalau nggak sama ibu? Ih Cemen" ejek Irene pura-pura.
"Superman itu pas sekolah sendirian ya bi?" polos Ronald bertanya.
"Iya, Superman nggak perlu diantar ibu. Kan Superman itu pemberani, nggak kayak Ronald" ejek Irene lagi walau ia nyaris tertawa.
Bibir Ronald masih manyun. Entah dia sedang memikirkan apa sampai membuat pipi putihnya itu nampak bulat.
Cup
Irene yang gemas langsung menyambar pipi Ronald. "Jangan diam. Ibu sudah masak makanan yang banyak untuk Ronald... ayo makan"
"Superman juga makan masakan ibu ya Bi?"
"Tentu saja! Makanya itu Superman menjadi pahlawan" balas Irene dengan antusias.
"Ya sudah! Ronald akan makan supaya bisa menjadi Superman" antusias Ronald mengangkat kedua tangannya.
"Ayo-ayo habiskan... nanti kita ke sekolah naik motor Scoopy nya bibi Elma, Ok?" tanya Irene memberikan jempolnya.
Ronald membalas memberikan jempol kirinya dengan semangat, "Nanti Ronald didepan ya?"
"Nggak usah! Paling belakang aja"
______
Kembali ke Villa
Saat ini Almira sedang menyiapkan perlengkapan kerja Alex. Sementara pria itu sedang memakai kemejanya dilanjut dasi hitamnya.
"Almira bantu aku pakaikan dasi ini" pinta Alex mendekati Almira.
"Tapi aku tidak bisa memakaikan dasi seperti itu"
"Bukankah waktu SMP atau SMA juga memakai dasi? Kau tetap tidak tahu cara memakainya?" tanya Alex merasa tidak mungkin.
"Aku meminta bantuan temanku" jawab Almira jujur.
__ADS_1
Alex menghela nafas, "Ya sudah, Kemarilah... aku akan mengajarkan mu cara memakaikan dasi"
"Tidak us--"
Potong Alex menarik kedua tangan Almira dan menaruhnya di kedua ujung dasi di depan dada Alex.
"Jika ada orang yang sukarela mau mengajarkan dirimu itu kau harus bersyukur, bukannya malah menolak. Aneh!!" omel Alex dan Almira hanya diam saja.
"Ini aku harus bagaimana?" tanya Almira bingung.
"Ujungnya yang tebal itu dibawa secara horizontal melintasi bagian depan"
"Begini?"
Alex menghela nafas kesal saat wanita ini melenceng dari arahannya. Namun Alex dengan pelan-pelan tetap mengajari Almira memakai dasi supaya kedepannya bisa selalu membantunya.
Walau lama dan membutuhkan perjuangan, Almira berhasil memakaikan dasi Alex.
"Sudah!" kata Almira dengan bangga sambil tersenyum.
"Mau diulang supaya kau bisa?"
"Heh jangan" pekik Almira menolak sambil menggelengkan kepalanya. "Aku sudah berusaha keras memakaikan dasi untukmu. Jadi, jangan di ulang karena rasanya pasti akan berbeda"
Alex memperhatikan seluruh wajah Almira dengan seksama. Tanpa mendengarkan suara hanya wajah Almira yang menjadi perhatian utama.
"Hem, aku akan ambilkan tasmu" kata Almira supaya mengalihkan perhatian Alex. Namun, pria ini masih menatap wajah Almira.
"Ini" Almira memberikan tas berisi berkas Alex. "Oh iya, kau harus sarapan kan? Akan aku ambilkan... sebentar"
"Kau membutuhkan sesuatu?"
Alex berdeham melangkah mendekat, "Apa boleh aku melakukan sesuatu? Sekaliiii saja..."
Almira yang bingung itu menelan ludahnya sedikit bingung. "Se-sesuatu apa?"
"Hem" Alex menelan ludahnya kasar lalu menarik nafas dalam-dalam, "Boleh aku mencium mu?"
Blush, wajah Almira memerah seperti kepiting rebus yang ada di restoran. Bedanya ini versi cantik dan manis.
"Jika tidak boleh aku juga tidak akan memaksa dirimu" ucap Alex tidak mempermasalahkan.
"Boleh" jawab Almira membuat Alex terkejut.
Rejeki nomplok untuk Alex. Pagi-pagi begini memang enak mencicipi bibir istrinya yang ranum dan berisi itu.
"Cium pip--"
Cup
Kedua mata Almira membulat sempurna saat bibir pria itu menyentuh bibirnya. Ia pikir yang dimaksud mencium itu, hanya diarea pipi, dahi saja.
"Tidak boleh?"
__ADS_1
"Bukan begitu. Hanya saja aku terkejut" jawab Almira gugup saat Alex menarik pinggangnya semakin merapat.
Alex menyelipkan anak rambut Almira kebelakang telinga dengan wajah yang serius dan begitu dekat. Entah mengapa itu membuat Almira semakin gugup.
"Aku bertanya kepada Kiran yang paham dengan agama. Dia menjelaskan kepadaku tentang status muhrim dan kau membohongi ku waktu itu. Kenapa?"
"Bukan apa-apa! Aku hanya bercanda" balas Almira semakin gugup.
Alex tersenyum miring, "Jadi, status muhrim itu adalah status yang bebas. Maksudnya, mereka bisa melakukan apapun asal itu hal yang baik. Begitu kan?"
"Bisa dibilang begitu"
Alex semakin tersenyum mendengar jawaban Almira serta melihat dia mengangguk.
Tanpa sadar Alex telah menyambar kembali bibir Almira hingga berniat menelannya, jika bisa. Persatuan dua benda itu semakin dalam serta kedua tangan Alex semakin melilit pinggang Almira.
Entah mengapa keduanya terbuai seperti ada rasa sampai kedalam jiwa.
Tiba-tiba...
"Alex, aku bar----aaarkkk"
Pekik Angela membalikan badannya membelakangi dua orang yang tidak sopan itu. Karena kedatangan Angela membuat keduanya menjauh.
"Kalau ingin berciuman itu di tutup pintunya. Bodoh!!!" umpat Angela sakit hati.
Alex mengumpat kasar dalam batinnya, "Sudah tahu pintu terbuka itu harus hati-hati"
"Hallah! Kalian aja yang lupa kalau ada aku di villa ini" kesal Angela bersidekap.
"Ak-aku" gugup Almira segera kembali bersiap memakai hijab, "Aku harus ke dapur untuk menyiapkan kalian makan. Permisi"
Almira main nylonong pergi meninggalkan Angela dan Alex.
Angela kembali menghadap Alex, "Kalian melakukan itu tiap pagi?"
"Iya" jawab Alex bohong. "Kenapa?"
"Aku nggak terima" celetuk Angela penuh penekanan.
Alex yang dengar langsung ketawa dan mengusap kasar rambut Angela, "Kalau kau pengen, kau bisa pergi mencari pacar di Indonesia. Supaya tidak mengganggu pasangan suami istri lagi"
"Ihhhh Alex!!!!" pekik Angela menghentakkan kakinya ke lantai.
"Salah siapa mengganggu diriku" kata Alex melangkah pergi keluar menemui Almira yang sedang menyiapkan makanan di dapur.
Namun, entah mengapa ia melihat Almira berdiam seperti patung disana.
"Almira kau kenap---"
"Selamat pagi" sapa Vara tersenyum dengan duduk di kursi ruang makan.
Alex yang bingung dengan kedatangan Vara itu segera bertanya, "Mamah ngapain kesini?"
__ADS_1
"Duduklah! Mamah ingin bicara dengan dirimu"