
Wajah Vara langsung cemberut mendapat nasihat dari cucunya ini. Jika Almira yang memberi nasihat, sudah pasti dia tidak akan terima.
Inikan Ronald, cucu nya macan Vara.
‘Untung dia cucu ku’ gumam Vara dalam hati. Wanita ini diam ditertawai oleh Almira dan juga Irene.
___
Vara duduk di ruang tamu rumah menantunya yang pas-pasan, tanpa ace ataupun pendingin yang mendinginkan udara panas di ruangan itu bersama dengan Almira, sementara Ronald sedang bermain mobil-mobilan.
“Aduh panas banget sih rumah mu ini” sindir Vara mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.
“Tadinya Almira mau masang ace dulu sebelum mamah datang! Tapi karena nggak keburu, jadi Almira tunda” balas Almira.
Vara menghela nafas jengah.
“Minuman nya dan hidangan nya tante… maaf ya cuma bisa ngasih hidangan kecil-kecilan” kata Irene membawakan hidangan nya dari dapur.
“Itu minuman apa, darimana, higienis nggak?” tanya Vara membuat Irene jengkel, “Itu juga, kue nya beli dimana? Apa, kalian yang buat sendiri?”
Almira agak takut setelah melihat wajah Irene yang masam. Takutnya, sahabatnya itu tidak sabar dan berkata yang kasar.
“Mamah ten—”
“Ini air nya, air mineral. Disaring dengan saringan yang berkualitas serta menyatukan tiga pegunungan sekaligus. Kita beli air mineralnya aja yang tutup nya masih segelan. Dan ini kuenya beli di tempat nya pak Totok depan gang, higienis banget, tepung nya aja disaring berkali-kali sampai bener-bener jadi debu hampir nggak kelihatan. Masih kurang higienis?” kata Irene sudah persis seperti bintang iklan.
Almira ingin tertawa, namun ia tahu Irene sedang kesal. Apalagi jika melihat mertuanya ini yang kurang sopan.
“Biasa aja kali” balas Vara mengubah ekspresi Irene.
Gadis ini benar-benar dibuat membara oleh perkataan ibu mertua Almira.
“Kamu itu siapa ya?” tanya Vara seperti orang yang tidak suka dengan kehadiran Irene.
Irene merangkul bahu Almira, “Aku sahabatnya yang selalu disebelah Almira ku yang manis ini. Aku juga bibi Ronald”
“Oh” balas Vara acuh.
“Aish” gumam Irene kesal saat Vara mengabaikan.
“Jika aku lihat-lihat rumah mu ini kecil banget ya! Tempat ini mirip apartemen, tapi agak kumuh. Masak iya cucu ku tinggal di tempat kumuh kayak gini” sindir Vara lagi.
Almira menunduk dengan senyuman, “Kami sudah merasa cukup dengan apa yang kita miliki. Ronald juga tidak mempermasalahkan kekurangan ibunya, dia anak yang pintar”
“Mirip Alex! Waktu kecil Alex juga pintar” balas Vara menyamakan kepintaran putranya dengan Ronald. “Apa dia selalu mendapat peringkat satu di kelasnya?”
“Ronald baru masuk TK. Jadi, Almira belum melihat akademik Ronald” balas Almira.
__ADS_1
Vara menjentikkan jarinya, “Bagus! Kalau begitu, bagaimana kalau Ronald disekolahkan di sekolahan yang elit? Pengajarnya yang berkelas dan teman-teman yang berkelas juga. Selain itu, Ronald akan ikut les piano, biola, bela diri, renang, badminton, bahasa inggris”
Almira tidak suka. Menurutnya itu terlalu keras untuk bocah se kecil putra nya.
“Mah, tidak ada waktu Ronald untuk istirahat. Bahkan, pendidikan keagaamaan saja tidak ada” kata Almira memberatkan.
“Nggak masalah! Dulu Alex juga mengikuti semua jenis les. Dan lihatlah sekarang, dia menjadi pengusaha sukses dan memiliki cabang dimana-mana. Dia sempurna tanpa ada kekurangan”
“Tidak semua dimiliki mas Alex, mah. Ada satu yang mas Alex tidak pahami dan membutuhkan bimbingan orang lain. Mas Alex membutuhkan itu, tapi yang mamah ajarkan hanya cara untuk bisa menjadi lebih tinggi. Tanpa tahu, itu asalnya darimana”
“Usaha keras Alex itu sendiri” bantah Vara membuat Almira diam mengalah. “Kamu jangan ngajarin saya ya! Saya lebih tua dari kamu dan pengalaman saya lebih banyak”
“Iya mah, maaf” kata Almira mengalah.
“Ronald, sini sayang” panggil Vara dan Ronald segera mendekat. Ia mendudukkan Ronald di pangkuan nya.
“Iya nenek?”
Bibir Vara memanyun sesaat, “Kok manggil nya nenek sih? Nenek itu terdengar katrok dan kampungan”
“Terus Ronald harus manggil apa?”
“Panggil oma saja”
“Oma” kata Ronald mengikuti kemauan Vara yang segera mencium pipi nya.
Ronald tersenyum mendengar pujian itu, bahkan ia menerima usapan tangan oma nya dibagian kepala.
“Oh iya, selain oma Ronald juga punya Opal oh” antusias Vara memberitahu.
Ronald terkejut sampai membuka mulutnya lebar-lebar, “Oh iya! Benarkah, Ibu?”
“Kok tanya ibu kamu? Kan Oma yang ngasih tahu” kata Vara memegang kedua belah pipi lembut Ronald.
“Memangnya dimana Opa, Oma?” tanya Ronald penasaran.
“Opa ada di rumah. Dia sangat rindu dengan Ronald dan berharap Ronald datang kesana… Opa juga sering sakit kepala dan tidak ada yang memijat nya” kata Vara memelas.
“Ronald bisa memijat kepala Opa. Dulu waktu Ibu sakit kepala, Ronald yang memijat kepala nya dan ibu selalu ketiduran dan Ronald segera menyusul tidur disebelahnya” kata Ronald menceritakan.
Almira yang mendengar merasa terharu. Ia ingat sekali moment-moment saat tangan kecil Ronald memijat kepala nya.
‘Sangat teduh’ perasaan Almira dalam hati.
Vara juga tersenyum tapi sinis lalu berkata, “Ronald mau tidak memijat kepala Opa? Kasian Opa di rumah tiduran terus dan nggak ada yang memijat kepalanya. Sebagai gantinya, Ronald bisa bermain dengan Opa setelah sembuh nanti”
Ronald turun dari pangkuan Vara dan mendekati Almira.
__ADS_1
“Ibu, apa Ronald boleh ke rumah Opa? Opa sedang sakit kepala, Ronald mau memijat” kata Ronald meminta ijin.
“Gila, baru datang langsung ngajak pergi. Jangan boleh Al” bisik Irene di telinga Almira. Almira segera menyenggol lengan Irene supaya diam.
“Hem, Ronald mau ke rumah Opa?”
Ronald mengangguk, “Iya, jika ibu mengijinkan”
Almira resah! Ingin rasanya ia menolak permintaan Ronald, namun anak ini pasti akan merasa kecewa. Walau mulut berkata tidak.
“Kau tenang saja Al, aku ini oma nya… Ronald cucu ku. Aku pasti akan menjaganya dengan baik” kata Vara mencoba meyakinkan menantunya itu.
Almira mengusap sebelah pipi Ronald, “Apa Ronald ingin bermain dengan Opa?”
“Ronald ingin sekali bermain dengan Opa! Tina selalu memamerkan kakeknya yang ompong, Ronald juga ingin membalasnya. Tapi, kalau Ibu tidak mengijinkan, Ronald tidak akan ikut” kata Ronald penuh harap.
Irena dan Almira saling lihat. Irene paham maksud Ronald berbicara seperti itu dan ia tidak berhak melarangnya.
“Ibu mengijinkan Ronald ikut dengan Oma”
“Hore!!!!” Ronald memeluk Almira tanda berterimakasih. “Ronald janji jadi baik”
Ronald memberikan jari kelingking nya dan Almira segera menyatukan jari kelingkingnya.
“Ibu percaya dengan Ronald” kata Almira memeluk kembali.
Tiba-tiba wajah Ronald berubah muram, padahal Almira sudah mengijinkan nya. Apalagi yang anak ini mau?
Pelan-pelan Ronald mendekati Vara, “Oma, bolehkah ibu ikut dengan kita? Ronald tidak bisa tidur tanpa melihat wajah ibu”
Aduh males, begitulah batin Vara. Namun saat ingin menolak, ia tidak tega melihat wajah Ronald yang begitu melas dan serasa memohon.
“Baiklah! Oma ijinkan”
“Hore!!! Terimakasih Oma” kata Ronald juga memeluk Vara.
____
Sementara itu di rumah sakit, Alex sedang menunggu Angela sadar dari pingsan. Ia menjaganya dan merawatnya sebagai bukti tanggung jawabnya terhadap wanita ini. Gara-gara dirinya Angela menjadi demam.
“Sorry!” lirih Alex duduk disamping ranjang Angela.
Drettt
Alex segera mengambil telpon nya dan mengangkat, “Iya, tante Mimilia?”
“Arsen, dia sudah sadar dari komanya”
__ADS_1
To be continued