NODA DI BALIK CADAR ISTRI KONTRAK

NODA DI BALIK CADAR ISTRI KONTRAK
Jeles


__ADS_3

Akibatnya Stevano harus wudhu lagi dan itu membutuhkan waktu lama karena Stevano lupa cara melakukan wudhu. Dasar Vara!!.


_____


Meninggalkan kegiatan berfaedah mereka, kini kembali ke Almira yang baru saja sampai di kamar yang telah pelayan siapkan. Wanita ini sedang mencari-cari sesuatu yang hilang.


“Kemana aku menyimpan obat Ronald yah? Tadi seingatku sudah masukin kedalam tas, kok nggak ada? Inikan udah waktunya Ronald makan” monolog Almira cemas.


Walaupun Ronald sudah dinyatakan sembuh, tetap saja anak itu harus terus meminum obat sesuai anjuran dokter.


“Aku pergi ke apotek aja kali ya” gumam Almira menentukan pilihan. Ia pun mengambil tas nya dan bergegas keluar.


Sebelumnya Almira menemui kepala pelayan yang tadi mengantarnya, “Mbak nanti kalau ada yang nyariin, bilang nya lagi keluar sebentar ya”


“Oh iya nyonya. Biar supir yang mengantar ya nyonya soalnya ini sudah malam” tawar si pelayan tidak tega.


“Tidak usah! Aku bisa sendiri terimakasih”


“Baiklah kalau begitu nyonya hati-hati di jalan nyonya” ucap si pelayan lagi dan Almira segera pergi setelah mengucap salam.


Beruntung saja depan rumah mertuanya itu jalan raya, otomatis Almira dapat dengan mudah mencari taxi untuk di tumpangi.


“Taxi!” panggil Almira dengan melambai dan taxi pun berhenti.


“Almira!!”


Kepala Almira menoleh kebelakang, terlihat wajah suaminya Alex terpampang disana. Pria itu berdiri didepan mobilnya yang sudah berhenti.


“Tuan Alex disini?”


“Kamu mau kemana malam-malam begini? Sendirian lagi” kata Alex terdengar seperti mengomel. Ditambah pria ini berkacak pinggang dan mendekatinya.


“Ak-aku mau pergi ke apotek Tuan”


“Ngapain? Kamu sakit?” mimic wajah Alex langsung berubah khawatir serta matanya menelusuri sekujur tubuh Almira.


“Oh nggak kok Tuan! Hem, aku lupa bawa vitamin nya Ronald. Vitamin itu selalu diminum sebelum makan dan tidak boleh absen”


“Ketinggalan?”


“Nggak tahu! Kayaknya aku mau pergi beli yang baru aja deh” kata Almira membalas pertanyaan Alex.


“Ya udah aku antar” ucap Alex menemui supir taxi, “Pak nggak jadi! Bisa lanjut jalan”


Setelah itu Alex menarik lengan Almira menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh tempat keduanya berdiri.


“Tuan Alex nggak jadi menemani Angela di rumah sakit?” tanya Almira sebelum masuk kedalam mobil.


“Tidak, udah ada orang yang aku mintai jaga. Sudahlah, jangan banyak omong dan masuk saja apa susahnya sih!” balas Alex mengisyaratkan Almira untuk segera masuk kedalam.

__ADS_1


____


Rumah sakit Sidney


Pyar


Nampan berisi makanan pasien itu berhamburan di ruangan milik anggota keluarga Darson. Arsen yang murka telah melemparnya ke lantai.


“Aku tidak butuh makanan sampah ini. Dimana wanita baya yang berjaga disini?” tekan Arsen mencari Mimilia.


“Be-beliau sedang pulang dan sampai sekarang belum pulang, Tu-tuan” gugup si perawat yang ada di sana.


Arsen menggerakan jarinya memanggil si perawat, “Kemari”


Perawat itu datang dengan langkah yang pelan dan sangat ketakutan. Dari rumor yang menyebar, banyak perawat yang sudah memilih risign akibat ulah Arsen yang kasar. Tapi, tidak ada yang bisa melawan, sebab kedudukan Arsen jauh lebih tinggi dari mereka.


Dan perawat ini sangat takut.


“Kemari” sentak Arsen menjambak rambut perawat itu, “Jika dia belum datang. Maka jangan biarkan siapapun mengurus diriku… aku tidak sudi tubuhku disentuh wanita seperti dirimu...”


“Su-sudah tugas saya merawat pa-pasien di-disini tuan” kata Perawat itu memegang rambutnya yang masih di Tarik.


“Begitu ya! kau pasti juga merawat diriku saat aku menjadi mayat, menggantikan infus ku, bajuku dan kau pasti menikmati melihat tubuhku” sentak Arsen dan perawat itu langsung menggeleng.


“Tidak tuan. an-anda salah...”


Arsen yang geram itu mencabut pisau yang sebelumnya menancap di buah apel diatas nakas.


Srett


“Aaaarrrrrr”


Darah dari pipi perawat yang tergores itu bercucuran ke lantai, menjadi bukti kekejaman seorang Arsen yang ditakuti orang-orang.


“Aaaaaa da-darah pi-piku” perawat itu terjatuh ke lantai dengan memegang sebelah pipinya yang terluka. Dia juga menangis.


Inilah sifat Arsen, pria yang juga menggoreskan luka di hati Almira dan juga mengambil hal paling berharga dalam hidupnya.


________


Apotek


Mobil yang Alex kendarai berhenti di seberang jalan raya yang padat kendaraan. Akibatnya ia akan susah mencari tempat untuk parkir.


“Turunlah, aku akan menyusul setelah memarkirkan mobil ku”


“Tidak usah tuan! Aku hanya sebentar, setelah itu aku akan langsung kembali” Almira melepas seat bealt setelah mengatakan itu.


“Ya sudah”

__ADS_1


Almira pun turun dari mobil dan meninggalkan Alex yang sedang mencari parkiran. Ia buru-buru masuk kedalam apotik.


“Beli obat sesuai resep yang tertulis ya mbak” kata Almira setelah memberikan secarik kertas supaya mudah mencarinya.


“Ini mba, totalnya 700 ribu” kata si penjaga apotik setelah memberikan obatnya.


Sebagai gantinya, Almira memberi uang, “Ini uangnya. Makasih”


Hanya sebentar saja! namun, saat Almira ingin keluar dari apotik tiba-tiba ia bertabrakan dengan seorang pria memakai koko dan sarung serta peci. Seperti santri!.


“Astagrfirullah! Maaf-maaf” kata pria itu menyatukan kedua tangan nya.


Almira hanya mengangguk tanpa mengangkat wajahnya, lalu kembali berjalan.


“Tunggu dulu” tahan pria itu dan Almira segera berhenti, “Mbak ini, Almira ya?”


Almira yang tadinya menunduk pun mendongak melihat wajah pria itu, tidak lama ia pun menunduk kembali.


“Benar kamu Almira! Masyallah… saya tidak menyangka akan bertemu kamu disini”


“Eh ustadz Niam. Bukan nya Ustadz ada di Mesir ya?” tanya Almira basa-basi.


Niam itu adalah ustadz sekaligus pengajar di pondok ustadz syahbana. Beliau ini adalah saudara Elma sahabatnya.


“Saya kembali lagi ke Indonesia karena di Mesir saya kurang beradaptasi” balas ustadz itu.


“Oh begitu”


“Ngomong-ngomong, kamu sedang apa disini? Beli obat buat siapa?” tanya Ustadz Niam yang sejujurnya ingin berlama-lama dengan Almira.


“Buat Ronald ustadz”


Ustadz Niam merasa bingung, “Ronald masih sakit? Aku dengar dari Elma kalau Ronald sudah sembuh”


“Akibat operasi itu efek nya kepala Ronald akan mudah sakit. Jadi, Ronald harus terus meminum obat nya” jawab Almira merasa risih. Risih dengan Ustadz Niam dan juga suaminya yang pasti sedang menunggunya lama.


“Saya permisi dulu, ustadz”


“Kamu datang kemari sendirian ya? bagaimana kalau saya antar? Nggak baik perempuan di luaran rumah malam-malam” tawar si Ustadz.


‘Sepertinya Elma tidak bercerita dengan Ustadz Niam kalau aku udah nikah. Ih nyebelin dia…’ monolog Almira dalam hati.


“Tid—” potong Almira saat melihat wajah dingin suaminya terpampang seperti penampakan di depan dinding kaca apotik. “Tidak usah ustadz”


“Tidak apa-apa Al… saya nggak sibuk kok. Didalam mobil saya juga ada supir, jadi tidak akan timbul fitnah” tawar ustadz itu lagi.


Mata Almira masih melihat kearah suaminya. Alex memberikan jempolnya, namun setelah itu ia goreskan ke leher.


“I Kill you”

__ADS_1


TBC


__ADS_2