
"Mau dia hamil atau tidak, aku tidak peduli. Anggap saja itu bayaran setelah melayani diriku. Tapi, aku tidak akan memberikan wanita itu hidup dengan tenang setelah melukai diriku" tekan Arsen penuh dendam.
"Dia harus diberi pelajaran Arsen, mommy tidak terima jika wanita itu hidup tenang membawa kabur keturunan Darson setelah melukai dirimu" ucap Mimilia juga menyetujui keputusan anaknya.
"Urus surat kepulangan ku dari rumah sakit. Aku ingin segera pulang ke rumah" ucap Arsen sudah tidak nyaman berada di rumah sakit ini.
"Tapi Arsen, dokter bilang kau belum sembuh total. Kau harus dirawat di rumah sakit lebih lama lagi"
"AKU TIDAK PEDULI" sentak Arsen, "Jika aku sudah memutuskan untuk pulang, aku akan pulang! Tidak ada bantahan"
Mimilia juga tidak bisa menahannya, bisa-bisa anaknya akan memberontak nanti. "Iya, mommy akan coba katakan itu pada dokter dan kau akan pulang"
"Hm"
______
Kediaman Moa.
Saat ini Alex, Ronald dan Almira sudah siap menuju ruang makan menyusul Vara dan Stevano disana.
"Selamat pagi Ronald sayang!" sapa Vara menemui Ronald dengan senyuman lalu melihat putranya, Alex. "Loh, kapan kamu sampai di rumah?"
"Tadi malam mah" jawab Alex.
Vara segera mengabaikan karena kefokusan nya hanya untuk cucu angkatnya saja, "Oh Ronald, tadi pagi Oma pikir Ronald kemana... tiba-tiba ilang tanpa kabar, kan Oma jadi panik"
"Abisnya Oma sama Opa dibangunin tidak bangun-bangun, kan Ronald jadi kesal. Ronald pergi aja mencari ibu dan mengajaknya sholat" ucap Ronald dengan polos.
"Hem maafin Oma ya! Bagaimana kalau Ronald makan saja? Ayo, mbak Surti udah masakin paha goreng yang paling enak"
"Benarkah?" antusias Ronald membalasnya.
Vara mengangguk semangat, "Iya dong... makanya ayo kita cicipi"
Ronald memberikan tangannya saat Vara membawanya menuju meja makan. Ronald di taruh di atas kursi diantara Stevano dan Vara.
"Ronald mau makan paha goreng sama apa lagi?"
"Ibu bilang sup ayam enak kalau dicampur dengan paha goreng Oma... hemmm enakkk" kata Ronald dengan semangat.
"Oh begitu ya! Baiklah Oma ambilkan" sesuai katanya, Vara meraih mangkok sup dan mengisi piring Ronald dengan sup ayam.
Ronald menyeringai setelah mendapat perhatian Vara lalu melihat Almira bersama dengan Alex juga duduk bersebelahan di meja makan.
"Ayo kita makan akk"
"Jangan makan dulu Oma. Kita harus membaca doa dulu, iyakan ibu?" kedua tangan Ronald sudah menengadah saat ia bertanya pada sang ibu.
Almira mengangguk, "Benar sekali! Sebelum makan memang baiknya kita membaca doa terlebih dahulu"
"Tuhkan Oma"
Vara mencubit lengan Almira yang duduk disebelahnya, "Ish, kamu itu seharusnya diam. Gara-gara kamu aku kelihatan bodoh banget tahu nggak! Dasar gagak hitam"
"Maaf macan" kata Almira tersenyum dibalik cadarnya.
__ADS_1
"Ayo-ayo kita segera berdoa. Ronald, coba pimpin doa sebelum makan nak" kata Stevano.
"Baik Opa! Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar" ucap Ronald memimpin doa diikuti oleh para anggota keluarga.
"Sudah! Mari makan" Stevano bersemangat menyantap sarapan paginya.
Disela-sela sarapan pagi mereka tiba-tiba ada yang bergetar, tapi bukan hati melainkan ponsel Alex berbunyi.
"Permisi sebentar" mau tidak mau Alex harus menyempatkan waktu untuk mengangkat telpon nya.
Ia menjauh dari ruang makan.
"Hallo"
"Tuan, tawanan anda..."
Mata Alex langsung memanas dengan ekspresi dingin tercipta di wajahnya. Ia tahu tawanan yang anak buahnya ini maksud.
"Kenapa dengan pasangan sel di ruang bawah tanah ku?"
"Mereka telah mencoba untuk kabur dengan melubangi dinding selnya" ucap anak buah Alex dengan penuh ketakutan. Ia sangat takut sekali jika tuan nya ini marah.
"Jaga mereka, aku akan segera sampai dalam waktu 10 menit" ucap Alex.
Alex segera menutup telponnya. Tidak ada basa-basi, pria ini segera pergi dari kediaman orang tuanya.
"Aku berangkat kerja dulu" Alex pergi setelah memberitahu anggota rumah dari kejauhan.
'Kenapa dengan Tuan Alex?' gumam Almira dalam hati.
"Daddy mau kemana, ibu?" tanya Ronald lugu.
"Daddy mu itu orang sibuk! Jadi, ada banyak sekali pekerjaan yang harus dia lakukan" Vara menyela Almira yang ingin menjawabnya.
"Supaya mendapatkan uang? Supaya ibu tidak bekerja lagi ya Oma?"
Vara gemas mencubit mulut mungil cucunya ini, "Iya supaya mendapatkan uang. Tapi bukan untuk membuat ibumu menganggur"
"Tapi Daddy bilang tidak akan membuat ibu bekerja lagi" bantah Ronald tidak mau terima.
"Daddy mu cari uang otomatis ibumu tidak boleh leha-leha di rumah. Dia harus bekerja"
"Tapi Daddy bilang tidak akan membuat ibu bekerja lagi" rutuk Ronald masih kekeh dengan perkataan Alex tadi pagi.
"Sayang, maksudnya Oma itu... bekerja bukan dalam hal yang berat-berat. Tapi, memasak, mencuci piring, mencuci baju, menyiapkan pakaian Ronald, menyiapkan pakaian Daddy, begitu sayang" jelas Almira tidak tega dengan respon Ronald yang bersedih.
"Begitu ya?"
"Iya" jawab Almira mengangguk supaya anaknya itu yakin.
Vara tidak mengerti dengan pola pikir anak dan ibu ini. Whatever lah, ia tidak begitu memperdulikan.
"Ronald, bagaimana kalau kita beli es krim di tepat kesukaan Ronald?" ajak Almira mengalihkan pembicaraan.
"Mau!!!"
__ADS_1
"Oma di tinggal?" jeles Vara dengan wajah yang kesal.
Ronald tertawa lirih, "Maaf ya Oma... Oma boleh ikut kok"
Vara langsung mengubah mimik wajahnya senang.
______
Ditempat lain, tanah lembab dengan dinding keras berbahan tanah. Obor bambu terpasang disetiap sudut ruangan, memberikan setitik cahaya penerang.
Namun, tidak akan memberikan dua tawanan ini ketenangan. Mereka sangat takut dengan apa yang telah mereka lakukan.
"Kau harus terus dibelakang ku! Aku tidak akan membiarkan dirimu terluka, Natania" janji Eros meminta kekasihnya untuk bersembunyi.
"Aku akan membantumu! Aku tahu seperti apa Alex itu... kau jangan khawatir, dia tidak akan berani melukaiku"
Penjaga disana tertawa lepas, "Hei wanita penghianat! Tuan Alex memberikan kesempatan kalian untuk hidup, namun kalian malah berusaha kabur. Kau pikir kali ini tuan Alex akan membiarkan kalian? Jangan mimpi"
"Alex tuan mu itu lemah dan tidak akan berani melukai wanita. Lihat, betapa lemah pria itu" balas Natania dengan sombong.
Penjaga itu emosi. Ia mengangkat senapannya tinggi-tinggi bersiap memukul dan...
Dorr
Penjaga itu tumbang dengan lubang di kepala. Seorang pria telah datang dan langsung membereskannya.
"Jangan berani mendahuluiku" suara bariton Alex terdengar menakutkan di ruangan kedap cahaya ini.
Mata Alex berganti melihat Eros yang berusaha membuat Natania dibelakangnya.
Bugh
"Eros!!!"
Pekik Natania melihat kekasihnya terpelanting ke tanah sesaat setelah Alex menangkis dengan salah satu kakinya.
"Aku berikan makan, tempat tinggal, bahkan kehidupan abadi bersama. Tapi, kau mencoba untuk membawa kabur wanita ini?"
"Alex jangan sakiti Eros aku mohon!!" Natania berlutut memohon dengan harapan pria ini akan luluh.
"CK CK, air mata buaya dari penghianat tidak akan mempan lagi mengelabuhi ku Natania" Alex tersenyum mengerikan setelah menginjak leher Eros.
"Alex jangan!!!" Natania kembali memohon, namun kali ini ia memeluk kaki Alex.
"Lepaskan kakiku"
"Aku tidak akan melepaskan kaki mu sebelum kau berhenti menyakiti Eros" ucap Natania.
"Kau pikir aku tidak bisa menyakitimu?" tanya Alex dingin.
"Aku tahu kau tidak akan bis---"
Bugh
Terlalu lambat supaya Alex mendengar nya. Pria ini sudah lebih dulu menendang Natania hingga membentur dinding.
__ADS_1
"NATANIA!!"
TBC