NODA DI BALIK CADAR ISTRI KONTRAK

NODA DI BALIK CADAR ISTRI KONTRAK
Tamu Besar


__ADS_3

“Bagaimana kalau kita tes DNA?” ajak Stevano setelah banyak mempertimbangkannya.


Vara segera menoleh,”Papah nggak percaya sama Alex?”


“Sejujurnya sih iya! Mah, jika kita tes DNA terlebih dahulu pasti akan semakin jelas kalau Ronald itu memang anak Alex” kata Stevano mengusulkan lagi.


“Mamah percaya sama Alex dan apapun yang Alex katakan itu, mamah percaya. Mamah nggak mau tes DNA lagi… lagian, kasian Ronald harus ditusuk pakai jarum buat tes DNA” bantah Vara tidak mau dibantah.


“Tapi tes DNA kan nggak harus pakai darah mah, bisa pakai rambut, bekas sentuhannya”


Vara diam menimang-nimang, “Enggak deh! Mamah nggak mau rambut Ronald rontok”


“Astaga mah!!”


“Bye-bye papah” kata Vara melambaikan tangan kanannya keluar dari kamar setelah meraih tas pinggang nya.


Sementara Stevano hanya menggelengkan kepalanya dan bergumam, “Kalau Ronald bukan cucunya! Mungkin dia akan gila”


_____


Ditempat lain, tepatnya di rumah sakit ini. Alex mengantar Angela yang demam untuk berobat. Ia merasa harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan dengan adik sahabatnya ini.


“Dokter, bagaimana keadaan pasien?” tanya Alex buru-buru mendatangi si dokter yang baru saja keluar.


“Asam lambungnya kambuh! Pasien terllau lama membiarkan lambungnya kosong sehingga terjadi radang dan infeksi lebih lanjut didalam tubuh. Saya sarankan supaya pasien melakukan rawat inap di rumah sakit” kata dokter menjelaskan.


“Lakukan apapun supaya pasien lekas sembuh, dokter” pinta Alex dan dokter itu mengangguk.


“Kalau begitu silahkan urus administrasinya terlebih dahulu”


“Baik” balas Alex segera mengikuti si dokter menuju ruang administrasi.


____


Rumah susun


Almira beserta Irene pergi ke dapur menyiapkan hidangan pembuka untuk wanita tua yang ingin berkunjung ke rumah nya.


“Irene, tadi kamu udah pesen kue ke pak Totok depan gang kan? Takutnya kalau nanti-nanti keburu habis” kata Almira mengingatkan.


“Udah, kamu santai aja Al! aku udah pesen tadi… lagian kedatangan mertua kayak kedatangan presiden aja! Persiapannya serius banget” sindir Irene tidak suka.


“Ada mertua berkunjung kan memang harus seperti itu Irene! Terlebih, mertuaku itu orangnya susah. Nanti kalau kamu udah menikah dan punya mertua, pasti bakal ngrasain keribetan seorang mertua” canda Almira menyeringai.


“Iya deh yang udah nikah terus punya mertua. Astaga, aku kok disindir terus deh perasaan” sindir Irene membuat Almira tertawa.


“Assalamualaikum” salam dari seseorang di luar rumah.

__ADS_1


“Itu pasti pak Totok… aku buka dulu ya Al”


“Iya” balas Almira membuat Irene mengangguk lalu melenggang keluar dari dapur untuk membukakan pintu rumah.


Drett


Almira menghentikan kegiatan memasaknya saat ponselnya berdering. Setelah itu ia mengambilnya dan mengangkat.


“ Assalamualaikum, Tuan Alex” salam Almira mengelap tangan nya dengan kain lap.


“Walaikumsalam… Al, malam ini aku tidak pulang ke rumah ya” kata Alex diseberang telpon.


“Oh Tuan Alex tidak pulang ke rumah ya! Hem, ya udah kalau gitu nggak papa. Tapi kalau boleh tahu kenapa tuan Alex tidak pulang?” tanya Almira basa-basi saja.


“Angela harus dirawat di rumah sakit dan aku harus menjaganya. Maklum, Angela tidak memiliki keluarga disini dan hanya aku yang paling dekat”


“Angela sakit? Oh iya, sudah satu malam Angela nggak pulang-pulang ke rumah ya” kata Almira menyadari jika sudah semalaman wanita itu tidak pulang.


“Iya, aku melupakan dia karena pikiran ku hanya untukmu tadi malam” ceplos Alex membuat Almira malu dengan pipi yang memerah.


Almira tersenyum kecil, “Ya sudah tuan, aku tutup dulu telpon nya”


“Iya… oh iya, salamkan rasa sayang ku kepada Ronald” kata Alex.


“Baiklah! Assalamualaikum”


Alex menggaruk kepala nya yang tidak gatal, lalu masuk kedalam ruangan Angela.


Sementara Almira hanya biasa saja dan meletak kan ponselnya kembali. Tidak lama Irene datang membawa sekotak kue serta dibelakang nya ada Ronald.


“Bibi, itu kue untuk siapa?” tanya Ronald penasaran.


“Untuk nenek mu” balas Irene sinis.


Namun, Ronald malah terlihat bahagia, “Waw, kue ini untuk nenek ya bi! Asik, nenek akan datang”


Almira dan Irene hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu Ronald.


Ting tong


Bel berbunyi.


“Hore!! Itu pasti nenek… aku saja yang buka ibu” kata Ronald berlari keluar menuju pintu tanpa hati-hati.


“Larinya pelan-pelan” gertak Almira refleks menyusul bocah itu.


Dengan antusias yang meningkat Ronald membuka pintu rumahnya. Terlihatlah wajah wanita tua berpenampilan kaya dan bocah ini tidak mengenalnya.

__ADS_1


“Apa kau nenek ku?” tanya Ronald tanpa rasa takut.


Vara mengernyitkan dahinya karena baru melihat, “Apa kau cucuku?”


“Ronald pelan-pel—” potong Almira saat melihat kedatangan mertuanya itu. Ia segera merapikan penampilan nya dan mendekat. “Assalamualaikum, mah”


Vara yang paham segera berlutut mensejajarkan tingginya dengan Ronald, “Oh, kau cucuku Ronald ya?”


“Kau nenek ku?”


“Iya” balas Vara mengangguk lalu mengamati wajah Ronald lalu bermonolog dalam hati, ‘Wajahnya tidak mirip dengan Alex! Oh atau mungkin sikapnya yang sama’


“Assalamualaikum nenek” ucap Ronald mencium punggung tangan Vara sebagai sambutan.


Vara hanya mengusap kepala Ronald, “Kau pintar mirip ayah mu”


“Nenek kok nggak jawab salam?” kata Ronald mempertanyakan hal itu.


“Ups, walaikumsalam… kau suka mengatur mirip ibu mu” ketus Vara memutar bola matanya malas.


“Silahkan masuk, mah” kata Almira mempersilahkan.


Sebelum masuk, Vara meminta supir nya untuk membawakan oleh-oleh yang sempat dibeli di perjalanan tadi.


“Aku membelikan buah-buahan dan juga mainan untuk Ronald. Yah, nggak pantas kan… mertua berkunjung ke rumah cucu nya tanpa memberikan apa-apa. Apalagi, menantunya itu miskin” sindir Vara.


Almira sih biasa, tapi ada wanita muda yang baru saja datang dan tidak sengaja dengar sindiran itu. Ia merasa kurang terima.


“Gitu banget kata-kata nya” gumam Irene mencoba bersabar.


“Sebenarnya mamah nggak perlu bawa oleh-oleh buat Ronald. Cukup mamah datang itu sudah lebih dari cukup, soalnya mainan Ronald juga udah banyak mah! Takutnya mubazir” kata Almira mencoba mengingatkan.


“Kamu nggak lagi cosplay jadi ustadzah buat nyembut kedatangan ku kan?” tanya Vara ditertawai Ronald.


“Ibu bukan nya menjadi ustadzah, nenek. Tapi, ibu memang begitu… dia suka mengingatkan. Karena itu Ronald sayang sekali dengan ibu” puji Ronald memeluk Almira.


“Iya-iya” pasrah Vara.


Almira yang bangga langsung mengusap kepala anak nya.


“Ayo mah! Nggak baik ngobrol lama didepan pintu”


“Iya itu karena kamu nggak mempersilahkan masuk! Udah tahu mertua dari jauh… datang capek-capek, bukan nya disambut, dikasih tempat duduk kek, minum kek, malah dibiarin berdiri di pintu” gerutu Vara.


“Nenek jangan begitu! Ibu ingin mempersilahkan nenek masuk, tapi kan dari tadi nenek bicara terus” bantah Ronald dengan polos.


“Mampus” timpal Irene dengan nada rendah.

__ADS_1


__ADS_2