NODA DI BALIK CADAR ISTRI KONTRAK

NODA DI BALIK CADAR ISTRI KONTRAK
Diajarkan Wudhu


__ADS_3

Mobil mewah seharga milyaran itu membelah halus jalanan kota. Kemewahan mobil ini bisa dirasakan oleh ace yang sejuk, kursi empuk serta nyaman, semua kemewahan Almira dan si buah hati rasakan.


Namun semua itu tak lagi Almira rasakan, melainkan suara keras dari seberang telpon.


“ORANG TUAKU?” pekik Alex merasa kurang percaya.


“Iya, mamah meminta aku dan Ronald untuk menginap sejenak di rumahnya” jelas Almira pada Alex.


“Ya sudah aku tutup telpon nya”


“Baiklah, assalamualaikum” Almira segera menutup telpon nya setelah berkata.


Didalam mobilnya Alex menjadi sangat resah. Ia merasa melakukan kesalahan dengan membohongi Vara.


“Cepat sekali mamah menyukai Ronald! Membelikan mainan dan mengajaknya tinggal? Sepertinya itu sudah terlalu berlebihan. Bagaimana jika mamah tahu Ronald bukan cucunya, apa dia akan menjadi depresi?” monolog Alex sambil menyetir mobilnya.


_____


Kediaman Moa


Pelayan-pelayan berdatangan dengan tergesa-gesa setelah melihat mobil Lamborghini atasan nya telah sampai di depan rumah. Tadi, Vara sudah menghubungi kepala pelayan untuk bersiap-siap.


Akibat itu, Ronald mengintip keluar jendela untuk melihat kegesitan para pelayan bekerja dan kemewahan rumah Vara.


“Waw, rumahnya besar sekali” bibir mungil Ronald berucap kagum.


Vara segera mengusap kepala nya, “Tentu dong! Inikan rumah Oma Vara. Oma nya Ronald, jadi tempat tinggal nya harus bagus dan mewah”


“Berbeda sekali dengan rumah susun kita ya ibu. Sayang sekali bibi Irene tidak ikut kemari. Jika dia melihatnya, pasti bibi Irene akan pingsan” kata Ronald membat Vara senang.


“Ayo turun”


Vara menggandeng tangan Ronald saat turun dari mobil. Sementara Almira ada dibelakang berjalan mengikuti mereka.


“Selamat datang, tuan muda kecil” sapa pelayan bergantian.


Pipi Ronald semakin mengembang bahagia melihat para pelayan menyapanya.


“Oma, ibu pernah bercerita tentang seorang pangeran. Saat pangeran itu datang maka akan banyak orang yang menyambutnya seperti ini” kata Ronald menumpu kedua tangan nya didepan perut sementara tubuhnya membungkuk lucu dan berkata, “Selamat datang pangeran”


Ulah Ronald membuat para pelayan terhibur, bahkan Vara melakukan hal yang langka yaitu tertawa ngakak.


“Kau lucu sekali cucuku” puji Vara memegang kedua belah pipi cucu nya.


“Apa aku juga pangeran itu, Oma?”


“Tentu saja! Ronald ini cucu sekaligus pangeran keluarga Moa” berseri-seri Vara menjawabnya. Ia bahagia, rumahnya akan penuh kelucuan anak kecil yang ia sebut sebagai cucu nya.

__ADS_1


Tidak lupa Ronald menggenggam tangan ibunya, “Jangan khawatir ibu. Jika aku pangeran maka ibu adalah ibu ratu”


Almira tersenyum mengusap pipi Ronald.


“Mana bisa begitu? Jika ibu mu itu ibu ratu, lalu Oma apa?” berkacak pinggang Vara memprotes nya.


“Oma eang ratu hahaha” balas Ronald menutup mulutnya dengan salah satu tangan.


“Bisa saja kau ini” balas Vara mencubit pipi Ronald dengan pelan. “Ya sudah pangeran nya eang ratu ayo masuk. Kita temui baginda raja di kamar nya”


“Ayo”


Kamar Stevano ada di lantai dua. Membutuhkan beberapa menit saja untuk sampai disana dan setelah itu sampai.


Ronald dan Vara masuk kedalam kamar bersama dengan Almira, menemui pria yang sedang tidur dibalut selimut.


“Papah, coba lihat mamah bawa siapa”


Stevano membuka mata nya setelah mendengar suara sang istri. pandangan nya langsung tertuju melihat anak kecil yang digandeng Vara.


“Siapa dia?” tanya Stevano merasa asing.


“Anak Alex, cucu kita” antusias Vara menjawabnya.


“Assalamualaikum, Opa”


“Sayang, kecup tangan Opa” pinta Almira kepada Ronald yang segera menjalankan nya.


“Opa, Oma bilang kalau Opa sering sakit kepala ya? Dimana yang sakit, biar Ronald pijatkan”


Stevano masih tidak menjawab pertanyaan Ronald. Ia masih terpukau dengan kesopanan hasil didikan Almira. Entah mengapa ia jatuh cinta dengan perangai bocah ini, seperti memiliki daya pikat tinggi.


“Opa, dimana yang sakit?”


“Ah tidak usah sayang… kepala Opa sudah tidak sakit lagi setelah kau menanyakan Kesehatan Opa” kata Stevano membalas pertanyaan Ronald.


“Pah, anak Alex lucu ya!” kata Vara bergabung dengan mereka.


“Hahaha iya” balas Stevano ikut saja.


“Hem mah… bolehkah Almira bertanya dimana kamar kita? Almira ingin menata baju-baju Ronald” sela Almira memotong obrolan mereka.


“Oh Meta!!!” teriak Vara memanggil pelayan.


“Iya nyonya?”


“Itu anterin ke kamar nya” suruh Vara sedikit acuh.

__ADS_1


“Baik, mari Nyonya” Meta mempersilahkan jalan untuk Almira.


Namun sebelum itu Almira harus bicara dulu dengan anak nya, “Ronald sayang! Ibu mau menata baju-baju Ronald dulu ya! Ronald jangan nakal dengan Opa sama Oma”


“Siap ibu” jawab Ronald dengan hormat.


Almira sudah lega. Ia pun segera bergegas keluar dari kamar mertuanya dan ikut bersama Meta ke kamar tamu.


Selepas kepergian Almira tiba-tiba jam berbunyi di angka 6, menandakan jika sudah waktunya memasuki adzan magrib. Ronald agak bingung.


“Dulu saat Ronald tinggal di rumah susun. Setiap maghrib, isya’, subuh, dhuhur dan ashar selalu dengar adzan. Kenapa di rumah Oma tidak dengar?” mata bingung Ronald menuntut jawaban.


Vara dan Stevano saling lihat.


“Oh itu karena rumah Oma besar dan jauh dari masjid. Jadi, tidak dengar” jawab Vara mengeles. “Memangnya kenapa, Ronald sayang?”


“Sudah maghrib Oma, kita harus sholat” ucap Ronald yang mengartikan sebuah ajakan.


“Ronald, Oma dan Opa biasanya sholat nanti. Soalnya, Oma sama Opa ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda dan harus dikerjakan saat ini juga” kini Stevano yang mengeles.


“Tapi Opa, sholat itu wajib bagi setiap umat muslim. Ibu bilang jika kita tidak sholat maka Allah akan marah dan menghukum kita” kata Ronald membujuk.


Mata Ronald semakin berbinar dan bibirnya tipis sedang memanyun, membuat Vara tidak tega.


Ia pun berkata, “Oh Opa akan sholat! Oma lagi nggak bisa sholat, soalnya lagi halangan”


“Bisa-bisanya kamu” protes Stevano sebelum akhirnya Vara mencubit perut suaminya sampai mengaduh. “Iya-iya-iya, Opa akan sholat dengan Ron-ronald”


Stevano harus pasrah mengikuti kemauan Ronald dan istrinya itu. Dia harus melakukan wudhu, tapi salah dan Ronald menegurnya.


“Bukan begitu! Membasuh wajah nya harus rata Opa” nasehat Ronald dan Stevano menjalankan.


Setelah berulang kali mencoba, ia pun berhasil wudhu dengan benar. Tentunya, ada si kecil Ronald yang senantiasa membantunya.


“Ini nih pah sarungnya”


Stevano agak janggal dengan motif sarung yang diberikan istrinya, “Mamah dapat darimana?”


“Dari bang Ijul tukang kebun kita”


“Ih diakan sering nyangkutin sarung ini di lehernya. Kemana-mana selalu dibawa… jorok ah mah” tolak Stevano keras.


Vara yang kesal langsung mengalungkan sarungnya ke leher Stevano, “Banyak omong! Tinggal pakek susah amat sih. Yang punya sarung cuma bang ijul. Dah cepetan sholat”


Stevano pasrah mau memakai sarung kumuh, jelek dan bau milik tukang kebun nya. Demi sang cucu.


“Opa wudhu nya batal soalnya tadi Oma nyenggol kulit Opa waktu ngasih sarung” tegur Ronald membuat Stevano naik pitam.

__ADS_1


Bukan dengan Ronald, tapi dengan istrinya.


“MAMAHH”


__ADS_2