NODA DI BALIK CADAR ISTRI KONTRAK

NODA DI BALIK CADAR ISTRI KONTRAK
Dipaksa Masuk


__ADS_3

"Tuan, setelah ini apa yang akan anda lakukan?" tanya Sania.


Alex meraup wajahnya murka. Rasanya mustahil terjadi kebakaran di pabrik sutra miliknya di Kalimantan.


"Pabrik itu sudah dilengkapi dengan fire sprinklers system otomatis yang akan keluar jika suhu panas mencapai 68° Celcius. Bagaimana bisa kebakaran?"


"Lalu saya harus bagaimana, tuan?" tanya Sania lagi.


"Kau urus pabrik di Kalimantan dan urus juga kompensasi untuk setiap pekerja disana. Aku akan mengutus orang untuk membantumu disana"


"Baik tuan" balas Sania setelah mendapat tugas dari Alex atasannya. Tidak lama mereka pun saling menutup telpon dan melakukan kegiatan mereka masing-masing.


______


Bandara Internasional


Disana Andre sedang berdebat dengan pegawai bandara serta beberapa polisi yang memeriksa rempah-rempah milik Andre dan Alex.


"Coba cek kardus yang ada disana. Mungkin juga tersimpan sabu-sabu" perintah polisi menyelidiki kasus penyelundupan ini.


Andre tidak bisa tinggal diam melihat polisi itu seenaknya menggeledah barang-barang miliknya.


Ia pun berkata, "Pengusaha muda, tampan, kaya dan pintar tentu pasti banyak yang menyukai. Tapi, dibalik itu ada juga yang membenci. Mungkin saja itu kelakuan orang lain"


"Baik tuan, anda beserta tuan Alex bisa ikut kami ke kantor polisi. Untuk membantah kasus ini anda bisa membawa pengacara"


"Tunggu!!" sela seorang pria berkacamata hitam lengkap dengan toxedo hitam pekat itu akhirnya datang menghadang.


"Alex, syukurlah kau datang juga. Katakan kepada polisi itu jika sabu-sabu yang mereka dapat itu bukan milik kita"


"Kau tenang saja, Andre" kata Alex menenangkan sahabatnya yang khawatir itu.


"Tuan Alex, bagaimana anda bisa menyangkal jika barang-barang ini bukan milik anda?" tanya polisi itu merasa yakin.


"Bisa kita bicara sebentar, tuan polisi Abimana Dahlan?"


Pria berseragam yang agak muda memiliki postur tubuh tinggi tegap itu seketika menelan ludahnya susah.


"Baik, tuan Alex" jawab Abimana menerima ajakan Alex.


Kini keduanya duduk didalam mobil secara berdampingan, namun Alex terlihat santai menyesap rokoknya disamping jendela.


"Tuan Alex, anda ingin mengatakan apa? Jika tujuan anda berbicara dengan saya itu hanya ingin menyuap, maka anda salah besar. Saya tidak menyukai suap"

__ADS_1


"Really" bantah Alex menolehkan wajahnya melihat wajah polisi muda yang sombong itu.


"Saya bersungguh-sungguh"


Alex menaikan sudut bibirnya rendah, "Kau memang tidak suka uang hasil suap. Aku akui itu, namun kau menyukai menyelesaikan masalah dengan cara menyuap"


Jantung Abimana berdetak kencang. Seakan itu memang benar.


"Anda jangan seenaknya menuduh" sangkal Abimana tidak terima.


Hal itu membuat Alex mengambil sebuah kertas didalam saku jas miliknya dan memberikannya kepada Abimana.


"Kasus penyelundupan narkoba yang dilakukan seorang CEO Arkan Mahendra tiba-tiba hilang. Bukankah itu pekerjaan mu? Kau mendapat suap dari Arkan Mahendra untuk menutup kasusnya. Sebagai gantinya kau diminta untuk melempar kasus itu kepada diriku"


"Jangan asal menuduh! Tuan Alex, anda harus ikut kami ke kantor polisi" kata Abimana ingin keluar dari mobil itu.


Namun Alex menahan lengannya dan menekankan sesuatu di perut Abimana, "Sekalipun aku tidak pernah mengotori tangan ku dengan membunuh seorang polisi. Tapi, polisi yang pandai memanipulasi kasus tidak pantas untuk bertahan dengan statusnya saat ini"


"Lepaskan, saya bisa berteriak" ancam Abimana.


"Oh iya? Dengan alasan apa? Kau ingin terlihat seperti polisi yang tidak tegas karena kalah dengan seorang criminal seperti diriku? Atau, kau ingin berteriak seperti seorang gadis yang ingin diperkosaa?" Alex terkekeh hina melihat wajah Abimana yang ketakutan.


"Lepaskan tangan anda dari kerah saya dan juga pistol nya. Anda akan mendapat pelanggaran karena telah berani mengancam seorang polisi" ancam Abimana berusaha berani.


"Lakukan, sebelum itu terjadi mungkin peluru di pistol ku akan bersarang terlebih dahulu di kepalamu"


Abimana berulang kali menarik nafas lalu membuangnya, "Lepaskan aku!!!"


"Alisha Calista, nama yang indah" celetuk Alex membuat Abimana membolakan kedua matanya. "Sangat sayang, nama itu pemberian dari pria bergelar polisi seperti dirimu"


"Jangan kau apa-apa kan anakku" kata Abimana dengan menekan.


"Heii aku tidak pengecut sampai melukai anak kecil, apalagi itu seorang gadis"


Abimana sedikit tenang.


"Namun, aku tidak yakin dengan beberapa anak buahku. Mungkin saja, mereka akan melukainya dan membuatnya menangis" ancam Alex balik.


"Baiklah-baiklah, kau ingin apa?" tanya Abimana memilih pasrah. Demi putri kecilnya ia akan melakukan apapun.


"Aku tidak perlu mengatakannya, kau sudah tahu jawaban itu" kata Alex kembali memperlihatkan wajah dingin.


Jika Abimana melakukan itu demi putrinya, maka Alex melakukan itu demi citra dan nama perusahaan. Selain itu, tentu saja ia tidak akan tega.

__ADS_1


"Kau memang the best!!!" puji Andre menyetir mobilnya. "Dalam sekejap, masalah langsung hilang. Tapi, kau benar-benar menyelundupkan sabu-sabu?"


"Kau gila?" ketus Alex memberikan tatapan tajam. "Semua karena Arkan Mahendra. Dia terbukti melakukan penyelundupan beberapa hari yang lalu dan aku yang jadi kambing hitamnya"


"Tunggu, bukankah dia pemilik perusahaan KY Company yang kau tolak kerja sama kan? Dia ingin mengerjai empang milikku dan karena keuntungan yang kau dapat kurang, jadi kau menolak nya"


"Sekarang dia ingin membalaskan dendam" sela Alex tersenyum miring, seakan sudah biasa.


Andre tertawa, "Wah, pengusaha banyak sekali yang musuhnya. Mereka cenderung menggunakan jalan hitam untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan"


"Seperti itulah seorang pengusaha" tambah Alex menurut persepsi dirinya sendiri.


"Oh iya, aku dengar jika pabrik kain sutra di Kalimantan mengalami kebakaran! Kau harus segera menindaklanjuti Alex" kata Andre baru saja mengingatnya.


"Sudah ada Sania" acuh Alex. Sebenarnya ia ini sedang malas keluar kota.


"Sepertinya kau sangat percaya dengan asisten mu itu. Dia pintar dan cekatan. Aku juga mau pekerja seperti itu supaya aku banyak menganggur" kata Andre iri.


"Kau cari saja sendiri"


"Ya aku sedang membuka lowongan" Andre mengangguk membenarkan.


_______


Pagi harinya...


Almira telah siap untuk menemui putranya di rumah sakit karena hari ini anaknya itu sudah diperbolehkan untuk pulang.


"Masyallah, tidak terasa Ronald sudah di rumah sakit dan ia akan segera keluar dari tempat yang tidak ia inginkan itu" monolog Almira memakai kain cadarnya.


Setelah selesai ia bergegas mengambil tas pinggangnya dan keluar dari kamar. Pagi ini Alex tidak pulang sehingga wanita ini tidak perlu mempersiapkan kebutuhan Alex.


Almira jadi punya banyak waktu banyak deh!!


"Mbak Kiran, nanti kalau ada Tuan Alex tolong bilangin aku ada urusan sebentar. Begitu ya!" kata Almira menuruni tangga.


"Baik, Nyonya" balas Kiran tersenyum begitu saja.


Almira antusias melangkah keluar dari villa dan menunggu angkot di depan gerbang. Namun, bukan angkot yang berhenti melainkan mobil hitam bermerek Audi.


"Siapa mereka?" gumam Almira khawatir saat dua pria kekar keluar dari sana.


"Ayo ikut!!"

__ADS_1


"Siapa kalian?" pekik Almira menjauh saat kedua pria itu menyeret Almira masuk kedalam mobil, menemui pria tua yang merupakan mertuanya.


To be continued


__ADS_2