
Vara dan Stevano saling lihat dan menyuarakan persepsi nya, "Almira mau menikah, karena Alex sudah berani menghamili dirinya"
Tak, Vara menjentikkan jarinya karena pikiran sang suami sama dengannya.
"Mamah rasa emang Alex sama Almira udah ada anak sebelum menikah. Makanya itu mereka terpaksa menjalin ikatan sakral ini" kata Vara menduga-duga.
Stevano menghela nafasnya dalam-dalam.
"Alex kan memang sering bergonta-ganti pasangan" kata Stevano.
"Tapi, mamah tetep nggak suka sama Almira. Alex nggak akan nglakuin itu kalau si cewe nya nggak kegatelan" tuduh Vara membuang muka.
Stevano menggaruk dahinya, "Mah, ini pasti karena Alex yang salah. Orang Almira itu orang baik..."
"Papah tahu darimana? Kok tiba-tiba papah belain Almira ya? Biasanya papah itu sependapat dengan mamah" penasaran Vara berkacak pinggang.
Stevano menelan ludahnya kasar, "Papah..."
Flashback on
Villa Alex.
Saat Alex dan Almira tidak ada di villa, Stevano datang karena penasaran dengan maksud Alex yang mengatakan jika Almira itu berbeda.
'Aku sangat penasaran' gumam Stevano masuk kedalam.
"Selamat datang, tuan Stevano" sapa Kiran mendatanginya, "Maaf tuan, tapi tuan Alex sedang tidak ada di Villa"
"Aku ingin bertanya tentang Almira dengan dirimu"
Kiran nyaris terkejut dengan niat Stevano ini. Ia tahu jika Stevano ini pria yang playboy, tentu menanyakan Almira membuat Kiran merasa ganjal.
"Maaf tuan, saya tidak bisa banyak memberikan info untuk anda" kata Kiran irit informasi.
"Sedikit saja. Aku ingin tahu Almira itu seperti apa?" tanya Stevano tidak mau basa-basi.
"Hem, dari yang saya lihat nyonya Almira itu orang yang baik. Dia sering sholat sesuai dengan penampilan nya saat ini... pokoknya Nyonya Almira itu orang yang baik" kata Kiran.
Kiran tidak mau banyak memberikan info, takutnya ada apa-apa yang dapat merugikan dirinya ataupun Almira.
Stevano mengangguk.
Flashback off
"Begitu mah! Kalau memang Almira baik, lalu kenapa dia mau dengan anak kita si Alex"
"Maksud omongan papah apa? Anak kita si Alex itu pria tertampan di Indonesia loh, seorang pengusaha kaya, berani menolak putri Victor si konglomerat kedua, tegas, mapan, kurang apa lagi? Seharusnya Almira itu yang beruntung bisa dihamili Alex" bantah Vara menyombong.
Stevano hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Besok mamah mau menanyakan hal ini dengan Alex" usul Vara kesal. "Dia punya anak, tapi nggak ngasih tahu kita"
__ADS_1
"Kalau ini aku setuju" balas Stevano menerima.
_____
Alex dan Angela duduk di sofa ruang tamu. Keduanya tidak saling bicara dan sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Angela sibuk berfoto dan yang diajak foto hanya diam mengirim berkas ke asistennya Sania.
"Alex, hadap sini dong... aku mau kirim ke mamah kalau aku sudah sampai" rayu Angela supaya Alex mau melihat ke kamera.
Dengan terpaksa Alex tersenyum hambar kearah kamera.
Ckrek
"Nice" ucap Angela mengecek poto nya yang luar biasa. "Aku akan kirim ke mamah"
"Helloooo" seru pria yang membawa dua kresek besar di kedua tangannya. Pria itu segera datang saat Alex menelponnya.
"Lah, kok dia datang kesini?"
"Hallo baby" Andre melangkah mendekat hingga duduk disamping Angela yang segera menggeser duduknya. "Aku membawakan kalian pizza"
"Waw thank you" balas Alex menjadikan pizza tersebut sebagai perhatian utama dan mengambilnya.
Angela masih tidak suka. Pasalnya ia ingin berduaan dengan Alex, mumpung Almira belum pulang. Tapi, pria ini mengacaukan.
"Kenapa dia bisa ada disini sih?"
"Aku yang menelpon untuk datang dan membawakan aku pizza" jawab Alex santai, membuat Andre tersenyum sombong.
Namun Andre yang tidak kekurangan akal itu mendekatkan duduknya, "Kenapa tiba-tiba kau datang ke Indonesia? Kau merindukan diriku ya?"
"What the f*ck" pekik Angela menepis kasar lengan Andre yang hendak merangkulnya.
"Bilang aja nggak usah malu-malu"
"Ihhh" pekik Angela menepis jari Andre yang ingin mencoel dagunya.
"Bil---"
"Selesaikan makan mu jika ingin makan. Jika tidak ingin, maka tidak usah basa-basi ayo ikut denganku" kata Alex bangkit dari duduknya.
"Kemana? Aku belum selesai melepas rindu dengan Angela"
"Pergi sana. Aku nggak mau dekat sama kamu" tolak Angela saat Andre ingin kembali merangkul nya. Wanita ini sudah bergidik lalu memilih berlari pergi.
Andre berteriak memanggil, "Angela!! Angel---"
"Ayo" sela Alex melenggang pergi ke suatu tempat yang mana hanya ada mereka berdua.
Mereka berdua duduk di halaman depan Villa. Ditemani minuman bersoda yang telah Andre beli tadi sebelum kemari.
"Kau mau bicara apa?" tanya Andre duduk setelah menyalakan cerutu rokoknya.
__ADS_1
"Kedatangan Angela kemari pasti karena Mimilia yang mengutusnya" ucap Alex menduga.
Andre mengernyitkan dahinya heran, "Kenapa Tante Mimilia mengutus Angela?"
"Tante Mimilia mengutus Angela karena dia mulai merasa kurang percaya dengan kita. Mungkin Tante Mimilia berpikir kita menyepelekan masalah anak Arsen" kata Alex pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Nyatanya kita ini kan memang belum mendapatkan informasi apa-apa, Lex" bantah Andre merasa kurang terima.
Alex memberikan isyarat kepada pengawal Villa untuk segera datang membawakan apa yang dia butuhkan.
"Ini tuan" kata pengawal itu sembari memberikan satu berkas kepada Alex yang segera menerima.
"Itu apa?" tanya Andre penasaran.
"Sebenarnya aku sudah menemukan wanita yang dihamili Arsen beserta anaknya. Wanita itu membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang dan hidup dengan tenang" kata Alex memberikan foto-foto yang sudah ia keluarkan dari dalam berkas.
Andre mengambilnya dan melihat.
"Ini kan? Lex, kau benar-benar gila!!!" pekik Andre merasa tidak yakin dengan maksud pria ini memberikan foto Almira. "Istrimu, wanita yang dihamili oleh Arsen?"
Alex diam tanda membenarkan.
"Aku sudah menyelidikinya. Wajah Almira sama persis dengan wajah di foto yang pernah Arsen perlihatkan kepadaku" kata Alex memilih untuk menceritakan.
Ia bercerita semua ini karena Andre seorang sahabat yang paling dekat dengan Alex melebihi apapun. Bahkan, Alex sudah menganggap Andre adalah adiknya sendiri.
Andre menggelengkan kepalanya, "Alex, kau tahu ini sejak kapan?"
"Aku sudah tahu jika Almira itu wanita Arsen sejak awal pernikahan. Awal pertama aku melihat wajah Almira. Dari itu aku mulai menyelidiki" jawab Alex.
"Kalau memang begitu! Dimana anaknya?"
Alex mengangguk lalu menambahi, "Dia mau menyetujui menikah dengan ku, karena dia membutuhkan uang untuk anaknya yang sedang sakit. Namun, aku dengar anak itu sudah sembuh setelah banyak menjalani kemoterapi dan operasi"
"Secara tidak langsung, kau telah membantu sahabat mu Arsen"
"Tidak" bantah Alex seketika.
Andre mengernyitkan dahinya serta tubuhnya mencondong mendekati Alex, "Apa maksud mu? Secara tidak langsung kau memberikan uang kepada Almira untuk kesembuhan anak Arsen"
"Sebelum Angela datang. Tante Mimilia menelpon ku untuk menanyakan terkait masalah ini, tapi aku berkata jika belum menemukan apa-apa"
"Kenapa kau berbohong kepadanya? Neneknya memiliki hak kepada cucunya. Dia berhak tahu, Alex" bantah Andre menolak keputusan sahabatnya.
Alex malah tertawa ejek, "Tante Mimilia tidak memiliki hak atas anak Arsen sedikitpun. Bahkan, Arsen juga tidak bisa mengaku-ngaku sebagai ayahnya"
Andre yang terkejut itu langsung bangkit begitu saja, "Alex!!! Jangan bodoh... Arsen itu sahabat mu! Dia ayah dari anak Almira"
"Salah, akulah Ayahnya"
To be continued
__ADS_1