
Sepasang mata Vara dan Almira membulat sempurna. Keduanya tidak akan pernah menduga jika Alex akan mengatakan seperti itu didepan anak kecil.
"Daddy mau mencicipi es krim yang lain? Ronald juga mau Daddy... Ronald boleh ikut ya?" rengek Ronald dengan sangat polos.
"Es krim ini khusus untuk orang dewasa. Ronald masih kecil dan belum boleh merasakannya" jawab Alex.
"Memangnya es krim yang Daddy maksud itu seperti apa, Dad?"
"Seperti--"
"Alex" sela Vara dengan sekali bentakan saja mampu menyela anaknya yang ingin bicara.
Lalu Vara memukul bahu Alex dengan keras, "Mulutmu itu tidak bisa dijaga ya? Aku akan memukul mulut mu jika kau bicara seperti itu lagi"
"Tuan Alex, anda tidak boleh berkata seperti itu didepan anak-anak" nasihat Almira.
Bukannya mendengarkan nasihat dua wanita ini, justru Alex tertawa terbahak-bahak.
"Ronald, kita jalan-jalan ke air mancur yang ada disana yuk! Kita tinggal aja Daddy mu ini" ajak Vara menggandeng tangan Ronald.
"Ayo Oma" kata Ronald menerima.
"Bye!!" Alex melambaikan tangannya mengiringi kepergian ibu dan anak tirinya itu.
Lalu atensi Alex berganti melihat Almira yang menggelengkan kepala kearahnya. Wanita bercadar itu heran dengan tingkah Alex.
Lalu Almira duduk diatas kursi dan Alex menyusulnya.
"Aku lihat interaksi mu dengan mamah tadi. Ada sedikit perubahan dengan sikap mamah kepadamu" kata Alex kembali serius.
"Alhamdulillah" singkat Almira menjawab.
Belum Almira sadari jika pria yang ada disebelahnya itu sedang memandang dirinya. Entah dari kapan, tapi pandangan matanya terlihat terpukau.
Ckrek
Almira menoleh melihat Alex saat pria itu mengambil gambarnya dengan ponselnya.
"Buat apa tuan Alex ngefotoin aku?" tanya Almira tidak suka.
"Sebagai suami, aku harus punya satu foto mu kan" jawab Alex memeriksa hasil jepretannya.
"Tapi aku tidak suka di foto"
"Begitu ya? Kalau begitu ayo kita cari tempat foto terbaik didekat taman ini" ajak Alex menarik lengan Almira.
Namun Almira mencoba menolak, "Kan aku nggak suka tuan Alex. Kok malah diajak?"
"Supaya kau suka. Hal yang tidak kau suka itu biasanya karena kau kurang terbiasa... ayo" ajak Alex lagi menarik Almira.
Alex dan Almira berjalan menuju taman yang lebih indah dengan hiasan bunga tulip berwarna-warni memenuhi sepanjang jalan serta danau kecil di samping kanan.
__ADS_1
"Kau berdiri disini" perintah Alex bersiap mengambil gambar.
"Nggak mau tuan! Aku tidak pandai berpose" tolak Almira kikuk.
Almira hanya diam berdiri dan Alex memintanya untuk mundur. Perlahan Almira mundur hingga posisinya di tengah-tengah bunga.
"Aku harus bagaimana tuan? Sungguh aku tidak bisa berpose dengan baik... pasti nanti hasilnya buruk tuan, aku nggak mau" tolak Almira menutup wajahnya dengan tangan.
Alex jengah dengan kalimat itu. Belum juga dicoba tapi mulutnya sudah berkata tidak bisa.
"Duduklah" pinta Alex menekan bahu Almira kebawah. "Tekuk kakimu keatas, lalu sangga dagu mu dengan kedua tangan"
Almira hanya menurut saja sehingga Alex yang merasa menang segera mengambil foto.
"Nice" Alex suka sekali. "Sekarang kita foto bersama... sebentar, aku cari orang dulu"
Alex mencoba mencari orang untuk memotret mereka. Namun tidak lama, ia sudah bertemu orangnya.
"Calvin" panggil Alex pada karyawan kantor nya. Kebetulan pria ini sedang mencari keberadaan si boss besar nya.
Calvin segera berlari menemui, "Tuan Alex! Syukurlah saya menemukan anda di sini. Tuan ada--"
"Fotokan kami berdua"
"Foto?" ucap Calvin mengulang perintah Alex, seperti orang yang belum jelas saja.
"Kau tidak dengar dengan perintah ku? Cepat fotokan kami berdua!!" sentak Alex tidak sabaran lalu memberikan ponselnya paksa, "Yang bagus... awas kalau jelek"
Alex merangkul bahu Almira merapat ke tubuhnya. Sementara Calvin harus mengabadikan moment tersebut dengan kamera.
"Sudah, tuan"
"Sekali lagi" pinta Alex menahan Calvin yang sempat ingin mengembalikan ponselnya. "Hem, gaya apa lagi ya?"
"Tuan sudahlah... aku merasa malu dilihatin banyak orang. Mereka semua seperti menertawai ku" kata Almira malu dengan para pengunjung taman.
"Jangan malu. Malu itu tidak terlihat... kau hanya akan buang-buang waktu dengan rasa malu mu itu" nasihat Alex.
"Rasa malu memang tidak terlihat, tapi dapat dirasakan dan itu sangat mengganggu diriku"
Alex tidak mendengarkan. Ia tetap berpose dengan mengarahkan Almira berdiri membelakangi dirinya, lalu ia memeluknya dari belakang, mensejajarkan kedua wajahnya.
Almira semakin risih. Matanya tidak berhenti melihat para pengunjung yang membicarakan tentang dirinya.
"Tuan sudah!"
Cup
Almira membeku. Namun si Calvin tidak bisa tinggal diam dengan memotret Alex yang sedang mencium pipi Almira didepan khalayak ramai.
Astaga Almira ingin menghilang dari muka bumi saja!!.
__ADS_1
"Tuan banyak orang!!"
"Shutt diamlah atau bibir mu yang akan jadi sasarannya" ancam Alex tersenyum menang seraya mendaratkan dagu berbulunya diatas bahu istrinya.
"Jangan! Pipi saja sudah kelewat malu" risih Almira.
Alex kembali tersenyum, "Sudah berapa banyak moment yang kau ambil, Calvin?"
"Hem 20 tuan" jawab Calvin.
"Kembalikan" perintah Alex mengambil kembali barangnya.
Alex memeriksa setiap foto.
"Nice... aku akan cetak beberapa foto dan kita pajang di dinding kamar. Tapi rasanya kurang lengkap jika kau tidak buka cadar mu" kata Alex sendu melihat Almira.
"Aku tidak bisa buka cadar ku. Terlebih, foto itu akan kau cetak. Pasti pencetaknya akan melihat wajah ku kan... aku tidak mau itu terjadi" tolak Almira.
"Benar juga..." Alex baru sadar. Namun keinginannya ingin memiliki foto dengan Almira tanpa cadar sangat besar.
"Sudahlah tuan... foto yang itu di cetak tidak masalah" kata Almira menunjuk foto-foto di layar ponsel suaminya.
"Yasudah! Calvin, cetak foto-foto ini... aku tunggu nanti malam jam 7"
"Baik tuan" jawab Calvin menerima perintah Alex. Ia pun melenggang pergi.
"Tapi, aku tetap akan memiliki satu foto dengan mu tanpa cadar" kekeh Alex memutuskan.
"Iya tuan" jawab Almira pasrah.
Alex tersenyum senang, diiringi dengan matanya yang liar mengintimidasi setiap orang. Entah mengapa ada beberapa orang yang ia curigai.
Ada pria berpakaian jas formal berdiri mengintai dibawah pohon besar, ada juga yang pura-pura lewat didekatnya, dan ada dibeberapa tempat lain yang berbeda.
"Tuan, kita cari Ronald yuk!! Aku penasaran dimana anak ku itu membawa Oma nya" ajak Almira.
Almira ingin melangkah mendahului Alex, namun pria ini menahan tangannya. "Tetaplah didekat ku"
"Ada apa tuan?"
Alex berbisik, "Kau lihat pria-pria berpakaian formal disekitar kita. Mereka sedang mengintai kita"
"Tuan apa maksudnya? Jangan buat aku takut" merinding Almira mengungkapkan perasaannya.
"Makanya itu tetaplah didekat ku" ucap Alex menggandeng tangan Almira. "Ayo"
Alex dan Almira melangkah dengan pelan mencoba untuk tetap tenang. Tapi tidak dengan Almira.
"Tuan mereka siapa? Aku takut"
"Tetap tenang Almira. Jangan sampai mereka tahu jika kau melihat mereka... kita tidak tahu mereka siapa dan bisa saja berbahaya" jawab Alex dengan nada berbisik.
__ADS_1
Almira berulang kali menelan ludahnya. Tubuhnya pun bergetar serta berkeringat.
"Tuan mereka mengikuti kita" kata Almira setelah menoleh kebelakang.