
“Sepertinya ruangan ini masih setengah jadi. Tapi, kenapa sekertaris itu mengatakan kepadaku untuk datang kemari?”
Mata Angela liar menyusuri bangunan itu. Ada rasa bingung dalam emosi saat menyadari jika sekertaris tadi telah mengerjainya.
"Kurang ajar!! Beraninya mereka mempermainkan diriku" monolog Angela emosi.
____
Sementara itu Alex yang baru saja keluar dari lift segera menemui sekertaris nya yang tadi memberitahu lantai 15 ke Angela.
"Sindi, kau sudah melakukan apa yang aku minta kan?" tanya Alex dengan tegas.
Sindi mengangguk semangat, "Iya Tuan, saya sudah memberitahu lantai 15 yang anda perintahkan"
"Bagus" jawab Alex melenggang pergi dengan senyuman.
Alex tersenyum puas dengan rencananya sendiri. Tadi setelah ia tahu jika Angela yang akan mengantar berkas kerjanya. Pria ini memberitahu Sindi untuk mengerjainya.
"Angela-Angela, maaf ya... kau harus kesasar dulu sebentar supaya kapok" ucap Alex menahan tawa lalu menemui security didepan.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya security itu.
"Kau tahu wanita yang baru saja datang tadi kan? Tolong kau jaga dia... jangan sampai terluka dan jangan sampai keluar dari kantor ini sebelum aku memberimu perintah" titah Alex.
Security itu mengangguk, "Baik tuan"
"Hm, aku pergi"
"Hati-hati di jalan tuan" balas security itu dengan tulus melihat kearah Alex yang sudah pergi memasuki mobilnya.
_____
Ditempat lain...
Almira berada di dalam mobil ibu mertuanya. Setelah bertemu tadi pagi, Vara memutuskan untuk mengajak Almira pergi. Entah kemana tapi wanita ini nampak angkuh tanpa mengajak bicara Almira sepatah kata.
Jika begitu maka tugas Almira untuk bersuara, "Mah, sebenarnya mamah mau ngajak Almira kemana?"
"Kamu takut jika aku membuang mu ya?"
"Bu-bukan itu mah! Sama sekali Almira tidak berpikiran seperti itu" bantah Almira menolak persepsi ibu mertuanya.
Vara tersenyum miring, "Katakan dimana kau menyembunyikan cucu ku?"
"Cucu?" ucap Almira mengulanginya lagi. Agak aneh rasanya mendengar Vara menyebut anaknya sebagai cucu nya.
"Memangnya mamah mau melakukan apa?"
Vara berdecak kesal, "Heh, anak mu itu kan anak nya Alex dan anak Alex itu cucu ku juga. Jadi, aku memiliki hak untuk menemuinya"
__ADS_1
Almira gelisah. Ia bingung harus berkata jujur atau tidak kepada Vara yang sedang salah paham. Namun, apa dia harus mendengarkan kata Alex dan berakhir membohonginya?
'Bukankah memang begitu aturan agama? Pria yang menikah dengan wanita yang sudah memiliki anak, maka anak itu juga akan menjadi anaknya'
Kata Alex itu tiba-tiba melintas begitu saja di otak Almira.
'Iya benar, kata tuan Alex memang benar. Otomatis Ronald juga cucu mamah' kata Almira dalam hati.
"Hei, kok diam?" kata Vara menyenggol bahu Almira yang langsung sadar.
"Eh iya mah. Tapi, bisakah Almira meminta waktu kepada mamah! Bukannya Almira menolak! Setidaknya tolong beri waktu untuk anak Almira mempertimbangkannya. Dia masih kecil dan sulit untuk menerima" kata Almira meminta waktu.
"Begitu ya?"
"Iya mah" kata Almira mengangguk.
"Tapi, kau juga harus memperkenalkan aku ke cucu ku itu" kata Vara membuang muka malas melihat Almira.
"Iya mah, nanti Almira akan coba membicarakan ini dengan dia"
Vara menerima dengan mengangguk, "Ngomong-ngomong siapa namanya?"
"Ro-ronald mah" jawab Almira gugup.
"Hem, Ronald ya? Bagus juga kamu ngasih nama" puji Vara cuek.
Almira tersenyum dan mengangguk pelan, "Terimakasih mah"
"Baik, nyonya" jawab supir itu.
Almira yang bingung segera bertanya, "Maaf mah, kalau Almira boleh tahu, untuk apa ke mall ya?"
"Dah, kamu diam aja" kata Vara judes dan sukses membuat Almira diam.
Beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di pusat perbelanjaan kota Surabaya. Sebuah gedung pencakar langit yang begitu amat besar dan tinggi.
Almira dan Vara berjalan-jalan didalamnya.
"Mah, kita mau ngapain disini?" tanya Almira masih bingung.
Vara yang dengar langsung menjauh satu jengkal, "Shuttt, kamu itu jangan manggil saya mamah dan kita jangan dekat-dekat. Aku sedikit malu berjalan dengan dirimu"
Agak sakit sih sebenarnya, tapi tidak begitu terasa karena sudah terbiasa.
"Terus Almira manggil mamah dengan sebutan apa coba?" tanya Almira memilih pasrah.
Vara segera berpikir, "Macan aja sih nggak papa"
"Loh, kok macan?" tanya Almira sedikit bingung.
__ADS_1
"Macan itu melambangkan kekuatan dan kekuasaan terus, macan itu kepanjangan dari mamah cantik. Jadi, macan aja" kata Vara memutar bola matanya malas.
"Iya mah eh ma-macan" kata Almira memilih mengangguk.
Walaupun Almira menerima tetap saja julukan itu agak aneh untuk ibu mertuanya. Namun, mau bagaimana lagi. Mertuanya ini memang ada-ada saja.
"Ayo burung gagak cepetan jalannya lelet banget sih" ketus Vara berjalan mendahului Almira.
"Iya, ma-macan" balas Almira menepuk jidatnya sendiri karena hampir lupa.
Setelah itu macan dan burung gagak berada di toko perlengkapan anak cowok. Macan terus memberi pertanyaan pada burung gagak tentang ciri-ciri cucunya.
"Berapa umur Ronald, gagak?" tanya Vara.
"Lima tahun, macan" jawab Almira didengar oleh pekerja yang ada di toko tersebut.
Pekerja itu hanya bisa mengerjapkan kedua matanya bingung dan diam mendengarkan. Nyaris dia tertawa, namun itu terlihat tidak sopan.
"Baju anak cowok yang kayak gini usia lima tahun ya" kata Vara memberi perintah pada pekerja itu.
"Baik! Mau yang warna apa, macan?" tanya pekerja itu meniru julukan Almira.
Vara yang dengar merasa tidak terima, "Hei, jangan memanggilku dengan sebutan macan ya! Itu hanya untuk si gagak ini"
"Eh, maaf nyonya" ucap pekerja itu menyesal.
Vara menghela nafasnya malas, "Iya"
"Ngomong-ngomong, bajunya mau warna apa nyonya?" tanya pekerja itu mengalihkan pembicaraan.
"Ronald suka warna apa?"
"Ronald suka warna merah hati" jawab Almira.
Vara mengernyitkan dahinya, "Kok nggak ngikutin Alex sih? Biasanya anak kan ngikutin ayahnya"
Almira diam menyengir memperlihatkannya gigi-gigi rapinya namun percuma, toh Vara tidak akan lihat.
"Heh, kamu bantu temanmu untuk membawakan pakaian anak warna merah hati. Dan kamu, bawakan sepatu mahal yang ada warna merah hatinya. Nanti saya kembali lagi" kata Vara kepada pekerja satunya.
"Baik, nyonya" balas pekerja itu mengangguk membiarkan Vara dan Almira pergi bersama.
Setelah dari toko pakaian. Gagak dan macan itu memasuki toko full berisi mainan anak-anak. Almira yang melihat merasa agak kurang nyaman.
"Macan, sebaiknya jangan terlalu banyak memberikan barang-barang untuk Ronald karena itu bisa membuat Ronald menjadi manja dan semaunya" tegur Almira hati-hati.
"Shutt, kamu itu diam saja. Aku ini neneknya yang kaya dan bisa memberikan segalanya untuk cucuku. Jadi, apa masalahnya kalau dia manja?" acuh Vara mengabaikan teguran Almira.
"Ronald harus mandiri dan tidak manja. Sebagai seorang laki-laki Ronald harus di didik untuk menjadi pria mandiri dan pekerja keras" kata Almira menegur lagi.
__ADS_1
Vara semakin sebal, "Heh gagak! Aku mendidik Alex dengan harta dan kekuasaan. Tapi, lihatlah anakku itu... dia menjadi pria yang bertanggung jawab dan mandiri"