
Kedua mata Andre menjadi saksi penghianatan Alex kepada Arsen sahabatnya. Andre sangat terkejut mendengar pengakuan Alex itu dan berpikiran jika sahabatnya berkhianat.
"Kau ingin menusuk Arsen dari belakang?" tuduh Andre dan Alex segera menggelengkan kepalanya.
"Akulah pria yang menikahi Almira, bukan Arsen. Menikah secara agama dan negara... apapun yang Almira miliki telah menjadi milikku juga beserta anaknya" bantah Alex tidak setuju jika Andre tetap menganggap Arsen ayah Ronald.
"Alex, Arsen adalah ayahnya... kau itu kenapa sih? Kau kan juga sudah sepakat jika pernikahan kalian hanya sekedar kontrak dan akan berakhir setelah 1 tahun"
"Aku tidak akan mengakhiri pernikahan ini" tegas Alex tidak ingin dibantah.
"Kali ini aku tidak setuju Alex"
Alex tersenyum miring tidak mau tahu dengan pendapat pria didepannya.
“Andre, tante Mimilia hanya berharap dengan anak Almira saja. Lalu bagaimana dengan Almira? Pernah kau memikirkan bagaimana perasaan wanita itu jika tahu nenek nya datang secara tiba-tiba dan berniat mengambil anak nya. Apa kau mikir?” sentak Alex dengan emosi yang membara.
Andre terdiam. Pria ini juga langsung kepikiran dengan Almira selepas anak itu diambil.
“Tante Mimilia tidak melakukan apa-apa. Saat Almira mengandung… keluarga mereka tidak ada yang datang dan berniat bertanggung jawab”
“Itu karena mereka tidak tahu tentang Almira”
“Makanya itu!” sela Alex dengan nada meninggi menyanggah pemikiran Andre, “Itu kesalahan di pihak mereka yang tidak tahu apa-apa. Jadi, mereka harus berhenti berharap ingin mengambil anak nya Almira”
“Lex, kenapa kau jadi begini?” tanya Andre bingung dengan sikap Alex yang berbeda dari yang dulu.
Alex juga tidak tahu mengapa ia sangat menolak jika tiba-tiba Mimilia mengambil anak istrinya. Berkat itu si pria langsung mengusap wajah nya secara kasar.
"Oh iya, itulah mengapa Almira memilih untuk tidak memberitahu siapapun tentang anaknya"
"Lex kau----"
"Sudahlah Andre!" potong Alex saat Andre ingin meneruskan ucapannya, "Aku tidak bisa berbicara banyak, aku harus pergi... "
Alex melangkah mendekati Andre dan berbisik, "Ternyata aku salah dengan berkata jujur dengan dirimu. Ku pikir karena kau sahabatku, maka kau bisa membantu diriku"
Setelah mengatakan itu Alex pergi meninggalkan Andre seorang diri.
Pria itu bimbang! Keduanya adalah sahabat Andre, lalu dengan siapa ia harus memilih.
"Kenapa menjadi kacau seperti ini?" gumam Andre mengacak-acak rambut kepalanya.
_____
Rumah susun...
__ADS_1
06:00
Pagi harinya Almira sudah sigap memasak untuk Irene dan putra kesayangannya. Wanita bercadar ini memilih untuk melepas niqab nya supaya tidak kotor saat masak, bahkan ia juga melepas hijabnya.
"Aku akan memasak sup ayam kesukaan Ronald sama semur jengkol kesukaan Irene" gumam Almira bahagia.
Drett
Notif pesan yang baru saja terkirim tiba-tiba masuk ke ponsel Almira dan mengganggu aktifitas paginya. Siapa sih?
'Tuan Alex?' bacanya dalam hati. Ada rasa yang tiba-tiba berubah resah saat mendapatkan pesan dari Alex.
"Aku lupa mengabari Tuan Alex kalau aku tidak pulang" gumam Almira merasa bersalah. Ia segera membuka pesan itu dan isinya sangat mengejutkan.
'Almira, kepala pelayan yang bernama Kiran sering datang kemari saat pagi hari! Tidak lupa saat malam dia segera pulang ke asrama, sesekali dia juga berkunjung sejenak ke rumah menemui suami dan anaknya. Dia tahu waktu dimana dia harus mengurus suaminya dan mengurus atasannya. Aku tidak tahu urusan mu apa, tapi kau telah melupakan suamimu. Sungguh aku sangat kecewa'
"Tuan Alex mengirim pesan kepada ku panjang sekali" karena tidak mau membuat masalah Almira segera menelpon Alex.
Panggilan telpon tersambung, namun belum ada niatan Alex untuk mengangkatnya. Biarkan saja, salah siapa tidak memberi kabar.
"Dia bilang tadi malam mau pulang. Tapi sampai pagi begini tidak ada kabar. Biarkan saja dia terus menelpon diriku... aku tidak akan mengangkat nya" monolog Alex bersidekap menatap ponsel yang berdering diatas meja.
Sampai dua kali Almira menelpon, namun Alex tidak kunjung mengangkatnya.
"Pasti dia sedang ketakutan sekarang. Dia takut aku marah" kata Alex terlalu pede.
"Tidak diangkat?" gumam Almira melihat layar ponselnya yang ada diatas meja. "Apa dia sedang sibuk? Apa aku harus mematikan saja? Lagi pula dia tidak mengangkat telponnya"
Almira bingung berniat ingin mematikan, namun si Alex tetap kekeh tidak mau mengangkat.
"Ayo, terus telpon aku! Aku akan langsung mengangkat jika sampai 100 kali" ucap Alex telah memutuskan.
Namun, tiba-tiba ponsel itu mati setelah berdering yang ke tiga kali. Sesaat Alex menunggu, tapi tidak ada panggilan lagi.
"Hanya itu? Bahkan belum ada seperempat dari 100, dia sudah menyerah? Kurang ajar" kesal Alex mengambil ponselnya dan menelpon balik Almira, bahkan menggunakan panggilan Vidio.
Almira yang tahu itu langsung mengangkat dan menjauhkan wajahnya dari kamera, "Assalamu'alaikum, tuan Alex. Tadi aku pikir tuan Alex sedang sibuk karena tidak mengangkat telpon dariku"
"Iya, aku memang sibuk... sibuk melihat ponsel ku berdering" balas Alex dingin.
"Jadi, tuan Alex tahu jika aku menelpon tapi kau hanya membiarkan nya, kenapa?" tanya Almira polos.
"Kau tidak lihat aku sedang kesal ya? Masih bisa bertanya? Dari pesan yang ku kirim sudah seperti jalan kereta dan telpon mu yang tidak ku angkat. Kau masih bisa bertanya KE NA PA?" tekan Alex di kata terakhir.
"Aku tahu aku salah! Dari itu aku berniat menjelaskan semuanya kepadamu lewat telpon, tapi kau malah tidak mengangkatnya. Kan aku jadi bertanya-tanya"
__ADS_1
"Bertanya-tanya tapi usahamu hanya seujung kuku" timpal Alex masih kesal.
"Iya tuan Alex... aku salah. Jadi, aku minta maaf karena tidak memberitahumu terlebih dahulu jika aku tidak pulang ke Villa" sesal Almira memilih mengalah.
"Apa semudah itu meminta maaf? Kau pikir aku akan semudah itu memaafkan kesalahanmu yang menurutku sangggat fatal itu?" sejenak Alex tertawa, "Jangan mimpi"
"Lalu, tuan Alex mau aku berbuat apa supaya bisa dimaafkan?" tanya Almira.
Alex memandang langit-langit plafon kamarnya, berpikir.
"Kau harus pulang dulu" ucap Alex dingin.
"Tapi aku sedang---"
"Dalam waktu 30 menit, kau harus sudah sampai didepanku" potong Alex tidak mau dibantah.
"Tap---"
Tut
Almira menghela nafasnya ringan. Pria ini seperti anak kecil bahkan melebihi Ronald yang keinginannya harus segera dipenuhi.
Ting
Almira membaca pesan dari Alex, 'Aku menunggumu. Jika kau tidak datang, maka aku tidak akan memaafkan dirimu'
"Innalilah..." sebut Almira yang hampir marah. Wanita ini bergegas bersiap, namun ia juga tidak bisa pergi begitu saja.
Alhasil Almira memutuskan untuk memasak dulu. Sehabis masak, ia menulis pesan untuk Ronald dan Irene.
Detik berikutnya ia pergi.
Sepanjang perjalanan Almira sudah seperti dikejar hantu. Pikirannya terbayang-bayang Alex yang marah dan enggan memaafkan dirinya.
"Pak ojek" kata Almira kepada tukang ojek sebelah gedung. Almira memutuskan untuk naik ojek supaya cepat sampai ke Villa.
Membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit lebih karena jalanan yang macet, terlebih tadi Almira masak dulu. Jadi, mungkin ia akan telat sampai di Villa.
Sesampainya di Villa, Almira bergegas turun dan membayar ojek lalu masuk kedalam. Ia berlari pelan mengabaikan Angela yang ada di halaman.
"Siapa dia? Kenapa dia lancang langsung masuk ke Villa Alex? Dia nggak nyapa aku dulu lagi" monolog Angela kesal. "Pakaiannya aneh banget lagi"
Karena kesal Angela segera menyusul Almira. Bahkan menyusul sampai ke ruangan dibawah tangga. Tadi, Alex sempat memberitahu.
"Assalamu'alaikum" ucap Almira membuka pintu ruangan itu. "Aku tidak tahu jika ada ruangan lagi disini..."
__ADS_1
"Tidak usah basa-basi. Mandikan suamimu"
...To be continued ...