
Alex memang berkata untuk menerima Almira sebagai istrinya dan Ronald anaknya. Ia telah merubah status pernikahan kontrak nya dengan pernikahan seumur hidup bersama.
Namun, bukan berarti kehidupan gelap Alex yang dulu bisa semudah itu sirna walau dengan adanya Almira. Ia tetap menjadi Alex yang dulu sebelum mengenal wanita bercadar itu.
Seperti inilah Alex yang sebenarnya, dia bisa menyakiti orang jika orang itu sudah kelewatan. Bahkan dengan Natania sekalipun.
"NATANIAAA" teriak Eros menyaksikan tubuh kekasihnya membentur dinding dibelakang.
Natania memegang perutnya dan berkata dengan lemas nan lirih, "Er-eros... per-perutku!"
"Sayang, kenapa dengan perutmu? Apa sakit?" cemas Eros menyangga kepala Natania di pahanya.
"Sa-sa----kit" menangis Natania menjawabnya.
Eros segera memohon kepada Alex, "Alex, tolong...tolong panggil dokter... dokter harus mengobati Natania. Dia sedang hamil... tolong"
"Apa itu bayiku?"
Tentu saja Eros menggelengkan kepalanya, "Dia bayiku Alex"
Alex tersenyum miring, "Lalu kenapa kau memintaku untuk memanggil kan dokter? Tidak ada hubungannya denganku"
"Kau tidak lihat? Natania sedang hamilllll Jika terjadi sesuatu dengan anak kami, maka kau akan menanggung semua " geram Eros meninggikan nada suaranya. Tidak peduli dengan apapun lagi.
Alex menyeringai dingin dengan wajah yang mendekat, "Aku tidak peduli... aku tidak peduli dengan bayi haram yang kalian hasilkan. Menurutku, itu bukan urusanku"
Natania tercengang. Begitu kejam Alex saat ini, atau ini adalah bentuk dari rasa kecewa pria itu.
"Penjaga!!!! Penjaga!!!! Tolong kami... kekasihku terluka" teriak Eros meminta tolong.
Namun, namanya seorang tawanan, siapa sih yang mau membantunya? Terlebih, Alex selalu mengancam dengan wajah dingin nya.
Seakan-akan ia memperingati untuk jangan ada yang membantu.
"Awww Eros... Eros darah hiks hiks" Natania menangis keras melihat lelehan darah keluar dari area bawahnya.
Alex menghela nafasnya dalam-dalam, tidak peduli. Ia melenggang pergi keluar dari sel ini.
"Alex!!!! Tolong Alex!!!!! Natania pendarahan!!!!"
Alex seakan tuli, tidak mau dengar teriakan Eros. Telinganya telah tertutup dengan rasa benci.
Selesai dengan urusan Natania dan Eros, pria ini bergegas mencuci kedua tangannya di wastafel, ditemani dengan anak buahnya, Calvin.
Calvin memberikan handuk supaya bisa Alex gunakan untuk mengusap tangannya.
"Tanyakan kepada Sania mengenai pabrik kita yang terbakar di Kalimantan. Aku lupa menanyakan kabarnya" ucap Alex mengembalikan handuk itu lagi.
Calvin paham dengan kesibukan atasannya ini.
"Semalam saya sudah mendapatkan kabar mengenai pabrik kita di Kalimantan. Dia berkata, telah mengeluarkan uang ratusan juta untuk kompensasi dan milyaran untuk membangunnya kembali" jawab Calvin.
Alex hanya mengangguk untuk merespon penjelasan Calvin itu.
__ADS_1
"Siapkan mobil. Aku ada meeting dengan kolega Afrika di restoran xxxx"
"Baik, Tuan" jawab Calvin mengangguk hormat.
______
Taman indah dengan pohon-pohon rimbun menyejukkan setiap pengunjung. Bunga-bunga berwarna-warni sebagai pelengkap keindahan taman. Indah, sungguh indah ciptaan Allah.
Almira, Ronald beserta Vara berjalan di area taman tersebut.
"Disana es krim nya" antusias Ronald menunjuk ke arah gerobak es krim.
Vara segera menoleh dan langsung terhenyak melihat gerobak es krim itu penuh dengan orang-orang kelas bawah.
Saat ini Vara sedang mempertimbangkan citra nya sebagai kalangan rakyat sosialita.
"Ayo Oma, ibu" ajak Ronald menggandeng tangan kedua wanita disamping kanan dan kirinya.
"Tunggu sebentar, rame banget itu. Yakin kita bisa kebagian? Oma sih nggak yakin" Vara mencoba mengeles.
"Kebagian kok Oma, tenang aja" jawab Ronald enteng.
Vara males tapi cucu nya ini malah menariknya sampai didepan gerobak sana. Alhasil dia harus ikut mengantri yang panjangnya seperti antrian sembako.
"Ronald mau rasa apa?" tanya Almira.
"Hem, Ronald mau rasa blueberry! Hem rasa itu adalah rasa kesukaan ibu. Jadi, Ronald menyukainya. Apapun yang ibu sukai, Ronald akan suka" jawab Ronald menimbulkan haru.
Vara melihat Ronald dan Almira bergantian. Rasa iri timbul dalam benaknya hingga membuat Vara ingin diperhatikan juga.
Vara melepas lilitan tangan Almira pada Ronald, "Cucuku Ronald, kita duduk aja yuk di kursi sana. Nanti es krim nya biar ibu mu yang membelikan. Ronald pasti capek"
"Tapi Oma. Ibu kasian" Ronald terlihat sendu setelah mengutarakan isi hatinya.
"Tidak apa-apa sayang, ibu akan mengantri untuk es krim mu dan Ronald beserta Oma bisa duduk sembari menunggu, ya" pinta Almira.
"Tuh kan, ibu aka setuju. Yok kita cari tempat duduk terlebih dahulu" ajak Vara lagi.
"Ronald pergi dulu Bu"
"Iya sayang" jawab Almira membiarkan Vara membawa Ronald dalam mencari tempat untuk duduk.
________
Cafe
Di tempat ini Alex beserta koleganya saling berkomunikasi serta saling bekerja sama. Keduanya terlihat akrab bagai saudara.
"Alex, aku sudah melihat barang yang kau kirimkan ke perusahaanku. Waw Alex, aku merasa senang. Barang milikmu tidak pernah mengecewakan sama sekali dan selalu membanggakan" puji kolega Alex.
"Saya sangat berterimakasih dengan pujian dan juga, anda sudah mau menjadi langganan tetap di perusahaan kami, Indra"
Indra menaruh secangkir kopi nya di atas meja, "Bagaimana aku bisa melepas barang terbaik di Indonesia ini? Yang ada aku akan rugi. Kualitas bagus, harga bersahabat... luar biasa"
__ADS_1
Alex tertawa bahagia dengan pujian Indra yang berlebihan. Ia malu namun kebanggaan mendominasi.
"Oh iya, aku juga ingin menyewa lahan mu di Bandung. Niatnya aku ingin membuka restoran baru disana, dan aku belum mendapatkan lahan yang cocok"
"Oh begitu, silahkan... asal nominalnya sesuai" balas Alex dengan royal.
Indra tertawa senang, "Aku heran dengan dirimu Alex. Kenapa kau tidak manfaatkan lahan yang menganggur? Padahal semuanya strategis"
"Disewakan jauh lebih untung. Lagipula, jika aku membutuhkan lahan pasti aku akan cepat mendapatkan"
Indra pun membalas dengan tawa, "Iya, kau benar juga"
Alex tersenyum kecil. Kini atensinya berganti melihat kearah jauh diseberang jalan didepan cafe. Didepan cafe sana ada taman dan secara kebetulan ia melihat keluarganya.
'Bukankah itu mamah? Sedang apa mamah di luar rumah? Di taman tempat orang-orang kalangan menengah lagi, tidak biasanya' gumam Alex dalam hati.
"Em Indra, bisa kita akhiri pertemuan kita? Aku ada urusan mendadak" sesal Alex.
"Baiklah tidak apa-apa! Aku juga ada rapat dengan kolega ku"
"Maafkan aku"
"Tidak masalah! Kalau begitu aku pergi dulu, permisi" Indra mengangguk sopan lalu melenggang pergi.
Sementara Alex segera keluar dari cafe hingga menyebrang jalan. Ia ingin menemui keluarganya yang terlihat bahagia menikmati es krim nya.
"Hai Ronald" sapa Alex setelah sampai di dekat mereka.
Ronald tersenyum, "Hai Daddy. Daddy juga disini ya?"
"Tentu saja! Dimana pun Ronald berada, disitu Daddy akan siap menjaga" gurau Alex dengan tawa.
Alex melihat kedua wanita serta bocah itu secara bergantian. Mereka semua makan es krim, hanya dia saja yang tidak.
"Apa aku tidak ada sisa untuk ku? Apa kalian ingin membuatku menjadi penonton saja?" sindir Alex.
"Hei gagak! Cepat belikan es krim untuk suamimu... dasar tidak pengertian" ketus Vara dengan nada yang sedikit berbisik, supaya Ronald tidak dengar.
Cucu kesayangannya itu memang tidak dengar, tapi Alex yang merupakan suaminya si gagak itu mendengar. Ia merasa iba jika Almira di suruh-suruh begitu.
"Cepat sana"
Almira menaruh es krim nya di tempat yang sempat ia duduki, "Iya mah"
"Tidak usah Al" sela Alex menahan lengan Almira. "Aku ingin mencicipi es krim mu saja"
"Tapi ini sudah mau habis"
"Kita bisa mencicipi es krim yang lain" kata Alex tersenyum miring disertai kedipan kecil di mata kirinya.
Sepasang mata Almira dan Vara membulat sempurna.
TBC
__ADS_1