
Kening Alex mengernyit mengetahui Angela yang merupakan adik angkat Arsen sahabatnya itu datang tiba-tiba di Indonesia.
"Alex!" Angela memeluk rindu tubuh Alex yang masih membeku di atas tangga satu. "Alex, kau tidak merindukan diriku?"
Alex langsung tersadar, "Kau ke Indonesia tapi tidak mengabari diriku terlebih dahulu. Why"
"Ahh itu karena aku ingin memberikan dirimu kejutan!!! Bagaimana, kau terkejut?"
"Sedikit" jawab Alex tersenyum sipit.
Angela memanyun dan meninju perut Alex pelan, "Ihh nggak asik"
"Seharusnya kau mengabari diriku dulu jika ingin ke Indonesia. Aku kan bisa bersiap-siap menyiapkan semua kebutuhanmu"
"Oh kau perhatian sekali dengan diriku" ucap Angela merasa GeEr.
Padahal maksud Alex perhatian, karena Angela adik sahabatnya serta anak Tante Mimilia yang ia hormati.
"Jadi, kau menginap dimana sekarang?" tanya Alex basa-basi.
"Aku belum mendapatkan tempat tinggal karena aku kan tidak tahu wilayah Indonesia, serta aku juga tidak bisa tinggal sendiri"
"Jadi?" tanya Alex menebak sesuatu.
"Aku tinggal di Villa mu ya?" celetuk Angela tersenyum sok cantik serta dibuat se melas mungkin supaya Alex iba.
______
Di rumah susun
Almira mengantar Ronald ke kamarnya, setelah itu ia menemui Irene dan Elma yang duduk di ruang tamu ingin mengobrol.
"Makasih ya, kalian sudah mau membantu diriku" kata Almira terharu lalu duduk di kursi.
"Santai aja kali Al, kamu ini kayak sama siapa aja sih! Kita kan teman kamu" kata Irene tidak mau Almira merasa sedih.
Elma setuju dengan mengangguk, "Iya Al... kita ini teman dan saling membantu dong pastinya"
Almira mengusap bahu Elma dan Irene secara bersamaan. Kebetulan mereka bertiga duduk berdampingan, dimana posisi Almira ditengah-tengah mereka.
"Oh iya Al... kira-kira yang dimaksud sama bibi Amel itu siapa ya? Apa jangan-jangan rentenir lagi Al" tebak Irene.
"Ih nggak kok Irene... orang aku udah lunasin semua hutang-hutang ke rentenir kok. Mustahil lah kalau itu rentenir" jawab Almira.
"Terus siapa ya?" Elma juga ikut berpikir.
Almira meremat kain syar'i miliknya. Tiba-tiba dia merasa gundah dan takut, namun ia harus menutupi semua dugaannya.
__ADS_1
'Semoga saja bukan' harapan Almira dalam hati.
"Ya udah lah Al, nggak usah dipikirin masalah itu. Semoga aja dia orang baik dan tidak bermaksud jahat" timpal Irene setelah melihat Almira sedih.
"Amin!" balas Almira mengusap wajahnya. "Kayaknya aku harus pindah dari rumah susun ini... aku takut jika dia itu orang jahat dan mau mencelakai Ronald"
"Apa kamu mau tinggal di dekat rumahku aja Al? Kebetulan tetanggaku itu lagi jual rumahnya dan sampai sekarang belum ada yang beli" usul Elma.
"Aku sih seadanya aja. Gimana menurut kamu Irene? Kan kamu juga yang akan tinggal sama aku sama Ronald" tanya Almira.
"Aku sih terserah aja sih! Kalau emang nyaman ya boleh-boleh aja" balas Irene tidak banyak meminta.
"Ya udah aku pulang dulu sama sekali bilang ke pemilik rumah itu kalau kamu mau membelinya ya" kata Elma menaikan tali tas pinggangnya.
"Kamu nggak mau nginep aja? Udah malam loh"
"Baru jam 8 kok Irene, kalian santai aja... lagian aku naik motornya pelan-pelan kok, sama Scoopy aku itu udah kayak sahabat sendiri. Jadi, aku nggak ngerasa takut" gurau Elma.
"Nggak minta jemput calon suami aja nih? Ayang, jemput dong" goda Irene menyenggol bahu Almira.
"Ih, ayangnya lagi kerja buat nafkahin eneng nya nanti" kata Elma membalas dengan gaya.
"Kamu gimana Al, suami kamu mana? Jangan diam aja di pamerin sama Elma..." goda Irene malah menggoda Almira.
"Orang aku diam-diam aja kok diikut sertakan" kesal Almira sedikit manyun.
Elma dan Irene tertawa lepas membuat Ronald terganggu dan keluar dengan mengerucutkan bibirnya.
Ronald mengangguk, "Suara tertawa bibi Irene seperti Mak lampir"
"Heiii kau... aku gigit kau nanti" kata Irene tidak terima membuat Ronald memeluk Elma karena takut.
"Ronald, bibi mau pulang dulu ya! Soalnya udah malem, nanti bibi dimarahin sama ayah nya bibi lagi"
"Iya bibi Elma" Ronald mengangguk sembari turun dari gendongan Elma.
"Aku pergi dulu semuanya. Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam, hati-hati" seru Almira saat sahabatnya itu sudah keluar dari rumah.
Drettt
Almira segera mengambil ponsel yang ada didalam tas saat benda gepeng itu berdering.
"Hallo, assalamu'alaikum" jawab Almira menempelkan ponsel itu.
"Walaikumsalam! Kau ada dimana?" tanya Alex diseberang telpon.
__ADS_1
"Aku sedang ada urusan. Kenapa?" tanya Almira.
"Seluruh pelayan sudah pulang ke asrama dan aku sangat lapar, ingin makan. Tidak ada yang memasak untuk diriku" kata Alex terdengar melas.
Pria itu sudah mencoba untuk memotong bawang merah, namun justru jari-jarinya yang teriris. Ironis sekali, pria yang pandai memotong tubuh orang justru bodoh dalam memotong bawang.
"Jam 10 malam aku akan sampai disana" jawab Almira.
"Ibu!!! kau tidak akan pergi kan? Aku ingin tidur dipeluk ibu dan dibacakan dongeng kesukaanku yang hewan-hewan itu" rengek Ronald mengejutkan Almira.
"Shutt" Almira menyuruh Ronald untuk diam.
Irene terkejut dan langsung menasehati, "Eh sayang jangan bicara jika ibu sedang menelpon"
Mereka takut jika Alex dengar, namun Alex sudah terlanjur dengar. Akan tetapi, pria itu pura-pura tidak dengar dan tersenyum miring.
"Em, Tuan... aku tutup dulu telponnya. Jam 10 aku usahakan sampai disana assalamu'alaikum" salam Almira tanpa menunggu jawaban dari Alex, ia langsung menutupnya.
"Iya" Alex menurunkan ponselnya dari telinga. Ia tersenyum setelah mendengar suara Ronald yang teduh.
"Rupanya Ronald sudah sembuh! Syukurlah" gumam Alex mengangguk lega.
"Ronald siapa?" tiba-tiba Angela datang dan langsung meminta penjelasan setelah lama menguping.
Namun Alex tidak terkejut dan malah santai, "Anak temanku... dia sudah sembuh dari sakitnya"
"Temanmu siapa?"
"Jangan kepo" timpal Alex mengejek Angela yang langsung mengumpat kasar.
Sementara itu dari luar rumah Almira ada pria memakai Hoodie, celana panjang, topi dan masker serba hitam. Pria itu segera pergi setelah merekam.
Hasil rekaman itu ia kirimkan kepada pria tua yang berani membayarnya mahal.
Ting
Notif pesan ponsel Stevano terdengar menepis kesunyian di ruang bacanya, ditemani sang istri yang memang sudah menunggu lama.
"Gimana pah? Sebenarnya niat burung gagak menikah sama Alex itu apa? Awas aja kalau karena uang" tanya Vara tidak sabaran.
"Sabar-sabar" kata Stevano memutar rekaman vidio yang ada di ponsel itu.
Kedua mertua Almira itu sudah siap melotot didepan layar ponsel Stevano. Vidio diputar tepat di adegan Ronald merengek memanggil Almira.
'Ibu!!!'
"Stop" pekik Vara membuat Stevano terkejut segera menjeda Vidio tersebut, "Dia sudah memiliki anak?"
__ADS_1
Vara dan Stevano saling lihat dan menyuarakan persepsi nya, "Almira mau menikah, karena Alex sudah berani menghamili dirinya"
To be continued