
"Tuan, mereka mengikuti kita" kata Almira setelah menoleh kebelakang.
"Aku tahu" kata Alex menelpon anak buahnya, "Calvin, ada banyak orang yang mengintai ku. Cepat atasi mereka"
"Baik, tuan" jawab Calvin bergerak.
Setelah itu Alex menutup telponnya.
"Tenanglah Almira. Calvin akan mengatasi semuanya"
"Mengatasi bagaimana? Mereka terlihat menyeramkan dan masih mengikuti kita. Ayo kita lari"
"Almira jangan lari" cegah Alex belum sempat didengar Almira yang sudah menarik pergelangan tangannya kabur.
Akibat nya para pria itu menyadari jika pengintaian mereka telah diketahui. Mereka mengejar Almira dan Alex.
"Al, jangan lari... mereka akan--" kata Alex disela-sela larinya. Ia melihat para pria itu mengikuti dirinya. Yang ditakutkan menjadi kenyataan.
"Sialann" maki Alex berlari memimpin jalan. Yang tadinya dibelakang, kini berganti didepan Almira yang langsung kebingungan.
"Tuan kau---"
"Kemari"
Ucap Alex menarik Almira ke kanan jalan. Ia tahu daerah ini dan ia akan membuat wanita bercadar ini aman.
Pelarian mereka sampai ke sebuah tempat yang sepi dipenuhi gedung-gedung tak berpenghuni.
"Tuan... merek--a sudah tidak mengikuti... kita" sela Almira mencoba menghentikan Alex. "Kaki ku... sakit"
Nafas Alex tersendat-sendat setelah membawa lari Almira jauh. Namun matanya masih mengedar mencari pria-pria yang tadi mengikutinya.
Sudah tidak ada dan itu membuat Alex tenang.
"Tuan, sepertinya mereka sudah tidak mengikuti kita" kata Almira dengan nafas terengah-engah.
"Aku yakin Calvin yang mengatasi mereka semua" Alex merasa amat lega.
Namun...
"Tuan Alex!!" panggil pria dengan suara yang sangat ia kenali. "Maaf tuan kami telat datang" ucap Calvin beserta anak buah lainnya. Mereka semua terlihat menyesal, membuat Alex tidak tega.
"Sudahlah! Lagian, mereka sudah berhenti mengejar. Tapi siapa yang mereka incar? Kenapa mereka berhenti mengejar ku?" Alex kebingungan.
Seharusnya jika mereka ingin melukai Almira ataupun Alex, pasti mereka akan mengejarnya sampai keujung dunia. Tapi kenapa tiba-tiba dilepaskan?.
Ini bukanlah tipe musuhnya Alex. Pasti ada sesuatu yang mereka rencanakan.
Drettt
Almira terhenyak mendengar ponselnya berdering didalam tasnya. Tidak lama ia pun segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum macan... kalian ada dimana?"
"Al... Almira..."
Jantung Almira seketika berdetak kencang mendengar nada mertuanya yang tersendat-sendat seperti sedang menangis.
"Mah, ada apa?"
__ADS_1
"Ronald Al... Ronald..."
Almira semakin khawatir dan bertanya, "Mah Ronald kenapa?"
"Ronald di tembak"
Deg
Jantung Almira kini seakan berhenti berdetak. Tubuhnya pun berhenti bergerak dengan tatapannya yang kosong melihat depan.
"Ada apa Al?" tanya Alex.
"Ronald ditembak Tuan!!!" balas Almira dengan tangis yang pecah.
Alex tersentak. Ia terkejut mendengar berita menyedihkan itu menimpa anak tirinya.
_______
Kantor Andre
Di ruang kerjanya si pemilik perusahaan sedang mengerjakan tugas kantornya. Ia sibuk dengan angka-angka di layar labtop, mengabaikan OB wanita yang baru bekerja.
Selain sibuk dengan angka, Andre juga sibuk dengan telpon Angela.
"Kau menelpon diriku hanya untuk menanyakan tentang Alex? Jangan tanya aku... aku mana tahu" kesal Andre menjawabnya.
"Dia tidak menjawab telpon ku! Mungkin saja dia bersamamu saat ini"
"Tidak! Sudah dulu ya... aku sedang sibuk" ucap Alex langsung menutup telponnya. Entah bagaimana respon Angela saat ini, ia tidak peduli.
Ia sangat sibuk.
Drettt
Lalu?
"Maaf tuan... ini telpon milik saya" kata Elma si pekerja baru.
"Oh aku kira punyaku. Silahkan kalau mau mengangkatnya..." sopan Andre menjawab.
Elma mengangguk lalu menjawab telpon dari Irene sahabatnya, "Assalamu'alaikum Irene... ada apa?"
"Tadi Almira menelpon ku, dan dia bilang jika Ronald masuk rumah sakit"
"Ronald masuk rumah sakit?" terkejut Elma dengan nada tinggi.
Hal itu membuat Andre dengar dan merasa familiar dengan nama yang Elma sebutkan.
"Astaghfirullah aku akan segera ke rumah sakit Irene assalamu'alaikum" kata Elma menutup telponnya.
"Maaf, apa yang kiu maksud Ronald itu putra dari Almira Maheswara?" tanya Andre setelah menguping.
"Iya tuan" jawab Elma.
Andre terkejut, "Almira itu istri sahabat ku Alex dan Ronald itu anak tirinya"
"Saya ijin untuk mengunjungi anak sahabat saya, Tuan. Saya tahu ini bukan waktunya untuk ijin, mengingat saya masih karyawan baru. Tapi---"
"Saya mengijinkannya. Ayo, ikut mobil saya saja... saya juga akan ke rumah sakit" sela Andre terburu-buru.
__ADS_1
"Saya sudah bertunangan. Saya harus menjaga jarak dengan seorang pria demi menjaga perasaan calon suami saya" tolak Elma.
"Ada supir juga" kata Andre supaya Elma tidak salah paham.
Tanpa berlama-lama Elma mengangguk setuju.
_______
Rumah sakit
Vara menangis didepan ruang UGD tempat cucu nya di obati. Hatinya seakan teriris nyeri melihat cucunya terbaring dengan selang infus dan luka terbuka di perutnya.
"Astaga Ronald..." Vara menangis tersedu-sedu.
"Mamah" panggil Almira berlarian menemui mertuanya yang ada disana. "Mah, apa yang terjadi? Bagaimana... Ronald bisa tertembak?"
"Tadi... mamah... tadi... mamah..." gemetar Vara tidak kuat menjelaskan pada Almira.
"Mamah tenang dulu ya mah..." kata Alex mengusap punggung Vara saat wanita itu langsung memeluknya erat.
Sementara Almira menyaksikan dengan kedua matanya, melihat putranya kembali terbaring dengan selang infus.
"Astaghfirullah Ronald... maafkan ibu... maafkan ibu karena tidak bisa menjagamu" tangis Almira semakin pecah.
Alex menatap nanar istrinya yang sedang menangis. Tidak dipungkiri hatinya berkedut nyeri sekali.
'Jangan menyalahkan diri sendiri Al... aku akan memburu pelaku yang berani membuat Ronald terluka' janji Alex dalam hati.
"Assalamualaikum" sapa Elma dan Irene yang kebetulan sampai secara bersamaan.
"Elma, Irene!!" tangis Almira semakin pecah didalam pelukan dua sahabatnya itu. "Ronald kena musibah"
"Iya Al... kamu tenang dulu ya" kata Irene dengan mengusap kepala sahabatnya.
"Kamu jangan khawatir, Al... kita berdoa untuk kesembuhan Ronald. Insyaallah Ronald akan baik-baik saja" ganti Elma yang memberi nasihat.
"Alex, apa yang terjadi?" tanya Andre kepada sahabatnya.
"Ikut aku" ajak Alex berjalan pergi mendahului Andre.
Andre mengikuti pria yang tadi mengajaknya untuk ikut. Saat ini mereka berada di halaman rumah sakit yang jauh dari rerumunan orang berlalu lalang.
"Apa yang terjadi Alex? Ada apa dengan Ronald?"
"Ronald tertembak... aku dan istriku tadi ada di taman, beserta pria-pria yang terlihat mencurigakan. Aku rasa mereka ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Ronald " kata Alex menduga-duga.
Andre mengerutkan keningnya berpikir, "Apa ada yang tahu tentang hubungan mu dengan Ronald selain keluarga mu dan juga aku?"
"Aku rasa tidak ada! Bahkan media sosial sekalipun..." balas Alex juga berpikir.
"Sepertinya ada yang sudah tahu tentang hubungan mu dengan Ronald. Mereka menggunakan Ronald untuk membuat mu lemah... kau harus berhati-hati Alex. Bisa jadi mereka menggunakan orang terdekat mu yang lain sebagai senjata melumpuhkan dirimu" kata Andre memegang bahu kokoh Alex.
Mata Alex menyipit. Ia tidak akan terima jika ada yang berani menyentuh keluarganya.
"Selidiki kasus ini. Aku ingin secepatnya kau menemukan orang itu... aku yakin ada dalang dibalik kejadian ini" perintah Alex.
"Baiklah. Jangan khawatir" jawab Andre.
Sementara itu ditempat lain yang lumayan jauh dari tempat Ronald di rawat, ada seseorang duduk diatas kursi goyang yang di goyangkan.
__ADS_1
Dia tertawa terbahak-bahak, "Miris sekali hidup anak kecil itu. Maaf ya Ronald sayang"
...To be continued...