
Almira diam bermonolog dalam kebatinan hatinya, 'Betul mah, tapi berkat itu mamah melupakan satu kewajiban seorang ibu terhadap anaknya. Yaitu, mengajarkan agama kepada tuan Alex! Mamah lupa akan hal itu'
"Sudahlah, ayo kita belanja mainan yang belum Ronald punya" kata Vara melihat Almira yang masih gelisah, "Sekali-kali tidak apa-apa kan?"
Almira mengangguk pasrah, "Iya mah eh ma-macan"
_______
Kembali ke Angela yang masih bingung dengan ruangan Alex karena setiap karyawan disana bukannya memberitahu malah justru menyesatkan dirinya.
Seperti saat ini dimana Angela sudah pasrah dan emosi saat ada karyawan yang mengerjainya lagi. Beruntung saja dia menulis nama mereka semua.
"Berani mengerjai diriku? Aku tulis nama kalian dan akan aku laporkan ke Alex biar di pecat sekalian" gumam Angela kesal.
Saat Angela sudah lelah ia memutuskan untuk memberikan berkas tersebut kepada karyawan kantor dan berniat pulang.
Namun, ada security yang menghadangnya secara tiba-tiba.
"Ngapain kamu?"
"Mohon maaf nyonya, Tuan Alex memberi saya perintah untuk tidak membiarkan anda keluar dari kantornya" kata security itu.
"Kenapa?"
"Saya tidak tahu!" jawab security itu memang tidak tahu.
Ini kesempatan Angela untuk dirinya tahu ruangan kantor Alex, "Kalau begitu antar aku ke ruangan Alex sekarang juga"
"Tapi tuan Alex tidak membiarkan anda masuk kedalam ruang kerjanya"
Angela sangat ingin meremat wajah security itu karena jengkel, "Kenapa tidak boleh?"
"Saya tidak tahu, nyonya"
"Aishh" Angela melupakan sesuatu sejak tadi, "Astaga, untuk apa aku bertanya-tanya dengan manusia menjengkelkan seperti kalian. Seharusnya aku menelpon Alex sejak tadi"
Angela yang ingat segera mengambil ponselnya dan menelpon Alex.
"Hm" balas Alex di kantor Andre.
"Alex!!!! Kau sengaja ya, mengerjai diriku lewat karyawan kantormu supaya tidak ada yang memberitahuku tentang ruang kerjamu" omel Angela marah-marah di telpon.
Alex segera menjauhkan telpon dari telinganya supaya tidak sakit, "Jangan teriak-teriak! Nggak malu dilihat orang?"
"Benar juga ya" gumam Angela, "Kamu dimana?"
"Aku nggak di kantor"
__ADS_1
"Terus dimana?" sentak Angela menuntut jawaban.
"Di kantor Andre!"
Angela memikirkan kembali niatnya ingin menyusul Alex setelah tahu keberadaannya. Mengingat jika Alex di kantor Andre, membuat Angela malas.
"Oh iya, kenapa kau tidak mengijinkan security untuk membiarkan diriku pergi? Bahkan kau tidak mengijinkan aku untuk ke ruang kerjamu" adu Angela.
"Supaya kau kapok karena mengambil tugas yang kuberikan kepada Almira. Seharusnya dia yang datang, bukan dirimu" jawab Alex duduk di meja Andre.
"Kenapa memangnya jika aku yang datang?" tanya Angela tidak terima.
"Diakan istriku" jawab Alex santai namun menyulutkan sifat iri didalam hati Angela. "Ya sudah, ku tutup dulu telponnya. Bye"
"Alex al---"
Tut
Ucapan Angela terpotong saat pria itu sudah menutup telponnya secara tiba-tiba. Sangat menjengkelkan.
"Almira, Almira, Almira!!! Lama-lama aku muak mendengar nama itu. Ish, Almira memang benar-benar pengganggu" monolog Angela kesal menghentakkan kedua kakinya ke lantai.
Security itu melihatnya dan Angela menjadi tambah kesal, "Apa lihat-lihat?"
"Eh nggak ada nyo-nyonya" balas security itu gugup dan takut.
Sementara itu di kantor Andre. Alex menutup telponnya lalu kembali mengobrol dengan Andre terkait masalah anak Arsen setelah keduanya sama-sama menggunakan kepala dingin.
"Lanjutkan" kata Alex kembali duduk sembari menyimpan ponselnya.
"Begini saja Alex! Sebagai seorang pria yang telah menikahi Almira, maka kau boleh mengakui anak Arsen sebagai anakmu. Tapi, Arsen tetap memiliki hak atas anaknya juga" kata Andre setelah lama mempertimbangkannya.
"Kita saja belum tahu apa Arsen akan kembali siuman, atau tidak"
"Tetap saja Alex! Arsen adalah sahabat kita dan ayah dari anak Almira. Aku yakin Alex, dari lubuk hati Arsen yang paling dalam pasti juga ingin melihat anaknya. Jika dia tahu pasti juga ingin menikahi Almira" kata Andre lagi setelah meminum minuman bersoda di atas mejanya.
Alex menyembulkan asap rokoknya ke udara, "Itu sudah terlambat untuk sekarang ini. Hanya Almira yang bisa menentukan apa anaknya itu boleh tahu tentang Arsen atau tidak"
"Kau bisa membujuknya"
"Aku tidak memiliki hak untuk membujuknya" kata Alex melihat tajam kearah Andre, "Ini bukan tentang status. Namun, ini adalah sebuah perjuangan seorang gadis muda yang hidup menenteng noda didalam dirinya. Menurutmu, apa dia akan mudah untuk membiarkan Arsen tahu setelah apa yang dilakukannya?"
Andre diam membenarkan. Ini memang salah Arsen sepenuhnya dan kesalahan itu sangat susah untuk Almira terima.
"Dia menjauh dari seluruh keluarganya dan hidup seperti orang asing di kota yang luas ini. Andre, jangan memintaku untuk membujuk Almira karena aku tidak tega untuk melakukan itu"
"Kau sudah memiliki rasa terhadap Almira kan?" tanya Andre menduga-duga.
__ADS_1
Namun Alex hanya diam tanpa mau menjawab.
"Jika iya, aku juga tidak memiliki hak membujuk mu untuk menghilangkan rasa itu. Apapun rasa yang ada dalam hatimu untuk Almira, semoga itu baik untuk kedepannya" ucap Andre berdoa.
Tiba-tiba Alex tersenyum miring, "Kenapa tiba-tiba kau merestui?"
"Siall apa kau ingin aku melarang dirimu saja? Kau itu diberi restu malah bilang yang aneh-aneh" sentak Andre ingin menendang wajah menjengkelkan Alex.
Membuat Alex tertawa, "Lagian, kenapa kau tiba-tiba merestuinya? Aneh!!"
"Aku hanya takut jika perasaan itu berakibat fatal untuk hubunganmu di kemudian hari. Baik untukmu, untuk Almira dan anaknya maupun Arsen nantinya"
Alex paham maksud Andre mengatakan itu, ia pun mengusap bahu sahabatnya. "Kau tenanglah! Aku pastikan semuanya akan baik-baik saja"
"Sombong!" Andre membalas dengan seringaian miring.
______
Malam harinya setelah lama berbelanja Almira pulang diantar oleh Vara didepan gerbang Villa saja, karena wanita setengah baya ini malas bertemu dengan Alex anaknya.
"Macan nggak mau masuk dulu kedalam?" tanya Almira menenteng banyak barang belanjaan sampai ia kewalahan.
"Nggak" jawab Vara judes. "Oh iya, jangan lupa bilang ke Ronald... terus, berikan semua hadiah itu ke Ronald besok"
"Iya macan"
"Aku pergi dulu, bye" Vara menurunkan kaca jendelanya dan membiarkan mobilnya melaju meninggalkan Almira.
"Walaikumsalam macan" balas Almira menggelengkan kepalanya heran lalu melihat seluruh belanjaan yang ia beli. "Banyak banget ini. Gimana bawanya coba?"
Almira membawa beberapa kresek besar di dua tangannya, terlihat sangat ribet. Berulang kali Almira mencoba namun selalu gagal.
Tin
Tin
Datanglah mobil sport hitam dari arah luar ingin masuk kedalam gerbang. Kebetulan pemilik mobil itu melihat dan menurunkan kaca mobilnya.
"Almira, ngapain?" tanya Alex membuat Almira menoleh.
"Anu tuan... ini..." gugup Almira susah menjawabnya. Takut jika Alex mengira ia matre karena banyak belanja.
Sementara Alex telah membuka pintu mobilnya dan menemui wanita itu, "Kamu ngapain? Barang belanjamu banyak banget, buat apa?"
Angela menunduk malu, "Ini tadi macan yang membelikan"
"Macan?"
__ADS_1
To be continued