Noda Merah

Noda Merah
Perihal Bayi Tabung #2


__ADS_3

Putra terbangun dan melihat jam yang berada di dinding sudah pukul 1 dini hari. Ia mengusap wajahnya yang masih mengantuk dan mendaati keberadaan Thalia di samping bukan Julia dan baru teringat bahwa Putra dan sang istri sedang bertengkar.


Putra mengecek hp-nya yang berada di atas meja kecil dan tak mendapati satu pesan apapun dari Julia. Iya berdecak kesal dan hendak kembali tertidur karena masih mengantuk tetapi seperti ada dorongan yang menyuruhnya untuk segera pulang.


Baju yang tergeletak di lantai dipakainya dengan buru-buru dan meninggalkan Thalia yang masih terlelap tanpa berpamitan. Ia mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata dan membelah jalanan yang sepi karena sudah tengah malam.


"Saat aku kembali apakah dia masih akan mengajakku untuk bertengkar ?." Putra bertanya-tanya dalam hatinya selama melajukan mobil, membayangkan pertengkaran tersebut membuatnya malas untuk pulang tetapi entah kenapa ia bersikeras untuk pulang meski hanya sekejap dan memastikan keadaan Julia.


Mobil sudah di parkir ke dalam garasi yang telah dibukakan oleh salah satu penjaga, tidak ada sambutan baginya dari sang istri dan inilah perbedaan besar ketika Putra berada di rumah dan di apartemennya Thalia.


Niatan Putra untuk masuk ke dalam kamar terhenti ketika melihat Julia tertidur di atas sofa ruang tamu. Ia berjongkok dan memandang wajah lelah juga sang istri hingga tanpa sadar menyentuh pipinya.


"Oh sayang kau sudah pulang, akhirnya kau kembali." Julia terbangun dan ia masih merasa sedih karena hubungan mereka yang saat ini renggang.


"Kenapa kau tidur di atas sofa bukannya di kamar ?."


"Aku menunggumu pulang karena aku ingin meminta maaf membuatmu merasa kesulitan akibat kekuranganku sebagai seorang istri yang sulit memberikanmu keturunan, aku senang kau menerima pesanku dan akhirnya pulang ke rumah."


Dahi Putra mengerut dan mengingat-ingat dengan benar pesan apa yang Julia sampaikan bahkan di hp-nya saja tidak ada satu pesan apapun ketika ia terbangun tadi. Putra tahu betul apa yang dikatakan Julia tidak mungkin hanya karangan belaka, ia mulai mencurigai Thalia telah menghapus pesan dari Julia sebelum dibaca.


"Terus sekarang bagaimana maumu ?."


Julia memberanikan diri mendengarkan kepalanya agar sejajar dengan Putra dan ia menghafalkan tangannya dengan erat. "Aku sendiri tidak tahu bagaimana nanti kedepannya dan semua keputusan akan aku terima."


Niatan awal Julia adalah merelakan Putra yang mungkin akan menikah kembali jika ia memang tidak bisa diberi keturunan sampai kapanpun. Tetapi mengungkapkan hal tersebut teramat sakit untuk dikatakan dan Julia tidak sanggup merelakan hatinya berbagi suami dengan perempuan lain. Yang bisa Julia lakukan adalah menyerahkan semua kepada Putra barulah Julia bisa mengambil keputusan kembali apakah ia masih bisa melanjutkan pernikahan ini atau tidak.


"Baru 2 tahun, mungkin sebaiknya kita menunggu lebih lama lagi siapa tahu Tuhan memberikan kita anak tanpa harus melakukan bayi tabung."


Julia menganggukan kepala karena itu sesuai dengan apa yang terjadi saat ini dan solusi tersebut sudah sangat tepat dibandingkan dengan ia harus dimadu. Tetapi resiko keputusan Putra ini membuat Julia harus kembali bersabar saat ditanya oleh keluarga besar kapan namanya keturunan.

__ADS_1


Mereka berpelukan dan saling berdamai dengan keadaan lalu untuk selanjutnya biarlah waktu yang menentukan.


"Ayo kita tidur di kamar."


Mereka berjalan sambil berpegangan tangan masuk ke dalam kamar dan melupakan kejadian hari ini sebagai keputusan bersama, pertengkaran terhebat pertama mereka setelah menikah dan mungkin akan semakin goyah seiring berjalannya waktu karena memang ini adalah bahtera rumah tangga yang akan selalu diuji.


*****


Semua orang yang menyarankan hal-hal yang mempermudah untuk Julia memiliki keturunan telah dicoba dari mulai membeli buku agar ia subur dan mengikuti saran yang ada di internet. Tak lupa Julia selalu mendengarkan dan melakukan apa yang orang lain katakan termasuk dari pihak keluarganya yang menyarankan ini dan itu.


Sampai tak terasa pernikahan mereka sudah berjalan hampir 5 tahun dan selama itu juga rumah tangga mereka terasa kosong tanpa adanya anak.


"Jika aku punya anak satu saja pasti rumah ini akan terasa ramai, punya rumah besar terasa sangat sepi apalagi saat Putra berangkat bekerja, aku kesepian."


Ada sebuah tespek di tangan Julia yang menandakan ia telah mengetes kehamilan dan ternyata tetap negatif. Ingin sekali Julia mengajak Putra untuk melakukan program bayi tabung tetapi di sisi lain Julia takut kalau mereka akan bertengkar lagi.


Waktu telah menunjukkan pukul 06.00 sore dan Julia sudah mendengar suara mobil Putra masuk ke dalam garasi. Akhirnya setelah sang suami pulang setidaknya Julia akan merasa terhibur.


"Kenapa kau tidak berjalan-jalan dengan temanmu kalau kesepian ?."


Julia tersenyum kecut saat mengingat teman-teman yang ia miliki sudah memiliki pasangan masing-masing dan mengurus keluarga kecil mereka dengan beberapa anak yang telah dimiliki.


"Mereka semua sibuk mengantar dan menjemput anak mereka."


Putra terdiam bahkan saat ia hendak menanggalkan dasi terhenti lalu duduk di sebelah Julia yang terlihat murung. "Kalau kau memang masih ingin melakukan program bayi tabung, ayo lakukan."


Wajah Julia terangkat dengan mata yang berbinar setelah mendapatkan izin dari sang suami tanpa diminta. "Benarkah kita bisa melakukannya ?."


"Iya benar."

__ADS_1


Akhirnya setelah Putra mau mereka kembali mengunjungi dokter tetapi kali ini langsung melakukan program bayi tabung. Julia begitu semangat meski semua prosedur yang ia lalui ternyata sangatlah berat, namun jika itu bisa membuatnya hamil apapun resiko akan Julia ambil.


Kenyataan pahit harus ia telan saat program bayi tabung yang mereka lakukan ternyata gagal tetapi mereka terutama Julia tidak mau menyerah dan ingin tetap mencoba hingga setelah dokter menyarankan mengambil jeda tetap Julia turuti lalu mereka kembali melakukan program bayi tabung untuk yang kedua kalinya, tetapi lagi dan lagi gagal.


"Aku tidak tahu kenapa bisa gagal padahal apa yang dikatakan dokter sudah aku ikuti."


Julia menangis tersedu-sedu dalam pelukan Putra dan merasa dirinya sangat tidak berguna sebagai seorang istri yang bahkan gagal melakukan program bayi tabung.


Di saat yang sama Putra mendapatkan pesan dari Thalia, ia berdecak kesal dan tadinya tidak menghiraukan pesan dari Thalia tetapi ketika Thalia mengatakan bahwa itu penting maka Putra harus mencari alasan untuk pergi sekarang.


"Sayang maaf ada kerjaan yang harus kulakukan ini sangat darurat dan anak buahku tidak bisa menanganinya sendiri."


Julia hendak marah saat Putra tidak mengerti dirinya yang tengah bersedih tetapi di satu sisi Julia pasti sudah membuat Putra kesulitan jadi untuk kali ini Julia memahami Putra dan membiarkan sang suami pergi.


"Baiklah tapi jangan pulang terlalu larut."


"Tentu saja."


Putra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata dan bertemu dengan Thalia di apartemen. Ia hendak memarahi Thalia jika hal yang dikatakan penting tersebut ternyata adalah hal sepele.


"Cepat katakan hal penting itu atau aku akan langsung pergi sekarang."


"Duduk dulu kenapa kau sangat buru-buru ?." Thalia tersenyum saat Putra menurut dan duduk di depannya walau dalam keadaan marah, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil panjang.


"Apa ini ?."


"Ini untukmu bukalah dan kau akan tahu segera."


Putra membukanya dan ia sangat tahu benda tersebut karena sama seperti yang Julia gunakan untuk mengetes kehamilan. Sebuah tespek putih yang bergaris Merah 2 menandakan bahwa saat ini Thalia sedang mengandung anaknya Putra.

__ADS_1


"Kau hamil ?."


__ADS_2