Noda Merah

Noda Merah
Lipstik #2


__ADS_3

Julia hanya diam saat lipstik tersebut di oles ke bibir Tari, itu adalah lipstik yang di temukan di mobil Putra dan Tari barusan bilang kalau ini seperti yang ia punya dan pakai tapi hilang, jangan-jangan.


"Tari apa kau....?" Julia ragu-ragu ingin bertanya saat kecurigaannya kepada Tari kian kuat tetapi di sisi lain hanya ada lipstik tersebut sebagai bukti dan hal itu masih belum bisa dipastikan, apabila Julia menuduh Tari sekarang maka bisa jadi salah.


Tidak ada jaminan bahwa prasangkanya saat ini adalah benar maka dari itu untuk sekarang lebih baik Julia memendam dulu kecurigaannya dan masih mencari bukti lebih lanjut.


"Tadi kau ingin bilang apa ?." Tari berhenti mengoleskan lipstik di bibirnya dan mendongak melihat Julia yang malah menggeleng.


"Tidak apa-apa setelah ini ayo kita bertiga menonton bersama."


"Iya sudah lama sekali kita bertiga tidak nonton bareng, mumpung sekarang ada waktu."


Julia memperhatikan Tari yang meletakkan kembali lipstik tersebut ke dalam pouch miliknya sambil berterima kasih. Untuk saat ini lipstik tersebut akan disimpan sebagai barang bukti tetapi Julia akan mencari bukti yang lebih kuat lagi.


*****


Hari demi hari ia tidak lagi mendapatkan bukti dari selingkuhan suaminya, ia jadi berpikir mungkin saja kecurigaan terhadap Putra adalah sesuatu yang salah. Tetapi mendapatkan lipstik di mobil sang suami sedangkan Julia bahkan tidak pernah membeli lipstik tersebut harusnya wajar bila curiga.


Tetapi Julia sudah mentok tidak bisa mendapatkan barang bukti apapun sehingga ia memberanikan diri untuk bertanya langsung dan berharap bahwa itu hanya sebuah kesalahan.


"Putra bisa kita bicara sebentar ?." Wajah Julia begitu tegang dan ketika duduk ia sudah merasa tidak nyaman. "Ada hal penting yang ingin kutanyakan mengenai lipstik ini ?."

__ADS_1


"Itu lipstik siapa ?." Putra masih tidak mengerti mengapa Julia memperlihatkan lipstiknya, mungkinkah sang istri minta dibelikan lipstik lagi atau bagaimana.


"Lipstik ini aku temukan di dalam mobilmu saat kita mau ke supermarket, ini bukan punyaku jadi ini milik siapa ?." Air mata Julia sudah berada di pelupuk dan siap menetes karena ia sangat emosional saat ini tetapi berharap bahwa kekhawatirannya akan hal terburuk tidak terjadi.


Putra membelalakkan matanya, jika lipstik tersebut bukan milik Julia maka sudah pasti itu milik Thalia dan mengapa lipstik tersebut bisa sangat teledor berada di dalam mobilnya saat Julia naik.


Saat ini Putra ingin memarahi Thalia sekarang juga tetapi ia harus sabar dan mencari seribu macam alasan yang tepat untuk bisa menjawab pertanyaan Julia tanpa membuat sang istri marah.


"Itu milik mama, saat itu mama minta diantarkan ke tempat arisan temannya dan mama berdandan di dalam mobil jadi lipstiknya ketinggalan." Putra tersenyum sedikit untuk menghilangkan rasa kecurigaan Julia, demi apapun sekarang ini juga ia ingin menghubungi mamanya agar bisa membantunya meyakinkan Julia.


"Benarkah ini miliknya mama ? Kalau begitu boleh kan aku telepon dan bertanya kepada Mama langsung ?." Julia mengambil hp-nya yang berada di saku dan menggulir nama dalam kontak telepon untuk mencari nama mama mertuanya. Gambar telepon ditekan dan cukup lama hingga tersambung.


Kepala Putra sudah berdenyut dengan kuat hingga ingin meledak rasanya, ia bukanlah seorang yang taat beribadah tetapi saat ini berdoa kepada Tuhan untuk diselamatkan dari amukan sang istri yang bisa saja menggoyahkan rumah tangga mereka dengan ancaman perceraian.


Julia ~ "ma ini aku menemukan lipstik katanya Putra ini lipstiknya mama tempo hari waktu Mama minta diantar ke tempat arisan, Apa benar ini lipstik mama tolong jawab jujur ma."


Lama mama menjawab pertanyaan Julia hingga Putra ikut deg-degan karenanya, tangannya diremas sampai tak terasa bahwa ujung kukunya melukai telapak tangan.


Mama mertua ~ "iya Julia itu lipstik punyanya mama, Mama sampai nggak sadar kalau itu hilang karena lipstik punya mama itu banyak."


Julia ~ "oh gitu mah kalau begitu makasih ya mah dan maaf udah ganggu Mama malam-malam gini."

__ADS_1


Mama mertua ~ "iya nggak apa-apa."


Sambungan telepon terputus dan Putra bernafas lega begitu juga Julia tetapi keduanya tidak memperlihatkan, untuk saat ini Putra diselamatkan oleh sang mama dan setelah ini Putra harus mengirimkan hadiah sebagai tanda terima kasih.


"Kamu dengarkan sayang katanya mama itu memang lipstiknya, mana ada aku macem-macem bawa wanita ke dalam mobil dan mengkhianati istri yang cantik seperti kamu. Cuma orang yang nggak bersyukur yang memiliki istri secantik kamu."


Rayuan Putra seperti biasa dilontarkan dan saat ini Julia kembali percaya meski tidak 100% begitu saja, ada yang mengganjal di dalam hati kecilnya meskipun Mama mertua bilang bahwa itu memang lipstiknya.


Tetapi Julia mengusir segala kecurigaan yang ada dan lagi pula kunci sebuah hubungan yang sehat adalah kepercayaan untuk itu Julia berjanji tidak akan sembarangan curiga lagi.


"Maaf ya sayang beberapa hari ini aku curiga sama kamu."


"Iya nggak apa-apa asal jangan gitu lagi, aku itu orangnya setia jadi kamu nggak usah ragu-ragu untuk percaya sama aku." Putra memeluk sang istri dengan begitu erat dan mengelus punggungnya beberapa kali lalu tersenyum tanda ia telah menang dan lolos kali ini.


Di waktu yang sama namun tempat yang lainnya Mama mertua menutup telepon dan menghampiri sang suami yang sedang menonton TV lalu memindahkan channel untuk melihat acara tv yang di nantikan.


"Telepon dari siapa ?."Tanyanya tanpa menoleh.


"Dari Julia katanya dia menemukan lipstik di mobilnya Putra, anak itu hobinya bikin ulah seperti Papa dulu. Nggak tahu berapa lama usia pernikahan mereka kalau Putra masih suka jajan melulu."


Nama mertua menghela nafas akan kelakuan putranya yang tidak berubah sedari dulu, dia pikir dengan Putra menikah itu pertanda bahwa sudah siap berkomitmen dan tidak akan lagi melirik yang lain tetapi ternyata sama saja, pernikahan bagi Putra hanyalah sebuah tulisan di atas kertas bukannya sesuatu yang berarti..

__ADS_1


"Yang begitu saja kau bandingkan denganku, kau juga terlalu memanjakan anak itu. Sudahlah ayo tidur saja lagi pula nanti kalau dia dapat masalah lagi juga karena olehnya sendiri."


Ucapan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya ternyata berlaku untuk keluarganya Putra, laki-laki itu selalu melakukan apa yang disenanginya tanpa peduli hal apapun. Keluarganya sudah tahu tabiat Putra dan membiarkannya begitu saja seperti angin lalu.


__ADS_2