Noda Merah

Noda Merah
Pembalut


__ADS_3

Julia kebingungan bukan main, ia harus kembali ke tempat acara tapi ternyata bukan hanya pakaian dalamnya yang terkena noda tapi juga baju belakangnya. Ia berdoa semoga tidak ada yang melihat bajunya tadi.


Julia tidak bis meninggalkan kamar mandi dalam keadaan seperti ini tapi ia juga tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri.


"Dimana kamar mandinya, apa disini ?."


Suara seseorang membuat Julia khawatir tapi ia nampak mengenai suara tersebut. Jika tak salah itu adalah suaranya Darren dan Julia bisa meminta tolong, tapi ia urungkan karena jika Darren tau yang ada bahaya.


"Bagaimana ini ? Tapi aku tak bisa menolong diriku sendiri. Baiklah semoga Darren bisa ku percaya." Julia mengintip dari dalam bilik kamar mandi dan Darren cukup jauh dari sana nampak kebingungan." Stth Darren Darren kesini."


Namanya merasa di panggil, Darren menoleh mencari sumber suara dan mendapati Julia seperti sembunyi dari sebuah pintu. Darren mendekat setelah sebelumnya mengecek sekitar untuk memastikan Julia bersembunyi dari siapa.


"Julia kau sedang apa ?."


"Darren begini aku sedang kesulitan, bisakah kau membantuku ?."


"Membantu apa memangnya."


Julia ragu untuk menjawab, ia menunduk sambil memegang pintu dengan erat." Bisakah kau cari kan pembalut untukku." Ujarnya lirih.


"A- apa ?." Darren memegang kepalanya bingung darimana bisa ia mendapat pembalut, bahkan untuk mendengar kebutuhan wanita itu saja ia terasa malu tapi kasihan juga Julia. "Darimana aku harus mencari ?."


"Tolong mintakan ke bibi, di pasti ada di dapur sekarang."


Tanpa mengatakan apapun Darren pergi menuruti permintaan Julia untuk mencari keberadaan asisten rumah tangganya. Di lain sisi Julia berharap Darren tak menyadari apapun soal datang bulang yang seharusnya tidak terjadi pada orang hamil.

__ADS_1


Lama menunggu membuat Julia pegal dan tak nyaman berada di kamar mandi lebih lama, ia mencuci baju belakangnya yang terkena darah, nanti setelah Darren membawakan pembalut Julia harus berganti baju karena hampir dari separuh bajunya telah basah.


Tidak mudah bagi Darren untuk menemukan Asisten rumah tangga Julia karena acara ini membuatnya bekerja lebih keras dari pada hari biasa. Dia sedang menata meja dan kembali ke dapur untuk mempersiapkan yang lain. Darren mengikuti jalannya yang cepat dan sigap.


"Permisi tunggu sebentar." Suara Darren cukup keras tapi tak di dengar hingga ia terkesan jalan cepat untuk menyamakan langkah." Tunggu apa kau asisten rumah tangganya Julia ?."


"Iya tuan, ada apa ya ?."


"Uh begini aku butuh...." Darren melihat sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang memperhatikan, "Bisakah kau memberikan pembalut padaku, tapi ini bukan untukku tapi untuk pacarku." Ujarnya asal.


Sejenak asisten rumah tangga itu nampak ragu tapi mengajak Darren untuk mengikutinya ke depan pintu kamar, sebuah pembalut di berikan. "Ini untuk pacar tuan." Katanya dengan curiga.


Darren tak mau ambil pusing sikap asisten rumah tangga tersebut, ia menuju ke kamar mandi sambil sesekali melihat keadaan.


Darren dengan hati-hati mengetuk pintu, Julia membukanya sedikit lalu menerima barang itu dan mengunci pintu. Cukup lama ia baru bisa keluar dari sana dan tersenyum karena kesulitan ini telah usai.


"Darren terima kasih ya, aku tidak tau bagaimana kalau nggak ada kau."


Tatapan Darren tajam tanpa ekspresi. " Kau pendarahan atau datang bulan ?." Lalu memeriksa Julia dan harusnya jika wanita itu pendarahan bukannya senyuman yang di terima melainkan panik karena kehamilannya dalam bahaya. "Kau pasti datang bulan kan ?."


"Terima kasih atas bantuanmu." Ia berusaha menghindar dari segala pertanyaan Darren dan pura-pura tak tau tapi ketika hendak menjauh tangan Julia dipegang dan di tarik dengan keras.


"Jawab jujur Julia, kau datang bulan itu berarti ini semua palsu, dan kehamilanmu juga sebuh kebohongan !."


Julia melihat sekitar dimana mereka jauh dari orang, kali ini Julia tidak bisa mengelak." Aku harap kau tidak usah ikut campur, aku berterima kasih kau membantuku tadi tapi bukan berarti kau bisa mencampuri urusanku."

__ADS_1


Darren merasa tak percaya dengan wanita yang di depannya adalah wanita sama yang ia cintai bertahun - tahun, sekarang Julia mampu membohongi banyak orang dan telah berubah. "Sadarlah kau bukan Julia yang dulu lagi, untuk apa semua ini ?."


"Aku melakukan ini agar aku menjadi wanita sempurna seperti setiap wanita lainnya, karena kekuranganku aku tak mampu menjadi seperti yang lainnya. Kau selalu baik padaku Darren, tolonglah aku kali ini kau pura-pura tak tau."


Air mata Julia tak bisa di bendung, Darren tak bisa mengeluarkan kata apapun meski banyak hal yang ingin di tanyakan. Rasa sayangnya pada Julia tak sanggup ketika melihat air mata orang terkasih.


"Apa hal ini membuatmu bahagia ?."


"Setidaknya untuk sekarang iya, aku tidak perlu lagi merasa takut dengan orang ataupun masa depan, cukup mereka tau aku hamil itu saja." Julia menyatukan tangannya memohon dengan rasa takut. "Bisakah kau sembunyikan ini dari siapapun terutama Putra dan keluarganya, aku mohon."


"Baiklah aku akan diam tapi aku tidak yakin kau akan bisa mengahadapi ini sendirian."


"Aku yakin aku bisa, terima kasih Darren." Julia menghapus tangisnya dan menoleh melihat Darren lalu pergi.


Darren melihat kepergian Julia dengan kesal, ia berteriak cukup keras hingga menggenggam tangannya erat lalu meninju tembok. " Demi laki-laki itu kau sampai rela berbohong dan membuat dirimu dalam kebohongan besar, sebegitu kah rasa cintamu Julia ? Itu cinta atau menyiksa diri ?."


Julia kembali ke tempat acara yang di selenggarakan di taman belakang rumah yang kuas setelah usai berganti baju dengan baju yang lebih baik karena sebelumnya basah. "Aku tidak melewatkan apapun kan ?."


"Kau darimana saja dan kenapa bajumu ganti ?." Tanya Putra seraya berbisik.


"A-aku tadi ganti baju karena bajuku ada noda, sepertinya bibi kurang bersih mencuci bajunya."


"Baiklah tidak apa-apa, ada teman dari kantor lamaku sebentar ku sapa dulu."


Julia disana pura-pura menikmati acara karena sebagai peran utama acara 7 bulanan ini, ia tak sengaja melihat Darren yang memandangnya dengan tatapan kesal, Julia langsung mengalihkan pandangan, ia takut.

__ADS_1


__ADS_2