Noda Merah

Noda Merah
Semua Penipu #2


__ADS_3

Julia pelan-pelan mengatakan semua kebenarannya kepada Darren, berharap bahwa mendapatkan jalan keluar atas masalah yang menimpanya.


"Dulu aku bertemu dengan Thalia dan saat itu dia mengatakan bahwa dia hamil tetapi dia tidak bisa merawat anak tersebut karena laki-laki yang menghamilinya tidak ingin tanggung jawab, di sisi lain aku sulit mempunyai anak jadi ku putuskan untuk mengasuh anaknya."


"Waktu itu kau tidak bertanya siapa laki-laki yang menghamili Thalia ?."


"Entahlah aku tidak ingat apakah aku pernah bertanya atau tidak karena yang ada di benakku waktu itu tidak mungkin Putra."


Darren tersenyum smirk seolah mengetahui bahwa temannya tersebut tidaklah sebaik itu untuk tidak menghianati Julia. "Kau seharusnya tidak 100% percaya dengan Putra, dia pandai merayu wanita."


"Kupikir Putra tidak akan mau untuk mengadopsi anak orang lain dan Thalia yang mengusulkan aku untuk pura-pura hamil jadi permasalahan kami berdua selesai karena akan ada anak bagi rumah tanggaku sementara anaknya Thalia ada yang mengasuh, kami seperti menemukan jalan keluar bersama dengan satu solusi."


Darren mengusap wajahnya karena ia tidak menyangka wanita yang ia sayangi ternyata melakukan kebohongan semacam ini. Jujur saja perasaan kecewanya lebih besar dari rasa sayangnya bahkan dia tidak lagi melihat Julia yang menangis.


"Darren aku harus apa, apakah aku harus melaporkan mereka kepada polisi karena telah menipuku ?."


"Dan biar polisi juga menangkapmu ? Kau jangan gila Julia dan jangan lupa bahwa kau pun terlibat dengan hal ini maka kalaupun melaporkan mereka itu juga akan tertangkap."


"Kalau begitu aku harus apa karena aku tidak bisa membiarkan mereka hidup dengan tenang setelah menipuku seperti ini ?."


"Kenapa tidak kembali ke keluargamu, sudah sejauh ini menipu semua orang yang sangat menyayangimu untuk mendapatkan keluarga sempurna yang kau impikan, benar kan ?.


"Ta-tapi Darren."


"Sana pergilah dan hidup seolah-olah kau bahagia seperti kemarin, kau tidak perlu kehidupan nyata yang menyakitimu bukan karena kau tidak menerima semua kenyataan yang menyakitkan dan memilih kehidupan bahagia penuh kebohongan, maka pergilah karena aku tidak bisa memberikan solusi apapun kepadamu."


Julia pergi dari sana setelah merasa diusir, kini ia tidak tahu lagi harus ke mana karena dia kira akan mendapatkan jawaban dari masalah yang menimpanya ternyata justru Darren terlihat begitu kecewa.

__ADS_1


Hingga Julia pasrah dan ia pulang ke rumah di mana waktu sudah malam dan kemungkinan hari ini Putra masih berada di kantor. Namun ketika mobil telah berada di garasi Julia sadar bahwa Putra berada di rumah.


"Sayang kau pergi ke mana saja kenapa tidak mengabariku ?."


Julia terkejut bukan main mendapati Putra berada di depannya dengan wajah yang berbeda penuh senyuman dan menyambutnya hangat bahkan memeluknya. Padahal akhir-akhir ini Julia merasa Putra sangat dingin dan kadang marah-marah dengan beberapa hal yang sepele.


Namun Julia sudah terlanjur kecewa bahkan ia tidak memeluk Putra kembali tetapi ketika Julia ingin melepaskan pelukan itu tiba-tiba ia teringat perkataan Darren mengenai kebohongan yang harusnya ia terima karena Julia juga membohongi semua orang.


"Aku pulang maaf aku tadi pergi lama dan tidak menghubungimu, aku stress di rumah karena....... Sepertinya aku terkena baby blues."


"Kalau begitu kita akan mencari babysitter untuk Vita besok."


Julia berpikir kini ia tidak ingin fokus lagi mengurus Vita yang notabenya adalah anak kandung Putra dengan selingkuhannya, Julia akan mencari cara untuk menjebloskan putra dan Thalia ke penjara tanpa harus membuatnya ikut masuk penjara juga, dan sebelum hari itu tiba maka Julia akan berpura-pura semua baik saja.


"Iya aku juga kelelahan mengurus Vita sendiri."


Tadi siang Putra ditelepon oleh pembantu nya di rumah bahwa Julia dengan buru-buru pergi dalam keadaan kacau dan bayi mereka yang ditinggalkan sendirian di kamar menangis hingga menjerit. Putra mencoba menelpon Julia tetapi tidak diangkat dan ia ingin menanyakan hal ini saat nanti sudah pulang ke rumah karena sekarang Putra harus menghadiri meeting panjang yang akan menyita waktunya.


Meeting itu berada di sebuah hotel yang berada di kawasan dekat dengan rumah sakit tempat Julia dan Putra memeriksakan kandungan. Tidak sengaja Putra bertemu dengan dokter yang ia kenali sehingga Putra menyapanya.


"Dokter Carlos ?." Ia menyodorkan tangan untuk menjabat dengan dokter tersebut dan disambut tetapi dokter itu nampak kebingungan seolah masih berusaha mengingat siapa laki-laki yang berada di depannya.


"Aku Putra dan dulu aku beserta istriku Julia memeriksakan kandungan di tempatnya dokter."


Dokter itu lalu tersenyum setelah mengingat dengan benar siapa laki-laki di depannya ini karena pasien yang ia periksa sangatlah banyak jadi tidak mengingat dengan benar setiap wajah yang pernah bertemu dengannya.


"Maaf aku lupa tadi tapi sekarang aku ingat anda pak Putra kenalannya Thalia bukan ? Bagaimana dengan rumah tangga anda apakah sekarang masih baik-baik saja ? Oh maksud saya bayi anda. "

__ADS_1


Putra tidak mengerti dengan arah pembicaraannya dan bagaimana dokter ini tahu kalau Putra mengenal Thalia sementara Putra sudah tidak berhubungan lagi dengan Thalia sebelum Julia hamil dan memeriksakan kandungan ke dokter Carlos.


"Kenapa dokter bisa tahu Thalia ?."


"Bukannya Thalia yang menyarankan anda dan istri anda untuk periksa kandungan di tempatku ?." Dokter itu mencoba bertanya tetapi ia sendiri sepertinya merasa aneh karena sekarang laki-laki di hadapannya itu nampak bingung.


"Menyarankan kami untuk memeriksakan kandungan di tempat dokter ?." Putra mengingat dia memang dulu pernah mengajak Julia untuk memeriksakan kandungan di tempat lain yang rumah sakitnya lebih besar dan dengan dokter kandungan yang lebih terkenal tetapi Julia bersikeras menginginkan untuk memeriksakan kandungan pada dokter Carlos.


"Oh sepertinya aku salah dalam berucap lebih baik aku pergi."


"Tunggu dokter apa maksud semua ini aku ingin penjelasan sekarang, sepertinya ada yang di sembunyikan dariku, aku telah merasa semua ini terlalu janggal dan dia tidak suka hal ditutupi darinya."


"Karena sudah terlanjur maka aku akan menyarankan dirimu untuk menemui Thalia karena ini bukan kapasitasku untuk menjawab, saat itu aku hanya dimintai tolong dan hanya membantu karena kami sebatas teman. Dia pasti tahu semuanya dan permisi aku harus pergi karena ada hal yang harus kulakukan."


Kepergian Dokter Carlos membuat tanda tanya besar di benak Putra hingga tangannya mencengkeram dengan erat karena apapun yang berhubungan dengan Thalia adalah sesuatu yang besar dan hal yang mungkin tidak disukai oleh Putra.


"Thalia apa yang kau coba lakukan saat kau sudah tidak bertemu denganku ?."


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen ya, tambahkan favorit juga

__ADS_1


__ADS_2