
Vita sudah diperbolehkan untuk pulang setelah sekian lama Julia berada di rumah sakit untuk menunggu dan merawat keadaan Putri kecilnya. Putra tidak pernah menggantikan Julia selama di rumah sakit dan hanya menjenguk, itu pun sesekali saja jika pekerjaan tak terlalu banyak.
Setelah menaruh Vita di tempat tidur khusus bayi dan memastikan semua aman barulah Julia membaringkan tubuhnya di kasur yang telah lama tidak ia gunakan untuk tidur. "Tempat ternyaman memang di rumah sendiri." Setelah itu dengan cepat Julia langsung terlelap dalam hitungan detik.
Hari demi hari berlalu Vita sudah kembali sehat seperti sedia kala. Tetapi pikiran Julia menelusuri jauh ketika teringat kalau golongan darah Putra dan Vita yang notabenya adalah anaknya Thalia adalah sama.
"Tapi banyak juga kan orang yang golongan darahnya sama, mungkin mereka hanya kebetulan dan Tuhan menyelamatkanku lewat gorongan darah mereka yang sama, jika tidak maka habis riwayatku."
Tetapi entah mengapa terasa tidak tenang apalagi insting Julia terkadang benar. Julia mencoba menelpon Thalia untuk menanyakan siapa laki-laki yang merupakan ayah kandung dari anak yang kini diadopsi Julia tersebut.
Beberapa kali Julia mencoba untuk menelpon tetapi tidak bisa, mungkin nomor telepon Thalia sudah diganti. "Kenapa setelah dia melahirkan sulit sekali untukku mencari keberadaannya di mana ?."
Julia hanyut dalam lamunan sehingga tidak mendengar suara bibi yang memanggil untuk mengabarkan bahwa di bawah sedang ada tamu yang mencari Julia, sehingga Julia terkejut mendapati bibi yang berdiri di tengah pintu kamarnya.
"Bibi kenapa kau tidak mengetuk pintu ?."
"Sudah nyonya tetapi sepertinya nyonya tidak mendengar, itu di bawah ada temannya nyonya yang namanya siapa ya tadi ? Eh iya mbak Tari."
"Ada tari, baiklah aku akan turun dan tolong bi ambilkan minum untuk kami berdua."
"Iya nyonya."
Vita terbangun dari tidurnya jadi mau tidak mau untuk mencegah hal buruk terjadi lagi, Julia membawa Vita turun menemui tari yang telah menunggu sadari tadi. "Tari lama nggak ketemu maaf ya lama nunggu."
__ADS_1
"Julia duh kangen banget deh, sorry ya telat ke sininya soalnya gue ikut suami ke Papua karena ada tugas dari kerjaannya jadi baru bisa ke sini sekarang." Mereka berbincang-bincang sampai bibi datang membawa dua gelas jus apel dan juga beberapa camilan.
"Makasih ya bi." Ujar Julia.
Sepeninggal bibi ke dapur mereka kembali mengobrol dan dari meminta izin Julia untuk menggendong anaknya. "Duh cantik banget sih, jadi pengen punya anak lagi deh karena anak gue tuh udah gede jadi sekarang kalau dicium atau dicubit dikit gitu tuh udah sebel dia."
"Oh ya sekarang anak kamu umur berapa ya Tar, aku udah lupa."
"Udah 4 tahun, kayaknya gue mesti hamil lagi deh biar jaraknya nggak terlalu jauh apalagi gue belum punya anak cewek lihat anak cewek elo gini rasanya pengen banget punya anak cewek, tapi walaupun cantik anak lo ini mirip bapaknya ya daripada mirip elo."
Tari tertawa terbanding terbalik dengan Julia yang senyumnya memudar seakan tidak nyaman akan sesuatu dan semakin memperkuat kecurigaannya. "Emang anak gue mirip banget ya sama Putra ?."
"Iyalah nih lihat jiplakan Putra banget ini nggak bakalan ketuker deh sama anak lain lagi kalau lagi jalan bareng bayi yang lain."
"Apa jangan-jangan sebenarnya lelaki yang menghamili Thalia dan menjalin hubungan dengannya hingga Thalia memiliki anak, adalah Putra ?."
Untuk membuktikan kecurigaan ini benar atau salah dan mengungkap semua ini maka satu-satunya cara adalah membuktikannya sendiri tanpa memberitahu orang lain karena jika memang salah maka Julia tanpa sadar memfitnah suaminya sendiri telah berselingkuh dengan temannya.
Tetapi jika semua ini benar maka Thalia dan Putra benar-benar keterlaluan dengan selingkuh di belakang Julia dan hamil lalu anaknya diasuh oleh Julia. Belum lagi uang yang Julia berikan kepada Thalia bukanlah jumlah yang sedikit.
"Kalau benar mereka berselingkuh maka mereka bukanlah manusia."
Maka ketika malam datang dan Julia pura-pura tidur saat Putra sudah benar-benar terlelap hingga waktu menunjukkan pukul tengah malam dan dirasa semua aman maka saat itulah Julia beraksi.
__ADS_1
Gunting diambil dan plastik disiapkan, dengan pelan Julia bergerak berusaha meraih rambut Putra yang pendek tersebut untuk ia gunting beberapa helai, "kenapa susah sekali." Katanya dalam hati ketika berusaha untuk menggunting rambut yang model potongannya terlalu pendek karena saat ini posisi Putra membelakangi Julia.
Sekitar 7 helai diambil walaupun masing-masing dari rambut itu terlalu pendek tapi Julia rasa itu lebih dari cukup. Dengan cepat ia menyembunyikan gunting dan plastik berisi potongan rambut tersebut saat Putra menggeliat dan mengubah posisi tidurnya kini menghadap Julia.
Keesokan paginya ketika Putra berangkat bekerja sikap Julia benar-benar manis untuk menyembunyikan semua kecurigaan bahkan dasi yang biasanya diikat sendiri kini Julia yang mengikatkan.
"Tumben kau bisa membantuku mengikat dasi, biasanya aku harus mendengar keributan kau yang mengasuh Vita."
"Iya mumpung anak kita sedang tidur kan jadi aku punya waktu untuk bersamamu."
Putra menanggapi dengan sikap manis pula menggandeng julia sampai ke meja makan, hingga sampai kepergian Putra Julia masih bisa mengantar ke depan pintu dan memastikan mobil milik Putra telah pergi.
"Aku harus cepat bersiap-siap." Julia menitipkan Vita kepada pembantunya karena ia harus pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA setelah sebelumnya Julia juga menggunting beberapa helai rambut milik Vita.
"Bi kalau nanti suamiku menelfon atau mencariku bilang aku pergi sebentar ketemu sama Monic."
"Baik nyonya."
Julia mengendarai mobil untuk sampai ke rumah sakit dan di sana ia melengkapi beberapa persyaratan, salah satunya kedua rambut yang telah dipersiapkan dan menghadap ke dokter untuk menanyakan beberapa hal.
"Dokter kalau boleh tahu kapan hasil tesnya keluar ?."
"Sekitar 3 hari lagi nyonya, kami bisa kabarkan lewat pesan atau telepon jika hasilnya keluar kurang dari 3 hari."
__ADS_1
"Iya terima kasih dokter, tolong berikan kabar secepatnya." Julia pergi dari rumah sakit itu sambil melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan semuanya aman karena hal ini adalah suatu rahasia besar, maka aneh jika ada yang tahu bahwa ia melakukan tes DNA untuk suami dan anaknya sendiri.