Noda Merah

Noda Merah
Terima Atau Tidak


__ADS_3

Julia ~ "kau barusan mengatakan apa ? Kau hamil tapi bukannya kau belum menikah Thalia ?."


Thalia ~ "itulah masalahnya Julia makanya bisa kita bertemu sekarang ?."


Julia merasa bingung karena ia sendiri sedang dalam kesulitan tetapi mendengar bahwa Thalia tengah hamil membuatnya lebih terkejut dan ingin tahu siapa ayah dari bayi yang dikandungnya.


Julia ~ "baiklah kita bertemu di cafe yang sering kita kunjungi dulu."


Telepon dimatikan lalu Julia bersiap-siap membawa tasnya dan mengambil kunci mobil untuk ia kendarai sendiri tanpa sopir meski sebelumnya telah ditawari oleh supirnya untuk diantar. Cukup lama ia untuk sampai ke cafe tersebut karena letaknya yang cukup jauh tetapi begitu sampai ia menemukan Thalia duduk sendirian di kursi yang jauh dari pengunjung lainnya.


"Maaf aku lama."


Thalia menggeleng lalu wajahnya terlihat sendu sehingga membuat Julia bertanya-tanya dalam hatinya. Ia menggenggam tangan Thalia dan bertanya, "kalau aku boleh tahu bagaimana bisa kau hamil ? Apa laki-laki itu sudah tahu ?."


Kembali Thalia menggeleng dan menatap wajah Julia dengan pandangan yang berkaca-kaca seperti hendak menangis dan meluapkan segala kesedihan yang ada. "Dia sudah tahu kalau aku hamil tapi dia tidak mau tanggung jawab, sekarang aku harus bagaimana Julia aku bingung."


"Kenapa kau harus bingung, dia harus bertanggung jawab kepadamu suka ataupun tidak karena kau sudah terlanjur hamil." Julia teringat bahwa ia belum diberitahu siapa laki-laki yang telah menghamili Thalia. "Apa aku kenal laki-laki itu ?."


"Iya kau mengenalnya jauh lebih lama daripada aku dan itu adalah suamimu sendiri, Putra." Ingin sekali Thalia mengatakan hal tersebut tetapi masih ditahan karena bukan itu niatannya.


Ucapan Thalia telah dipegang oleh Putra untuk tidak mengungkapkan hal ini tetapi ada beberapa hal yang harus dilakukan dengan Julia tanpa sepengetahuan Putra tentunya.


"Thalia apakah aku pernah bertemu dengannya ?." Kembali Julia bertanya karena tadi pertanyaannya tidak mendapat jawaban.


"Tidak, kau tidak mengenalnya dan aku tidak bisa meminta pertanggung jawabannya untuk anak yang ku kandung."


"Tapi kenapa ?."


"Karena dia sudah memiliki istri."

__ADS_1


Julia sangat tersentak dan tiba-tiba ia seolah kecewa dengan Thalia tetapi mau bagaimana lagi sahabatnya tersebut terlanjur memiliki hubungan dengan suami orang bahkan sampai mengandung.


Ada rasa iri di hati Julia ketika dengan mudah Thalia bisa mengandung sementara dirinya bahkan didiagnosis oleh dokter akan sulit memiliki keturunan.


"Kalau kau sudah tahu dia mempunyai istri kenapa kau harus menjalin hubungan dengannya ?."


"Waktu itu dia belum menikah dan kami sama-sama saling suka, kukira dia orang yang baik ternyata dia tidak mau bertanggung jawab kepada anak yang ku kandung."


Bagai jalan buntu bahkan sekarang permasalahan yang Julia hadapi bertambah banyak dari sebelumnya. Seharusnya Julia mengurus dirinya sendiri karena sekarang seolah bebannya bertambah banyak dengan ikut campur permasalahan Thalia.


"Lalu bagaimana dengan dirimu sekarang, Apa kau memiliki rencana kedepannya ?."


"Aku hanya seorang diri seperti yang kau tahu dan aku tidak bisa membesarkan anakku sendiri, yang ku tahu kau belum hamil bukan ?."


"Iya memangnya kenapa ?."


Julia mengira Thalia akan menyarankannya mengadopsi anak tersebut ketika lahir tetapi tanpa Julia sangka rencana Thalia lebih dari itu.


Thalia menggeleng karena bukan itu alasan ia kemari dan tentu saja Julia pasti tidak akan mengira saran yang akan ia berikan.


"Tidak bukan itu maksudku, bagaimana kalau kau pura-pura hamil dan ketika anakku sudah lahir akan kuberikan kepadamu."


Bagai disambar petir di siang hari, rencana yang dikatakan oleh Thalia benar-benar di luar perkiraan hingga Julia berdiri saking terkejutnya.


"Kenapa kau mengatakan itu ? Kau tahu kalau ketahuan aku tidak hanya diceraikan tapi bisa saja aku dimasukkan ke penjara oleh Putra dan keluarganya."


"Iya kalau ketahuan tapi kalau rahasia ini hanya kita berdua yang tahu maka akan aman." Thalia berdiri dan mengajak Julia untuk kembali duduk dan mendengarkan rencananya yang belum selesai dikatakan.


"Kau pasti sangat menginginkan seorang anak dan aku tidak bisa merawat anakku sendiri jadi kita berdua saling memerlukan satu sama lain, kalau kau mau aku bisa mengatur semuanya tapi kalau kau masih merasa ragu kau bisa memikirkannya kembali dan hubungi aku jika kau sudah berubah pikiran."

__ADS_1


*****


Makan malam yang tenang seperti biasanya hanya dentingan dengan sendok dan garpu yang saling bersahutan, tapi tiba-tiba suara telepon berbunyi membuat Julia merasa sedikit terkejut hingga Putra mengangkatnya tetapi dari kejauhan padahal hanya ada mereka berdua dan seharusnya tidak ada yang disembunyikan di antara suami istri.


Setelah pertemuan Julia dan Thalia kemarin membuat Julia sangat kepikiran dan awalnya ia menolak tetapi setelah dipikir-pikir rencana gila Thalia tidak patut untuk dilakukan, sampai saat ini juga mendengar sendiri suaminya menginginkan anak.


"Iya iya mah aku akan melakukan apa yang Mama minta, beri waktu 3 tahun lagi kalau memang Julia tidak bisa punya anak sampai saat itu tiba maka aku akan menikah lagi."


Julia mendengar perkataan Putra saat mengangkat telepon dari mamanya. Pantas saja Putra mengangkat telepon itu cukup jauh dari Julia hingga menghindar.


"Aku tidak menyangka kalau mereka perencanaan untuk membuat Putri menikah lagi dan bercerai denganku."


Ketika terdengar Putra menutup teleponnya dengan sekarang Julia kembali ke tempat makan dan pura-pura tidak mendengar.


Putra duduk dan mereka sejenak berdiam diri hingga Putra berdehem untuk mencairkan suasana. "Sayang ada yang ingin kukatakan."


Perasaan Julia menjadi tidak enak dan mungkin Putra akan mengatakannya secara langsung dalam jangka waktu 3 tahun. Julia benar-benar tidak siap akan hal tersebut.


"Apa hari ini akan membuatku bersedih ?."sebelumnya ia bertanya untuk mempersiapkan hatinya siapa tahu malam ini dia kembali tidak tidur karena tersedih.


"Entahlah tergantung bagaimana kau menyikapinya, papa dan aku berencana untuk melakukan pelebaran bisnis dengan membuka cabang di luar negeri dan itu akan memakan waktu lama jadi sementara itu aku tidak bisa pulang ke sini."


"Memangnya berapa lama ?."


"Perkiraan selama 1 tahun."


Julia terkejut karena itu waktu yang cukup dan sesuai jika melakukan hal yang terlihat sarankan. Maka daripada dia diceraikan Julia memilih untuk melakukan rencana itu dan meyakini bahwa suatu hari dia juga bisa punya anak dan itu hanya sebagai anak pancingan sekaligus perekat rumah tangganya agar tidak berakhir.


Maka ketika esok hari setelah Putra pergi ke kantor Julia menelpon Thalia.

__ADS_1


"Halo Thalia apa yang kau katakan kamu kemarin, aku setuju jadi mari kita lakukan rencana itu setelah Putra pergi ke luar negeri."


__ADS_2