
"Bagaimana dokter apa calon anak kami sehat ?." Tanya Putra dengan tidak sabar dan sangat antusias berbanding terbalik dengan sang istri yang pasrah akan nasibnya, jika ia beruntung maka Julia akan lolos saat ini, itu hanya jika saja bagaimana jika tidak ?.
Dokter menggeser alat sambil melihat layar. "Ini bisa Bapak lihat sendiri pertumbuhan bayinya normal jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan."
Julia hampir tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini, layar yang di tunjukkan benar-benar terlihat ada sebuah kehidupan di sana. Sejenak Julia merasa ia benar-benar hamil hingga tersenyum dan mengelus perut datarnya.
"Tapi kenapa perut istriku masih rata dokter ?."
"Itu wajar Pak dalam usia kehamilan awal, nanti juga akan membesar sendiri, Bapak tenang saja."
Dokter memberikan saran apa saja yang baik dan tidak bagi ibu hamil untuk di konsumsi juga memberikan vitamin. Tak lupa Putra membawa hasil foto USG di tangannya. Kini Julia bisa bernafas lega setelah mereka sampai di rumah dan sore harinya Putra mendapat telfon untuk segera kembali ke luar negeri karena asa masalah yang harus di selesaikan sendiri dan tidak bisa di wakilkan.
"Aku harus kembali, jaga kesehatanmu dan calon anak kita."
"Iya sayang hati-hatilah di jalan dan jangan lupa untuk menelponku saat kau sudah sampai."
Mobil itu melewati pagar tembok yng tinggi hingga menghilang barulah Julia kembali masuk ke dalam rumah dan menelpon Thalia.
Julia ~ "Thalia dokter itu membantuku, bahkan ada foto USG-nya mungkinkah aku memang benar hamil ?."
Thalia ~ "Tentu saja tidak karena itu USG milik bayiku, dokter itu bersedia membantu karena dia kenalanku, aku tau kau sangat ingin hamil Julia tapi ingat bagaimana bisa kau hamil saat suamimu berada di luar negeri selama berbulan-bulan ?."
Julia memegang perutnya, bahagia yang dia rasakan hanyalah semua, padahal sejenak ia merasa telah menjadi seorang ibu hamil, dan sirna semua.
__ADS_1
Julia ~" Kau benar, maaf aku lupa dan ucapkan terima kasih kepada dokter itu ya."
Telfon dimatikan, Julia merenung kembali dan merasa tak sabar mengakhiri kebohongan yang kian lama menyiksa dirinya, sejak dulu ia diajarkn untuk menjadi pribadi yang baik tapi ketika dewasa ia malah melakukan drama kebohongan yang terus berlanjut tak terhenti.
*****
#FLASHBACK
Thalia datang ke rumah sakit yang nantinya akan di tuju Julia untuk periksa kandungan tapi ia memiliki niatan lain. Rungan yang pernah di datangi kini dengan leluasa ia masuk dan mengejutkan orang yang ada di dalam.
"Thalia ? Aku cukup terkejut kau datang." Lelaki dengan jad putih itu melihat jam yang ada di dinding. " Bahkan sepagi ini."
"Aku ingin minta bantuanmu, ini tentang temanku yang sulit hamil dan akan di ceraikan oleh suaminya jadi dia berpura-pura hamil, bisakah kau menyakinkan suaminya ?."
"Bisa atau tidak ?." Thalia mulai tidak sabar bahkan waktu berjalan semakin terasa cepat, takutnya Julia keburu dibawa oleh Putra periksa ke tempat lain.
"Tentu saja tidak, kalau aku ketahuan berbohong dan menyalahi etika profesiku tentu saja aku tidak akan lagi bisa menjadi dokter."
Wanita itu memutar otaknya untuk menangani masalah ini, hanya ada satu cara yang tertinggal dan biasanya berhasil tapi untuk sekarang Thalia tak yakin namun berhasil atau tidak tentu tak akan tau jika tidak di coba.
Thalia mendekat mengelus dada berbalut pakaian kerja tersebut, ia semakin mendekat dan mengeluarkan rayuan maut, "lama tidak bertemu apa kau tidak merindukanku ?." Ia membuka dua kancingnya atas kemeja dan menurunkan bajunya hingga salah satu pundak terekspos." Bukankah ini tempat favoritmu ?."
Sebagai seorang lelaki dengan libido tinggi, lelaki itu tergoda dan mencicipi leher jenjang tempat ia menaruh stempel kepemilikan sementara dulu. Ia selalu menyukainya hingga tidak tahan untuk menolak pesona itu.
__ADS_1
Mereka berdua melakukannya, dengan suara ******* yang berusaha di tahan dan pintu yng terkunci dengan rapat supaya tak ketahuan. Dengan tempat terbatas posisi apapun di terima Thalia hingga ia merasa sakit karena sedang hamil.
Usai melakukan itu mereka membenarkan pakaian dan rambut juga tempat bermain yang berantakan karena ulah mereka.
"Sepertinya aku masih lebih mempesona daripada istrimu."
Lelaki itu menyeringai, "jangan terlalu menganggap dirimu sendiri tinggi, aku melakukan ini karena jarang pulang akibat sibuk." Ia beranjak dari ranjang yang di gunakan untuk memeriksa pasien dan beralih duduk di kursi kerja. "Sudah berapa minggu kehamilanmu ?."
Bola mata Thalia membulat sempurna, ia kira semua aman tapi kehamilannya ternyata di ketahui.
"Jangan terlalu terkejut, aku dokter kandungan jadi pasti aku tau mana wanita yng hamil atau tidak apalagi aku sudah memeriksanya dengan pasti tadi." Ia menyeringai.
Ini masalah lain, tujuan utama Thalia datang kesini bikan untuk itu. Ia mendekat dan mendudukkan dirinya di atas pangkuan, "Tapi tadi kau menikmatinya kan meski aku hamil, kau begitu bergairah jadi aku anggap kita sepakat."
"Kau dari dulu tidak pernah berubah."
"Lihat foto suami istri ini ?." Layar hpnya menampilkan foto pernikahan Julia dan Putra yang tak menyangka akan berguna hari ini. "Kau lakukan saja seperti kau memeriksa ibu hamil lainnya ?."
"Lalu bagaimana dengan USG itu ?."
"Kau bisa kan memutar hasil USG orang lain ? Aku percaya kau bisa di ku andalkan, aku pergi dulu bye sayang."
Setelah Thalia memastikan semua sudah beres baru ia mengirim pesan kepada Julia alamat rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan tidak mudah saat ia harus berolahraga pagi untuk meyakinkan lelaki tua tersebut, tapi semua sesuai rencana.
__ADS_1