
Setelah pulang dari rumah sakit Julia merasa lemas hingga tak punya tenaga hanya untuk sekedar berbicara dengan Putra. Kata-kata dokter amat membuat terpukul dengan kenyataan yang ada dimana Julia di katakan sulit memiliki anak.
Walau setelah itu dokter mengatakan Julia bisa mencoba untuk melakukan program bayi tabung tapi tetap saja semua ada di tangan Tuhan. Tidak bisa menjaminnya 100% untuk berhasil.
Julia di diagnosa mengidap PCOS yaitu gangguan hormon yang terjadi pada wanita di usia subur. PCOS ditandai dengan gangguan menstruasi dan kadar hormon maskulin (hormon androgen) yang berlebihan.
"Ayo kita mencoba bayi tabung." Wajahnya seperti seseorang yang berputus asa sambil melihat ke arah jendela mobil lalu menoleh melihat sng suami, dan Putra masih diam hanya melihat.
"Kita punya uang san masih muda pasti akan bisa kalau mencoba bayi tabung."
"Untuk apa ?." Suara keras Putra menyejutkan Julia hingga tersentak, sedari tadi mereka diam dan pertikaian terjadi di mobil dengan emosi yang meluap-luap. " Bagaimana kalau gagal hah ?."
"Kalau gagal ya kita coba lagi, apa salahnya di coba dulu karena hanya itu satu-satunya jalan agar kita punya anak."
Putra membanting setir hingga mobil melaju tak terkendali lalu berhenti sebelum ia menabrakkan ke sembarang tempat karena marah. "Kau yang bermasalah kenapa aku juga harus ikut repot seperti ini ?."
"Karena kita sudah menikah dan suka maupun duka harus di bagi bersama-sama."
"Kau hanya memikirkan dirimu sendiri."
"Kau yang egois Putra, kau bahkan tidak sadar setiap keluarga besarmu bertanya tentang anak mereka menghakimiku seolah aku penjahat hanya karena belum hamil juga."
"Baiklah kalau kau tidak suka dengan keluargaku." Putra membuka pintu mobil dari dalam. " Keluar dari mobil sekarang juga."
"Kau menurunkankun di jalan ? Apa kau gila aku adalah istrimu."
__ADS_1
"Kalau pernikahan hanya untuk berbagi kesulitan seperti ini harusnya aku tidak menikah, kau hanya membuatku merasa dipenjara."
"Baik maaf kalau kau seperti seorang yang ku penjara."
Dengan emosi dan kemarahan yang memuncak akhirnya Julia keluar, tak lupa membawa barang-barangnya dan membanting pintu mobil. Ia menangis tersedu saat melihat kepergian Putra yang meninggalkannya di pinggir jalan seperti seekor kucing buangan.
"Kau sangat jahat." Berjalan tanpa arah dan tujuan, ia bahkan tak peduli dengan kerikil yang membuat jalannya kesulitan apalagi menggunakan sepatu high heels. Mata merah dan sembab juga penglihatan yang kian kabur, Julia merasa frustasi.
*****
Di waktu yang sama dan tempat yang berbeda mobil Putra terparkir di parkiran apartemen milik Thalia, tempat dimana ia selalu bisa mencari kesenangan dan terlepas dari kepenatan akibat masalah yang di hadapi selama ini.
Wanita itu menyambutnya dengan ramah dan menanyakan apa yang terjadi karena terlihat dari tampang saja, Putra sangat tak karuan. "Sepertinya ini menyangkut Julia."
"Iya kau benar dan kami habis dari rumah sakit, dokter mengatakan kalau dia sulit punya anak dan malah mengajakku ikut program bayi tabung."
Ia memijit bahu dan kepala Putra seperti seorang istri patuh yang habis menyambut sang suami pulang kerja. Thalia nampak seperti istri idaman tapi jika benar menikah maka dia bukan sosok istri yang baik untuk di jadikan teman hidup.
Karena Thalia tidak suka di kekang dengan aturan tak tertulis dalam sebuah pernikahan.
"Setelah menikah dia sangat ingin punya anak dan pembahasan selalu anak dan anak."
"Memangnya kau tidak ingin punya anak ? Atau kau merasa tidak bisa bebas setelah punya anak ?."
Diam sejenak, Putra mencari alasan mengapa ia cukup enggan untuk diminta melakukan program bayi tabung sekarang. "Aku juga ingin punya anak tapi tidak suka sesuatu yang merepotkan seperti bayi tabung."
__ADS_1
"Kalau begitu seandainya Julia sampai tua juga masih belum bisa hamil sedangkan kau tidak mau bayi tabung lalu bagaimana ? Apa kau ingin menceraikannya ?."
Tatapan Putra tajam mengarah ke Thalia, niat hati ingin menyegarkan pikiran dan mengurangi beban hidup tapi ia malah di ajak berfikir sesuatu yang tidak ingin di pikirkan saat ini." Aku ingin pembahasan mengenai anak dan Julia untuk saat ini selesai."
Saat melihat tatapan itu Thalia langsung paham dan berhenti sebelum ia tidak lagi mendapat ATM berjalan miliknya. Demi bisa memperbaiki suasana ia mengajak Putra bersenang-senang dengan kenikmatan duniawi, karena saat ini Putra sedang emosi jadi mainnya secara brutal hingga Thalia sulit mengimbangi.
Di lain sisi Julia berhasil sampai ke rumah setelah berjalan jauh sampai bisa mendapatkan taxi, di rumah ia tidak melihat kehadiran Putra dan membaringkan diri dengan air mata yang masih menetes hingga ketiduran.
Sampai larut malam dan Julia terbangun nyatanya Putra masih belum pulang juga, bahkan saat hpnya di di telepon tidak di angkat. Julia mengirimkan pesan suara dan hanya di baca bukannya di telepon balik.
"Dia sangat marah kepadaku, apa salahku memangnya aku ingin punya anak darinya adalah dosa besar ?." Nampaknya Julia masih berpegang dengan pendiriannya.
Untuk orang biasa mungkin bayi tabung sangat mahal tapi untuk mereka harusnya masalah biaya bukan sesuatu yang besar, tapi Julia menerka alasan mengapa bisa Putra enggan melakukan program bayi tabung.
Hingga lelah dan terus melihat layar Julia menyerah dan akan mengikuti apa kata Putra untuk tidak melakukan bayi tabung tapi, ia tidak yakin jika suatu hari bisa hamil secara normal seperti wanita pada umumnya.
Sebuah pesan suara lagi-lagi di kirim Julia, setidaknya jika Putra enggan mengangkat teleponnya tetapi pesannya bisa tersampaikan. Untuk saat ini Julia akan mengalah demi pernikahan mereka.
"Sayang kau masih marah ya, aku minta maaf karena mengajakmu untuk melakukan program bayi tabung tanpa bertanya dulu apa kau mau atau tidak, kalau kau tidak suka kita tidak usah melakukannya dan pulanglah, aku rindu.".
Julia sedikit tersenyum saat melihat centang biru yang menandakan pesannya sudah di dengar, meski masih belum ada jawaban tapi Julia yakin Putra akan segera pulang dan berdamai dengannya.
Padahal kenyataannya Putra sedang tertidur lelap tanpa busana dan hanya tertutup selimut putih, sedangkan hp-nya di pegang oleh Thalia dan dia pula yang mendengar pesan tersebut lalu menghapusnya.
"Bagaimana kalau kalian baikkannya di tunda dulu, kalau kalian bertengkar maka Putra akan lebih sering datang dan memberiku uang." Ia tersenyum dalam hati lalu mengembalikan hp Putra di meja kecil samping tempat tidur.
__ADS_1
Thalia ikut membaringkat tubuhnya dengan tangan Putra sebagai pengganti bantal, "silahkan galau dulu ya Julia, aku pinjam sebentar suamimu."