
Akhirnya kepergian Putra yang ditunggu-tunggu sejak lama kini telah datang dan Julia merasa agak takut juga khawatir akan langkah yang diambil setelah ini. Beberapa kali ia merenung dan berpikir hingga saat Putra memanggilnya tidak direspon.
"Apa kau yakin akan baik-baik saja saat aku pergi ? Karena kau terus melamun."
"Aku baik-baik saja karena aku sendirian di rumah nanti mungkin aku akan mencari kesibukan agar tidak melamun, dan aku menantikan kehadiran anak kita."
"Anak tidak akan hadir saat aku pergi Julia bagaimana caranya kau bisa hamil tanpa suami."
Tiba-tiba Julia merasa terkejut dan jantungnya berdetak dengan kencang lalu tersenyum untuk menyingkirkan rasa canggung ini dan menutupi kecurigaan Putra. "Makanya kau sering-seringlah pulang kalau ada waktu supaya nanti aku bisa cepat hamil."
"Tentu saja aku akan pulang saat punya waktu." Koper diangkatnya masuk ke dalam mobil dibantu oleh sopir dan Putra melambaikan tangan dari dalam mobil saat sudah jalan menuju ke bandara.
Julia melihat mobil Putra sudah pergi jauh dan ia mengambil tas yang berada di dalam kamar lalu menelpon Thalia untuk mengabari bahwa Putra telah pergi dan rencana siap dilaksanakan mulai hari ini.
Kemungkinan saat ini pesawat Putra sudah terbang menuju ke negara yang akan ia tempati untuk sementara sedangkan Julia kini membelah jalanan kota yang padat hingga beberapa kali melewati lampu merah untuk sampai ke apartemen milik Thalia.
Bel pintu dibunyikan dan Julia masuk ketika sudah dibukakan pintu, Thalia sudah menunggu sedari tadi dan mempersilahkan Julia untuk duduk di atas sofa yang kerap kali diduduki oleh Putra dan tanpa sepengetahuan Julia tentu saja.
"Aku sudah mempersiapkan beberapa barang yang akan kau gunakan untuk membuat perutmu agar terlihat buncit." Thalia mengeluarkan barang tersebut yang berjumlah 3 dengan ukuran yang berbeda-beda dan tentu saja mengikuti usia kehamilan.
"Apa ini ? Seperti sebuah bantalan."
"Ikat benda itu di perutmu dan kau akan terlihat seperti hamil, kehamilan 3 bulan kok pakai yang paling kecil lalu setiap 2 bulan sekali kau memakai ukuran yang lebih besar.
__ADS_1
Julia mencoba memakainya dan melihat perutnya yang membuncit seperti orang yang sedang hamil, ia mengelus perutnya sendiri dan membayangkan jika dirinya nyata hamil harusnya ia tidak perlu berbuat hal sampai sejauh ini.
"Bagaimana kalau aku ketahuan, dan bagaimana jika Putra meminta jatahnya sebagai suami pasti dia akan melihat bantalan ini dan aku pasti akan dimarahi dan yang paling terburuk kami akan bercerai."
"Kalian mau bercerai atau tidak itu bukan urusanku." Gumam Thalia dalam hati karena betapa polosnya Julia ini yang bahkan memikirkan alasan kebohongan lainnya saja tidak mampu.
"Ya kau tolak bilang saja bahaya kalau melakukan itu saat kau sedang hamil atau kau bisa beralasan nanti janinnya akan kenapa-napa. Terserah kamu mau beralasan apa saja tapi yang jelas jangan sampai Putra melihat perutmu."
Keteguhan hati Julia seperti batu yang diterjang oleh ombak dan mudah pecah hingga ia bingung apakah ini akan ia lanjutkan dengan segala konsekuensi yang akan diterimanya di masa depan atau Julia akan berhenti bahkan sebelum ia memulai untuk mencari aman tetapi ia harus menghadapi nasib jika disebut mandul oleh seluruh orang yang bertanya kapan ia hamil.
"Kalau aku maka tidak perlu." Thalia sangat tidak suka dengan orang yang ragu-ragu tetapi saat ia mengambil bantalan itu tangan Julia menghentikannya.
"Baiklah aku akan melakukannya, tolong ke jaga rahasia ini sebaik mungkin."
*****
Julia dengan ragu-ragu mengambil hp-nya untuk memberikan kabar kepada suami bahwa dirinya telah hamil. Dengan hembusan nafas yang mencoba untuk menenangkan diri lalu mendengar suara laki-laki yang sangat ia cintai jauh di sana.
Putra ~ "Ada apa sayang apa semua baik-baik saja ? Tidak biasanya kau menelponku saat jam segini."
Situasi di mana Putra tinggal saat ini adalah tengah malam dan ia sedang terlelap tadi hingga ketika menerima telepon saja matanya masih terpejam karena kantuk dan juga lelah seharian telah bekerja dengan keras untuk perusahaan barunya.
Julia ~ "oh maaf sayang aku lupa kalau di sana sudah malam karena di sini masih siang, ada yang ingin kusampaikan dan ini penting."
__ADS_1
Putra ~ "memangnya apa itu ?." Suara Putra masih serak khas orang bangun tidur meski begitu ia mendengarkan dengan jelas walaupun matanya benar-benar sulit untuk terbuka.
Julia ~ "aku saat ini telah hamil."
Putra langsung beranjak dari tidurnya dan rasa kantuk hilang seketika ketika mendengar kata yang telah lama ingin didengarnya kini disampaikan oleh Julia. Rasa ingin tidak percaya karena seingatnya Julia telah sebulan ditinggal ke luar negeri.
Putra ~ "Benarkah ?." Putra bertanya kembali untuk memastikan apa yang ia dengar karena bisa saja ia salah mendengar karena tadi mengantuk.
Julia ~ "iya bener aku sudah hamil dan kocak kandunganku ternyata sudah hampir 2 bulan, itu saat kau masih di rumah, aku tidak menyangka akan hamil saat kau pergi jauh dariku.
Putra ~ "apapun itu ini adalah kabar bagus dan aku akan secepatnya pulang untuk melihat calon anakku, kabar bahagia ini harus kau sampaikan kepada keluarga besar kita."
Julia ~ "iya sayang akan kusampaikan kepada keluarga besar kita bahwa aku telah hamil."
Julia menatap dirinya yang berada di depan cermin dan tidak menyangka bahwa dirinya telah pandai berbohong sampai sejauh ini tetapi mau bagaimana lagi, Julia telah melangkah di atas api yang begitu panas dan tidak bisa kembali dan harapan satu-satunya adalah semua ini berjalan dengan lancar sampai Thalia melahirkan dan mengakuinya sebagai anak Julia.
Terus berang telepon terdengar suara Putra yang tertawa karena sangat senang karena ia telah hamil setelah sekian lama penantian panjang dan perjuangan dan ternyata membuat Julia akhirnya harus berbohong.
Tetapi Julia tidak menyerah karena ia akan menganggap anak itu anaknya sendiri walaupun di lain sisi Julia tetap akan berusaha memiliki anak kandungnya sendiri. Selama ia masih bisa berusaha Julia masih mempunyai harapan akan mempunyai keturunan.
Julia ~ "sudah dulu ya sayang kau lanjutkan tidurmu dan aku akan mengabari keluarga besar kita kalau mereka akan segera punya cucu."
Putra ~"iya sayang jagalah dirimu dan calon anak kita sampai aku kembali."
__ADS_1
Telepon tertutup dan Julia merasa pusing karena baru permulaan saja iya merasa kecewa telah membohongi suaminya sendiri. "Kapan-kapan aku harus ke gereja dan bertaubat tapi nanti dulu ya Tuhan saat semua ini selesai."