Noda Merah

Noda Merah
Lipstik


__ADS_3

Salah satu hal yang di inginkan oleh Julia setelah menikah adalah belanja bulanan bersama dengan sang suami, tapi cukup sulit membujuk Putra untuk mengikuti keinginannya bahkan berkali-kali Julia harus terus membujuk supaya mau.


Meski nampak tak suka dan terlihat terpaksa akhirnya Putra mau, Julia dengan semangat masuk ke dalam mobil Putra dan sudah mengenakan sabuk pengaman sedangkan sang suami masih di luar dan terlihat mencari sesuatu.


"Ada apa sayang ? Ayo masuk."


"Sebentar sepertinya dompetku ketinggalan aku akan mengambilnya."


Julia menghela nafas, ia menyalakan musik selama sang suami masih mencari keberadaan dompet yang di tinggalkan di dalam rumah. Julia melihat ada benda berkilau yang menyita perhatian hingga ia meraihnya.


Ia sangat terkejut mendapati sebuah lipstik ada di mobil sang suami pasalnya lipstik tersebut bukan miliknya, apalagi Julia tak pernah berdandan di mobil Putra. Julia tau benar merk lipstik apa saja yang sering ia gunakan, tapi ia tak mau berburuk sangka meski hatinya sedang tak karuan.


"Ini lipstik siapa ?." Ia bertanya-tanya dalam hati.


Saat melihat dari kejauhan Putra akan menuju kesini dengan segera Julia memasukkan lipstik tersebut.


"Sudah ketemu, ayo kita pergi." Ucapan Putra tak mendapat tanggapan, saat menoleh ke sang istri nampak wajah kebingungan yang terlihat. "Apa ada sesuatu ?."


Bimbang antara ingin bertanya langsung atau mencaritahu lebih dulu, ia cukup lama menjawab hingga menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa ayo kita pergi."


Sekarang ini semangat Julia berbelanja tak seperti sebelumnya, ia sangat kepikiran siapa pemilik lipstik tersebut yang berada di mobil sang suami. Meski Julia menerka mungkin itu milik sang ibu mertua atau mungkin saudara Putra namun tetap saja hati kecilnya merasa ada tamu yang tidak diinginkan dalam rumah tangga mereka.


"Sayang kau sebenarnya mau membeli apa ?"


Trolly masih kosong sementara mereka sudah berada di supermarket selama setengah jam yang lalu dan Putra hanya memperhatikan sang istri melewati deretan rak kebutuhan rumah yang tersusun rapi.


"Oh aku bingung mau beli apa, kau tunggu saja disini aku akan ke sana dan memilih yang mau kubeli."


Julia baru sadar bahwa tujuannya ke supermarket adalah untuk belanja tapi bahkan daftar belanjaan yang telah di catat di rumah masih membuatnya kurang konsentrasi hingga memasukkan apa saja yang di lewatinya dengan asal karena kebingungan.


Saat di mobil juga Julia lebih banyak diam dan hanya menjawan ya dan tidak saat Putra bertanya.


"Kenapa sedari tadi kau bersikap aneh ?."


"Tidak, mungkin itu hanya perasaanmu saja, aku tidak apa-apa." Julia kencoba tersenyum agar Putra percaya tapi senyuman itu hanya kebohongan yang di ciptakan dari rasa ketakutan akan hal lain.

__ADS_1


Ia belum siap kalau tau di selingkuhi bahkan usia pernikahan mereka baru seumur jagung. Ia hanya bisa melihat ke jendela luar dengan pandangan kosong dan enggan melihat Putra selama di mobil.


Meski setelah sampai di rumah Julia masih kepikiran tapi saat ia ingin bertanya beberapa kali di tunda. Julia ingin menceritakan hal ini kepada seseorang untuk meringankan beban di hatinya jadi ia mengirimkan pesan kepada Monica dan Tari agar bisa bertemu dan saling curhat.


Mereka janjian di cafe yang berada di dalam mall agar Putra tak curiga dengan alasan ingin shopping denga teman-temannya.


Lama menunggu, Julia datang lebih dulu dan di susul oleh Tari juga Monica sementara ia tak menghubungi Thalia karena di pikir sudah kembali ke luar negeri.


"Ketemu lagi sama pengantin baru, gimana rasanya Julia kan diantara kita cuma kamu yang udah nikah ?."


Antusiasme itu di dukung oleh Monica yang juga ingin tau, bahkan Julia jadi bingung harus mengatakan apa pasalnya ia sendiri ingin curhat mengenai hal yng kurang menyenangkan dari Putra soal kecurigaan adanya wanita lain.


"Ya gitu, pokoknya kalian nikmati dulu masa single karena setelah menikah belum tentu kalian merasakan kesenangan saat masih sendiri."


Baik Tari dan Monica langsung saling memandang, mungkin mereka hanya akan faham kalau sudah menikah.


"Tapi pernikahan menyenangkan kan ?." Monica ingin jawaban yang lebih jelas.


"I-iya menyenangkan kok."


Ia mengganti topik yang lain dan keseruan itu membuat Julia lupa sejenak akan masalah yang di hadapi.


Di kejauhan Tari melihat seorang wanita yang mirip dengan Thalia, dan ia juga mengira kalau Thalia sudah ke luar negeri lagi tapi wanita yang begitu mirip tersebut kian memperkuat apa yang di yakini.


"Julia, bukannya Thalia balik ke luar negri ya ?." Tari mencoba memastikan.


"Iya dia bilang udah balik ke luar negeri kok, emang kenapa ?."


Ia menunjuk seseorang yang berada jauh disana, seorang wanita yang menenteng tas branded dan beberapa tas belanja. "Itu bukannya Thalia ya ?."


"Eh iya itu Thalia, coba panggil buat join."


Julia mengangguk dan melambaikan tangan sambil memanggil." Thalia ."


Baru satu panggilan dan langsung menoleh, ternyata benar bahwa wanita itu Thalia dan mendekat ke meja Julia.

__ADS_1


Thalia nampak canggung. "Hai, kalian lagi apa ?." Iya agak terkejut dan merasa tidak nyaman.


"Sini duduk, kayaknya habis borong nih. Kalau aku tau kau masih di Indonesia pasti ku kirim pesan supaya kita ketemu lebih awal."


Thalia meneguk ludahnya, baru beberapa hari yang lalu ia di hubungi oleh Julia dan mengatakan kalau sudah berada di luar negeri tapi sekarang ia ketahuan masih disini, sungguh apes.


"A-aku ke Indonesia baru semalam sampai karena ada hal mendesak, aku ini juga lagi buru-buru jadi aku pergi ya, kapan-kapan kita ketemu lagi kalau ada waktu."


Thalia seperti mendapat kesialan karena ia kurang waspada dan terlalu bebas belanja, pasti Julia dan teman-teman memperhatikan beberapa tas belanja yang di bawa. Maka untuk melarikan diri, Thalia pergi dari sana secepatnya sebelum di tanya lebih lanjut.


"Emang Thalia kerja apa Julia di luar negeri, kayaknya gaya dia tadi benar-benar wah dari atas sampai bawah."


Julia menggelengkan kepala, semenjak lulus SMA ia tak terlalu tau kehidupan Thalia termasuk pekerjaan maupun hubungan keluarga. Cukup bertukar kabar sewajarnya saja.


"Aku sendiri nggak tau dengan jelas."


"Atau jangan-jangan dia punya sugar daddy ?." Tari tertawa sementara Julia dan Monica hanya tersenyum, mereka tidak merasa itu berlebihan karena sedari dulu sifat Tari memang seperti itu.


"Sudahlah aku mau ke toilet dulu, ada yang mau ikut ?." Tanya Julia.


"Aku juga." Tari bersama Julia ke kamar mandi meninggalkan Monica yang terpaku ke hp-nya karena mendapat pesan dari seseorang.


Di kamar mandi Julia membenahi makeup sementara Tari masih berada di dalam untuk buang air, ketika keluar ia juga ingin membenahi riasan tapi tidak membawa lipstik padahal bibirnya terasa kering dan sisa lipstik sebelumnya sedikit berantakan.


"Julia apa kau membawa lipstik?."


"Entahlah coba cek saja."


Sebuah pouch yang berisi beberapa alat makeup di cari, mata Tari langsung bisa mengenali lipstik yang ada di sana.


"Julia kau memakai lipstik ini Juga ? Aku sangat suka lipstik ini tapi punyaku hilang dan harus memesan dulu karena ini edisi terbatas."


Julia hanya diam saat lipstik tersebut di oles ke bibir Tari, itu adalah lipstik yang di temukan di mobil Putra dan Tari barusan bilang kalau ini seperti yang ia punya dan pakai tapi hilang, jangan-jangan.


"Tari apa kau....?"

__ADS_1


__ADS_2