
Julia sangat panik hingga terasa pusing tiba-tiba, meski bukan dirinya yang akan melahirkan namun ia tidak tahu menahu bagaimana cara untuk bersikap tenang menghadapi seseorang yang akan melahirkan.
Julia ~ "baiklah kau tetap di sana jangan kemana-mana, aku akan menjemputmu ke rumah sakit."
Thalia ~ "cepatlah aku sudah tidak tahan lagi."
Panggilan langsung dimatikan dan Julia membawa barang yang telah ia siapkan namun ia tidak yakin apakah semua itu barang yang dibutuhkan untuk proses persalinan, yang pasti hanya itu yang mampu Julia pikirkan dan ia mengambil kunci mobil untuk dikendarai sendiri tanpa sopir agar pasti bahwa tidak ada yang tahu.
Seharusnya orang panik tidak boleh mengemudikan mobil tetapi ini terpaksa dan ketika sampai di apartemen milik Thalia, ia tambah panik saat melihat temannya tersebut merintih kesakitan di lantai.
"Cepat bawa aku ke rumah sakit sekarang." Teriaknya dengan lantang hingga Julia bergegas dan mereka ke rumah sakit membelah jalanan dan beberapa kali menerobos lampu merah dengan instruksi Thalia karena ingin segera tiba, beruntunglah tidak ada polisi yang akan memberhentikan mobil mereka ataupun menilang.
Setibanya di sana perawat dengan tanggap membantu Julia untuk membawa Thalia ke ruang bersalin, beberapa kali perawat menanyakan mengenai suami ataupun keluarganya Thalia dan Julia mengaku sebagai saudaranya agar proses persalinan dipercepat.
"Semoga saja Thalia dan bayinya selamat Tuhan." Julia sangat panik dan mondar-mandir seperti setrika karena menunggu terlalu lama
Suara tangisan bayi itu terdengar sampai luar dan Julia merasa lega. Julia meminta izin untuk diperbolehkan masuk dan ketika melihat Thalia usai melahirkan membuatnya bahagia tetapi Thalia masih dengan wajah datarnya. Diantara ibu bersalin yang lain Thalia cukup singkat melahirkan bayi yang normal dengan jenis kelamin perempuan.
Kini Thalia telah dipindahkan di ruang rawat bersama dengan sang bayi yang berada dalam satu ruangan.
"Aku ikut senang persalinanmu tidak terjadi apapun, selamat ya Thalia kau telah menjadi seorang ibu." Ujar Julia dengan penuh bahagia dari lubuk hatinya yang terdalam.
__ADS_1
"Bukan aku ibunya Julia, Apa kau lupa kalau kau yang akan merawatnya kan jadi sekarang itu adalah bayimu, kau tidak berubah pikiran kan ?."
Julia baru teringat dan ia mendekat lalu menggendong sang bayi mungil yang masih tertidur lelap setelah dilahirkan ke dunia ini tanpa tahu apapun dengan masa depan yang telah direncanakan oleh sang ibu.
"Dia sangat cantik dan mungil, aku merasa telah berdosa memisahkan bayi ini dengan ibunya."
"Kenapa harus berdosa Julia asal kau merawatnya dengan sepenuh hatimu dan pastikan dia tidak kekurangan kasih sayang."
"Iya Thalia aku berjanji." Kebahagiaan itu hanya sekejap saat mereka memikirkan untuk menyelesaikan masalah ini tanpa ada yang tertinggal dengan cara menutup mulut beberapa saksi.
Rencana yang kalian susun telah dimulai di mana ketika mereka-merekayasa persalinan atas nama Julia dan yang terbaring di ranjang itu juga bukan Thalia. Tak hanya sampai di situ mereka juga memalsukan nama sang ibu bayi setelahnya mengabari keluarga besar bahwa Julia telah melahirkan seorang diri.
"Kau benar-benar anak nakal bagaimana kalau kau kenapa-napa dan cucuku tidak selamat ?." Ibu kandung Julia tak segan memarahi sang putri.
"Mama kok bilangnya gitu yang penting kan aku sama anakku udah selamat kan, bisa lahiran normal sehat dan sempurna tanpa kekurangan apapun."
"Iya Mama bersyukur tapi kalau kamu lahiran anak kedua jangan gitu lagi." Mama kandung Julia tak segan mengancam sang Putri tetapi bukannya takut, Julia terkekeh dan pura-pura lemas setelah habis melahirkan.
"Julia !." Putra tiba-tiba datang dan mengagetkan mereka semua yang ada di dalam ruangan, kabar mengenai Julia yang melahirkan telah sampai ke telinganya hingga memesan tiket pesawat dengan penerbangan paling awal, meski sedikit terlambat tetapi Putra berhasil sampai.
"Akhirnya datang juga ini anak kamu udah lahir, 9 bulan nggak temani istri kamu hamil sampai melahirkan." Mama mertua mengomel dengan anak lelakinya tersebut lalu menyerahkan bayi yang baru lahir pada gondongan Putra.
__ADS_1
"Dia laki-laki atau perempuan ?." Pertanyaan yang pertama kali terlontar pada mulut Putra. Ia lalu mengecek jenis kelamin bayinya tersebut. "Oh perempuan." Ujarnya dengan nada datar.
Julia merasa kecewa hanya itu yang terlontar sebagai pertanyaan pertama Putra, setidaknya Putra menanyakan apakah ia dan bayinya sehat dan selamat atau tidak bukannya malah jenis kelamin yang ditanyakan. Tetapi harusnya Julia tidak sesedih ini karena bukan dia yang melahirkan namun tetap saja Julia merasa bayi itu kurang dihargai hanya karena jenis kelamin.
"Aku baik-baik saja, bayi kita juga." Julia tiba-tiba mengatakan hal seperti itu sebelum ditanya apapun, dan seolah semua orang tahu hingga mereka terdiam lalu Putra mendekat mencium kening Julia dan mengatakan.
"Terima kasih telah melahirkan anakku."
Suasana bahagia kembali terselimuti di dalam ruangan itu tetapi Julia melupakan satu hal yang teramat penting akibat kebahagiaan yang melimpah bersumber dari bayi yang menjadi status anaknya kini.
Hal yang terlupakan tersebut adalah Thalia, keberadaannya saat ini sedang keluar dari rumah sakit tersebut setelah menyelesaikan beberapa hal diantaranya menyuap perawat dan juga dokter yang dikenal untuk membungkam mulutnya mengenai identitasnya yang telah melahirkan bukannya Julia.
Disaat Julia sudah diperbolehkan dokter untuk pulang dari rumah sakit maka di saat itu juga Thalia memutuskan untuk meninggalkan negeri ini dan tidak lagi mengganggu kehidupan Julia dengan Putra.
Kacamata hitam itu ia kenakan, baju biasa bukannya baju rawat rumah sakit yang dipakai dan sedang memberhentikan sebuah taksi untuk menuju ke luar negeri kembali seperti semula seolah semuanya tidak pernah terjadi.
Semua yang ada di apartemennya ia tinggalkan karena uang yang ditransfer oleh Julia lebih dari cukup untuk membuatnya bersantai di luar negeri tanpa melakukan pekerjaan apapun dan hidup hanya mengandalkan uang tersebut. Kalau habis ya kita lihat tinggal mencari mangsa baru karena ia tidak terbiasa melakukan pekerjaan berat sedari dulu.
"Bukankah setelah melahirkan seseorang berhak untuk bersantai dan bahagia ?." Itu adalah prinsip yang terlontar dari hatinya ketika meninggalkan negeri ini dan berada di dalam pesawat, meski ia masih merasa lemas tetapi kebahagiaannya membuat lupa akan rasa sakit tersebut.
Ketika Thalia melihat dari jendela pesawat terbang yang ia naiki hendak take off, ia tersenyum dan mengatakan dalam hati, "Selamat tinggal Julia, Putra dan anakku tersayang nikmatilah hidupmu dengan orang tua kaya itu."
__ADS_1