Noda Merah

Noda Merah
Bersyukur


__ADS_3

Gelapnya malam yang hanya di terangi oleh kobaran api nan membara yang membakar seluruh tempat itu, suasana menjadi gaduh saat api menjalar ke apartemen yang ada di sekitar bahkan bunyi peringatan adanya api telah sampai di telinga semua penghuni apartemen.


"Sial mereka belum tertangkap dan sekarang api ini menyusahkan." Bangunan yang terbakar menghalangi pandangan Putra, ia merasa kedua anak buah yng di perintahkan tidak becus untuk mengurusi dua orang wanita saja.


Semua sudah terlalu rumit, apapun yang terjadi ia bertekad untuk menjadapatkan salah satu atau keduanya di seret ikut ke penjara atau ke neraka sekalian. Karena Putra menganggap semua penderitannya adalah kesalahan orang lain jadi ia enggan untuk mengakui karena sifat egois yng di miliki telah mendarah daging.


"Julia kau dimana sayang ?." Panggilnya dengan manis, andai putra tahu kalau julia sebenarnya bersembunyi di balik tirai yang mulai terbakar tentu saja saat ini putra sudah menyeretnya.


Julia menutup mulutnya agar tidak bersuara karena api tersebut menjalar dan mengenai lengan baju yang ia kenakan sedikit demi sedikit sampai membuatnya terluka dan kepanasan.


" Aduh." Rasa panas itu lama-kelamaan tidak bisa ditahan hingga spontan mengeluarkan suara dan tertangkap oleh putra.


"Ternyata kau di situ." Tanpa ampun Putra menyeret Julia Tapi tangannya digigit hingga ia mengeluh sakit dan inilah saat yang tepat untuk melarikan diri pergi dari sana melewati berbagai macam rintangan dari mulai kayu yang terbakar hingga di sekeliling yang sudah mulai berantakan di lahap oleh kebakaran api yang sangat membara.


Julia tidak bisa keluar dari sana karena pintu sudah di tutup oleh api dan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri adalah dari jendela luar yang langsung menuju ke bawah, sayangnya tak ada tangga di bawah balkon tapi beberapa pemadam kebakaran telah menyiapkan pelindung untuk menolong dari bawah.


"Nona cepatlah lompat dari sana." Teriak beberapa orang yang berada di bawah menunggu Julia untuk bergegas lompat sebelum api mulai menyebar dan melahapnya.


Ketakutan Julia pada ketinggian membuatnya ragu, kepalanya terasa pusing saat melihat ke bawah dimana ini sangat tinggi, sementara tidak ada Putra yang menghalangi dan Julia memberanikan diri sebelum dirinya di hadang oleh Putra.


"Aku bisa, itu tak terlalu tinggi hanya sangat tingga, tak apa aku bisa." Matanya menutup dan melompat tanpa arah hingga terasa ia sudah berada di bawah dan di tolong oleh orang sekitar.


"Tidak apa kau sudah selamat."


Suara itu nampak Julia kenali dan benar saja Darren memeluknya erat seolah hampir saja kehilannya jika terlambat sebentar saja. Dengan keadaan berantakan Julia menangis bahagia akhirnya ia bisa selamat dan detik selanjutnya api yang begitu besar membara melewati jendela hingga mengejutkan orang yang ada disana.

__ADS_1


"Thalia dan Putra masih ada disana, apa mereka selamat ?." Julia melihat Darren lalu beralih ke pemadam kebakaran yang nampak diam, hanya Julia yang berhasil keluar dari sana sampai sekarang.


"Kami masih berusaha." Hanya itu yang Julia dengar.


Ia lalu di bawa ke tempat yng lebih aman untuk menenangkan diri sambil mengobati tangannya yang terluka akibat api, tidak menyangka bahwa beberapa bagian tubuhnya yang lain juga terluka tapi Julia masih merasa tak tenang meski ia sudah di obati dengan obat seadanya.


Apartemen berhasil di padamkan dan Julia di bawa ke rumah sakit untuk mencari tahu apakah ada cidera yang serius tapi Julia bertanya kembali siapa saja yang berhasil selamat, ia di bawa ke ruangan lain dimana ada beberapa mayat yng tertutup dengan kain sampai Julia menyibak kain tersebut.


"Hah." Seketika ia menutup mulutnya melihat mayat Putra yang sudah tidak bisa di selamatkan dengan badan penuh cidera oleh api bahkan beberapa kulit napak terkelupas, dan ketampanan yang kerap laki-laki itu tampilkan kini sudah sirna.


"Apa anda kenal mayat ini ?."


"Ini suamiku, selamat tinggal Putra." Kain itu kembali di tutup, selanjutnya Julia melihat korban lain dan disana ada Thalia yang masih hidup tapi sayang napasnya memburuk begitu juga kondisi badannya yang hampir sepenuhnya terbakar.


"Ju-lia ma..af maafkan aku, to....long jaga Vita."


Kata-kata terakhir yang Thalia ungkapkan sebelum menemui ajalnya, Julia mengangguk untuk setuju mengingat sebelum meninggal Thalia membantunya untuk kabur dari Putra. Julia akan coba melupakan semua tragedi menyakitkan yang telah ia alami karena semua sudah selesai. Semua yang jahat sudah mendapatkan balasan atasa perbuatan mereka.


Begitu juga Julia yang bagian pelipisnya terbakar hingga meninggalkan bekas dan menurunkan kecantikannya. Julia iklhas atas semua ini dan ia berterima kasih kepada Tuhan karena di beri kesempatan kedua untuk menjadi pribadi yang lebih baik.


******


Hari demi hari berlalu, Julia kembli tinggal di rumah yang sebelumnya di tempati dengan Putra tapi kini ia hanya berdua saja dengan Vita yang sudah dia anggap seperti anak sendiri meski tetap saja Julia sedikit merasa ada jarak dengan anak angkatnya tersebut tanpa adanya ikatan darah.


Darren beberapa kali datang untuk menanyakan kabar dan kedatangan lelaki itu kerap membuat Julia merasa tidak nyaman karena sekarang setatusnya janda, ini bisa menimbulkan omongan yang tidak baik di kalangan masyarakat.

__ADS_1


"Darren bisakah kau kesini kadang-kadang saja, jangan salah paham aku dan Vita senang kau bisa main kesini tapi aku takut tetangga akan mengira hal yang kurang baik antara kau dan aku. Kau nanti juga akan kesulitan mendapatkan pasangan jika terus kesini."


"Jangan lagi menyuruhku menjauh Julia, dari dulu sampai sekarang perasaanku kepadamu masih tetap sama."


Mereka saling memandang tapi segara Julia mengalihkan padangannya karena merasa ia tak pantas untuk Darren yang sempurna sedangkan dirinya kini sudah banyak kekurangan. Julia melihat ke kolam ikan dan memandang pantulan dirinya di air, wajahnya sudah tak secantik dulu apalagi dengan bekas kebakaran itu.


"Carilah gadis yang cantik dan baik Darren, karena aku tidak bisa."


"Kenapa kau selalu menolakku, kalau kau memang tidak mencintaiku kau cukup mengatakannya tapi jangan menyuruhku mencari yang lebih baik darimu karena aku hanya ingin kau Julia."


Darren mengelurkan sebuah kotak kecil berwarna hitam, ia membukanya dan melamar Julia. " Lihatlah dalam hatimu sendiri, apakah kau benar mencintaiku atau tidak."


Julia menangis karena bingung, semua yang Darren lakukan sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasa bahagia dan Julia akan menyesali keputusannya jika menolak Darren lagi tapi Julia penuh dengan kekurangan. Untuk hari ini ia memilih untuk egois dan mementingkan dirinya sendiri, maka Julia mengangguk dan menerima lamaran Darren.


"Iya Darren aku akan menikah denganmu."


Darren memasangkan cincin itu di jari Julia, nampaknya penantian ini akhirnya telah usai dan ia tak akan menunggu lagi.


Pernikahan di laksanakan lebih cepat dari yang ia harapkan, di saat kedua orang tua mereka setuju maka pernikahan yang sederhana itu di lakukan. Cukup dengan kedatangan kedua orangtua masing-masing mempelai dan beberapa kerabat juga teman, sederhana namun khidmat.


Julia kembali menjalani rumah tangga yang ia yakini akan lebih bahagia dari sebelumnya.


"Darren aku mencintaimu."


"Aku juga istriku."

__ADS_1


__ADS_2