Noda Merah

Noda Merah
Desakan Mertua


__ADS_3

Putra langsung beranjak dari duduknya karena terkejut bukan main setelah apa yang didengar, ia ingin mempunyai anak tapi bukan dari Thalia yang merupakan selingkuhan namun dari Julia, istri sah yang telah ia nikahi di depan banyak orang termasuk keluarga besarnya.


Di rumah ia sudah mendapatkan masalah kalau Julia sulit untuk punya anak darinya, sedangkan saat ini Thalia malah dengan mudah hamil dan tespek itu benar positif. Jika yang hamil adalah Julia bukannya Thalia pasti saat ini Putra tidak kebingungan.


"Bagaimana bisa ?."


"Kita telah berulang kali tidur bersama tentu saja bisa, apa aku harus mengingatkanmu bagaimana kau berada di atas ranjang bersamaku. Atau kalau kau masih tidak percaya kita bisa pergi ke dokter dan memeriksakan kandunganku, aku tidak berbohong."


"Aaargh."


Kepala rasanya seperti dipukul oleh palu dan berdenyut. Putra masih sulit untuk menerima kenyataan tersebut. "Kau pasti berbohong dan telah tidur dengan orang lain juga, lalu mengatakan kalau ini adalah anakku."


Thalia berdecak kesal, "kalau kau tidak mau anakmu ini ya sudah tidak perlu memfitnahku tidur bersama dengan laki-laki lain, kita bisa tes DNA supaya lebih jelas lagi pula aku tidak akan memintamu bercerai dengan Julia dan meminta menikahiku segera seperti sinetron yang ada."


Putra merasa kebingungan lalu lantas mengapa Thalia memberitahu bahwa dirinya tengah hamil kalau tidak meminta untuk dinikahi. "Lalu apa sebenarnya maumu ?!."


"Aku lihat kau tidak menginginkan anak ini, aku bisa saja menggugurkan kandunganku karena ini masih muda tetapi semua itu ada biayanya dan resiko terbesarnya aku bisa mati, pilihan lain aku bisa membesarkan anak ini tapi sulit saat tidak punya suami dan sandaran hidup."


Thalia memasang muka sedih dan kecewa tetapi itu hanyalah akal-akalan nya saja meski pada kenyataannya ia benar hamil. "Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi untuk membantuku di hidup ini kecuali dirimu."


Putra merasa jengah karena Thalia begitu bertele-tele lalu mengeluarkan sebuah cek dan menuliskan nominal yang pantas Thalia dapatkan untuk hidup Putra yang tenang tanpa gangguan di kemudian hari.


"Aku ingin kau gugurkan kandunganmu."


Putra lantas memberikannya karena merasa apa yang Thalia inginkan sejak awal adalah uang dan Putra menyadari hal tersebut karena ia juga butuh teman yang bisa menyenangkannya tetapi bukan seorang teman yang seperti biasa jadi mereka impas.


"Kurasa nilai ini cukup dan aku tidak mau tahu lagi anak itu harus segera kau gugurkan lalu setelah ini kita tidak usah bertemu lagi, lebik baik kau segera ke luar negeri."

__ADS_1


Thalia melirik nilai yang tertulis di atas cek tersebut lalu tersenyum dalam hati karena ia puas, ia punya rencana lain kalaupun Putra tidak menginginkan anak dalam kandungannya. Semuanya tidak akan rugi bagi Thalia karena ia melihat semua adalah kesempatan untuk mendapatkan kenyamanan hidup tanpa harus bersusah payah.


"Aku sedih sekali kau mengatakan hal itu dan anak ini juga pasti sedih karena harus meninggalkan dunia sebelum melihat ayahnya, kau lelaki jahat Putra."


Putra meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata lagi di sisi lain Thalia sangat senang dan mengambil cek tersebut lalu menghirup aroma cek yang seakan-akan itu adalah uang yang sangat banyak yang telah ia peroleh.


"Cepat atau lambat kita pasti akan ketemu lagi."


*****


Putra merasa bimbang atas keputusan yang telah ia ambil karena meminta Thalia untuk menggugurkan kandungan sementara istri sahnya sendiri sedang kesulitan untuk hamil. Namun akan lebih baik tidak mendapatkan anak dari wanita selain Julia untuk menghindari kesulitan yang akan terjadi di masa depan.


Putra dan Julia saat ini sedang menonton TV bersama dan mereka dikejutkan oleh kehadiran orang tuanya Putra karena tanpa memberi kabar sebelumnya.


"Syukur deh kalau kalian berdua di rumah, mama kira kalian pergi."


"Mama dan papa kenapa datang tidak memberi kabar terlebih dahulu ?," Di saat Putra sibuk mengomel karena kedua orang tuanya tiba-tiba memberi kejutan dengan kehadiran tanpa kabar, sementara Julia mempersilahkan mertuanya untuk duduk.


Julia yang mulanya tersenyum kini senyuman tersebut luntur dan ia tertunduk malu lalu menggeleng, "belum ma."


Julia benar-benar tidak suka situasi saat ini karena ia merasa tidak berguna dan ingin menghindar.


"Nanti juga kami diberi momongan mah jangan khawatir." Putra menengahi.


Sementara Papa mertua memperhatikan Julia dan Putra yang mulai tidak bisa diharapkan untuk meneruskan generasi.


"Aku ambil minum dulu mama dan papa tunggu sebentar ya." Julia bergegas pergi ke dapur dan memanggil salah satu pembantunya untuk membantu membuatkan minuman dan beberapa camilan, lebih baik ia menghindar untuk sejenak sebelum kembali di tanya.

__ADS_1


Setelah berkutat di dapur cukup lama akhirnya ia kembali tetapi sebelum sampai ia mendengar sesuatu yang dilontarkan oleh Mama mertua hingga membuatnya berhenti melangkah lalu mendengarkan dengan seksama.


"Istrimu itu jangan-jangan mandul Putra, ini udah 5 tahun loh masak kalian belum juga dikasih anak."


"Ingat umur kalian makin lama itu makin tua dan usia semakin nggak produktif kalau kalian tidak segera mempunyai anak, atau kalian memang berencana untuk child free, kalau iya papa keluarkan dari daftar kartu keluarga."


"Lebih baik ceraikan saja istrimu itu lalu nanti mama kenalin sama anaknya teman mama, yang masih gadis juga banyak pasti mau sama kamu lagi pula anak Mama kan ganteng dan kaya, masa nggak mau."


Air mata Julia meleleh membasahi pipinya saat ia mendengar kata-kata yang sangat jahat dari mulut mertuanya bahkan lebih sakit lagi ketika tidak ada perlawanan atau pembelaan dari sang suami. Julia takut ia akan diceraikan oleh Putra dan digantikan oleh wanita lain.



Nampan tersebut ditaruhnya sejenak untuk mengelap air mata tersebut yang terus-menerus menetes, Julia melihat ke atas agar tangisannya berhenti lalu ketika membaik ia keluar dan memberikan minuman juga cemilan yang telah disiapkan.


*****


Julia menatap wajahnya di cermin karena beberapa hari ini ia tidak punya semangat hidup setelah kedatangan kedua mertuanya tempo hari.


Sebuah telepon masuk tetapi Julia hiraukan karena beberapa hari ini ia tidak peduli dengan apapun bahkan saat Putra mengajaknya bicara Julia hanya terdiam.


Putra mulai mendesaknya untuk melakukan program bayi tabung lagi tetapi Julia sudah mulai menyerah karena kecewa dengan ekspektasinya yang ternyata gagal.


Lagi- lagi telepon itu berdering dan Julia melihat nama Thalia di layar hp-nya, ia mematikan telepon tersebut karena tidak ingin diganggu sekarang tetapi Thalia selalu saja menghubunginya hingga terpaksa diangkat.


Julia ~ "Thalia aku sekarang sedang dalam keadaan tidak baik dan aku tidak ingin diganggu jadi please jangan menelponku untuk sekarang."


Thalia ~ "tetapi ini adalah hal penting."

__ADS_1


Julia ~ "memangnya hal penting apa ? Apa lebih penting dari perasaanku saat ini ?."


Thalia ~ "aku hamil.


__ADS_2