Noda Merah

Noda Merah
Pemakaman Diri Sendiri


__ADS_3

Alvin ~"Ini sangat penting, apa kau tau kalau Julia sudah meninggal ?."


Darren ~"Apa, Julia meninggal ?!."


Uhuk uhuk


Julia tersedak saat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Darren, segelas air putih dituang ke dalam gelas dan langsung ditunggangi nggak habis. Julia berhenti makan dan bertanya dengan isyarat kepada Darren yang masih memegang HP sambil mendengarkan orang yang menelponnya.


Darren ~ "kau yang benar saja, jangan membuat lelucon saat malam aku sudah mengantuk katakan yang serius."


Darren menggeleng untuk menjawab Julia karena ia sendiri masih belum jelas dan masih mengharap penjelasan dari Alvin.


Alvin ~"untuk apa aku membuat lelucon tentang orang yang meninggal, aku habis dikabari oleh Putra sendiri dan dia mengatakan bahwa Julia meninggal di sungai saat mobilnya terperosok. Besok aku akan ke pemakamannya, Apa kau mau ikut ?.


Darren ~" aku berangkat sendiri saja, Julia juga temanku ini sangat berat untukku."


Darren langsung memutuskan teleponnya sepihak dan mengusap rambutnya dengan kasar.


"Aku meninggal apa maksudnya ? Kenapa aku diberitakan meninggal padahal aku masih hidup." Julia menjadi emosional sekarang saat ia merasa dunia tidak adil kepadanya, baru saja selamat sudah syukur tetapi pagi dan lagi Julia harus menghadapi cobaan bertubi-tubi. "Aku harus bagaimana sekarang tidak mungkin aku hidup tanpa statusku sendiri sebagai Julia."


"Tenanglah Julia kita bisa menghadapi ini aku akan membantumu, Putra mengabarkan tentang kematianmu kepada semua orang dan pasti ada hal yang dia rencanakan. Kita tidak boleh gegabah dalam mengambil tindakan."


Julia menangis nasibnya gini benar-benar tidak diketahui terus bagaimana yang menjalani kehidupan, bahkan identitasnya saja berusaha Putra hilangkan hanya untuk aset yang dimiliki. Cintanya Julia benar-benar pupus kepada Putra dan hilang ditelan oleh badai rumah tangga yang sudah tidak bisa diselamatkan.

__ADS_1


"Apa aku harus melapor ke polisi agar dia ditangkap saja ?."


"Sebelum kita melapor polisi kita harus menemukan bukti-bukti kejahatan Putra agar dia bisa dijebloskan ke dalam penjara dan tidak bisa keluar lagi, dia bahkan rela mencoba membunuhmu dan tidak mungkin dia tidak akan melakukan lagi."


"Tapi sulit untuk menemukan bukti bahwa Putra melakukan kejahatan kepadaku, apalagi aku juga membohonginya perihal anak pasti dia akan membawa hal tersebut untuk menuntutku masuk ke dalam penjara juga."


"Jangan dipikirkan dengan keras, kau tidak sendiri dan sekarang ini sudah terlalu malam waktunya untuk istirahat lalu melanjutkan semuanya besok." Darren mengantar Julia ke kamar yang sudah disiapkan dan dibersihkan sebelumnya.


Kamar itu tepat berada di depan kamar milik Darren sehingga jika ada apa-apa iya dengan sikap mendatangi Julia.


"Tidurlah dengan nyenyak, tidak ada gunanya berpikir terlalu berat kalau kau kurang tidur semua akan kacau juga."


"Baiklah kau juga beristirahat."


"Sadarlah Darren, jangan mengambil kesempatan dengan wanita yang sedang terkena musibah." Batinnya bergejolak dengan keras, lalu ia memukul kepala agar menyadarkan diri nya bahwa semua ini tidak benar lalu masuk ke kamar dan tak lupa mengunci pintu untuk berjaga-jaga agar tidak terjadi hal yang tidak ia inginkan dan membuatnya menyesal di kemudian hari.


Darren mengambil hp dan menggulir layar untuk mencari nama seseorang yang telah lama tidak ia hubungi kecuali dalam keadaan darurat atau dia meminta pertolongan. Langsung saja panggilannya terhubung dan tiba-tiba raut wajah Darren menjadi sangat serius.


"Padahal sangat penting dan sangat rahasia yang ingin aku perintahkan kepadamu, jangan sampai kau lalai menjalankannya."


"Baik bos."


*****

__ADS_1


Darren mengenakan kemeja berwarna putih untuk pergi ke pemakaman Julia, namun ia duduk sejenak untuk menunggu Julia yang masih bersiap di kamarnya. Saat wanita itu keluar menggunakan pakaian serba hitam tak lupa dengan topi pemakaman yang khas juga kacamata hitam namun lipstik merahnya menampilkan keberanian yang tertutupi oleh topi tersebut.


"Apa seperti ini rasanya pergi ke pemakaman diri sendiri, bukannya sedih tapi aku marah dengan semua orang yang nanti akan hadir di sana karena secara tidak langsung menginginkan kematianku."


"Jangan seperti itu mereka tidak tahu kalau kau masih hidup, Ini semua hanya tipu daya Putra untuk memilih seluruh aset mu, kalau kau sudah siap sekarang ayo kita berangkat."


Julia menghela nafas dengan berat, " ayo kita berangkat." Meski Julia mengenakan pakaian serba hitam dan topi pemakaman tapi ia terlihat begitu kharismatik, bahkan saat berada di kobil tatapannya sangat mengintimidasi.


Cukup lama mereka menempuh perjalanan untuk sampai di tempat tujuan, sesampai di sana Alvin juga ternyata baru datang dan beberapa kali memperhatikan kehadiran wanita yang datang bersama dengan Darren.


"Siapa yang datang bersamamu ? Apa itu pacar baru ada calon istri ?."


Darren mendengung sebel karena tidak ingin meneladani Alvin sekarang sehingga ia memilih untuk bungkam begitu juga Julia yang mendengar hal tersebut. Wanita itu pura-pura tidak mendengar dan berusaha untuk tidak melihat Alvin ataupun menjawab pertanyaan tersebut.


Ini akan menjadi kejutan untuk putra jadi mereka berdua tidak ingin mengacaukannya sekarang hanya karena Alvin. "Sudah jangan bertanya tentang hal itu ayo kita masuk, tapi sebaiknya kau pergi lebih dulu saja padahal yang harus aku ambil di mobil."


"Dasar kau tidak berubah dari dulu selalu menjengkelkan." Alvin masih menggerutu hingga ia memilih untuk masuk ke dalam dan meninggalkan Darren di sana.


"Memangnya apa yang harus kau ambil di mobil, bukankah kita tinggal masuk saja ?." Julia juga penasaran tetapi ia lebih penasaran lagi dengan seorang laki-laki yang berjalan mendekat ke arah mereka dengan membawa sebuah map.


"Ini semua yang ada butuh butuhkan tuan, semua sudah lengkap."


"Baiklah kau boleh pergi."

__ADS_1


"Sudah beres saya Julia kita masuk dan kejutkan semua orang."


__ADS_2