
Mereka berdua masuk ke dalam sana dimana semua orang tengah berduka terutama kedua orangtuanya Julia yang menangis tersedu meratapi nasib putri semata wayangnya yang telah tiada mendahului mereka dengan usia yang masih tergolong muda.
"Kasihan sekali dia mati muda."
"Lebih kasihan suami dan anaknya yang masih bayi."
Sayup-sayup terdengar suara bisik orang yang ada di sana. Otomatis tangan Julia mengepal dengan kuat saat mendengar semua itu, apalagi Putra yang nampak pura-pura bersedih juga mertua Julia yang mengelap matanya padahal tidak basah.
"Apa kau berani menghadapi Putra sendiri?." Bisik Darren kepada Julia yang di jawab dengan anggukan. "Baiklah aku akan menunggu disini."
Julia melangkah ke depan tanpa di temani Darren lagi, dengan percaya diri ia mendekat ke peti mati dan mengambil fotonya yang terpajang disana, sontak saja hal tersebut membuat gaduh para pelayat.
"Apa yang dia lakukan ?."
"Entahlah siapa wanita itu beraninya mengambil foto orang meninggal."
Putra pun tak tinggal diam saja, diambil foto itu dari tangan seorang wanita yang tak di ketahui siapa tapi kalah cepat hingga ia tersulut emosi. " Siapa kau dan kenapa kau berani sekali, kembalikan foto istriku atau penjaga ku suruh untuk menyeret mu."
Foto itu di berikan tapi sebelum di ambil Putra tiba-tiba di jatuhkan hingga suara keras dan pecahan kacanya berjatuhan kemana-mana." Ups sorry."
"Cukup penjaga usir dan seret dia keluar."
Penjaga berdatangan namun saat mereka mendekat wanita itu memberi isyarat seolah tak perlu melakukannya. "Bukan aku yang seharusnya di usir tapi kau." Julia melepaskan topi dan kacamata hitamnya.
Kini jelas raut wajah amarah dari wanita itu juga kebingungan para pelayat yang terkejut mendapati orang yang di kira sudah meninggal taunya masih hidup dan datang ke acara pemakamannya sendiri.
"Julia kau.....?."
"Kenapa kau sangat terkejut aku masih hidup, apa kau tidak senang karena tentu saja kalau aku mati kau akan mudah mengambil semua harta yang kumiliki."
__ADS_1
Pelayat hanya memperhatikan sambil mencerna ini semua, terutama Angga yang tak habis pikir hingga peti mati yang semula tertutup rapat ia dorong penutupnya dan lebih terkejut saat mendapati tak ada siapapun di sana.
"Putra jadi kau memalsukan kematian istrimu sendiri ?."
"Bukan begitu aku..."
"Tidak perlu repot menjelaskannya sekarang, " Darren menghubungi seseorang hingga beberapa polisi masuk kesana dan mengamankan Putra agar tak kabur. "Jelaskan saja di kantor polisi nanti atas percobaan pembunuhan istrimu sendiri."
"Darren Julia kalian tidak akan kubiarkan, aku tidak bersalah seharusnya kalian yang berada di kantor polisi sial*n.
Sepanjang Putra di bawa polisi pergi tak hentinya berbicara hingga suasana semakin gaduh, orangtuanya Putra pergi dari sana karena beberapa omongan pelayat yang membicarakan Putra sementara orangtua Julia menangis bahagia.
"Julia syukurlah kau baik-baik saja, mama memang yakin sekali kalau kau belum.pergi meninggalkan mama di dunia ini."
"Julia papa senang kau masih ada di sisi kami."
Julia dan kedua orangtuanya berpelukan sambil menangis bahagia. Darren ingin memberitahu Julia tapi ia tak kuasa mengganggu kebahagian Julia dengan kedua orangtuanya, bersama pelayat yang lain Darren pulang.
Selama di penjara Putra tak hentinya merutuki Julia dan Darren yng kurang ajar smpai berani menjebloskannya ke kantor polisi, dan untuk itu ia akan membalas dendam atas semua kebebasannya yang diambil.
Tiba-tiba jeruji besi yang menahannya di buka oleh polisi, Putra tak menyangka ia akan bebas secepat ini maka spontan ia tersenyum." Siapa yang membebaskanku ?."
"Kedua orangtuamu, tapi mereka bukan membebaskan melainkan berkunjung."
Senyuman Putra sirna saat tebakannya meleset, kedua orang tua Putra nampak tak senang. Tentu saja memangnya orangtua mana yang senang anaknya di penjara. "Papa aku..."
Plak
Satu tamparan dengan keras mengenai pipi Putra hingga lelaki itu terjatuh, polisi memerintahkan keduanya untuk tenang dan menyadari bahwa di sini tidak boleh menggunakan kekerasan ketika berkunjung.
__ADS_1
"Sabar pa." Mamanya Putra berusaha untuk mengontrol emosi sang suami dan memegang tangannya, berjaga-jaga agar tak melayangkan tamparan di wajah anaknya.
"Siapa yang bisa sabar saat punya anak yang membuatku malu saja, apa kau tau seberapa banyaknya kau melempar kotoran ke mukaku ? Bahkan aku tak sanggup lagi bertemu dengan besanku."
"Pa semua ini kesalahan Julia."
"Diam kau anak tidak tau diri, aku tidak akan membantumu bebas kalau kau masih seperti ini, melakukan satu hal saja tak becus masih menyalahkan orang lain." Meja itu di gebrak hingga terdengar suara keras, orangtua Putra kini pulang dan Putra masuk kembali ke jeruji besi.
"Sial orangtuaku sendiri tidak bis aku andalkan."
Kontras dengan Putra yang ada di sel tahanan, Julia sedang bahagia bis berkumpul di rumah kedua orangtuanya menikmati berbagai hidangan yang di siapkan bahkan ia seperti anak kecil yang di manja kedua orangtuanya.
"Makan yang banyak sepertinya kau kurusan." Ujar papa.
"Julia kau ada di sini dan Putra ada di tahanan lalu siapa yang mengasuh bayimu ?."
Julia ingat ia punya bayi yang berstatus sebagai anaknya hingga makanan yang mulanya di mulut kini sulit tertelan." Ada babysitter kok ma jangan khawatir."
"Bayi harusnya nggak boleh jauh dari orangtuanya, dulu aja pas umurmu udah 10 tahun masih ikut mama kemana-mana."
Julia tak berani membongkarnya sekarang dan mengatakan itu bukan anaknya, baru juga mendapat kehangatan setelah kejadian tragis yang menimpa, Julia belum sanggup menerima kebencian yang sama seperti yang Putra terima.
"Iya ma besok aku akan pulang dan mengambil Vita tapi sementara bolehnya tinggal di sini, aku masih trauma tinggal di sana."
"Iya sayang kapanpun kau mau menginap sementara atau selamanya disini juga boleh."
Makan malam itu di tutup dengan tidur yang nyenyak meski hujan dan petir menyambar Julia tak terbangun sedikitpun.
Di tempat lain ketika tengah malam Thalia terbangun dari mimpi saat mendengar suara bel berbunyi, dengan mata yang setengah terpejam dan menggunakan jubah tidur untuk menutupi pundaknya, ia menuju pintu.
__ADS_1
Saat di buka betapa terkejutnya melihat seseorang dengan pakaian serba basah dan tatapan membunuh yang nyata ada di hadapannya sekarang." Pu.....Putra ??."