Noda Merah

Noda Merah
Program Hamil


__ADS_3

Tidak terasa usia pernikahan Julia dan Putra telah menginjak 2 tahun dan tidak ada tanda-tanda hamil padahal Julia ingin sekali bisa mengandung anak dari Putra. Tapi apa daya ia belum diberikan keturunan oleh yang maha pencipta.


Sebuah tespek kini berada di tangannya dan berharap telatnya datang bulan kali ini bisa membawa berkah kepada pernikahannya dan juga keluarga besar. Garis yang hanya ada satu tersebut menandakan kekecewaan Julia karena ia gagal lagi dan lagi.


"Kenapa aku belum hamil juga ?." Perkataan ini selalu menjadi tanda tanya bagi dirinya sendiri.


Julia keluar dari kamar mandi di mana Putra kini sedang memakai pakaiannya dan mengikat dasi. Siap untuk pergi ke kantor tetapi melihat Julia yang terlihat marah jadi mendekat dan langsung paham ketika melihat hasil tespek.


"Negatif lagi ?."


"Iya padahal aku ingin sekali punya anak, aku dengar kalau Alvin beberapa hari yang lalu istrinya melahirkan padahal mereka termasuk baru menikah tapi langsung dikaruniai anak, kita kapan ya sayang ?."


Sebagai seorang pejuang garis dua tentu saja Julia sangat iri dengan teman-temannya yang menikah baru tetapi sudah ada kabar kehamilan sedangkan Julia yang sudah menikah lama tapi belum dikaruniai anak.


"Sabar kita juga termasuk baru menikah, baru 2 tahun sayang jangan terlalu khawatir karena kita masih muda masih bisa mencoba."


Putra memeluk Julia yang masih dalam keadaan sedih, mengelus puncak kepalanya dan mencium dahinya. "Sudah jangan terlalu dipikirkan kalau kita pasti akan punya anak di waktu yang tepat, aku pergi kerja dulu."


*****


Saat ini Julia dan juga Putra mengunjungi rumah sakit tempat istrinya Alvin melahirkan, beberapa hadiah telah disiapkan agar mereka tidak datang dengan tangan kosong. Jujur saja ketika mendengar kabar ini bahu Julia merasa bergetar dan ingin sekali merasakan hal yang sama seperti keluarganya Alvin yang telah utuh dengan adanya anak dalam rumah tangga.

__ADS_1


Saat masuk ke dalam ternyata di sana hanya ada Alvin dan juga istrinya, bayi tersebut baru saja selesai diberikan ASI dan Julia sangat ingin menggendong lalu merasakan bagaimana rasanya punya anak.


"Kau cepat juga ternyata."


"Bagaimana rasanya didahului, kau pasti kesal kan." Alvin menggoda Putra dan mereka sama-sama tertawa sementara Julia dan juga Nadia berbincang-bincang perihal bayi cantik yang diberi nama Nadine tersebut.


"Dia sangat cantik dan juga mungil, lihatlah pipi ini begitu tembem dan juga matanya masih bersih dan berkilauan. Kau wanita yang sangat beruntung bisa melahirkan aku jadi iri kapan ya aku juga punya anak ?."


"Kau pasti akan punya suatu hari nanti, kau sudah terlihat keibuan sekarang pasti sebentar lagi juga akan hamil."


Julia baru bertemu dengan Nadia kali kedua ini karena yang pertama saat Alvin menikah. Ia tak menyangka bahwa istrinya Alvin sangat enak untuk diajak ngobrol, Julia bahkan antusias ketika mendengar cerita dari Nadia saat perjuangannya melahirkan dan merasa enggan untuk mengulangi kembali meski ada beberapa orang yang mengatakan bahwa melahirkan sesar tidak seberat melahirkan secara normal.


"Kira-kira kapan kalian pulang ?."


Julia hanya tersenyum sambil melihat bayi cantik tersebut yang terasa membuat hati begitu nyaman, ia seperti melihat malaikat kecil yang tertidur dengan pulas sambil mendengkur kecil. Perutnya dielus menantikan kehadiran sosok malaikat kecil pula untuk singgah di perutnya dan menjadi bintang di keluarganya.


Saat sudah selesai pikiran Julia semakin membuncah ingin segera menimang bayi apapun jalan yang harus di tempuh. Sebelumnya Putra sangat enggan untuk diajak memeriksa kesuburan sekaligus melakukan program punya bayi tetapi untuk sekarang Julia tidak mau lagi ada penolakan karena ini benar-benar ingin mempunyai anak segera.


"Sayang bagaimana kalau kita besok pergi ke dokter untuk program hamil agar kita segera punya anak."


Putra menghela nafas lagi dan lagi perihal anak dan ia mulai jengah, akhir-akhir ini Julia ingin mempunyai anak dengan sangat antusias. "Tidak usah terlalu terburu-buru lagi pula dengan keadaan kita nanti juga akan diberikan anak."

__ADS_1


"Tapi kapan bahkan keluargamu saja meminta cucu dari kita apalagi mama dan papaku yang hanya punya anak tunggal, hanya aku harapan mereka untuk punya cucu."


Putra kalah setelah berkali-kali ia dibujuk oleh Julia, bahkan istrinya tersebut mulai sebal kepada sikapnya yang seolah enggan untuk memiliki anak karena bagi putra sekarang ini belum tepat. Kalau ditanya apakah Putra ingin mempunyai anak tentu ingin, hanya saja waktunya tidak tepat karena Putra masih ingin bebas.


"Baiklah besok kita ke dokter kandungan dan aku akan tidak masuk kerja sekalian kita mengecek kondisi kesehatan kita."


Julia senyum dan senang bukan main akhirnya keinginannya dituruti oleh sang suami, waktu yang telah ia tunggu-tunggu akhirnya tiba dan apapun kata dokter nanti Julia akan mengikutinya demi sang bayi yang telah lama dinantikan.


*****


Ternyata dokter kandungan yang dicari tahu oleh Julia dan terkenal sebagai dokter kandungan yang bagus harus mengantri sangat lama, mereka mengantuk menunggu antrian yang tak kunjung dipanggil dan ketika masuk ke dalam ruangan dokter menjelaskan beberapa hal.


Mereka diminta untuk masuk ke sebuah ruangan pergantian untuk menjalani tes kesuburan tetapi dalam tes tersebut tidak bisa langsung keluar hasilnya dan harus menunggu beberapa hari untuk bisa diketahui apakah kondisi mereka dalam keadaan sehat atau tidak.


"Sayang besok kalau libur lagi ya kita akan akan ke rumah sakit untuk mendengar hasil tesnya."


"Iya."


Sebenarnya tidak hanya Julia yang merasa ingin punya anak, akhirnya keinginan Putra juga hari demi hari tumbuh ingin segera mempunyai keturunan yang akan membuatnya bangga. Mungkin mempunyai anak lelaki tidak ada salahnya dicoba dan ia tersenyum membayangkan hal tersebut.


Esok telah tiba dokter yang membawa 2 amplop berisi hasil tes yang telah diserahkan kepadanya dan akan dibacakan di hadapan Julia juga Putra.

__ADS_1


"Disini dikatakan pak Putra dalam kondisi sehat, jumlah sp*rma juga bagus." Dokter menambahkan beberapa hal yang harus di jaga kedepannya untuk mendapatkan anak lebih mudah.


Selanjutnya untuk hasil tes milik Julia dokter terlihat ragu untuk mengatakan, " maaf nyonya Julia, dengan berat hati kukatakan anda sulit untuk bisa hamil."


__ADS_2