Noda Merah

Noda Merah
Kemarahan Putra


__ADS_3

Acara telah usai begitu juga dengan orang tua dan sanak saudara yang telah pulang menyisakan rasa lelah. Julia keluar dari kamar mandi masih menggunakan handuk untuk mengeringkan bagian lehernya yang masih basah tapi ia telah mengenakan pakaian karena bantalan berada di perutnya.


"Sayang kau tidak mau mandi ?."


Putra tersenyum menarik tangan Julia dengan perlahan untuk duduk di tepi ranjang. Lelaki itu tersenyum lembut penuh arti dan biasanya ingin meminta jatah seorang suami.


Jantung Julia berdegup dengan kencang sambil memerhatikan sikap Putra yang sangat manis, ia kaku ketika Putra mencium pipinya dengan lembut.


"Kenapa kaku seperti itu ?." Sikap aneh Julia nyatanya di sadari, ia menaikkan satu alisnya karena sang istri nampak ketakutan. "Apa ada yang salah ?."


"Bu- bukan begitu hanya saja aku sedang hamil sayang kan nanti bahaya dengan kandunganku."


"Tapi yang ku tau kehamilan tua apalagi susah masuk trimester akhir tidak apa melakukannya."


Julia harus menjawab apa ? Ia tak tau alasan apalagi tapi jika mereka melakukan hal ini akan sangat gawat, mau bagaimanapun cara menyembunyikan kehamilan palsunya jika mereka melakukan hubungan suami istri yang ada bakal ketahuan juga.


"Sayang sabar ya, aku nggak mau anak kita nanti kenapa-napa, sebentar lagi kok aku bakal lahiran."


Putra merasa dirinya di tolak, ia keluar dari kamar dengan pintu yang ditutup cukup keras karena merasa terhina. Mobil dilajukan sendiri keluar dari gerbang dan Julia hanya bisa menyaksikan itu dari balik jendela kamar.

__ADS_1


Mereka bertengkar tanpa sengaja dan lagi-lagi karena kehamilan ini Julia harus merasa jauh dari orang yang dia sayang. Ini harga yang harus di bayar untuk mendapatkan gelar seorang ibu yang mungkin tak akan bisa ia peroleh tanpa bantuan Thalia.


Di saat yang sama setelah membelah jalanan kota yang kian ramai meski sudah tengah malam, Putra mencari tempat untuk menghibur diri dengan mendatangi sebuah club yang ramai. Memesan segelas minuman kesukaan ke bartender dan menikmatinya bersamaan dengan suara lagu yang sangat bising hingga memekakkan telinga tapi semua menganggap itu lagu yang bagus untuk melupakan stres sejenak.


"Kau kesini sendiri ?." Seorang wanita dengan hells berwarna merah dan balutan dress pendek tanpa lengan mendekat, duduk di sebelah Putra dan memesan minuman yang sama.


Bibir tebalnya tersapu lipstik merah nan menggoda, dia bisa menjadi tipe Putra. "Iya aku kesini sendiri," Ia melihat sekitar tampaknya tak ada yang memperhatikan wanita di sebelahnya, jadi otomatis wanita itu juga datang sendiri. "Nampaknya kau juga sama."


"Iya seperti yang kau lihat." Minuman itu di rasakan sedikit demi sedikit, beberapa kali menyugar rambut hingga bagian dahi terekspos dengan cantik. "Mau ku temani ?."


Putra tersenyum pada salah satu sudut bibirnya yang penuh arti. "Menemani aku minum atau yang lainnya ?." Ia memancing untuk tau seberapa jauh ikan mendekat ke umpan.


Wanita itu kemudian mendekat, berbisik tepat di telinga Putra." Keduanya boleh." Ia beranjak dari duduk dan tersenyum menjauh seolah minta untuk diikuti.


Tidak ada Julia, tidak ada kehamilan dan tidak ada masalah yang menggangu mereka menikmati malah tanpa tau nama dari keduanya. Semudah itu untuk tau lekuk tubuh tanpa busana hingga menjadi satu dalam hangatnya malam yang basah akan keringat.


Mereka berdua puas, Putra memberikan sebuah cek tanda ia menikmati layanan yang diberikan. Mereka mengenakan dan merapikan baju seperti sebelumnya seolah-olah tak terjadi apapun.


"Apa kita akan bertemu lagi ?." Tanya wanita itu seraya mengenakan hells dan mengambil tas.

__ADS_1


Putra berpikir ia jarang pulang ke negara ini, tentu mereka akan sulit bertemu lagi." Sepertinya tidak tapi jika kita bertemu lagi pasti akan menyenangkan." Ia mengulurkan tangan untuk bersalaman lalu keduanya keluar kembali seperti orang asing dan melangkah dengan tujuan yang berbeda.


Darren menyipitkan matanya ketika melihat laki-laki yang perawakannya mirip dengan Putra, tetapi cahaya yang minim membuatnya kesulitan untuk melihat. Ia mungkin salah melihat dan tak mau ambil pusing.


Ketika pulang jam menunjukkan sudah 3 dini hari yang berarti sebentar lagi sudah pagi, ia berjalan dengan sedikit kesulitan akibat minuman yang di tenggak dalam jumlah banyak. Sofa menjadi tempat tidur dadakan ketika Putra tak mampu untuk berjalan menaiki tangga sampai ke kamar.


Sampai pagi barulah Julia menyadari Putra tak pulang tadi malam tapi ia terkejut mendapati sang suami yang masih tertidur di sofa dengan bau minuman yang langsung tercium, ia tak bisa menyalahkan Putra yang mabuk, hal itu karena salah Julia juga.


Siangnya Putra kembali ke luar negeri dengan keadaan yang malas berbicara untuk memperlihatkan kepada Julia bahwa ia tersinggung telah di tolak meski hal itu membawa keberuntungan yang tak di sangka.


Sampai mobil itu pergi jauh Julia masih merasa bersalah tidak memberikan apa yang Putra mau, bahkan ketika pulang dengan bau minuman yang khas, ia tetap tak bisa marah.


*****


Hari demi hari bahkan berganti bulan hanya sedikit kabar yang Julia dapatkan dari sang suami, semenjak kejadian itu Putra bahkan tidak lagi pulang ke negara ini. Entah ini suatu keberuntungan dalam memudahkannya menutupi kehamilan palsu atau justru kesedihan yang harus di ratapi, ia tak tau.


Semua berjalan seperti hari biasa sampai Julia mendengar suara bunyi dari HP-nya yang tak kunjung berhenti padahal ia sedang mandi. Nama Thalia tertera di sana dan sepertinya ini penting sampai menelfon berkali-kali.


Julia ~ "Hallo, ada apa Thalia ?." Ia bahkan masih memakai handuk karena terburu-buru mengangkat telepon.

__ADS_1


Thalia ~ "Julia kau harus menolongku, sepertinya aku akan melahirkan."


Julia ~ "Apa ?."


__ADS_2