
Suara HP milik Julia berbunyi terus menerus dan cukup kencang hingga membuat ia merasa terganggu saat berada di kamar mandi. Hanya memakai handuk untuk menutupi tubuh dan juga kepalanya lalu cepat-cepat mengangkat telepon tersebut.
Julia sangat penasaran saat melihat tulisan nama mama di layar handphonenya tersebut. Mungkin saja ini penting mengingat dari tadi hp-nya tak berhenti berdering.
Julia ~ "ada apa ma ?."
Mama ~"Julia papamu terkena serangan jantung dan saat ini dirawat di rumah sakit, cepatlah kemari mama tunggu."
Keterkejutan Julia membuat hp-nya terjatuh dan ia tidak peduli, dengan cepat bila berpakaian dan merapikan rambut bahkan ia tidak peduli mau make up-an atau tidak karena yang terpenting saat ini adalah Papa.
Cukup kencang Julia mengendarai mobilnya sendiri dan saat ia tiba di depan ruangan ternyata Putra juga berada di sana, nampaknya Mama juga mengabari kondisi kesehatan papa yang saat ini sedang memburuk. Namun kehadiran Putra tidak membuat Julia lupa bahwa saat ini pada si papa adalah yang terpenting.
"Bagaimana kondisi papa sekarang ?." Dengan panik Julia bertanya bahkan tadi ia berlari untuk segera tiba di kamar papa.
"Papa sekarang sudah lebih baik tapi dokter tetap melarang kita untuk masuk sampai kondisi papa benar-benar stabil, Mama sangat ketakutan kalau tadi papa tidak bisa diselamatkan."
"Ssttt Mama jangan ngomong begitu papa pasti selamat dan kembali lagi ke rumah."
Julia dan mamanya saling menguatkan satu sama lain bahkan keberadaan Putra tak dianggap oleh Julia. Tetapi mengingat adanya Putra di sini seolah memaksanya untuk memikirkan bagaimana jahatnya lelaki itu kepadanya.
Di samping itu Julia tidak bisa memberitahu permasalahan rumah tangganya yang teramat rumit kepada kedua orang tuanya yang saat ini sedang kesulitan sendiri, nantinya malah bermasalah Julia akan menambah beban.
__ADS_1
Hari demi hari berlalu dan Julia bolak-balik antara rumah sakit dan juga rumah untuk menjenguk papanya yang kian sehat hingga akhirnya bisa kembali ke rumah. "Mulai sekarang papa harus benar-benar jaga kesehatan jangan sampai masuk ke rumah sakit lagi ya pa awas kalau papa makan sembarangan."
"Iya papa kapok, udah dong mamamu habis nyeramahin papa nggak berhenti-berhenti sekalinya berhenti malah gantian kamu."
Mama terkekeh karena benar apa yang diucapkan selama di rumah sakit seandainya sang istri mengingatkan suami agar mulai hidup sehat agar bisa mempunyai usia lebih panjang dan tubuh bugar.
"Ngomong-ngomong kenapa Vita tidak diajak, papa udah kangen loh lama Vita nggak kamu ajak ke sini ?."
"Iya sayang Mama juga kangen sama cucu kesayangan mama."
Mungkin itu adalah kata-kata yang biasa untuk para nenek atau kakek yang merindukan cucunya tetapi berat bagi Julia membawa Vita kepada keluarganya yang notabenya merupakan anak dari selingkuhan Putra dan juga tidak rela bayi kecil itu mendapatkan kasih sayang yang tidak selayaknya didapatkan.
"Iya kapan-kapan saja Vita aku aja ke sini, yang penting papa sehat dulu."
Masalah mengenai kesehatan papanya Julia yang kian membaik kini telah selesai, namun anehnya kedatangan papa dan mamanya Julia yang secara tiba-tiba ke rumahnya membuat Julia maupun Putra merasa terkejut.
"Papa Mama kok gak kasih kabar dulu kalau mau ke sini ?."
"Masa mau ketemu anak sendiri harus kasih kabar ataupun janjian, aneh kamu." Mereka dipersilahkan duduk dan menanyakan Vita tetapi bayi tersebut tertidur pulas jadi tidak ada yang tega untuk membangunkannya.
"Sebenarnya kami ke sini ada hal yang lain untuk dibicarakan, seperti yang kamu tahu kamu itu anak semata wayang papa Julia jadi tidak ada lagi anak papa yang lain yang bisa papa percaya untuk mengurus bisnis papa, sakit jantung papa yang tempo hari kumat membuat papa sadar kalau mungkin kapanpun papa bisa pergi."
__ADS_1
"Papa jangan ngomong gitu dong." Julia merasa tidak nyaman dengan percakapan ini apalagi bersama Putra yang ada di sampingnya, saat ia menoleh melihat laki-laki itu tatapannya terhadap percakapan ini nampak berbinar dan entah apa yang sedang dipikirkan.
Beberapa lembar kertas diberikan kepada Julia, "papa sudah urus semuanya, semua bisnis dan aset papa sudah papa alihkan atas namamu dan kau tinggal menandatanganinya lalu papa akan serahkan kepada pengacara papa untuk diurus secepatnya."
"Tapi aku tidak mau, bukannya menolak keinginan papa tetapi mari kita berharap saja kalau papa akan selalu sehat kedepannya." Sudah menaruh kembali kertas tersebut dan ia merasa tidak tega untuk menandatangani berkas itu.
"Sayang apapun tidak akan ada yang tahu bahkan jika gantian Mama yang sakit siapapun yang ada di sini juga tidak ada yang tahu. Setidaknya aku bisa menandatanganinya untuk membuat papa dan mamamu ini merasa lega, hanya beberapa kertas ini tidaklah membuat umur kami menjadi lebih pendek tapi ini hanya untuk berjaga-jaga saja sayangnya."
Julia luluh akan permintaan kedua orang tuanya dan ia menandatangani berkas tersebut sehingga kini semua aset milik kedua orang tuanya menjadi milik Julia seutuhnya. Sebenarnya Julia merasa bahwa kini dirinya yang tidak aman, namun semua itu hanyalah firasat dan ia akan menjaga diri sebaik mungkin.
Owe owe
Suara bayi yang cukup keras hingga terdengar dari bawah membuat kedua orang tuanya Julia senang dan semangat bisa menggendong cucunya kembali tanpa harus membangunkannya. "Bawa kemari cucuku, aku ingin menggendongnya."
Julia membawa Vita turun dan menyerahkan kepada papanya untuk digendong dan diperlakukan seperti cucu kandung.
"Lihatlah cucuku yang cantik ini, tapi kalau diperhatikan semakin lama mirip Putra semua ya wajahnya kayak gitunya, bibirnya bahkan matanya." Mama tersenyum karena tidak Ada kemiripan antara Julia dan cucunya padahal julialah yang mengandung dan melahirkan setidaknya itu yang ada di pikirannya.
"Tentu saja anakku harus mirip denganku." Dengan bangga Putra mengatakan itu sambil tersenyum seolah dengan sengaja membuat hati Julia terasa panas dan terbakar.
Dengan Julia mengepal erat karena ingin sekali meninju wajah Putra yang tersenyum seolah mengejek ketika memandangnya. Jika saja Julia tidak bermain cantik maka saat ini beberapa biasanya yang terpajang di sana sudah melayang ke arah Putra.
__ADS_1
"Iyaa bener jadi anak kedua nanti harus mirip Julia ya."
Pikiran Julia sudah ingin menghancurkan Putra sekarang juga karena tidak tahan dengan senyuman laki-laki tersebut yang nampak sangat bahagia. "Aku tidak akan membiarkanmu tersenyum lebih lama lagi Putra, untuk saat ini nikmatilah tetapi kalau aku sudah punya rencana untuk membuatmu menerima semua karma ini maka kau tidak akan tersenyum untuk selamanya."