
Sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah dan berhenti di depan sementara mobil itu melaju ke garasi mobil yang di kemudikan oleh supir. Bahagia terpancar jelas di wajah Putra saat menemui Julia yang turun dari tangga.
"Sayang." Pelukan juga ciuman mendarat di seluruh wajah tak lupa mengelus perut Julia yang belum membuncit. " Bagaimana kabar anak kita, baik-baik saja kan ?."
"Iya kami berdua baik-baik saja, lihatlah aku yang sekarang membesar karena hamil." Ia memperlihatkan wajah sebal padahal berat badannya yang bertambah adalah ide dari Thalia yang menyuruh Julia agar makan lebih banyak supaya terlihat seperti orang hamil.
"Kalau sudah lahir juga nanti turun lagi berat badanmu."
Mereka ke kamar dan di susul oleh supir yang membawakan barang majikannya tersebut dengan kesulitan karena harus menaiki beberapa anak tangga sekaligus membawa koper. Ini sudah resiko dan Putra bukan tipe lelaki yang akan peduli dengan hal tersebut.
Saat di kamar Putra tak bisa menahan hasratnya sebagai lelaki untuk tak menyentuh sang istri meski ia tau Julia sedang hamil. Tentu saja dengan pelan dan penuh kelembutan bahkan ia juga mengecek perut Julia yang masih rata meski berat badan sang istri naik.
"Kandunganmu sudah berapa bulan ?." Tanyanya sambil mengelus perut Julia.
"Kalau di tanya umur janinnya jangan jawab bulan tapi minggu." Nasihat yang Thalia berikan ke Julia teringat tapi ia tak tau harus memberikan jawaban apa, "11 minggu." Jawabnya asal sambil tersenyum canggung.
"Berarti hampir 3 bulan, kenapa perutmu masih kecil ya, bagaimana kalau besok kita cek ke dokter kandungan ?."
Bagai di sambar petir, Julia membeku di tempatnya saat ini hingga tidak bisa berfikir dengan baik. Tentu saja dokter akan tau kalau kehamilannya ini adalah palsu tapi bagaimana cara agar Putra tidak mengajaknya ke dokter.
"Sayang aku rasa tidak perlu maksudku aku sudah pernah cek ke dokter kandungan dan bilang semua baik-baik saja dan anak kita juga sehat."
"Tapi aku ingin melihat anak kita langsung, sekalian USG agar aku bisa melihat lebih jelas. Akan ku carikan dokter yang bagus apalagi ini anak pertama kita. "
__ADS_1
Raut wajah Putra yang terlihat serius membuat Julia todak bisa berkutik, ia hanya mengangguk saja seolah menurut dan menunggu waktu yng tepat. Ketika jam sudah menunjukkan waktu pukul 2 dini hari dan Putra tertidur Julia menelfon Thalia.
Di apartemen milik Thalia, wanita itu tertidur pulas hingga suara hp yang sedang di charge berbunyi, suara panggilan itu mengganggu tidurnya hingga terbangun meski dengan mata yang masih terpejam.
Thalia ~ "Ada apa meneleponku malam-malam, apa kau tidak tau aku butuh istirahat yang cukup karena sedang hamil."
Ia mengomel dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur, salah satu hal yabg di benci oleh Thalia adalah saat ia sedang mengantuk tapi masih ada yang menggangunya.
Julia ~" Thalia gawat besok Putra mengajakku ke dokter kandungan, aku harus bagaimana ?."
Mata Thalia yang mulanya terpejam kini terbuka lebar dan rasa kantuk itu mendadak hilang dengan sendirinya akibat berita yang Julia katakan. Ia memegang kepala yang terasa pusing memikirkan ini.
Thalia ~ "Ya jangan sampai kau ke dokter kandungan atau semuanya akan terbongkar, pokoknya jangan mau."
Thalia ~ "Bagaimana ini, baiklah akan ku beritahu kau ke rumah sakit yang mana lewat pesan, aku harap aku bisa menangani ini."
Telfon ditutup oleh Thalia bahkan saat Julia ingin bicara, Thalia tidak bisa kembali tidur karena permasalahan ini yang membuatnya merasa terganggu.
*****
Pada pagi hari Julia melihat layar hp nya berulang kali untuk memastikan Thalia mengirimkan kabar atau yang katanya akan memberikan alamat rumah sakit. Bahkan saat di meja makan ia tak selera meski hidangan yang di siapkan kebanyakan adalah makanan kesukaannya.
"Kenapa melihat hp terus ?." Tiba-tiba Putra datang dan mengagetkan Julia dengan suaranya, ia terkesiap saat sang suami nampak sudah rapi dan bersemangat.
__ADS_1
"Aku tadi sudah mengatur jadwal dengan dokter kandungan, jadi nanti kita bisa langsung ke sana tanpa harus antri lagi."
Badan Julia terasa lemas, ia merasa semua ini cepat atau lambat akan terbongkar juga. Thalia pun tak kunjung memberikan kabar, mungkin jika Julia membuka kebenarannya sekarang ia masih bisa di maafkan.
"Sayang sebenarnya ada yang ingin ku katakan kepadamu....." Tiba-tiba notifikasi hp berbunyi, alamat rumah sakit yang Thalia kirimkan untuk Julia tuju, ia tiba-tiba jadi berfikir.
"Mau bicara apa ? Katakan saja kenapa serius begitu ?."
"Aku-aku.....bisakah kita ke rumah sakit lain saja, aku dengar rumah sakit di jalan mawar lebih bagus dan akurat, teman-temanku katanya dulu kesana, boleh ya."
Sedikit ragu pasalnya nanti Putra dan Julia masih harus menunggu dan Putra tak suka itu, tapi mendengar sng istri memilih rumah sakit tersebut ia jadi tidak peduli yang penting bisa mendapat pelayanan yang bagus dan melihat hasil USG calon anaknya.
"Baiklah."
Setelah sarapan sampailah mereka di rumah sakit yang Julia katakan, ternyata rumah sakit itu tak sebesar rumah sakit yang sebelumnya Putra atur untuk Julia. Meski begitu cukup ramai orang dan mereka menunggu dengan ibu hamil yang lainnya. Tidak ada yang mencurigakan atau terlihat berbeda, Julia harap Thalia bisa di andalkan.
"Nyonya Julia." Suster memanggil dan kini giliran Julia untuk masuk tentu saja di temani oleh Putra yang tak ingin ketinggalan melihat apa saja pemeriksaan yang di lakukan.
Dokter lelaki yang usianya cukup jauh di atas Julia dan Putra itu nampak sudah ahli di bidangnya Julia ingin rasanya memejamkan mata karena tengang bahkan saat gel berwarna hijau itu di oles ke perutnya.
"Bagaimana dokter apa calon anak kami sehat ?." Tanya Putra dengan tidak sabar dan sangat antusias berbanding terbalik dengan sang istri yang pasrah akan nasibnya, jika ia beruntung maka Julia akan lolos saat ini, itu hanya jika saja bagaimana jika tidak ?.
Dokter menggeser alat sambil melihat layar. "Ini......"
__ADS_1