
Hari demi hari berlalu dan Julia masih susah untuk menyesuaikan diri dengan peran seorang ibu yang ia sandang sekarang. Ketika malam terbangun untuk memberikan susu atau mengganti popok karena tidak ingin menggunakan jasa babysitter.
Hal itu dikarenakan dirinya yang bahkan tidak bisa melahirkan sendiri tetapi ia ingin memiliki figur seorang ibu, semua rasa cinta dan kasih sayang tercurahkan untuk si bayi agar merasa diasuh oleh orang tua kandungnya sendiri.
"Sudah ya sayang jangan menangis ya." Tangisan keras membuatnya kewalahan belum lagi tidak ada yang membantu meski Putra telah pulang untuk menetap karena pekerjaannya di luar negeri telah usai.
Juga permintaan dari orang tuanya Putra agar membantu Julia membesarkan anak mereka dan tidak kehilangan figur seorang ayah jika Putra berada di dekat mereka. Tetapi terkadang Putra menganggap kalau untuk urusan anak semua adalah tanggung jawab seorang ibu dan peran ayah tidak terlalu penting untuk hal itu.
Beberapa kali Julia melihat Putra yang terlelap dengan sangat nyaman tetapi ia membutuhkan bantuan sehingga memberanikan diri untuk membangunkan suami. "Sayang bisa bangun sebentar, Vita biasanya mau tenang kalau kau yang menggendong."
"Aku harus bekerja besok dan kalau aku terbangun sekarang yang ada aku tidak bisa tidur lagi dan besok tidak bisa bekerja, itu kan tugasmu salah sendiri kau tidak mau punya baby sitter."
Julia hanya bisa pasrah dengan keadaan dan setiap hari ia hampir tidak bisa tertidur dengan tenang dan nyaman, dalam benaknya mungkin inilah salah satu pengorbanan seorang ibu selain melahirkan yaitu mengurus sang bayi dengan penuh kesabaran.
"Apa mungkin karena aku bukan ibu kandungnya ya, jadi dia tidak merasa nyaman saat ku gendong, aku juga tidak bisa memberikannya ASI karena aku tidak pernah melahirkan dan punya bayi."
Kepergian Thalia membuat Julia merasa kesulitan dan ketika orang-orang bertanya hal ini dan itu Julia hanya menjawab seperti yang dipesan oleh Thalia sebelumnya. Misalnya saja dalam memberikan ASI ini, Julia tidak bisa memberikan ASI karena asinya tidak keluar dan Thalia mengatakan hal itu umum dirasakan oleh ibu lainnya pasca melahirkan.
*****
__ADS_1
Ikatan antara ibu dan anak nyatanya tidak ada pada Julia dan anaknya Thalia sehingga kerap kali Julia menggendong bayi mungil yang ia beri nama Vita tersebut menangis. "Putra bisa tolong gendong sebentar."
Putra mendekat dan mengambil alih Vita dari gendongan Julia, seperti sihir tiba-tiba bayi itu berhenti menangis sekolah tahu bahwa yang menggendong adalah ayah kandungnya sendiri.
"Kenapa kalau kau yang menggendongnya dia bisa berhenti menangis ya, tapi kalau aku kenapa nangisnya malah tambah keras ?." Julia terheran-heran dibuatnya.
"Mungkin karena kau salah cara menggendongnya atau kau memang tidak becus mengurusi anak, saat bayi lain terlihat gemuk kenapa cucuku bisa kurus sendiri." Ibunya Putra tiba-tiba datang dan mengagetkan mereka berdua selalu mengambil alih Vita dan tidak menangis seolah memperlihatkan kalau caranya mengurus bayi lebih baik daripada Julia.
"Itu karena Julia tidak bisa memberikan ASI mah, tidak apa-apa jika bayi gemuk atau kurus yang penting masih sehat." Ujar Putra tetapi dia tidak sadar kalau perkataannya tersebut membuat sang ibu merasa tidak dibela.
"Kok bisa ASI nggak keluar, udah dipijat-pijat kan itu ? ."
"Udahlah mah itu urusan mereka lagi pula susu formula juga bagus-bagus sekarang." Papanya Putra membela Julia dan menengahi hal itu agar cepat selesai karena tujuan mereka untuk menjenguk sang cucu bukannya malah mencari pertengkaran.
Ketika sedang menikmati makanan tersebut Julia tidak menyadari bahwa box bayi yang digunakan oleh Vita untuk tidur sebelah sisinya tidak terkait dengan kencang hingga terlepas. Bayi yang mungil itu bergerak dalam tidurnya dan terguling jatuh ke bawah.
Suara tangisan yang memekik menyadarkan Julia bahwa bayinya terjadi sesuatu hingga garpu dan sendok tersebut diletakkan. Benar saja ketika naik ke atas kamar sang bayi sudah berada di bawah dengan darah yang bercucuran dan tangisan keras yang menguasai seluruh kamar.
"Bibi ke sini cepat," suara teriakan Julia memanggil pembantunya yang berada di belakang sementara Julia menggendong sang bayi yang masih menangis.
__ADS_1
"Ya ampun nyonya nona Vita kenapa ?." Bibi tak kalah paniknya melihat darah tersebut yang berada di lantai mengalir dari kepalanya Vita.
"Bibi jaga rumah aku akan ke rumah sakit dan kalau Putra menanyakan suruh dia langsung ke rumah sakit saja, aku tidak punya waktu sebelum Vita tambah parah."
Dengan panik Julia menyetir sendiri membelah jalanan yang teramat padat pada hari ini," sayang sabar ya sebentar lagi kita sampai." Sang bayi masih terus menangis dan akhirnya mereka telah sampai di rumah sakit. Perawat dengan sigap membantu dan menyuruh Julia untuk menunggu di depan ruangan selama dokter dan perawat menangani Vita.
"Julia bagaimana keadaan Vita ?." Putra langsung datang begitu ditelepon oleh bibi dan dengan kecepatan tinggi ia beberapa kali menerobos lampu merah untuk sampai ke sini.
"Aku tidak tahu dokter dan perawat masih di dalam dan mereka nggak bilang apapun, sayang aku takut Vita kenapa-napa."
"Kenapa bisa sampai jatuh, apa mengurus satu bayi saja tidak mampu ?!."
Pertanyaan itu begitu menyakiti hati nurani Julia, tapi yang terpenting adalah saat ini Vita bisa diselamatkan.
Seorang dokter keluar dari ruangan sambil menanyakan golongan darah mereka karena kita baru saja kehilangan banyak darah. Hanya golongan darah B yang mampu menyelamatkannya sementara golongan darah tersebut di rumah sakit kehabisan.
"Bagaimana ini Vita kan bukan anakku dan Putra, pastinya jika salah satu diantara kami tidak mempunyai golongan darah yang sama dengan Vita, aku pasti akan ketahuan berbohong." Julia menggigit bibir bawah karena takut bahkan jarinya ia remas sebagai pelampiasan rasa cemas.
"Golongan darahku juga B, ambil saja darahku."
__ADS_1
"Baik pak silakan ikuti saya."
Dokter tersebut dan Putra pergi meninggalkan Julia yang masih di sana terucap syukur sekaligus merasa bingung karena suatu kebetulan darah Vita dan darahnya Putra sama. Setidaknya ini akan menghilangkan kecurigaan kepada semua orang, tetapi apakah benar ini memang suatu kebetulan ?