
Di saat mobil terjatuh ke sungai spontan mata Julia tertutup saat benturan di kepalnya bersamaan dengan masuknya air ke dalam mobil yang mulai menipiskan oksigen di dalam. Julia langsung membuka mata saat ia kembali sadar akn keadaan di mana nyawanya sedang dalam bahaya jika terus berada disini.
"Aku harus keluar tapi bagaimana ini, sulit sekali." Pintu mobil sangat sulit di buka dengan cara apapun, oksigen semakin menghilang di dalam mobil yang kacanya ada celah bahkan tak bisa di buka juga.
Untung saja Julia cukup hebat dalm menahan nafas tapi itu tak akan bertahan lam jika ia tak kunjung keluar, dengan tekakan yang kuat Julia hampir tak bis bertahan tapi rasa bencinya yang semkin besar terhadap Putra mendorongnya untuk bisa melalui ini.
Akhirnya pintu terbuka dan Julia berenang ke atas mencari udara dan pertolongan. "Huh huh huh, " detak jantungnya berdegup sangat kencang dan ia mulai menggigil saat angin malam menerpa.
Tidak ada orang yang bisa di mintai tolong karena jalan ini jarang di lalui kendaraan, belum lagi dengan pencahayaan dari lampu yang tak terlalu banyak membuat semua terlihat remang-remang.
Dengan telanj*ng kaki ia menyusuri jalan aspal yang rusak sambil memeluk dirinya sendiri karena kedinginana. Bajunya basah dan ia kelaparan belum lagi kakinya semakin lama terluka akibat bebatuan lancip yang mengenai telapak.
Julia menunduk dengan perasaan campur aduk, sekarang ia tak berdaya mau pulang juga tak bisa. Orang tua Julia juga masih berada di luar kota untuk mengunjungi saudara yang habis operasi.
Tiin tiin
Suara klakson mobil berbunyi cukup keras mengakibatkan Julia syok dn pingsan, untung saja pengemudi berhasil mengerep tepat waktu sebelum menabrak, jadi sekarang Julia masih selamat lagi.
Pengemudi keluar dari mobil untuk memastikan orang yang ia hampir tabrak baik-baik saja, nmin perawakan wanita itu membuatnya tak asing hingga menyingkap rambut ia terkejut. "Julia kau bagaimana bisa ?."
Tanpa pikir panjang, Darren yang merupakn pengemudi tadi segera menggendong Julia masuk ke dalam mobil dan hendak membawanya ke rumah sakit. Keterkejutan Darren bukan karena orang yang di tabrak adalah Julia tapi lebih dari itu, ia bingung bagaimana Julia bisa berjalan sendirian di kegelapan malam bahkan tanpa alas kaki.
Dengan cepat mereka sampai di rumah sakit, cukup lama Darren menunggu saat Julia di rawat oleh Dokter karena lupa di kakinya harus di obati karena terluka belum lagi perawat yang menggantikan baju Julia akibat basah semua.
__ADS_1
Setelah itu barulah Julia di pindah ke ruang rawat dan boleh di temui, Darren melipat tangannya di dada dan mengernyit sambil menerka apa yang sebenarnya telah terjadi hingga Julia seperti ini.
Julia beberapa kali mengerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya ruangan, wajah Darren adalah yang pertama di lihat dan nampaknya lelaki itu tidak senang. "Darren ? Aku dimana ?."
"Kau dirumah sakit karena tadi pingsan dan kakimu terluka, aku menemukanmu di jalanan sendirian saat malam, apa yang sebenarnya terjadi ? Dan kenapa kau basah kuyup seperti itu ?."
Julia langsung di cecar oleh beragam pertanyaan hingga ia bingung harus mulai menjawab dari mana tapi situasi di rumah skit ini membuatnya tak nyaman hingga ingin segera pergi. " Bisakah kau keluarkan aku, aku tidak nyaman berada disini."
Darren mendesah, padahal pertanyaannya saja belum di jawab tapi ia mengabulkan permintaan Julia. Dokter mengizinkan Darren membawa Julia pulang tadi saat berada di dalam mobil menuju ke kediamannya, Julia langsung panik dan berontak.
"Aku tidak mau disana, Darren cepat rem !." Julia sngat panik dan kembali gemetar, ia memegang lengan Darren dengan kuat seolah jika di lepaskan maka Darren akan kembali melajukan mobilnya ke rumah dimana ada Putra disana.
"Ada apa ? Aku hanya mengntarmu ke rumahmu."
Darren memutar arah mobilnya menuju ke kediamannya sendiri, sambil menyetir sesekali melihat Julia yang nampak waspada. Sampailah mereka berdua dan Darren menagih jawaban atas pertanyannya tadi di rumah sakit.
"Ini sudah bukan di rumah sakit dan bukan juga di rumahmu, ceritakan semuanya tanpa terkecuali atau aku akan menelpon Putra untuk menjemputmu !!."
"Jangan, baiklah aku akan cerita ini semua karena orangtuaku memberikan semua harta dan hisnisnya kepadaku hingga Putra menyuruhku untuk menyerahkan semua harta itu atas namanya. Aku menolak dan dia berusaha membunuhku hingga aku di tabrak dan masuk ke sungai lalu aku berjalan sambil mencari pertolongan, lalu kau datang dan aku berada di rumah sakit."
"Dia benar-benar gila, lalu bagaimana rencanamu sekarang ?."
Julia tertunduk sambil menggeleng, dengan pemikiran licik Putra yang bahkan mampu untuk melenyapkan Julia tentu ia sangat takut bahkan tak tau bagaimana cara untuk menghadapi Putra.
__ADS_1
"Tanpa rencana dan bahkan keadaanmu seperti ini." Darren mengusap wajahnya kasar, ia merasa iba sekaligus prihatin dengan kondisi Julia. Darren mulanya tak suka Julia menikah semenjak wanita itu mulai berbohong soal kehamilan palsu dan sekarang nyawanya terancam oleh suaminya sendiri.
"Aku sangat menyesal pernah mencintainya Darren." Julia menangis, ia sangat mali pernah menolak cinta Darren dan berakhir menyedihkan, namun mau menyesal seperti apapun tak akan mengibah semua yang sudah terjadi.
"Bagaimana ini ? Apa aku harus bercerai sekarang tapi aku takut kalau bertemu dengan dia."
"Tenanglah dulu, jernihkan pikiranmu dan sekarang kau harus istirahat karena ini sudah malam besok baru pikirkan lagi."
Kruk kruk
Suara perut Julia yang keras membuat kecanggungan diantara keduanya. "Maaf aku lapar karena belum makan sejak di culik."
"Baiklah aku akan menyuruh bibi menyiapkan makanan."
Darren menemani Julia makan, begitu lahapnya wanita itu menikmati hidangan yng ada membuatnya berfikir setega apa Putra sampai menyakiti wanita yang bahkan sangat mencintainya dan menolak ajakan Darren untuk bersama.
"Kau tidak bisa menjaga milikmu dengan benar Putra, bahkan istrimu sendiri kau buat terluka." Tangan Darren mengepal kuat bersamaan dengan itu hpnya berdering, ia mengangkat untuk tau ada apa.
Darren ~"Halo Alvin malam-malam begini kenapa menelfonku ? Kalau bukan hal penting awas saja ya."
Alvin ~"Ini sangat penting, apa kau tau kalau Julia sudah meninggal ?."
Darren ~"Apa, Julia meninggal ?!."
__ADS_1