
Mobil Julia telah sampai di parkiran apartemen milik Thalia tetapi ia dengan ragu melangkah dan berkali-kali mengurungkan niatnya karena merasa mendapat firasat yang tidak baik akan datangnya ke tempat ini. Meski begitu langkah kakinya terus melaju seakan mendorongnya untuk segera menuntaskan permasalahan Vita yang ingin diberikan kembali ke Talia.
Julia menekan bel itu tiga kali sampai pintu terbuka sedikit dan menampilkan mata Thalia yang berkedip beberapa kali, Julia merasa aneh dengan tingkah wanita itu tetapi ia memantapkan diri untuk tidak akan terpengaruh apapun yang dikatakan nanti.
"Apa aku boleh masuk atau tidak ?." Tanya Julia dengan nada yang sedikit ditinggikan karena ia kesal pintu tersebut tak kunjung terbuka lebar.
Thalia membuka pintu itu setengah lalu mengizinkan Julia untuk masuk ke dalam, tiba-tiba pintu ditutup dengan keras hingga membuat Julia terkejut lalu berbalik.
"Surprise !!."
Mata Julia terbelalak melihat kehadiran Putra di sana berada di depan pintu satu-satunya akses untuk keluar dan masuk. "Putra bagaimana kau bisa keluar dari penjara ?!."
Pintu dikunci dan Putra yang dapat membuka pintu itu karena saat ini Julia terjebak untuk kedua kalinya ia dalam bahaya berada di tangan laki-laki yang menjadi suaminya ini.
Tangan Julia mengepal erat ingin sekali melayangkan tinju dan melawan saat Putra menghentikan dirinya dengan cara mengikatkan tali dibantu oleh Thalia. "Apa yang kalian lakukan, cepat lepaskan aku."
Kalau itu telah sempurna mengikat Julia hingga ia jatuh terduduk begitu pula dengan kakinya yang juga diikat. Mulut pun ditutup agar Julia berhenti berbicara hal yang tidak jelas, Raid wajah senang nampak di wajah laki-laki itu dan tentu saja itu kian membuat Julia marah terlihat jelas dari alis cantiknya yang menukik tajam.
"Siapapun tolong aku, Darren aku mohon tolonglah aku saat ini." Julia teringat akan bertemunya dengan Darren yang harusnya ia telah sampai di sana dan mengucapkan terima kasih bukannya di sini kembali menjadi tawanan dan terjebak oleh orang-orang yang tidak berniat baik kepadanya.
Julia sungguh menyesal nggak air matanya jatuh menetes sambil berharap akan adanya pertolongan meski itu mustahil mengingat tempat ini bukanlah tempat yang mudah dijumpai oleh kedua orang tua Julia maupun Darren.
Di sisi lain waktu telah menunjukkan pukul 05.30 sore hari dan hendak menjelang petang, artinya deren telah menunggu di sana selama setengah jam tetapi Julia pun tak kunjung datang. Berkali-kali ia menelpon tetapi tak diangkat bahkan Darren merasa ada yang tidak beres.
Darren menggulir layar hp-nya untuk mencari nomor kedua orang tuanya Julia yang seingatnya pernah disimpan. Jika memang benar Julia masih berada di rumah itu artinya tidak perlu khawatir tetapi jika Julia sudah pergi namun terlambat harusnya Julia mengabari.
Papanya Julia ~"halo ini nak Darren kan ?."
Darren ~"iya Om ini aku Darren temannya Julia, begini Om aku mau tanya kan tadi kami janjian bertemu tapi Julia belum sampai juga padahal ini sudah lewat setengah jam dan Julia nggak ngabarin apapun, apa Julia belum berangkat ya Om ?."
Papanya Julia ~" tapi Juli sudah pergi dari tadi mungkin ada kalau satu jam yang lalu, coba om telepon Julia dulu."
Darren ~"Baik om."
Panggilan telepon terputus dan Darren menunggu kabar dari orang tuanya Julia tetapi kembali ditelepon oleh bapaknya Julia yang menginfokan bahwa nomor Julia tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
Daren sudah tahu apa artinya ini, iya bergegas pergi dari sana dan mengerahkan seluruh orang-orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Julia yang pasti telah terjadi sesuatu kepada wanita itu.
"Aku tidak peduli bagaimanapun cara kalian menemukannya secepatnya aku harus mendengarkan agar bahwa kalian telah menemukan Julia."
Mobil deren melaju kencang membelah jalanan tanpa arah menyusuri setiap sudut jalan yang ada tanpa tahu ia harus ke mana untuk mulai mencari keberadaan Julia.
*****
Tanpa sadar Julia ketiduran karena terlalu lelah setelah berusaha membuka tali yang mengikat di tangan dan mencoba melepaskan rekapan di mulutnya. Tali yang terikat kuat itu semakin ia bergerak maka semakin terluka tangannya.
Dalam gelapnya ruangan tempat Julia di sekap ia merasa ada seseorang yang berada di dekatnya, Thalia tanpa di sadari sudah berada di belakang Julia berusaha untuk melepaskan ikatan kuat tersebut.
"Jangan berisiki, mumpung dia sedang berada di kamar mandi kau harus segera lari." Dengan sebilah pisau tajam berahasil memotong tali tersebut.
Thalia melihat sekitar untuk memastikan keadaan aman pasalnya sekarang di apartemennya ada anak buah Putra yang datang ikut mengawasi dan Thalia berhasil mengecohnya, sementara Julia malah memperhatikan Thalia yang membantunya entah kenapa.
"Apa ini salah satu rencanamu agar Putra semakin ingin membunuhku kalau aku ketahuan kabur ?."
"Jangan bicara hal konyol, para penjaga akan segera kesini jadi kau cepat pergi."
Dengan cepat Julia mematikan saklar lampu agar semuanya gelap dan tidak terlihat, upaya ini ia jadikan kesempatan agar segera melarikan diri dengan Julia. Dalam gelapnya tempat itu Putra menggunakan pemantik api untuk menerangi kegelapan sehingga dia terlihat seperti seorang iblis yang hendak menyakiti siapapun yang ada di depannya.
"Aku sudah tahu kau tidak bisa dipercaya Thalia."
Thalia menodongkan pisau yang ia bawa untuk berjaga-jaga kalau Putra dan penjaganya berani macam-macam. "Penculikan dan pembunuhan adalah hal gila yang kau lakukan, kau pikir aku mau bersekongkol denganmu untuk hal yang keji ini ?."
"Jangan sok suci kau sendiri memalsukan identitas kehamilan Julia yang ternyata palsu, seharusnya kau sadar kau itu bukan perempuan baik-baik jadi tidak pantas mengatakan hal tersebut."
"Apa yang kalian lakukan cepat tangkap mereka."
Dalam gelapnya malam keduanya berpencar untuk melarikan diri, sayangnya tak semudah itu jadi mereka memanfaatkan sekitar untuk bersembunyi agar tak tertangkap karena akses keluar masuk hanya ada satu dan di kuasai Putra.
Meski Julia merasa kecewa dengan Thalia namun ia tak menyangka kalau wanita itu sudi untuk membantunya melawan Putra, Julia kini merasa bingung apakah harus memafkan Thalia atau tetap memendam benci.
Salah satu anak buah Putra mendekat dan menemukan lilin, ini posisi yang gawat bagi Julia jika sampai bersuara. Ia menutup mulutnya untuk mencegah suara yang keluar namun laki-laki itu kian mendekat hingga mau tak mau Julia mendekat dan melawan dengan cara mendorongnya saat ada kesempatan.
__ADS_1
Lilin yang di bawa jatuh menghantam gorden dan membakar semuanya hingga merembet kemana-mana.
Kobaran api yang semakin besar membuat Julia bingung harus bagaimana, bahkan kornea matanya tertegun ketika melihat api besar yang belum pernah ia temui seumur hidup.
"Gawat....!!."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara Novel Noda Merah Libur Lebaran dulu ya, Author juga mau liburan. ππ
Semangat puasanya tinggal sehari lagi.π
__ADS_1
...Taqabalallahu minnaa wa minkum, selamat Idul Fitri 1444 H.Β Mohon maaf lahir dan batin.π...