
Betapa kagetnya Thalia saat mendapati orang yang berada di depannya tersebut adalah Putra yang hari ini ia dengar kabarnya masuk penjara akibat berusaha melenyapkan Thalia. Spontan saja pintu apartemen langsung ditutup tetapi dicegah oleh Putra dengan sekuat tenaga hingga Thalia tersungkur.
"Apa maumu datang ke sini ?." Thalia langsung pada intinya saja ia tidak mengharapkan kedatangan Putra dan tidak ingin pula menyambut lelaki yang telah menjadi buronan tersebut, setidaknya itu yang Thalia tanggap ketika melihat penampilan Putra yang berantakan tak seperti biasanya, pasti laki-laki itu keluar dari penjara tidak secara baik-baik.
"Terserah aku mau melakukan apapun di sini dan kau tidak perlu tahu."
"Ini tempat tinggalku dan aku tidak mau kau menyusahkan hidupku dengan membawa masalahmu kemari, pergi kau." Tunjuknya kepada pintu keluar tetapi tangan Thalia dipegang dengan erat hingga membentur dinding dengan kuat.
"Sepertinya aku harus mengingatkanmu kembali, apartemen ini yang kau tinggali dengan nyaman adalah milikku dan asal kau ingat saja aku yang membelikannya dan aku bisa mengambilnya kembali kapanpun aku mau dengan atau tanpa bantuan hukum."
Putra melepas tangan Thalia dengan keras, ia menelusuri setiap tempat dan mencari keberadaan kulkas yang terletak di dapur. Langkah cepatnya langsung menemukan kulkas tersebut dan mencari apa saja yang berada dalam kulkas langsung ia santap. Makanan penjara adalah makanan yang paling tidak enak untuk disantap nya.
"Laki-laki ini benar-benar mengerikan aku seperti melihat monster yang kelaparan, dia dulu sangat tampan sekarang aku benar-benar jijik melihat kelakuannya." Penampilan Putra sekarang benar-benar terlihat rendah di mata Thalia.
"Carikan aku baju aku mau mandi dan awas saja kalau kau menelpon polisi aku akan menyeretmu bersamaku, aku bukan orang yang tidak tegaan dengan siapapun termasuk dirimu, bahkan jika aku masuk neraka aku harus membawamu juga ke sana"
Thalia mengepalkan tangan dengan erat dan ingin sekali menghabisi Putra sekarang jika saja ia tidak lebih lemah, namun Thalia harus berfikir dengan baik bagaimana caranya mengusir lelaki ini dan menjual apartemen segera tanpa di ketahui lalu kembali ke luar negri.
*****
Keesokan harinya Julia bangun dengan tubuh yang lebih segar dan ia sejenak melihat pemandangan dari balik jendela kamar tidurnya yang dulu ditinggali. Tanaman yang ia tanam sendiri di pinggir jendela tersebut sudah mekar dan beberapa kupu-kupu hinggap di atasnya.
"Hari ini cerah sekali pasti ini hari baik untukku." Namun dalam lamunannya menikmati keindahan alam tiba-tiba Julia terpikir Darren yang telah membantunya dan ia belum sempat pamitan ataupun mengucapkan terima kasih karena telah membantunya kemarin.
Di saat paling rapuh dan menyedihkan laki-laki itu selalu ada, Julia merasa ia beban bagi Darren dan akan mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Julia turun ke bawah dan mendapati kedua orang tuanya telah siap di meja makan di mana banyak sekali makanan yang sudah dihidangkan dan siap disantap. "Morning ma morning pa."
Kecupan di pipi kedua orang tuanya dibubuhkan Julia, sama seperti saat ia masih sekolah dahulu dan kedua orang tuanya menyambut dengan senyuman. Julia merasa ia benar-benar dimanja oleh mereka dan ia bersyukur untuk itu.
"Gimana nyenyak nggak tidurnya ?."
"Nyenyak banget apalagi aku kangen sama kasurku kan udah lama aku nggak tidur di situ." Julia menerima piring yang telah ditaruh nasi di atasnya oleh sang mama, banyak sekali lauk hingga ia bingung untuk memilih karena menu tersebut semua adalah favorit.
Setelah makan dan sedikit berbincang dengan kedua orang tuanya Julia memutuskan untuk mandi lalu menghubungi Darren untuk mengajak lelaki itu bertemu karena ia merasa tidak sopan bilang terima kasih di telepon untuk apa saja yang telah Darren perbuat untuknya.
Nomor itu cukup lama tersambung hingga ketika sudah diangkat Julia sangat gembira hingga ia hampir lupa untuk apa dirinya menelepon.
Darren ~"Hallo ini siapa ?." Sedari tadi Darren sudah mengangkat telepon namun yang menelponnya tak kunjung bersuara, hampir saja ia menutup telepon itu.
Darren ~"pagi ini aku tidak bisa karena harus bekerja tetapi jika kau mau menunggu sepulang kerja kita bisa bertemu di cafe yang dulu tempat kita selalu bertemu bersama teman yang lain."
Julia mengingat-ingat kembali cafe mana yang dimaksud jika memang yang dimaksud Darren adalah cafe yang letaknya tidak jauh dari kampus maka Julia tidak masalah, tapi cafe kedua yang sering mereka kunjungi letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya Thalia dan Julia enggan untuk ke sana.
Julia ~"yang mana yang kau maksud bukannya ada dua cafe yang kita dan teman-teman lain sering kunjungi ?."
Darren ~"cafe yang banyak tanaman bunga sepatunya."
Julia bernafas lega karena cafe itu letaknya tidak jauh dari kampus tempat ia dulu belajar tetapi menunggu sampai Darren selesai bekerja lumayan lama, tetapi penantian ini tidak sebanding dengan apa saja yang telah Darren bantu untuknya.
Julia ~"baiklah jam berapa kau selesai bekerja ?."
__ADS_1
Darren ~"sekitar jam 05.00 sore itu jika kau tidak keberatan."
Julia ~"baiklah sampai bertemu nanti."
Yang dilakukan Julia dari pagi menjelang siang adalah berkebun karena ia telah lama tidak melakukan hal tersebut juga sebagai pelampiasan dari rasa stres yang ia alami akibat perlakuan Putra yang buruk kepadanya.
Sementara untuk siang harinya ia hanya tertidur dengan sangat lama seolah badannya remuk redam, kasur yang berada di rumah orang tuanya bagi Julia adalah kasur ternyaman yang pernah ia tiduri sepanjang hidupnya.
Hingga sore telah tiba dan Julia bersiap memakai baju yang terlihat menarik tapi tetap sopan, Julia tidak sadar mengapa ia sampai menyiapkan diri sebegitunya padahal hanya untuk bertemu dengan Darren.
Papa berusaha menyuruh Julia menggunakan sopir untuk mengantar tetapi Julia bersikukuh ingin menyetir sendiri. Jalanan yang dilewatinya dilihat dengan baik-baik sambil menikmati pemandangan yang ada tanpa terburu-buru karena jam masih lama untuk bertemu dengan Darren.
Tiba-tiba Julia mendapatkan telepon deri Thalia dan ia enggan untuk mengangkat hingga berkali-kali dimatikan tetapi nampaknya Thalia sangat keras kepala hingga menelpon Julia lagi dan lagi. Dengan terpaksa Julia mengangkat telepon Thalia karena ia ingin tahu hal apa yang ingin disampaikan.
Julia ~"Thalia jika hal ini tidak penting maka jangan menelponku terus, cepat katakan ada apa ?."
Thalia ~"Julia begini aku ingin berbicara denganmu mengenai Vita, aku tahu dulu aku pernah mengatakan semua akan beres ketika Vita lahir tetapi aku mendengar kalau Putra sangat jahat kepadamu maka dari itu aku memutuskan untuk bertemu denganmu karena ingin membicarakan hal ini, bisakah kita bertemu ?."
Julia sejenak terdiam karena memikirkan pernikahannya yang sudah tidak ada harapan lagi dan untuk anak yang ia adopsi tentu saja Julia merasa sakit hati ketika selalu melihatnya. Anak yang ia janjikan untuk selalu disayang meskipun bukan darah dagingnya ternyata adalah anak hasil perselingkuhan suaminya sendiri dengan Thalia.
Julia merasa enggan untuk merawat Vita kedepannya dan sepertinya pertemuan Julia adalah hal yang tepat untuk sekarang. Lagi pula waktu masih setengah jam lagi untuk bertemu dengan Darren jadi Julia rasa ia masih bisa.
Julia ~"baiklah aku akan menemuimu."
Ujarnya dengan wajah datar dan mematikan telepon sambil memutar kemudi menuju ke tempatnya Thalia.
__ADS_1