Noda Merah

Noda Merah
7 Bulanan


__ADS_3

Hari demi hari berlalu hingga kini telah lewat 4 bulan semenjak kepergian Putra keluar negeri dan setiap bulan Julia mengirim foto hasil USG yang di berikan oleh Thalia. Semua berjalan lancar tetapi ada satu hal yang menganggu pikiran Julia yaitu sebentar lagi mama mertuanya akan mengadakan acara 7 bulan kehamilannya.


Bahkan Putra juga akan pulang sebelum acara itu berlangsung, Julia takut kehamilan palsunya akan di ketahui oleh orang-orang terdekatnya. Julia bahkan sulit tidur memikirkan hal ini meski Thalia menenangkannya.


"Aku harus apa ? Bagaimana jika mereka tau aku menggunakan bantal ?." Saat ini Julia berada di apartemen milik Thalia untuk berdiskusi sekaligus mengirimkan barang-barang yang Thalia butuhkan selama kehamilan.


"Tenang saja, kalau panik begitu yang ada bakal ketahuan." Thalia mengambil buah-buahan yang Julia belikan dan memberikannya kepada Julia. "Kupaskan untukku, aku susah bergerak." Katanya.


Julia menurut dan mengambil pisau juga piring lalu mengupaskan buah tersebut dan memberikannya." Bagaimana kandunganmu ?."


"Baik-baik saja tapi sulit tidur karena berat sekali rasanya, kehamilan ini membuatku kesulitan."


"Baguslah, bagaimana dengan kontrol Dokter ? Apa aku perlu mengantarmu ?." Julia memberikan potongan apel yang lain saat yang tadi telah habis dan Thalia langsung memakannya dengan lahap.


Thalia menggelengkan kepalanya." Tidak perlu, hasil USG yang kuberikan setiap bulan untuk kau kirim ke suamimu itu hasil USG kandunganku." Jika Julia ikut memeriksakan kandungan yang ada dia tau kalau Thalia kerap kali digoda dokter Carlos.


*****


Hari yang ingin di hindari telah tiba semua orang berkumpul di acara 7 bulanan Julia kecuali Putra yang bilang akan terlambat karena penerbangannya ada masalah dan harus ganti dengan penerbangan di jam berbeda.


Jangan harap Thalia ikut berada di sana, ia bahkan tak akan sudi karena yabg ada semua orang terkejut mendapati dirinya hamil tanpa suami.


Julia menyalami tamu dan berbincang karena dialah tuan rumah hari ini sekaligus peran utama dama acara. Baik orangtuanya maupun mertua mengundang sanak saudara untuk memberitahu kalau kehamilan Julia telah dinantikan.


"Makasih ya udah datang, siapa ai cantik ini ?."

__ADS_1


"Adin tante." Jawab gadis kecil itu yang masih belum fasih mengeja namanya, ia bahkan dengan erat memegang tangan kedua orangtuanya.


"Cantik banget Vin anakmu untung yah mirip mamanya, kalau mirip kamu bisa gawat."


"Gawat apaan gue ganteng gini pastilah anak gue cantik, BTW suami elo dimana ?." Sedari tadi Alvin melihat banyak tamu tapi tak menemukan keberadaan pemilik rumah yang seharusnya ada di acaranya sendiri.


"Penerbangannya ada trouble jadi terlambat tapi nanti pasti datang kok, biasa orang sibuk."


Saat Julia sibuk berbicara dengan Alvin dan istrinya pandangan Julia tersita oleh seorang tamu yang hadir dengan undangan yang telah di kirim. Di adalah Darren, lelaki yng telah menjadi sahabatnya sejak dulu tapi malah menyatakan cinta tepat di hari pernikahannya dengan Putra.


Darren pun begitu melihat Julia seakan rasa rindu itu terobati, tidak ada alasan untuk ia bertemu setelah pujaan hatinya menikah dan undangan yang di terima seakan menjadi alasan untuknya bisa bertemu tapi dalam kondisi yang tidak baik. Julia hamil dan perut besarnya seolah menampar Darren untuk tetap sadar bawa wanita itu telah mempunyai suami dan anak sebentar lagi.


"Bagaimana kabarmu ?." Sapanya dengan canggung.


"Ah aku baik." Julia pun juga canggung hingga Alvin merasa aneh dengan keduanya lalu mencairkan suasana, kedatangan Putra di sambut oleh tamu yang hadis juga Julia dan sahabat mereka yang lain.


"Maaf aku terlambat, apa acaranya telah di mulai ?."


"Kami tidak akan memulai acaranya kalau kau tidak ada."


Julia berbincang dan sejenak ia lupa bahwa dirinya hamil, hingga ketika dirinya terpentok meja malah orang lain yng khawatir.


"Julia hati-hati ini meja bahaya banget loh." Suara Monic yang cukup keras membuat semua orang di sekitar menoleh lalu bertanya kondisi kandungan Julia, tentu saja wanita tak merasakan sakit karena bantal yang tebal bahkan melindunginya.


"Sakit dikit tapi nggak apa-apa." Ia berusaha membuat semuanya tenang kembali dan tersenyum.

__ADS_1


Mama mertua Julia yang mendengar langsung mendekat, mengelus perut Julia dan mengambil hp. " Kita langsung ke dokter ya, sebentar mama telepon ambulance."


"Ma nggak usah aku baik-baik aja, yang kepentok meja tadi tanganku aja bukan perutku." Jika mama mertua sampai berhasil membawa Julia maka itu akan gawat, ini harus di hentikan. "Paling Monic salah lihat."


"Tapi mama khawatir, nggak apa-apa ke rumah sakit bentar atau dokter kesini ya."


"Ma beneran aku nggak bohong tadi cuma tanganku aja yng kepentok, bukan perutku jadi kandunganku baik-baik saja tuh lihat kan."


Mama mertua mulanya masih kekeh untuk menelfon ambulance atau dokter tapi Julia bersikeras tidak mau, tapi memang dilihatnya kondisi sang menantu nampak baik-baik saja.


"Yaudah kalau memang nggak kenapa-napa sama kandungan kamu."


Meski tadi sedikit ada ketegangan tapi acara 7 bulanan berjalan dengan baik dan hampir usai, tiba-tiba Julia merasa bagian bawahnya terasa basah jadi ia pamit mau ke kamar mandi kepada Putra.


"Sayang aku ke kamar mandi dulu ya."


"Kenapa ? Apa karena meja tadi ?." Putra memeriksa perut Julia tapi tangannya di pegang untuk meyakinkan.


"Bukan, aku hanya kebelet ingin buang air kecil, biasa ibu hamil kan memang begitu." Seingatnya Thalia kerap bung air kecil jika mereka bertemu.


"Baiklah hati-hati aku masih harus menyapa yang lain."


"Iya."


Julia masuk kedalam kamar mandi di lantai satu bukan kamar mandi di dalam kamarnya karena ia punya firasat yang buruk dan benar saja ketika ia memeriksa ternyata darah telah membasahi hampir setengah dari pakaian dalam yang di pakai.

__ADS_1


"Bagaimana ini kenapa aku malah datang bulan."


__ADS_2