
Jatuh cinta di waktu yang salah itu sangat menyakitkan! Apa lagi di posisikan sebagai orang ketiga yang cenderung menyakiti banyak pihak yang salah satunya diri sendiri. Tidak ada yang menginginkan cinta yang seperti ini baik wanita maupun pria. Hidup memang sebuah pilihan, tetapi terkadang kita lebih memilih untuk berjalan di tepi jurang di bandingkan berjalan di tempat aman. Tidak peduli seberapa besar resiko yang kita akan alami, nyatanya karena kata 'cinta' membutakan orang yang waras.
Di sini di mana tempat orang bodoh yang memilih untuk berjalan di tepi jurang itu berada, ada aku yang memilih untuk jatuh cinta terhadap suami orang. Ku akui itu salah! Dan tidak ada yang membenarkan kelakuanku! Tetapi, terkadang aku tidak pernah bisa menjelaskan pada mereka alasan aku memilih jalan yang penuh resiko ini.
"Hei! Kenapa melamun saja?" Yuri, salah satu temanku menyadarkanku dari lamunan.
"Mungkin sedang memikirkan esok hari akan makan apa! hahaha." Sahut temanku lagi Yeon Jung.
Mendengar lelucon yang di lontarkan teman-teman ku ini, aku hanya bisa tersenyum sembari sesekali menyesap bir kaleng yang kami beli dari toserba.
Aku dan teman-teman ku kini tengah menikmati hidangan samgyeopsal yang di panggang di atas arang. Total ada empat orang di sana termasuk aku dan ketiga temanku.
Han Yuri, Im Yeon Jung, Jang Ae Ra adalah ketiga temanku sekaligus sahabatku. Kami sudah berteman selama 22 tahun, cukup lama bukan? Aku bisa mengenal mereka semua karena mereka adalah teman sekolahku dari semenjak taman kanak-kanak sampai kini kami sudah dewasa.
Kami semua seumuran kecuali Jang Ae Ra atau Aera, ia lebih tua dua tahun dari kami bertiga. Ia sosok yang dewasa yang mampu mendorong kita menjadi sosok wanita yang kuat dan tangguh untuk menghadapi dunia yang keras.
"Kau tidak apa-apa Yun Hee-ya?" Tanya Aera eonnie padaku.
Aku menoleh ke arahnya lalu tersenyum. "Aku tidak apa-apa eonnie.."
Bae Yun Hee, namaku. Aku seorang yatim piatu yang tinggal di daerah besar seperti seoul. Aku tinggal sendiri tentu saja, ibu dan ayahku meninggal 3 tahun yang lalu karena kecelakaan. Sebenarnya polisi menyelidiki kasus kedua orang tua ku karena ibu dan ayahku yang kala itu tengah menyebrang di tabrak oleh pengemudi mobil yang melaju kencang.
Aku tidak mempermasalahkan itu, kenapa? Karena aku rasa hidupku sudah rumit sekarang, lagi pula apa yang aku dapat setelah pelakunya tertangkap? Apakah ibuku dan ayahku akan hidup kembali? Tidak bukan! Maka dari itu aku memutuskan untuk move on dan membiasakan hidup serba sendiri mulai saat itu.
Umurku 26 tahun, aku tidak mempunyai pekerjaan selain penulis novel dan pelukis manga. Tidak ada yang spesial dari pekerjaan ku tetapi karena hobi ku di sana aku menjadi merasa gembira di setiap pekerjaan menulis dan menggambar.
Drrrrrrrt
Drrrrrrrt
Drrrrrrrt
Tiba tiba ponsel ku bergetar, ternyata ada telpon masuk.
"Kau sedang di mana? Aku di apartemen kau tidak ada." Tanpa basa basi orang di sebrang sana bertanya pada intinya.
"Aku sedang di luar."
__ADS_1
"Di mana? Aku akan jemputmu ya?"
"Tidak usah."
"Tidak usah bagaimana! Pokoknya aku akan menjemputmu! Sherlok sekarang." Terdengar bentakan di sana.
"Baik. Akan ku kirim alamatnya." Aku kalah! Aku memang tidak bisa menolak perintahnya.
Tuut!
Sambungan terputus. Aku segera mengirimkan alamat padanya, karena aku tahu sekali bagaimana tidak sabarannya lelaki itu.
Aku menghela nafas pelan, membuat semua teman ku menoleh pada ku.
"Siapa yang menelpon mu tadi?" Tanya Yeon Jung.
"Pacar mu ya? Dia menyuruh mu pulang?" Tanya Yuri kemudia.
Aku hanya mengangguk sembari menggigit bibir bawahku. Seperti itu lah saat aku merasa gugup atau tidak enak hati. Aku akan menggigit bibir bawah ku yang tidak bersalah sampai nyaris berdarah, padahal aku tidak merasakan sakit apa aku tidak sadar?
Aera eonnie menepuk pundak ku pelan. "Ikut pulang saja Yun Hee-ya, kami tidak apa-apa." Seolah mengerti dengan situasinya, Aera memberiku sedikit ketenangan.
Dan tak lama kemudianpun suara klakson mobil membuat semuanya menoleh ke sana, aku segera bangun dan sedikit memberi senyuman canggung kepada teman temanku mengisyaratkan aku pamit pada mereka.
Aku pun menghampiri mobil itu dan langsung masuk kedalamnya tanpa basa basi lagi. Mendapati lelaki yang mengenakan sweater berwarna coklat itu tengah sibuk memperhatikan ponselnya.
Setelah ia menyadari bahwa aku sudah berada di dalam mobil, ia lagsung menyimpan ponselnya dan melajukan mobil itu. Kalian tahu? Tanpa ekspresi dan tidak mengelurkan sepatah kata pun di sana.
Aku juga melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan, apa lagi yang harus aku lakukan selain diam? Aku tahu dan sangat mengerti sekali situasi di mana jika lelaki yang sedang berada di sampingku ini tidak akan berbicara walaupun aku memulai percakapan.
Jung Jaehyun, ia kekasihku. Oh! Pantaskah aku katakan ia sebagai kekasihku, sedangkan ia memiliki istri dan juga seorang anak di rumah? Aku tahu aku sangat sangat salah di sini, menjadi wanita simpanan seorang pengusaha kaya raya dan tampan seperti dia.
Tetapi dia selalu meyakinkanku bahwa dia mencintaiku dan seolah menyuruhku tetap di sampingnya padahal aku sangat sangat ingin keluar dari zona nyaman ini. Aku takut terlalu lama bersamanya membuatku hilang akal dan terus semakin dalam menyayanginya.
Pernah sekali, aku berkata akan mengakhiri semuanya. Tetapi apa yang ia jawab? Bahwa ia membutuhkan ku, membutuhkan aku di sampingnya! Sebagai apa? Pelariannya saat ia sedang bosan pada istrinya? Aku tidak yakin, tetapi semakin aku berusaha menjauh Jaehyun justru semakin tidak bisa lepas dari ku.
Akhirnya kami pun sampai di temlat tinggalku. Aku keluar lebih dulu dari mobil, meninggalkan dia yang masih sibuk dengan kegiatannya. Aku tidak tahu ia akan mampir atau tidak, aku sedang tidak perduli terhadapnya.
__ADS_1
Aku membuka pintu tempat tinggal ku, membuka sepatuku dan berjalan menuju kulkas untuk minum dan duduk di meja makan, entah mengapa rasanya tengorokanku sangat kering.
Aku mendengar suara pintu terbuka, aku menyimpulkan bahwa Jaehyun masuk. Dan benar saja sosok lelaki idaman semua wanita itu menoleh ke arahku sebentar lalu duduk di sofa tanpa mengatakan apa-apa.
Ya tuhan apa maunya sebenarnya!
Aku menghela nafas, sungguh aku pun tidak tahu sudah berapa kali aku menghela nafas hari ini. "Jaehyun-ssi untuk apa kau membawa ku pulang?" Tanpa ada penaikan volume suara aku bertanya padanya.
Dia diam, sungguh aku geram!
Aku bangun, dan berjalan menghampiri ia yang masih duduk di sofa sembari menonton acara di tv. Aku tahu betul, bahwa ia sebenarnya tidak benar benar sedang fokus pada acara tv itu.
"Jaehyun-ssi?" Panggil ku lagi, tetapi tetap tidak ada jawaban.
Aku memejamkan mata karena kesal. Lalu aku membuka mataku dan merebut remote yang ia pegang mematikan tv dan duduk di sampingnya.
"Jung Jaehyun! Kau akan seperti ini terus?" Aku mulai tidak bisa menahan emosi ku.
Lagi dan lagi ia tidak mendengarkan ku dan malah membalingkan wajahnya dari ku membuat ku benar benar tidak bisa menahan emosi ku yang sudah memuncak.
"Lihat aku!" Bentak ku lalu manangkup wajah Jaehyun dengan kedua tangan ku. Tetapi tetap tidak mau menatap ku.
"Lihat aku Jaehyun-ssi!" Akhirnya ia mentap ku, pandangan kami pun bertemu. "Tolong jawab pertanyaan ku." Suara ku kembali melembut.
Tetapi dia diam. Membuat ku bingung dan tidak tahu harus mengatakan apa lagi, akhirnya aku menyerah dan beranjak ke kamar ku meninggalkan Jaehyun yang masih terdiam di sana.
"Aku merindukan mu." Satu kata yang lolos dari bibir Jaehyun yang juga membuat langkah kaki ku berhenti.
Jaehyun bangun dan menghampiri ku yang masih membeku dengan kalimat yang di lontarkan Jaehyun. Dia memeluku dari belakang tubuhku, menyandarkan dagunya di pundak ku.
"Aku merindukan mu Yun Hee-ssi!" Tegasnya lagi di balik tubuhku.
Aku melepaskan pelukannya di tubuh ku membuatnya terkejut. "Lebih baik kau pulang Jaehyun-ssi, anak istrimu menunggu mu di rumah." Kata ku sembari melanjutkan melangkah menuju kamar ku.
Entah bagaimana, Jaehyun memutar tubuh ku menjadi menghadapnya dan mencium bibirku secara paksa, awalnya aku menolak. Tetap saja aku manusia biasa, yang tidak bisa membiarkan kasih sayang yang di berikan oleh orang yang aku cintai begitu saja. Aku membalas ciumannya setelah aku menyadari bahwa aku begitu sangat menyayangi dan mencintai dia.
Ciuman kita begitu panas sehingga Jaehyun mendorong ku masuk ke dalam kamar ku dan menutup pintu kamar ku keras.
Sekali lagi, aku tidak bisa menolak dan membodohi diriku sendiri terhadap seorang Jung Jaehyun.
__ADS_1
Bae Yun Hee kau wanita tidak tahu diri!