
"Brengsek!"
Plak!
Hana menampar Taeyong cukup keras sampai sampai orang yang berlalu lalang ikut menyaksikan adegan itu. Taeyong memegang pipinya yang terasa panas dan perih karena tamparan Hana, namun karena Taeyong sadar bahwa kesalahannya di masa lalu memang menjijikan membuat ia menerima semua perlakuan seperti tadi dari Hana.
"Kau.. Bisa bisanya kau menampakan wajahmu di hadapan ku. Lelaki brengsek!" Hana mengungkapkan semua yang selama ini ia pendam.
"Maaf."
"Apa? Maaf? Kau pikir dengan kata maaf dari mulut mu itu bisa memutar keadaan seperti semula? Hah sialan?!" Hana melangkah maju sedikit mendekat pada Taeyong. "Ya!" Hana mencengkram kerah Taeyong dengan kedua tangannya. "Lelaki bajingan! Dengar baik baik! Jangan pernah menyapaku di manapun karena kita tidak saling mengenal! JANGAN PERNAH MENAMPAKAN WAJAH MU DI HADAPAN KU! PERGILAH!" Setelah mengatakan itu Hana mendorong Taeyong yang tersungkur ke tanah.
Taeyong bukan lemah, tetapi ia sedang tidak berdaya karena mengingat kesalahannya di masa lalu yang membuat wanita itu menderita. Taeyong hanya bisa menatap kepergian Hana dengan posisi terduduk karena jatuh tadi.
Hana menangis di dalam mobil sembari melajukannya, memori buruk di masa lalu terus berputar di otaknya. Ia tidak tahu harus bagaimana, kepalanya terasa berat dan pusing Hana kembali menghentikan mobilnya, ia sudah tidak kuat karena kepalanya yang begitu sakit. Sampai akhirnya di mana pandangan Hana di sekitarnya menjadi gelap.
Entah bagaimana ceritanya, saat Hana perlahan mulai sadar dan membuka matanya ia sudah berada di rumah sakit. Hana melihat kesekeliling ruangan itu, ia tidak mendapati ada siapapun berada di sana. Sana Hana hendak bangun dan beranjak dari sana, Hana menyadari bahwa di lengannya melekat selang infus. Tidak pakai lama, Hana hendak mencabut selang infus itu namun pergerakannya terhenti ketika ia satu pertanyaan terlontarkan dari balik tubuh Hana.
"Kau sudah bangun?"
Hana menoleh ke arah berlawan, menampilkan Lee Taeyeon tengah berdiri di depan pintu dengan menatapnya sendu. Hana hanya bisa melihat Taeyong dengan tatapan dingin seperti biasanya.
"Kau! Kenapa aku berada di sini?!" Dengan lemah Hana membentak Taeyong.
Taeyong mendesah. "Kau pingsan Hana-ssi." Ujar Taeyong sembari melangkah mendekati Hana.
"Jangan mendekat! Satu langkah lagi kau maju, akan ku pasti kan kau mati!" Ancam Hana membuat secara otomatis menghentikan langkah Taeyong.
__ADS_1
"Hana-ssi.. bisa kah kita mengobrol sebentar?" Dengan lembut dan sabar Taeyong meyakinkan Hana.
Satu halis Hana terangkat."Untuk apa?"
"Untuk menjelaskan kesalahan ku di masa lalu pada mu Hana-ssi.."
Hana tertawa remeh. "Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi Tuan Lee Taeyong yang terhormat!" Setelah mengatakan itu, Hana mencabut selang infusnya dan berjalan berlalu melewati Taeyong yang masih terpaku di tempatnya.
***
Di sisi lain ada Jaehyun yang berhasil menggapai tangan Yunhee yang hendak bunuh diri itu. Dengan secepat kilat Jaehyun memeluk erat tubuh mungil Yunhee dalam dekapannya. Yunhee yang berusaha tidak menangis pun akhirnya tangisannya pecah saat di peluk oleh pelukan hangat dari Jaehyun.
Jaehyun melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata Yunhee sembari kedua tangan Jaehyun memegang bahu erat bahu Yunhee. "Kau gila? Kau sedang apa di sana Yunhee-ss?!" Nada bicara Jaehyun sedikit naik membuat Yunhee tak mampu menjawab.
"Yunhee-ssi! Kau tidak mendengarkan aku!" Lagi, namun Yunhee hanya melihat Jaehyun dengan tatapan lekat.
Tidak ada penolakan, dan reaksi apapun dari sang empu. Yunhee hanya menuruti semua perintah Jaehyun dengan diam seribu bahasa. Singkat ceritapun mereka sudah sampai di sebuah restoran Jepang dekat sana, di ruang tertutup hanya ada Yunhee dan Jaehyun di sana. Namun tidak di sangka, sampai makanan datangpun Yunhee hanya terdiam menatap tak selera pada makana makanan yang tertata rapi di meja itu.
"Kau harus makan Yun Hee-ssi." Sembari mengatakan itu Jaehyun meletakan makanan pada piring Yun Hee yang kosong.
Yun Hee mulai menatap Jaehyun. "Mengapa kau datang Jaehyun-ssi?" Suara serak Yun Hee membuat Jaehyun menoleh.
"Karena aku khawatir pada mu, aku tau kau pasti akan berbuat hal yang tidak tidak seperti tadi!" Ujar Jaehyun menjelaskan.
"Kau seharusnya membiar kan aku tadi Jaehyun-ssi! Aku muak dengan semua drama di kehidupanku yang tidak pernah usai!" Yun Hee membentak.
Jaehyun berusaha memasang wajah biasa saja. "Cepat makan, aku akan mengantarmu pulang." Jaehyun sengaja mengalihkan pembicaraan dengan Yun Hee.
__ADS_1
"Kang Hana..."
Nama itu sukses membuat perhatian Jaehyun teralihkan dan mulai menatap Yun Hee perlahan dan menunggu ucapan selanjutnya keluar dari bibir Yun Hee.
"Dia tengah sakit bukan?"
Jaehyun terkejut sebenarnya, namun bukan Jaehyun jika tidak bisa mengontrol ekspresi wajahnya. "Dari mana kau tahu?"
"Bukan kah seharusnya suami yang baik berada di samping istrinya yang tengah sakit? Bukan malah bersama selingkuhan nya yang tidak punya harga diri seperti ini, rendahan, dan.."
"Cukup!" Jaehyun mennyela di tengah tengah Yun Hee berbicara. "Yun Hee-ssi kau terlalu banyak menyalahkan diri mu sendiri!" Jaehyun berdiri dan meninggalkan Yun Hee yang masih duduk terdiam di sana.
Setelah kepergian Jaehyun, ponsel Yun Hee berdering menampilkan nama seseorang yang menelponnya itu. Aera yang menelponnya Yun Hee pun menjawab.
"Yun Hee-yaa.. kamu baik baik saja?" Dengan lembut Aera bertanya pada Yun Hee.
Satu air mata mengalir bebas tanpa aba. "Tidak. Aku tidak baik baik saja eonie!" Yun Hee mengambil nafas karena terlalu sesak di dadanya saat ini. "Aku tidak baik baik saja.." Sembari menangis dan terbata Yun Hee mencurahkan seluruh isi hatinya pada Aera.
"Tenang lah Yun Hee-yaa aku akan menjemputmu." Sambungan telpon pun segera terputus Aera dengan secepat kilat mengambil jaket dan tak lupa kunci mobilnya.
Dengan kecepatan sedang Aera mengendarai mobilnya menuju pada alamat yang Yun Hee beri padanya. Aera tengah mengutuk dirinya sendiri karena telah memberi tahu hal yang seharusnya di ketahui oleh Yun Hee. Aera tahu betul bahwa sesungguhnya posisi Yun Hee saat ini adalah keserbasalahan di mana mau melangkah maju atau mundur, akan terasa menyakitkan untuk Yun Hee karena ia harus berjalan mengarungi duri duri yang tajam.
Aera akhirnya sampai di tempat yang ia tuju, ia memeriksa satu persatu bilik di restoran itu, sampai akhirnya ia melihat Yun Hee tengah duduk terdiam dengan posisi yang sama tak berubah sejengkal pun. Aera menghampirinya dan memeluki Yun Hee, menyalurkan energi positif dari pelukan yang ia beri.
Yun Hee tak membalas pelukan Aera,tak juga mengatakan sepatah katapun. Dengan hati hati Aera membimbing Yun Hee untuk pergi dari sana dan mengantarnya pulang.
halo semua, maaf banget sudah setengah tahun ini penulis Hiatus karena beberapa alasan pribadi, tetapi kali ini author comeback dengan tokoh utama Yun Hee. maaf jika ada salah kata dalam penulisan,typo, atau ada sedikit alur cerita yang tidak nyambung. karena author baru aja mulai menulis lagi. semoga kalian memakluminya dan senang dengan karya ku.❤️
__ADS_1