
"Kau sudah pulang?" Sambut Hana begitu Jaehyun datang. Menghampiri Jaehyun, dan menggandeng tangannya.
Jaehyun hanya tersenyum sebagai balasan dari pertanyaan sang istri.
Mereka berdua akhirnya duduk bersama di sofa, hendak berbincang ringan pikir Hana, namun tidak dengan Jaehyun. Ia tengah memikirkan hal lain, yaitu tentang Yun Hee. Jaehyun berpikir tidak seharunya ia meninggal kan Yun Hee di restoran itu sendiri. Namun sesekali ia menenangkan dirinya sendiri dengan memikirkan bahwa mungkin saja Yun Hee sudah pulang di antar oleh salah satu temannya.
"Jaehyun-ah bisa kah kita pergi berlibur?" Ujar Hana tiba tiba.
Jaehyun hanya menoleh memandang Hana sebentar lalu kembali melihat arah lain. "Maksudku, selama ini kita tidak pernah berjalan jalan bertiga. Aku,kau, dan Yun Bin! Bagaimana?" Tanya Hana dengan wajah memohon.
"Hana-ya kita sudah sering berjalan jalan bersama. Aku sedang tidak bisa.." Nada bicara Jaehyun masih sangat lembut.
"Tidak bisa kah kau menuruti sekali saja permintaan ku Jung Jaehyun?!" Hana sudah tidak bisa menyimpan semuanya. Hana yang semula duduk kini beranjak berdiri dan menatap Jaehyun dengan penuh kekesalan dan kekecewaan. "Kau bisa bercuti! Aku tidak minta waktu lama. Aku hanya meminta waktumu 3 hari saja untuk kita pergi bersama. Apakah itu permintaan yang sangat susah Jung Jaehyun?" Hana berhenti berbicara sembari menunggu Jaehyun buka suara. Namun nihil, Jaehyun masih terdiam tanpa mengatakan apa apa.
"Jaehyun-ah! Jung Jaehyun! Kau harusnya sadar, waktu mu lebih banyak kau habiskan untuk kerja dan kerja." Tiba tiba Hana tertawa. "Dan bermain main dengan wanita lain di luar sana!" Sindir Hana.
Sukses! Sindiran Hana membuat Jaehyun menatap Hana tak percaya, tetapi dengan sorot mata tajam di tunjukan pada Hana membuat Hana terkejut bukan main, ini di luar ekspektasinya. Ia kira Jaehyun akan terkejut dan sedikit memohon padanya, tetapi ternyata tidak demikian.
"Dari ekspresi mu sepertinya kau memang benar benar tengah berkencan dengan seseorang Jaehyun-ah!" Ujar Hana lagi.
"Siapa wanita itu? Siapa wanita yang merebutmu dari ku? Siapa wanita itu Jung Jaehyun!" Hana berteriak, tanpa ia sadar butiran bening itu mengalir bebas tanpa permisi.
"Aku! Aku butuh bertahun tahun meluluhkan hati mu, mencairkan hatimu yang sedari lama membeku. Wanita itu! Wanita itu dengan mudahnya meluluhkan mu Jung Jaehyun?" Tangis Hana semakin kuat.
Jaehyun meluluh, ia tak tega melihat Hana menangis terisak seperti ini. Jaehyun memeluk erat sang istri yang masih menangis dalam dekapannya. "Katakan Jaehyun-ah! Katakan siapa dia! Siapa wanita yang membuatmu takluk..." Dera tangis Hana karena kekecewaan semakin menjadi ia begitu merasakan sesak di dadanya yang membuat ia seperti ingin menjemput ajalnya.
"Hana-ya..." Panggil Jaehyun lembut. Sembari mengelus Elis rambut Hana.
"Maaf kan aku..."
Hana melepaskan pelukannya dari Jaehyun. "Uri ihonhaja!" (Mari kita bercerai) Setelah mengatakan itu dengan gontai Hana berjalan meninggalkan Jaehyun yang masih terpaku disana. Ia tidak menyangka Hana akan mengatakan hal itu, karena setahunya Hana sangat mencintai dirinya.
___________
Sedangkan di sisi lain ada Yun Hee yang tengah berbaring di tempat ternyaman di alam semesta ini, ranjang. Yun Hee tidak banyak melakukan apa apa, sedari tadi ia hanya berbaring, diam, sembari menatap langit langit kamarnya. Memori kebersamaannya dengan Jaehyun pun terputar, bagaimana ia mengenal Jaehyun, melakukan segala hal dengan Jaehyun, tatapan Jaehyun, senyuman Jaehyun, kebaikan Jaehyun, perhatian Jaehyun. Ia rindu! Namun kali ini sepertinya Yun Hee sudah menemukan secercah cahaya, dari hubungannya dengan Jaehyun.
"Kau bisa Bae Yun Hee! Kau pasti bisa!" Yun Hee berbicara pada dirinya sendiri guna meyakini bahwa apapun pilihan yang ia pilih, ia pasti akan bisa melewati semua.
Ting..tong..
Di tengah tengah lamunan Yun Hee, suara bell rumanya membuat perhatiannya tersita. Dan perlahan menggerakkan tubuhnya menuju pintu apartemen itu.
"Iya sebentar..." Ujar Yun Hee dari dalam.
Cklek.
__ADS_1
"Selamat malam Yun Hee-ssi!" Sapa seseorang dari balik pintu itu.
"Taeyong-ssi?" Ujar Yun Hee sedikit terkejut dengan kehadiran Taeyong di sana.
Secara tiba tiba Taeyong mengangkat tangan sebelah kirinya menunjukan kantong berisi camilan dan juga beberapa botol beer dan Soju yang ia beli di toserba sebelum akhirnya langkahnya membawa ia ke tempat Yun Hee.
"Ah! Silahkan masuk.." Yun Hee masih belum mengerti apa maksud Taeyong datang kerumahnya malam itu.
Mereka berdua pun berjalan, Taeyong berjalan lebih dulu di susul Yun Hee di belakangnya. Sesampainya mereka di ruang tamu, Yun Hee menyuruh Taeyong untuk duduk dan mengambil kantong belanjaan untuk Yun Hee siapkan.
"Maaf kedatanganku kemari membuat mu terkejut." Ujar Taeyong sembari memperhatikan pergerakan Yun Hee.
Yun Hee pun duduk. "Tidak apa-apa Taeyong-ssi."
Taeyeon menghela nafas. "Apakah saat lelaki membuat salah wanita tidak dengan mudah memaafkannya?"
"Ne?" Pertanyaan yang di lontarkan Taeyong belum sepenuhnya menyerap di otak Yun Hee. "Ah! Semua itu tergantung dengan kesalahan lelaki itu sendiri. Mungkin wanita akan lebih mudah memaafkan dengan dua hal. Dia sangat mencintai lelaki itu, atau memang menurut ia kesalahan lelaki itu tidak terlalu besar." Kemudia Yun Hee menatap Taeyeon. "Memangnya ada apa Taeyong-ssi? Kau berbuat salah pada seseorang?" Tanya Yun Hee.
Taeyeong mengangguk. "Besar! Sangat besar! Hingga membuat wanita itu tidak mau memaafkan ku."
Yun Hee berpikir sejenak. "Menurut ku semua kesalahan apapun ada alasannya, mungkin kau juga begitu Taeyong-ssi.."
Taeyong yang mendengar kata-kata itu dari Yun Hee langsung menoleh ke arahnya. Ia menatap Yun Hee dengan sendu, ia tidak tahu bahwa Yun Hee sangat pengertian seperti ini pada orang lain. Ia tidak mengatakan hal hal yang menyudutkan pada satu pihak, namun Yun Hee lebih berpikir secara luas dari semua sisi.
"Aku kagum padamu Yun Hee-ssi.." Ujar Taeyeong kemudian.
"Yah aku kagum dengan cara berpikirmu yang luas. Aku sangat iri pada sifatmu yang itu.." Taeyeong tersenyum pada Yun Hee.
"Tidak demikian dengan diriku sendiri Taeyeong-ssi..." Yun Hee menunduk.
"Apa maksudmu?"
"Aku memang pandai memberi teori pada orang lain, tetapi tidak dengan diriku sendiri. Terkadang aku pandai mengatakan dan memberi nasihat pada teman temanku. Tetapi, saat aku memperaktekan pada diri ku sendiri aku tidak bisa."
Taeyeong menepuk pundak Yun Hee. "Terkadang orang seperti mu ini di butuhkan Yun Hee-ssi.."
"Ah yasudah lah tidak usah bersedih dulu, bagaimana kalau kita minum?" Ajak Yun Hee dan dapat anggukan setuju dari Taeyong.
Yun Hee dan taeyeong pun meminum beberapa kaleng bir dan Soju yang di bawa oleh taeyeong tadi. Mereka berbincang bincang ringan sembari memakan camilan yang taeyeong bawa juga tadi.
Taeyeong dan Yun Hee yang saat itu sama sama tengah merasakan sedih, sejenak melupakan kesedihan mereka. Taeyeong maupun Yun Hee sedikit bersyukur bahwa setidaknya ada satu orang yang mengerti keadaan mereka tanpa menjudge satu pihak.
Di sela sela bincangan mereka, taeyeong melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya. Waktu sudah mendekati tengah malam, ia juga sedikit mabuk. Melihat Yun Hee yang mulai mabuk pun akhirnya berniat untuk pamit.
"Sudah malam, aku harus pulang." Ujar Taeyeong.
__ADS_1
"Oh? Baiklah.. hati hati taeyeong-ssi.."
"Kau seperti nya sangat mabuk."
"Ah tenang saja aku sangat toleran terhadap alkohol."
Taeyeong hanya tersenyum. "Baiklah kalau begitu aku pamit. Kau tak perlu mengantarku ke depan."
Yun Hee yang memang sudah merasakan mabuk, hanya mengangguk pasrah dan kemudian tidak ingat apa apa lagi.
___________
Hana POV
Kini aku tengah berada di tempat tidurku, aku tengah berpura pura tidur supaya Jaehyun mengiraku sudah tidur dan ia akan menyusul ku ke alam mimpi. Namun setelah Jaehyun kurasa terlelap dalam tidurnya, aku beranjak dari tempat tidurku dan mencari cari keberadaan ponsel Jaehyun.
Aku mencarinya di jas, di saku celananya, aku tidak menemukan. Saat Jaehyun tidur menghadap ke arah berlawanan aku melihat ponselnya yang berada di sela sela bantal Jaehyun. Aku meraih ponsel itu dengan hati hati supaya Jaehyun tidak mengetahui nya.
Dan berhasil!
Aku keluar dari kamarku menuju meja makan, aku membuka ponsel Jaehyun. Namun sialnya ponsel itu terkunci. Aku mencoba sampai beberapa kali dengan angka angka yang tidak asing namun tidak juga terbuka. Akupun kembali ke kamar dan dengan hati hati lagi aku meraih ibu jempol Jaehyun untuk membuka hpnya. Baiklah untung saja bisa. Aku tidak kembali turun aku hanya di sana sembari membuka semua yang ingin aku lihat. Dari pesan, panggilan masuk dan keluar begitu juga dengan galeri di hp Jaehyun.
Dan wow! Aku menemukan beberapa panggilan keluar yang sering sekali Jaehyun hubungi. Bae Yun Hee sudah jelas sekali itu nama perempuan, aku menyalin nomor wanita itu pada hp ku tetapi aku tidak langsung menghubunginya. Tidak baik menjatuhkan harga diriku malam malam seperti ini, aku masih mempunyai etika dan sopan santun mau bagaimana pun aku marah.
Saat aku mencoba membuka galeri foto Jaehyun aku menemukan beberapa foto bukti ia dan wanita itu. Namun ternyata mereka tidak benar benar berfoto terlihat dari foto itu hanya menampakan wajah Jaehyun dan wanita itu yang berpaling dari kamera. Sungguh hati ku saat ini sangat perih dan rasanya ingin membangunkan Jaehyun dan menamparnya. Tetapi, aku memikirkan Yun Bin aku tidak mau ia mendengar ibu dan ayahnya bertengkar tengah malam seperti ini.
Seperti contohnya foto ini
...
...
Aku sangat jelas sekali memingat bahwa kita belum pernah bermain berdua seperti ini. Aku bahkan belum pernah menyentuh hp suamiku sendiri selama kita menjalani bahtera rumah tangga berdua.
Aku kembalikan lagi hp itu pada tempatnya semula. Aku kembali menidurkan badanku di kasur itu, sangat jelas bahwa ini adalah perselingkuhan. Sikap dan sifat Jaehyun yang tak pernah ia tunjukan pada ku tetapi dengan mudah wanita itu bisa lihat. Aku terkadang berpikir bahwa apa aku tidak seberharga itu untuk Jaehyun?
Aku pasrah kan saja semua pada Tuhan, aku lelah mempertahankan seseorang yang tidak mencintaiku.
__ADS_1
Hai semuaaa❤️ aku mau tanya nih sama kalian. kalian kasihan Hana atau kasihan Yun Hee? komen yaa!