
Aera eonnie menceritakan semuanya pada ku. Ia sengaja mencari tahu tentang Jaehyun karena ia lihat akhir akhir ini aku sering murung seperti mayat hidup. Kami juga jadi jarang bertemu membuat eonnie ku ini khawatir dan juga sedikit kesal pada ku. Ia bertanya bagaimana bisa aku bertemu dengan Jaehyun, tentu aku menjelaskan semuanya pada Aera aku percaya dia tidak akan memberi tahu kepada Yeon Jung dan juga Yuri karena isi kepala mereka berdua sangat berbeda dengan aku dan Aera eonnie.
Langit sudah gelap, aku masih berjalan menuju rumah ku. Aku memang baru saja pulang dari rumah teman ku tadi, mereka pun memutuskan untuk pulang juga. Aku tidak membawa mobil hari ini, sengaja! Aku ingin berjalan di tengah musim dingin ini, cuacanya sangat mendukung menyejukan hati. Aku sangat berterima kasih pada tuhan aku masih di beri untuk tetap berdiri tegak di tengah kehidupan ku yang hancur.
Aku berjalan cukup lama, sudah 20 menit aku berjalan. Selain jauh, aku juga berjalan sangat perlahan seolah benar benar ingin menikmati salju pertama yang turun hari ini. Keadaan kota saat itu sangat ramai karena ini adalah jam saat orang orang pulang dari kantor atau anak sekolah yang ikut les tambahan di sekolahnya. Benar benar ramai, namun terasa sepi dan hampa. Mungkin karena tidak ada Jaehyun? Ah.. Aku sangat merindukannya saat ini.
Mungkin jika aku dan Jaehyun menjalani hubungan yang normal, pasti kami sudah selayaknya pasangan lainnya. Berjalan berdua, menikmati waktu berdua, apapun serba berdua tanpa takut ada yang mengenal Jaehyun.
Haahh...
Tidak terasa aku menghela nafas jikalau mengingat itu. Sudahlah Bae Yun Hee mengingat itu hanya membuat dada mu sesak! Tolong bebaskan pikiran mu hari ini. Tolong!
Tin!
Tin!
Bunyi suara klakson mobil membuat ku berhenti. Bukan! Bukan hanya suara itu yang membuat aku berhenti, tetapi suara tak asing memanggil nama ku membuat ku refleks berhenti dan menoleh ke sumber suara.
"Bae Yun Hee!"
Aku menoleh. "Eoh? Taeyong-ssi..?" Gumam ku. Taeyong pun tersenyum ke arah ku dan keluar dari mobilnya menghampiri ku.
"Ku kira aku salah orang ternyata benar kau Yun Hee-ssi." Ujarnya, nafas Taeyong tak beraturan karena ia tadi sedikit berlari saat menghampiri ku, jangan lupakan senyuman khasnya.
Imut sekali..
"Kau mau kemana Yun Hee-ssi?" Tanya Taeyong.
__ADS_1
"Aku? Aku akan pulang. Kalau kau mau kemana?" Kini giliran ku bertanya pada lawan bicara ku.
"Aku juga akan pulang! Aku.. Baru saja pulang dari kantor ku." ia sedikit menjeda. "Kau mau aku antar pulang?" Lanjutnya.
Aku diam dan sedikit menggigit bibir bawah ku tak yakin, apakah aku harus menerima tawarannya? Mau bagaimana pun aku dan Taeyong adalah orang asing. Yaahh.. Walau pun kami saling mengenal, tetap saja kami tidak sedekat itu.
"Yun Hee-ssi..." Panggil Taeyong karena tak kunjung dapat jawaban dari ku.
"Tidak usah Taeyong-ssi aku akan pulang sendiri.." Sebenarnya aku tidak enak mengatakan itu, tetapi aku harus menolaknya karena aku takut jika Jaehyun melihat. Tunggu! Jaehyun kan sedang kelar kota, lagia pula capek juga berjalan dari rumah Yeon Jung ke rumah ku.
"Jangan begitu Yun Hee-ssi aku bukan lelaki mesum kok." Ujarnya membuat ku membulatkan mata karena terkejut, mengapa ia bisa berpikiran kalo aku berpikir seperti itu.
Aku mengayunkan kedua telapak tangan ku di hadapan Taeyong. "Tidak tidak! Bukan begitu..." Ah aku harus apa?! "Yasudah aku akan ikut dengan mu." Ujar ku dan di sambut oleh senyuman lebar dari Taeyong, ia terlihat senang sekali.
Taeyong pun dan aku berjalan menuju mobilnya. Mobil Taeyong terlihat sangat mahal, tidak beda jauh dengan mobil yang di miliki oleh Jaehyun sepertinya memang satu merek brand mobil dengan yang Jaehyun punya. Lupakan! Taeyong membukakan pintu mobil untuk ku, sejujurnya aku malu sekali tidak biasanya aku seperti ini dengan orang asing.
Kami pun berjalan membelah kota seoul malam itu, awalnya aku dan Taeyong saling bungkam karena canggung menyelimuti kita berdua. Namun setelahnya entah mengapa Taeyong memberanikan untuk membuka suara.
Aku sempat menibang harus ku jawab sudah atau belum, karena aku yakin Taeyong akan mengajak ku pergi makan malam bersama jika aku mengatakan kalau aku belum makan malam. "Su-"
Krrkk!
Suara perut ku, membuat ku malu minta ampun saat ini. Sialan! Aku hendak mengatakan sudah namun tampaknya perut ku tidak bisa ku ajak berkompromi saat ini, ia malah menyuarakan untuk segera di isi.Taeyong pun tertawa namun hanya sekedar kekehan, melihat itu aku sangat malu sekali saat ini.
Bahkan perut saja tidak bisa ku ajak kompromi, sial!
"Kau lapar?" Belum sempat aku menjawab Taeyong kembali berbicara. "Aku juga belum makan malam. Bagaimana kalau kita mampir sebentar untuk makan malam?" Sudah ku duga adegan selanjutnya akan begini.
__ADS_1
Heol.
Aku tidak membuka suara, aku hanya diam karena memang aku bingung harus mengatakan apa. Wajah ku tidak terlalu tebal untuk menutupi rasa malu ku di hadapan Taeyong.
Tak lama, nampaknya Taeyong menemukan tempat untuk kita mengisi perut malam itu. Restoran jepang, aku sangat menyukainya, sudah lama sejak terakhir aku makan makanan laut mentah seperti sushi ini.
"Ayo kita masuk." Ajak Taeyong, aku hanya menggangguk kecil dan mengikuti langkah Taeyong dari balik tubuhnya.
Kami sudah berada di salah satu bilik di restoran itu, ini restoran yang terbilang cukup mewah karena hanya orang orang berkantong tebal yang mampu ke restoran ini. Makanan yang Taeyong pesan pun sudah tertata rapih di atas meja panjang.
"Silahkan di makan Yun Hee-ssi." Lagi dan lagi aku hanya terdiam dan mengangguk kecil. Taeyong dan aku mulai menyuapkan sushi itu ke dalam mulut. "Kau terlihat tidak nyaman Yun Hee-ssi.." Ujar Taeyong dengan seulas kekecewaan yang tergambar jelas di wajah kecilnya.
"Ahh.. Tidak bukan begitu Taeyong-ssi..." Ujarku ragu. "Aku hanya tidak enak dengan mu." Ok ini hanya alasan ku, memang benar kata Taeyong aku tidak nyaman tetapi tidak mungkin aku berkata seperti itu di hadapan orang yang akan membayar makan malam enak seperti ini.
Taeyong tersenyum (lagi). "Tidak usah begitu Yun Hee-ssi.. Aku ingin menjadi teman mu.."
Demi tuhan, aku tersedak makanan ku sendiri saat Taeyong mengatakan itu. Taeyong pun panik dan menyodorkan gelas berisi air putih pada ku, kami yang tadinya duduk berhadap hadapan, kini Taeyong duduk di sebelah ku dan menepuk nepuk pundak ku.
"Terimakasih.."
"Jadi bagaimana? Kau mau menjadi teman ku?"
Taeyong bertanya lagi pada ku, aku sejujurnya bingung harus mengatakan apa pada Taeyong. Tetapi Taeyong terlihat sangat baik dan asik memang cocok jika di jadikan teman. Aku jadi teringat saat di cafe di mana aku sangat nyaman mengobrol dengannya. Namun, saat ia mengenakan setelan jas rapih seperti ini membuatku menjadi merasa minder karena aku adalah seorang gadis dari kalangan bawah, tidak seperti Taeyong yang dari kalangan atas. Memikirkan seperti itu saja sudah membuat ku pusing! Maksud ku, ke hidupan ku sehari hari dan Taeyong pasti sangat jelas sudah berbeda, apakah bisa aku berteman dengan orang sepertinya?
"Yun Hee-ssi.." Taeyong menyadarkan lamunan ku.
Entah dorongan dan setan mana yang merasuki tubuh ku, aku tersenyum manis dan mengulurkan tangan ku di hadapan Taeyong. "Aku mau berteman dengan Taeyong-ssi!"
__ADS_1
Persetan!
Taeyong membalas uluran tangan ku dan kami berjabat tangan. "Terimakasih Yun Hee-ssi.."