
Hana POV
Jaehyun tak kunjung mengangkat teleponku, aku pun menyerah dan sudah tak berusaha menghubunginya lagi karena aku tahu hasilnya akan sama saja. Di abaikan. Sudahlah karena sudah sampai di depan rumah ayah ku, aku langsung turun dari taxi tadi yang aku tumpangi. Aku berdiam diri sejenak di depan rumah megah dan mewah milik ayah ku. Penjagaan yang ketat dan pagar besar menjulang tinggi aku kagum dengan usaha dan kerja keras ayah ku.
"Selamat siang nona Kang." Sapa salah satu orang yang bekerja di rumah ayah ku, di susul oleh pekerja yang lain yang mulai membungkuk pada ku.
Aku tak berbicara apa pun, aku hanya tersenyum seraya anggukan. Lalu aku mulai melangkah memasuki rumah megah bak istana itu. Saat aku sampai di rumah itu, semua pelayan yang tak sengaja melihat ku datang menghentikan kegiataannya dan menyempatkan untuk membungkuk di hadapan ku memberi hormat. Tidak aneh, orang orang berpengaruh dan mempunyai banyak uang memang sering di perlakukan istimewa.
"Aku pulang.." Sapa ku dan di sambut oleh senyuman ayah dan juga anak ku, Yun Bin.
Yun Bin berlari ke arah ku dan memeluk kakiku. "Eomma!" Mendengar sebutan itu aku merasa tenang, setidaknya aku memiliki Yun Bin dan ayah yang masih setia di samping ku.
"Loh, Hana-ya? Jaehyun mana?" Tanya ayahku, sudah ku duga pasti ayah akan menanyakan Jaehyun karena kami memang pergi bersama.
Aku kesulitan untuk menjawab, tubuh ku gemetar karena gugup aku tidak mau membuat ayah ku khawatir. "Eum.. Tadi ia bilang ada yang harus ia urus. Maklumi saja appa, dia baru saja pulang karena menemaniku ke singapura.." Jelas ku, untung saja ayah ku langsung percaya dengan perkataan ku.
*****
Gelapnya malam sudah menyapa, namun Jaehyun tak kunjung pulang dan mengabari ku. Kini aku sudah pulang ke rumah ku, karena aku sudah bisa membaca situasi bahwa Jaehyun malam ini pasti akan pulang telat atau bahkan tak pulang seperti yang sudah sudah.
Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya, aku mondar mandir seperti orang bodoh karena menunggu suami ku yang semakim hari tingkah lakunya semakin aneh dan mencurigakan. Tak lupa aku sesekali mengecek kamar Yun Bin mungkin karena lelah ia tertidur lebih awal. Aku pun masuk ke dalam kamar Yun Bin dan duduk di bibir kasur menatap anakku yang kini baru menginjak usia 3 tahun sangat menggemaskan. Aku bersyukur setidaknya Jaehyun memperlakukan Yun Bin seperti anaknya sendiri dan terlihat lebih menyayangi Yun Bin di bandingkan dengan aku istrinya.
Aku mengelus puncak kepala Yun Bin di akhiri dengan kecupan singkat di dahinya. Tiada kata yang bisa menggambarkan bahwa aku sangat menyayangi Yun Bin.
Cklek!
Aku menoleh begitu aku mendengar suara pintu tertutup, aku sedikit membenarkan selimut Yun Bin dan bergegas keluar. Itu Jaehyun, dengan wajah datar khasnya. Aku sudah biasa di sambut dengan wajah seperti itu dari waktu ke waktu, tetapi bodohnya aku masih sangat mencintai lelaki ini!
"Jaehyun-ah.. Kau dari mana saja?" Aku berusaha mengontrol emosi ku dengan berbicara selembut mungkin dengan Jaehyun, aku tahu betul Jaehyun sangat keras. Jika ku lawan dengan keras itu tidak akan beres.
Jaehyun yang sedang mengganti sepatunya dengan sendal rumah menoleh ke arah ku. "Maaf tadi aku ada urusan mendadak." Ujarnya.
__ADS_1
Tetapi aku yakin ia bohong.
"Mengapa kau tidak bilang?"
Jaehyun tak langsung menjawab pertanyaan ku. "Saat aku ke toilet tadi Doyoung menelepon ku, ia bilang sangat mendesak jadi aku tidak sempat mengabari mu. Maaf ya.." Jelasnya kemudian menepuk bahu ku dan mengelus elusnya.
Memberi senyuman dan mengangguk seperti oramg bodoh, itu respon ku. Aku tahu sekali bahwa Jaehyun berbohong tetapi aku tidak bisa melakukan apapun karena aku tidak mempunyai bukti apapun yang membuktikan bahwa suami ku ini melakukan hal yang salah dan berbohong pada ku.
Jaehyun berjalan melewati ku, menuju walk in closet. Aku mengikutinya karena Jaehyun sering sekali menaruh baju kotornya asal. Benar saja, saat aku sampai di sana Jaehyun sudah pergi mandi sedangkan bajunya berserakan di sana. Ku punguti satu persatu pakaian Jaehyun, tetapi aku mencium parfum yang asing di indra penciuman ku. Aku sedikit mendekatkan baju yang Jaehyun pakai tadi dan berusaha menciumnya. Ini bukan parfum yang biasa Jaehyun pakai, wangi parfum ini lebih halus tidak seperti parfum yang sering Jaehyun pakai terkesan menyengat khas parfum pria pada umumnya. Namun anehnya, aku seperti pernah mencium bau parfum ini sebelumnya. Seperti belum lama ini aku mencium bau parfum ini.
Entahlah. Aku kembali memungut satu persatu pakaian Jaehyun dan menaruhnya di keranjang khusus untuk pakaian kotor. Di apartemen sebesar ini aku menyewa satu asisten rumah tangga, namun aku memperkerjakannya hanya dari pagi sampai selepas makan malam. Di luar jam itu ART ku pulang dan aku yang melanjutkannya lagi pula semakin malam kerjaan rumah semakin sedikit.
*****
Pagi ini aku bangun lebih awal, lebih awal dari Jaehyun dan juga asisten rumah tangga ku. Aku sengaja bangun lebih pagi karena hari ini aku samgat ingin sekali membuatkan Jaehyun sarapan. Jaehyun sangat suka sekali masakan rumah, tetapi aku jarang sekali memasak untuknya. Maka dari itu hari ini aku menyiapkan menu sarapan spesial untuk suamiku.
Masakan ku sudah 98% siap, aku hanya tinggal menata sarapan ku di atas meja makan. Makanan lezat menggugah selera siapapun yang melihat. Senyuman pun tak luntur luntur dari wajah ku, entah mengapa rasanya ada kebanggaan tersendiri bisa menyiapkan sarapan untuk keluarga kecil ku ini.
"Selamat pagi nyonya." Sapa asisten rumah tangga ku begitu ia sampai.
Bibi menghampiri ku yang tengah sibuk menata makanan. "Nyonya tumben sekali bangun lebih awal? Mau saya bantu?" Lalu menawarkan diri.
"Tidak usah. Saya minta tolong saja bangun dan mandikan Yun Bin." Ujar ku.
"Baik nyonya." Bibi itu pun pergi dan melakukan hal yang ku suruh.
Aku bertolak pinggang memperhatikan makanan yang kini sudah tertata rapih di atas meja. Aku pun melihat ke arah jam dinding, dan bersiap membangunkan Jaehyun untuk bersiap. Langkah kaki ku terhenti di pintu besar kamar ku dan Jaehyun yang sedikit terbuka. Memperlihatkan Jaehyun yang tengah sibuk dengan ponselnya dan senyuman senyuman yang sudah lama aku tidak melihatnya.
Tok tok!
Aku mengetuk pintu sebelum masuk, terlihat Jaehyun langsung menaruh ponselnya kembali di atas nakas dan pura pura terbaring lagi layaknya seseorang yang sedang tidur. Aku mendekat ke arah Jaehyun.
__ADS_1
"Jaehyun-ah bangun kau harus bersiap ke kantor." Ujar ku.
Jaehyun sedikit menggeliat meragakan layaknya seorang yang baru bangun tidur. Cih! Jung Jaehyun. "Eoh." Ujarnya kemudian bangun dan langsung pergi dari sana.
Saat aku ingin pergi juga dari kamar, aku melihat handphone Jaehyun yang tergeletak di atas nakas. Tubuh ku bertindak alami ingin mengambil ponsel itu, namun otak ku menangkis dan berusaha tidak memperdulikan sikap Jaehyun. Toh sudah tiga tahun berumah tangga dengan Jaehyun, ia selalu bersikap seperti itu.
Skip meja makan.
Kini aku, Jaehyun dan Yun Bin sudah berada di meja makan tak lupa dengan bibi tadi, ia juga ikut menyantap sarapan pagi bersama kami. Aku tidak gila hormat, lagi pula aku sudah sangat mengenal bibi ini karena ia sudah bertahun tahun bekerja dengan ayah ku.
"Woah, ini sangat enak!" Puji bibi.
Aku hanya menoleh dan tersenyum.
"Masakan bibi kan memang selalu enak." Cetus Jaehyun dan sunyi seketika. "Kenapa?" Tanyanya.
"I-ini masakan nyonya Kang Tuan." Jaehyun terdiam sebentar dan menoleh ke arah ku.
"Kau yang memasak?" Tanya Jaehyun dan dapat anggukan semangat dari ku. "Enak."
"Terima kasih." Ucapan sesederhana itu pun mampu membuat ku bahagia, aku akan memasakan Jaehyun mulai sekarang.
*****
"Bibi saya titip Yun Bin sebentar ya, saya ingin memberi makan siang untuk Jaehyun."
Tanpa basa basi lagi, aku pun bergegas menuju kantor Jaehyun dengan perasaan yang bangga. Aku baru kali ini membawakan suami ku makan siang, biasanya aku hanya sibuk mengurus Yun Bin di rumah. Tetapi karena Yun Bin sudah semakin besar ia sudah tidak rewel lagi dan bisa ku tinggal tinggal seperti sekarang. Aku berharap Jaehyun senang dan suka dengan bekal yang ku bawa, mengingat tadi pagi dia memuji masakan ku sepertinya ia menyukainya.
Sedangkan di sisi lain...
"Jaehyun-ssi? Tidak apa apa jika aku bertemu dengan mu di kantor seperti ini?"
__ADS_1
"Tidak apa apa." Jaehyun mengelus puncak kepala lawan bicaranya, kemudian kembali duduk di kursi kejayaannya. "Tunggu sebentar ya aku hanya tinggal mebaca dan mentadatangani ini, baru kita akan pergi makan siang." Jaehyun tersenyum.
"Baiklah."