PATIMAH SAJA

PATIMAH SAJA
BAB I


__ADS_3

Patimah. Ya Patimah saja namanya, tidak ada kepanjangannya. Kawan-kawan sebayanya memanggil ia Imah. Cantik diusia 22 layaknya bunga baru mekar dipagi hari, incaran kumbang yang lapar manisnya nektar.


Pembawaannya teduh dengan kerudung tersulur hingga ke punggung.


Senyumnya juga selalu dikulum, meretakkan hati banyak pemuda yang baru mengenal degup asmara dalam hidupnya.


Patimah, ya Patimah saja. Gadis desa bersahaja.


"Seorang isteri itu perhiasannya suami, jadi tidak boleh seorangpun mengenakannya selain suami." Ibunya, selalu mewanti-wanti, agar Patimah kelak jadi istri pinanggih yang faham menempatkan diri antara rumah dan halaman


"Bagaimana kalau suami tidak memperlakukanku layaknya perhiasan, Ibu?"


Sesekali Patimah menyela, tapi bukan untuk mencela ucapan ibu, ia hanya ingin tahu hingga bagaimana ia bisa mengukur batas kepantasan yang bisa dilakukan seorang istri menghadapi suami serta lingkungan tempatnya ia mengambil peran dalam dunianya.


"Tetaplah engkau di jalan syari'ah qur'an dan sunah, Patimah."


Ayah sesekali ikut menguatkan nasihat ibu.


"Lalu dalam hal tertentu. Ketika engkau mendapati masalah yang tidak tertulis dalam dua syariah itu, engkau boleh berijtihad, melakukan penggunaan nalar dan akal, dengan mengedepankan keyakinan, ijtihad itu benar-benar untuk kebaikan dan kemaslahatan"


.


Ayah, ibu. Tudung lebar yang memayungi Patimah. Kompas besar nakhoda. Petunjuk arah bila saatnya tiba Patimah harus mengayuh sampan kehidupan yang terbentang luas didepannya, sendirian.


"Ibu, tapi kadang Imah, takut."


Ia kembali mengajak ibunya bicara, meletakkan kepala ke pangkuannya, tempat paling nyaman didunia., tempat telinganya dijejali ilmu tentang kodratnya sebagai perempuan, berupa tuntunan. Lalu diakhiri "hariring kinanti dan haleuang asmaranda" suara ibu yang merdu, pengantar mimpi tentang bahagianya mendampingi suami tampan, sholeh dan sempurna yang menjadikannya perhiasan dari sosok suami yang akan jadi imam dunia akhiratnya.


"Takut kenapa, anakku?"


"Takut, ibu. Takut karena banyak rumah tangga yang gagal, karena akhlak suami yang memperlakukan istri bukan sebagai perhiasan, melainkan hanya mainan, setelah bosan ditinggalkan."


Patimah meraih ruas jari ibunya, menempatkan diantara dua bukit didadanya yang mulai membesar. Bukit kehidupan buat anak-anaknya kelak.


Ibunya sejenak terdiam. Bagamana menjawab pertanyaan anaknya dengan bijak. Ia faham, terkadang Allah memberi jodoh bagi perempuan, lelaki diluar dugaan. Tidak semua sesuai harapan.

__ADS_1


"Sabar dan ikhlaskan.Ikuti perintah suami kecuali menyuruh atau mengajak maksiat. Yakinlah setiap apa yang menimpa manusia, bukan kebetulan. Tapi kehendak Allah bagaimana kita bisa mengambil peran, melewati ujian kehidupan. Allah tidak akan diam. Selalu menyimpan kemudahan dari setiap kesusahan "


Sekarang Patimah yang diam, berusaha mencerna tiap kata ibunya. Meluaskan fikiran, pada banyak lelaki lembut yang jadi kasar dan yang kasar menjadi lembut.


Benar kata ibunya, kesabaran dan keikhlasan adalah muara dari segala recana pengelola kehidupan. Dirinya hanya bisa berdo'a kelak Allah memberinya jodoh yang akhlak dan rupanya sepadan, agar ia bisa nyaman pengambil peran, melayani dan mengurus suami yang akan dicintai sepanjang hidupnya.


Patimah beranjak dari lahunan ibunya, menuju kamar. Membuka jendela yang lama ragu untuk ia buka. Ia melihat sosok lelaki tampan melambaikan tangan dikejauhan. Lambaian yang sekarang mulai mempan untuk meluluhkan hatinya, hingga kembali ia tersenyum dikulum.


"O, lelaki tampan. Datanglah, lamar aku pada ayah dan ibu. Lalu aku akan mengikuti kemana saja engkau pergi. Bukankah aku perhiasan yang akan engkau kenakan ?"


Andai bisikan hatinya didengar para pria, siapa yang mampu menolaknya ?


**********************************************


Seperti biasanya, setelah sholat subuh, sambil memasak air, ia menyapu dan mengepel rumah, atau kalau ibunya yang mengepel, maka Patimah paling menyapu halaman kecilnya. Tak ada kegiatan lain, kecuali sore hari, ba'da ashar, ia akan ke mesjid di ujung kampung, untuk mengajar anak-anak mengaji.


Ia lakukan itu tiap hari, kecuali hari jum'at, anak-anak diliburkan dan Patimah dipastikan lebih banyak di rumah.


Seperti hari ini, jum'at sore, untuk menghilangkan kejenuhan, ia menyiram aneka bunga yang ia tanam di halaman kecil rumahnya, sambil membawa pupuk kandang yang ia ambil dari kandang ayam miliknya di belakang rumah. Ia tak sungkan memegang kotoran ayam yang kemudian ia taburkan ke pot bunga atau tanaman yang ia tanam di tanah.


"Kak, Imaaah."


"Hai, Wati. Mau kemana ?" Ia menjawabnya sambil tersenyum, tetapi hanya sesaat saja, tatkala mengetahui, Wati bersama siapa.


Patimah kemudian pura-pura sibuk lagi menyiram tanaman, padahal hatinya berdebar, karena Wati berjalan dengan lelaki yang kemarin melambaikan tangan, berdiri di ujung jalan.


"Jalan-jalan, Kak !"


Wati menjawab sedikit berteriak, Saat Patimah menolehnya, ternyata Wati sudah jauh, dan secara bersamaan, lelaki yang jalan disamping Wati menoleh ke belakang dan reflek ia melambaikan tangan lagi walau sebentar.


Patimah ingin membalas lambaian itu, tapi keadaban tradisi menghalanginya, ia tidak boleh memperlihatkan ketertarikannya pada lawan jenisnya, apalagi orang itu belum dikenalnya.


"Siapa, ya?" Bisik hatinya. Ia hanya mengira-ngira mungkin dia saudaranya Mang Karya yang sedang main atau sedang mencari


pekerjaan.

__ADS_1


Besok sorenya, Patimah seperti biasa, berangkat mengajar mengaji, lehernya tak tahan untuk tidak melirik rumah Mang Karya, ia berharap lelaki kemarin ada disana. Tapi saat itu tidak ada. Juga saat pulang mengajar, ia masih seperti tadi, melirik rumah Mang Karya, lelaki itu sama, tidak ada. Yang ada malah Wati yang memanggil-manggilnya.


"Ada apa, Wati ?"


Ada rasa gembira ketika Wati memanggilnya, ada alasan untuk bisa lebih lama memperhatikan rumah Mang Karya.


"Kak, tolong Wati, bantu ngisi formulir ya ?"


Wati menarik-narik tangan Patimah untuk masuk ke rumahnya.


"Formulir apa ?"


"Isian masuk SMP kan Wati tahun ini SMP, Kak?"


Patimah kemudian mengikuti kehendak Wati, duduk di tepas rumah, sambil mengisi formulir dengan pensil yang ia tulis tipis, nanti diperjelaa dengan balpoin yang ditulis langsung oleh Wati.


"Duh, Neng Imah, punten nya, Wati sudah merepotkan, habis mau ke siapa lagi minta tolong, ibu mah kan esde juga tidak tamat,"


Ibunya Wati, muncul sambil membawa segelas air teh.


"Ah, Watinya saja yang gak sabar, kan abang bilang, nanti malam abang kerjakan.?"


Telinga Patimah teasa berdiri, ketika ia melirik arah suara, pipinya merah merona, jantungnya terasa memacu begitu cepat, yang dicari ada dihadapannya.


"Subarkah "


Ia mengajak Patimah salaman. Patimah hanya terpana menatap lelaki dihadapannya.


"Patimah "


Ia hanya merapatkan kedua telapak tangannya di dada, melakukan apa yang dajarkan ibunya, janganlah bersentuhan dengan kelaki yang bukan muhrimmu, kecuali dalam keadaan yang sangat terpaksa.


Patimah juga sesaat kemudian minta pamit pada ibunya Wati, setengah berlari meraih sepeda kumbangnya yang ia tuntun menuju rumahnya, meninggalkan Subarkah yang terkagum-kagum melihat sikap Patimah begitu.


Subarkah seperti terkena sihir, menatap Patimah hingga masuk ke rumahnya. Ia merasa perasaannya melintasi nalarnya sebagai pemuda kota yang serba praktis dan nyaris bebas. Melihat Patimah, seperti melihat sesuatu yang baru dalam hidupnya. Tak menyesal ia memilih kehidupan desa setelah puluhan tahun di kota yang hampir tak punya tata krama.

__ADS_1


"Patimah," desisnya.


Sekali lagi ia tolehkan matanya ke tempat perempuan tadi menghilang, jodoh sepertinya sudah tertoreh, karena saat itu, Patimah sedang menutup jendela kamarnya, menoleh dulu ke rumah Mang Karya, ia melihat Subarkah sedang memandangnya sambil melambaikan tangan. Ia tersipu, kemudian senyum dikulum, membuat dada Subarkah seperti terkena panah yang dilepaskan Patimah.


__ADS_2