PATIMAH SAJA

PATIMAH SAJA
Bab 27


__ADS_3

Dari pintu gerbang pemakaman, Subarkah memandang Patimah dipapah dua anak sambungnya berjalan arah keluar. Ia sungguh cemburu pada mendiang Pak Marjuki, karena ia bisa mendapatkan cinta dari seorang istri bahkan hingga kematian yang memisahkan.


"Siapa wanita yang bisa lebih baik, daripada seorang Patimah, istri yang sholehah ?"


Ia membatin, tapi direlung hatinya, sikap Patimah seperti itu seolah mengajarinya untuk tidak egois, bahwa manusia seharusnya jangan berharap yang diingikan harus semuanya didapat, bahkan cinta, karena beberapa diantaranya masih ada orang yang terus memelihara rasa sayang pada orang yang dicintainya begitu dalam, seperti Patimah.


"Betapa beruntungnya engkau, Pak Marjuki"


Selama di mobil tak ada satupun yang berbicara, mereka sibuk dengan fikiran sendiri sendiri.


"Mama Imah, kami pulang dulu ya, tadi Teh Tini bilang sama suaminya hanya pergi sebentar "


Akhirnya Tina memecahkan suasana, dengan kalimat pamit pada Patimah. Patimah mencoba menahannya, tapi Tini dan Tina bersikeras.


"Besok kan Minggu, nanti Tina ke rumah, ya?"


Patimah akhirnya membiarkan kedua anak sambungnya pulang. Ketika ia akan mengantarnya hingga ke tempat parkir, mereka menolaknya di pintu, memberi waktu buat Subarkah meneruskan pembicaraan dengan Patimah yang sebelumnya tepotong.


Tepat. Karena tidak beberapa lama setelah kepergian Tini dan Tina, subarkah mulai memecah kebuntuan.


"Boleh aku meneruskan lagi, apa yang ingin kukatakan ?"


Patimah mengiyakan, kesedihan diwajahnya telah pudar.


"Kang maafkan tadi, ya?"


Subarkah duduk mendekat. Dipegangnya kedua tangan Patimah, walau Patimah ingin melepasnya.


"Biarkan aku memegang tanganmu, sekali ini saja. Aku ingin engkau mendengarnya dengan baik."

__ADS_1


Subarkah memaksa, Patimahpun lalu membiarkannya


"Bukan karena aku hanya ingin melaksanakan apa yang diwasiatkan almarhum mendiang suamimu, tapi memang ingin mengatakan ini, perasaan yang selalu aku diamkan "


"Perasaan apa ?" Patimah menyela"


"Perasaan Cinta dan sayangku padamu"


Subarkah mengatakan itu sambil menatap Patimah, lekat, lekat sekali yang membuat hati Patimah terlambung tinggi, melintasi cerah langit disiang hari, benderang tak menyisakan awan. Ia cium punggung tangan kanan Subarkah.


"Aku suka dengan yang engkau katakan "


Katanya, pelan.


"Terus apa alasan Akang menceraikan istrimu ? Apa karenaku ?"


"Bukan, sayang "


"Apa ini ?"


"Hadiah termahal yang kemarin aku janjikan. Bacalah."


Patimah kemudian membacanya hingga selesai.


"Apa ini artinya ?"


Patimah berusaha menutupi kebahagiaan, setalah membaca kesimpulan disurat itu dengan pertanyaan yang jawaban sebenarnya sudah diketaui olehnya.


"Artinya aku tidak pernah melakukan zinah seperti yang dituduhkan orang. Artinya dengan surat itu aku sudah bisa menjawab secara medis atas pengakuan Nenti, yang mengakui telah dinodai olehku pada saat kejadian itu "

__ADS_1


Sekarang Subarkah yang kemudian menciumi tangan Patimah.


"Andai saja aku bisa memelukmu, sayang."


"Jangan..."


Patimah melepaskan pegangan tangan Subarkah, ia menengadah ke atas. Jangan hingga waktunya Subarkah menikahinya.


"Kelak, aku akan membiarkanmu memelukku, Kang. Tidak hanya sekedar memelukku, bahkan lebih dari itu..."


Bisik hati Patimah yang seketika mulai merenda harapan indah bersama lelaki yang sangat dicintainya.


Dilain tempat, Pak Herlan sibuk di kantornya mengemas barang-barang pribadinya yang bisa dibawa. Perkiraan atas masa depan perusahaanya akhinya jadi kenyataan, dengan diputusnya kontrak kerja oleh Pak Subrata, perusahaanya tak lagi bisa dipertahankan.


Besok perusahaan akan mulai dinyatakan pailit, dan diambil bank setelah ia berdamai nenyerahkannya secara sukarela sesudah Bank bersedia mengambil alih pembayaran upah pada puluhan karyawannya.


Sebelum menaiki mobil, ia berdiri sejenak di pintu gerbang, memandangi tiap sudut kantor yang puluhan tahun mencatat perjalanan hidupnya dengan bergelimang uang. Sekarang semua itu harus ditinggalkan karena kesombongan dirinya merasa bisa mendikte dan mempernainkan orang.


Pak Herlan pulang, setibanya di rumah, ia rebahkan tubuhnya di sofa, memikirkan langkah apa yang akan dilakukannya ke depan, hingga sadar istrinya sudah duduk didepannya


"Sekarang mama mau ayah tegas pada si Subrata. Sudah, mulai sekarang putuskan kerja sama dengan dia. Mama mau lihat, dia mengemis-ngemis pada kita. Biar dia tahu rasa !"


Pak Herlan berjalan ke kamar, tidak mau berkata apapun, sedih rasanya melihat istrinya yang tidak mengerti-mengerti keadaan sebenarnya.


Ia kemudian mengambil wudhu, sholat sunat mutlak, memohon pada Robbnya untuk diberi kesabaran. Hanya padanya ia bisa mengungkapkan segala keresahan dan kegelisahan, karena dirumah ia merasa tak ada yang bisa diajak bicara.


"Ya Allah, hanya padamu aku berserah. Hanya padamu aku memohon pertolongan."


Ia bersujud. Air mata mulai membasahi hampar sajadah dibawah wajahnya.

__ADS_1


* Wah Kayanya mama imah sama subarkah udah tinggal selangkah demi selangkah nih 🤭. yok lanjut .... *


__ADS_2