PATIMAH SAJA

PATIMAH SAJA
BAB 15


__ADS_3

Benar saja, besok paginya, Tini da Tina menjemput Patimah. Sepanjang jalan mereka hanya mengobrol hal yang ringan-ringan saja dan kesedihan sudah tidak lagi kentara di wajah mereka.


Mobil berhenti didepan disebuah kantor notaris yang selama puluhan tahun mengurusi segala jual beli sawah dan tanah, serta akta-akta perjanjian keluarga besar Pak Marjuki. Patimah juga tidak berkeinginan untuk bertanya, ia kira itu urusan Tini dan Tina, hingga sampai notaris itu bicara


"Selamat pagi jelang siang, ibu-,ibu. Kita mulai saja walaupun tanpa kehadiran satu pihak. Tadi Pak Subarkah telephone saya. Katanya ada halangan, dengan demikian setelah ini, Ibu Tina dan Ibu Tini bisa mengerjakan kegiatan lainnya"


Notaris seterusnya menjelaskan tentang hibah sawah yang berbatsan dengan lahan Subarkah, yang sekarang sudah digarap menjadi perkebunan dengan bendera perusahaan Subarkah.


"Apa semua sudah jelas ? Kalau masih belum mengerti, silahkan bertanya " Notaris menutup penjelasannya menyodorkan satu berkas kertas ke hadapan Patimah.


Patimah menatap Tini dan Tina dengan pandangan tidak mengerti. Mengapa anak sambungnya itu begitu baik ,?


"Ini wasiat ayah, Ma. Dosa kalau kami tidak melaksanakannya. Malah masih ada beberapa lainnya belum bisa memberikannya, nunggu kurator menghitung, seberapa banyak peninggalan ayah, dan wasiat ayah, untuk memberikan dua puluh persennya pada ,Mama."


"Tapi aku tak menginginkannya, Tini, Tina ?"


Jawab Patimah dengan jantung deg-degan, membayangkan kekayaan begitu banyak Bagaiamana nanti menngelolanya ?


"Harus, mama harus menerimanya. Mama sendiri yang mengajari kami untuk tidak boleh menolak ridzki ?" Tini memeluk Patimah. Ia tepuk-tepuk punggung mama sambungnya. Betapa ayahnya beruntung, disaat-saat akhir hidupnya didampingi perempuan yang sungguh lurus akhlaknya. Setelah itu ia menyuruh Patimah membaca berkas yang ada dimeja didepannnya Patimah duduk.


Sementara Patimah membaca, hand phone Tina berbunyi, setelah itu Tina bilang pada Tini kakaknya, bahwa itu telephone dari suaminya. Ia bilang penting sekali.


Setelah itu, Tini memutuskan meninggalkan Patimah di kantor Notaris, sendiri nenunggu Subarkah untuk menanda tangani berkas bersama Patimah


"Mama pulangnya nanti minta tolong diantar Pak Subarkah saja ya, Ma ?"


Itu yang dikatakan Tini dan Tina sebelum pergi meninggalkan Patimah yang sontak kaget demi mendengar nama Subarkah disebutkan, ia berfikir, bagaimana kedua anak sambungnya mengenal Subarkah. Tapi hal itu tidak lama ia fikirkan, ia kemudian tak henti-hentinya bersyukur pada Allah yang telah memberinya harta yang sangat berlimpah.


Setengah jam kemudian, yang ditunggu datang. Subarkah dengan pantalon ketat, dan kancing atas kemeja sengaja dibuka, nampak gagah. Patimah beberapa kali mencuri lirik, bagaimana penampilannya begitu tenang waktu mengobrol dengan notaris, walau sebentar.


"Silahkan, Pak, ditandatangani kalau sudah dibaca ? "


Subarkah terus menandatangani, selesai itu baru disusul Patimah, pemegang enam puluh persen, PT SUBARKAH yang bergerak dibidang Agro bisnis.


"Kamu tidak bawa mobil ?"


"Tidak " Lalu Patimah menjelaskan bahwa kedatangannnya disana dijemput Tina dan Tini

__ADS_1


"Oh, ya sudah kalau begitu, saya...eh aku antar, biar tahu juga tahu dimana rumahmu ?"


"Kalau sudah tahu ?" Patimah masuk di jok kiri depan, yang pintunya dibukakan Subarkah Setelah duduk didepan kemudi, Subarkah baru menjawab.


"Kalau sudah tahu, apa ya ? Ya sekedar tahu lah !"


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan, hanya sesekali mereka saling melirik. Terkadang diam membawa banyak ceritra, seperti Patimah yang hatinya mulai tak karuan, karena orang yang paling ia rindukan duduk didekatnya, begitu dekatnya sehingga saat mobil menikung ia harus menyentuh pundak Subarkah.


Lain halnya dengan Subarkah, ia berfikir kenapa jalan tidak lebih banyak lagi tikungan, agar sentuhan perempuan disampingnya bisa lebih lama memegang pundaknya. Hanya pundak yang tersentuh itu, tapi membuat dadanya sepanjang jalan berdegup-degup kencang. Kencang sekali !


Jarak kantor Notaris hingga rumah Patimah, dirasa Subarkah terlalu dekat. Hingga ia harus menghentikan mobilnya. Patimah turun, bimbang rasanya, apa ia harus menawarkan Subarkah untuk mampir atau tidak.


"Mampir dulu, Kang ?"


Diluar kesadaran, bibir Patimah mengucapkan itu, yang didengar Subarkah seperti angin yang menghembus lubang telinganya. Ia langsung turun mengikuti Patimah yang berjalan duluan, pinggulnya bergoyang, ditatap Subarkah hingga sampai pintu dan Patimah menyuruhnya masuk dan duduk di ruang tamu.


"Mau teh atau Kopi ?"


Subarkah kaget, karena benaknya masih lekat pada pinggul Patimah saat berjalan tadi.


Ternyata kata Bi Isah, kopi habis. Patimah menyerahkan uang agar Bi Isah sekarang juga membelinya. Setelah itu Patimah ke ruang tamu lagi, melihat-lihat photo dirinya dengan mendiang suaminya, yang khusus diphoto di studio photo dengan ukuran besar.


"kamu disini masih kurus, ya ?" Kata Subarkah makin mendekat ke photo yang tergantung didinding itu, Patimah juga menghampiri. Mereka sebentar saling pandang , kemudian Subarkah memegang tangan Patimah, dan spontan saja menariknya dalam pelukannnya


Patimah terhenyak mau menolak, tapi tenaganya terlalu lemah untuk menahan tangan kekar Subarkah.


"Sayang, begitu lama aku merindukanmu,"


Terdengar suara Subarkah, pelan ditelinganya, tapi terasa lantang dihatinya, lalu ia jadi merasa begitu nyaman ketika dengus nafas Subarkah menyisir lehernya hingga belakang telinga, dan Patimah semakin terlena saat dengus itu tercium hidungnya, lalu bibirnya terasa dilumat, lama, lama sekali, fantasinya mampu menggetarkan seluruh tubuh pekanya, hingga tersadar oleh suara derit pagar dibuka. Patimah mendorong tubuh Subarkah. Dilihatnya Bi Isah pulang habis membeli kopi.


Lalu mereka sama sama duduk berjauhan dan setelah minum beberapa tegukkan kopi yang terhidang, Subarkah pamit pulang.


*****************************************


"Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan, hingga ketika ajal datang kepada seseorang diantara mereka (barulah) ia berkata "sungguh saya sekarang bertobat" ( Annisa 18)


Terlambat sudah, padahal kata Nabi, pintu tobat terbuka disiang hari untuk yang berdosa dimalam hari dan dibuka dimalam hari untuk yang berdosa di siang hari

__ADS_1


Setelah kepergian Subarkah, ia masuk ke kamar, ia menangisi dirinya sendiri, dengan apa yang terjadi tadi. Mengapa ia selalu menyerah setiap berhadapan dengan lelaki itu.


Sudah hampir lima tahun ia menamengi diri atas gairah dan nafsunya dengan mengimani bahwa Allah setiap saat mengawasinya. Lima tahun pula ia bisa bertahan tidak tersentuh lelaki yang bukan muhrimnya karena pintu tertutup dengan keberadaan Pak Marjuki suaminya. Tapi sekarang ? Apa hanya karena suaminya telah tiada kemudian pintu tak lagi tertutup rapat dan meninggalkan celah untuk lelaki menyentuhnya? Bahkan bukan hanya menyentuh, tapi menciumi sebagian tubuhnya yang peka, membangkitkan gairah yang lama terpendam, hingga ia menyerah begitu saja dan bahkan menikmatinya.?


"Ya, Allah. Ampuni aku, hambamu."


Maka setelah selesai menangis, ia mandi, lalu wudhu, mendirikan sholat tobat kepada Robbnya diakhiri dengan do'a agar dijauhan dari marabahaya yang akan menjadikannya salah satu penghuni neraka di akhirat kelak.


"Sebesar-besar fitnah bagi perempuan, adalah lelaki anakku. Sebelum ia menikahimu, kau hanya boleh mencintainya, tapi jagalah hingga tak tersentuh olehnya"


Lalu teringat juga nasihat ibunya, membuat Patimah jadi semakin merasa bersalah, dan ia meyakinkan dirinya untuk tidak mengulang. Harus ada batas yang jelas antara ia dengan Subarkah. Ia harus menjauhinya, jikapun terpaksa harus dekat, harus ada orang ketiga yang akan jadi penghalang, agar tak memberi celah kesempatan ia atau Subarkah.


"Inna Robbaka labil mirshod, Allah akan selalu mengawasimu Patimah ....."


Besok paginya, ia menyuruh Bi Isah menyusul Mang Amir, sopir lepas yang biasa dipake mendiang suaminya untuk membawa mobilnya. Ia sendiri baru memasang sepatu lars setinggi betis yang seminggu sebelumnya dibelikan oleh Tina, anak sambung dari mendiang suaminya. Serasi dengan celana jeans biru lusuh yang dikenakannya, kemejanya putih dengan krah dileher seperti atlet berkuda, sementara sebelum kerudungnya dipakai, rambutnya diselimuti kaus katun yang menyerap keringat, setelah itu ia bercermin sebentar, menarik-narik kemejanya yang sedikit melibihi paha, sedang kacamata kunig kehitaman seperti biasa, dijepitkan diatas kepala. Iapun tersenyum puas.


"Nih kuncinya mobinya Bi Isah, kasih ke Mang Amir"


Setelah Bi Isah menerima kunci, matanya melotot melihat penampilan Patimah. Takjub, tidak pernah menyangka, makin kesini, majikannya semakin cantik saja.


"Ayo Bi, bilang panaskan dulu mobilnya,, terus aku minta tolong lagi, buatkan teh manis ,"


Bi Isah pergi setengah berlari, setelah menyerahkan kunci, ia ke dapur membuat teh manis hangat yang langsung diminum majikannya beberapa teguk. Lalu setelah mengucapkan salam, berjalan keluar.


"Kaya, cantik, santun, ngajinya pinter, sempurnalah ia jadi wanita" Bisik hati Bi Isah, untuk yang sekian puluh kali, memuji Patimah, majikannya.


Sementara itu Patimah sudah duduk di jok tengah, sambil membuka-buka lampiran kerja sama dirinya dengan perusahaan Subarkah, yang kata notaris harus dicek, lokasi maupun pembukuan, terutama tentang volume pembelian dan penjualan, sehingga ketahuan laba perakhir bulan.


"Mang kita ke ujung dulu perkebunan, saya mau lihat dari sana dulu, pulangnya pelan saja."


Patimah memberi instruksi pada sopirnya, yang saat itu langsung mengiyakan.


Diujung perkebunan ia memandang hampar hijau kebun sayuran dan buah buahan, setelah mencatat beberapa hal yang diperlukan, ia naik lagi kendaraan, pelan hingga masuk dan berhenti didepan kantor Subarkah.


Saat ia turun, lelaki dan perempuan yang bekerja di tempat sortiran, terkagum-kagum melihat penampilan Patimah yang langsung menyalami mereka, menyapa mereka dengan santun, lalu mengajak Mang Amir naik duluan, diikuti ia dari belakang. Sengaja ia ajak Mang Amir, agar pembicaraan dengan Subarkah terbatas bicara soal pekerjaan., tidak melebar kemana-mana, tidak memberi peluang berdekatan apalagi bersentuhan, karena hanya itu satu-satunya cara untuk terhindar dari alpa dosa yang mungkin sewaktu-waktu bisa terjadi lagi. Bagaimanapun Patimah menyadari, ia bukan malaikat yang tidak pernah berbuat salah. Tapi ia manusia, kalau lalai menjaga nafsunya, kemungkinan terjerumus itu tetap saja ada.


* BERSAMBUNG*

__ADS_1


__ADS_2