PATIMAH SAJA

PATIMAH SAJA
BAB 9


__ADS_3

Sepanjang jalan, Nenti uring-uringan, karena telphonnya tida diangkat, begitu juga sms dan whats ap juga tidak dibalas, padahal pernikahannya dengan Subarkah, kurang dari sebulan lagi. Ia ingin Foto pra weddingnya segera dibuat untuk disertakan dalam kartu undangan.


Selain itu, banyak yang harus dibicarakan, seperti siapa-siapa saja yang harus diundang, artis siapa yang akan didatangkan, gedung, tata rias, art organizer dan yang lainnya. Subarkah calon suaminya malah tidak jelas kabar beritanya, terlampau fokus dengan proyeknya di desa.


"Proyek apaan ? Kalau mau jadi petani, ngapain sekolah jauh-jauh ke Thailand? Orang buta huruf aja bisa kalau cuman mau gituan ?"


Gerutunya saat ia sudah masuk ke jalan desa yang belum diaspal.


"Coba, jalannya aja begini, aneh kok bisa kerasan disini berbulan-bulan ? Gimana kalau aku sudah jadi istrinya? Gak kebayang, belanja kemana, salon yang bagus dimana ? "


Tak henti-henti ia ngomel dan baru berhenti setelah tiba ditujuan, pas kebetulan tidak jauh dari tempat itu sedang turun pupuk kandang yang baunya bukan kepalang bagi orang yang yang hidungnya tidak biasa membaui kotoran binatang, seperti Nenti yang perutnya langsung mual-mual.


Ia tengok rumah kecil tempat Subarkah tinggal, tapi kosong tak menemukan siapa-siapa. Lalu ia berjalan cukup jauh ke gedung tempat sortiran, juga tidak melihat Subarkah disana. Hanya dua tiga perempuan sedang memilah-milah sayuran.


"Bu, lihat Subarkah gak ? "


Tanpa berucap salam, atau basa-basi, Nenti bertanya pada salah seorang perempuan disana. Yang ditanya sedikit kaget dengan orang yang bertanya seperti itu.


"Pak Subarkah bos muda, Neng ?"


Tapi akhirnya si perempuan menjawab, sambil melihat pakaian yang dikenakan Nenti, baju terusan sebatas paha, dengan payu dara menyembul keluar.


"Memangnya ada berapa Subarkah disini, bu ?"


Nenti balik bertanya pada perempuan itu. Matanya sedikit melotot, judes dan arogan.


Sementara si perempuan hanya mengacungkan telunjuk ke atas bangunan sebentuk ajungan yang berfungsi sebagai kantor bos mudanya itu. Nenti mengikuti arah telunjuk itu, kelihatan Subarkah berdiri dijendela yang sengaja dibiarkan terbuka.


Nenti langsung menuju kesana, menaiki tangga, tanpa berucap walau sekata apalagi sekedar berucap terima kasih.


Setibanya disana, Nenti langsung memeluk Subarkah yang mundur ke belakang beberapa


langkah. Ia jengah dengan ibu-ibu pekerjanya


yang semuanya menatap ke arahnya.


"Hei, apa-apaan ini ?"


Subarkah coba melepas pelukan Nenti, lalu duduk dikursi kerjanya dengan perasaan malu.


"Nen, ini kampung religi, tak pantas berpelukan seperti tadi. Gak umum, perbuatan tercela ! "


Subarkah langsung berkata begitu, agak keras, sementara Nenti pura-pura tak mendengar, ia duduk di meja kerja, menghadap ke Subarkah yang serba salah melihat kaki Nenti yang ngangkang, pahanya terbuka hingga kedalam, pamer ****** ***** warna hitam yang dikenakannya.


"Abang ini gimana ? Pernikahan kurang dari sebulan, tapi abang cuek-cuek saja ?"

__ADS_1


"Sebulan ? Apa gak salah dengar ?"


"Salah gimana ? Itu kan rencana setahun lalu, hasil pembicaraan kedua orang kita"


"Kamu kesini, ngomong dulu gak sama papi mamiku ?"


"Ngapain harus ngomong, emang aku anak kecil ?"


"Ya harusnya ngomong dulu " Subarkah berdiri, matanya memandang ke sekitar, ke kebun pepaya yang baru kemarin ditanam. Setelah itu ia menatap Nenti.


"Harusnya kamu ngomong dulu pada orang tua kita, biar kamu tau, pernikahan kita diundur tahun depan !"


Nenti melohok, alis tatoonya nengernyit, kecewa dan tidak percaya.


"Kenapa harus diundur? Kita kan gak ada masalah apapun sehingga harus mengulur lagi waktu, cuman untuk menikah ?"


"Cuman katamu ? Pernikahan itu peristiwa besar, Nenti ! Suci, sakral, tonggak perubahan hidup kita menuju hari depan. Kok kamu bilang cuman ?"


Subarkah gusar mendengar ucapan Nenti yang menggampangkan pernikahan


"Lagipula, aku tidak akan menikah sebelum lahan luas ini selesai ditanam. Setelah modal pembelian infrastruktur ini selesai dikembalikan pada papi dan mami." Subarkan meneruskan ucapannya yang tadi terhenti sebentar. Sementara Nenti juga tidak lagi menyela, ia keluar dari ruangan itu, langsung menuju mobilnya, dengan membawa kekecewaan, Tidak terima dengan sikap Subarkah begitu kasar meperlakukannya


"Lihat saja nanti, Subarkah apa yang bisa kulakukan." Nenti menghidupkan mobilnya, melaju menuju arah pulang.


Sementara itu, Pak Marjuki tidak biasanya menumpang ojek, menemui bekas sopirnya dulu didesa sebelah, tidak jauh dengan rumah orang tua patimah. Betapa seriusnya dia, ingin membahagiakan istri yang selama tiga tahun dinikahinya ia sia-siakan. Ia sebenarnya sudah memikirkan ini sangat lama. Sejak setahun setelah ia tinggal bersama di rumah yang dibelikan atas nama Patimah istrinya. Ia sekarang harus mengikhlaskan diri, hidupnya kedepan akan berubah, entah bagaimana ia tak lagi ingin memikirkannya


"Seperti istri yang bermanfaat bagi suami berdasarkan kodratnya sebagai perempuan, mengurus rumah, mencuci, menyiapkan makan dan yang lainnya serta berdandan dirumah untuk menyenangkan suami juga "


Ya, yang bermanfaat untuk makhluk lainnya, Terus ia berfikir, kalau ia kedudukannya sebagai suami, apa yang didapat istri darinya ?


Pak Marjuki merogoh sapu tangan dikantong celananya. Ia seka matanya yang sembab membayangkan istrinya yang sholehah, istri yang tidak pernah sekalipun menyela apa yang dikatakan suami, asal untuk kebaikan.


"Kulu ma'ruf shodaqotun, setiap kebaikan adalah shidaqoh "


"Ya Patimah sayangku, aku akan bershodaqoh untukmu. Sekali ini untumu saja." Bisik hati Pak Marjuki.


Ojek melaju dijalan yang belum diaspal, pelan, sebentar lagi sampai ditujuan.


*********************************************


Ibunya Patimah, baru saja sampai rumah, disusul suaminya kemudian. Ia bersiap menghangatkan nasi sisa tadi pagi. Sementara suaminya mandi.


Diluar terdengar ada yang memberi salam sambil mengetuk-etuk pintu. Ia langsung mematikan kompor yang baru dihidupkan, berjalan membuka pintu. Dilihatnya Pak Marjuki berdiri disana dan dijalan sepertinya tukang ojek duduk dimotornya sedang menghisap rokok


"Eh Pak Marjuki ? Waalaikum salam, ayo masuk Pak?" Ia mempersilahkan menantunya masuk.

__ADS_1


"Bapaknya sedang mandi"


Sambil berkata begitu ia pergi ke dapur, membuat teh hangat untuk tamunya, sedang suaminya baru keluar dari kamar mandi


"Siapa bu, sepertinya ada tamu ?


"Menantu kita pak, Pak Marjuki"


"Oh, ada apa ya, tidak biasanya? Sendirian atau bersama Patimah ?"


"Kelihatannya sendirian, kesininya juga tumben pake ojek. Sudah pak, dibaju hadapi itu menantu siapa tahu ada yang penting ?"


Sembari begitu, ibunya Patimah menaruh dua gelas teh hangat ke nampan, lalu membawanya ke tengah rumah, ke tempat Pak Marjuki duduk di kursi kayu seperti biasanya kalau bertamu.


"Ibu mah langsung saja, ada apa ya Bapak kesini? Barangkali ada yang mau disampaikan"


Ibunya Patimah yang mulai bertanya pada tamunya, selalu begitu karena suaminya kalau bicara agak susah, mulutnya masih sedikit menyon ke kiri. Sedangkan Pak Marjuki tidak langsung menjawab, ia membuka gulungan buku lebar yang dibungkus koran. Ternyata satu buku sertifikat tanah.


"Begini Bu Pak, tolong jangan bilang pada Patimah " Pak Marjuki diam sebentar menatap sekilas ibu dan ayah Patimah.


"Saya menghibahkan sawah pada Patimah, kurang lebih lima hektar, sawah diujung desa ini, letak pastinya besok orang yang sementara menggarapnya kesini untuk menunjukkannya pada ayah dan ibu "


Ayah dan ibu Patimah langsung terngangap mulutnya mendengar hal itu, antara percaya dengan tidak, sementara Pak Marjuki meminum minumah teh yang tadi disuguhkan oleh ibu mertuanya.


"Ini surat tanahnya. Jangan sampai Patimah tahu, saya khawatir ia marah pada saya, karena saya yakin ia tak akan mau menerimanya."


"Tapi ini benar kan, Pak ?" Ibunya Patimah memotong perkataan menantunya, saat ia menghirup lagi air teh.


"Ya benar, Bu, masa saya main-main?" Pak Marjuki tersenyum saat menjawab itu.


"Ya tapi kenapa? Dan sebanyak ini Ya Allah?"


Ibu Patimah tak henti mencecar Pak Majuki dengan pertanyaan.


"Karena ia pantas menerimanya, setelah apa yang ia lakukan pada saya selama ini. Sabar, mengurusi saya dengan telaten, tanpa mengeluh dan tidak pernah menyakiti saya dengan ucapan atau dengan perbuatan " Pak Marjuki menjelaskan, tapi setelah mengucapkan itu, raut wajahnya sedikit berubah, agak murung dan matanya berkaca-kaca


"Pak, Bu, saya ucapkan terima kasih pada Bapak dan Ibu, karena telah memberikan malaikat dalam tiga tahun terakhir hidup saya.


Ia telah mengajari banyak hal sehingga hidup saya lebih terang. Ia tidak pernah mengajari, tapi memberi contoh dari awal sejak saya menikahinya dengan melakukan segalanya dengan ikhlas."


Pak Marjuki menyentuh sudut dalam matanya dengan jari, menahan air yang tergenang disana, tapi tak tertahankan karena akhirnya mengalir disisi hidungnya. Ia menangis di depan ibu dan ayah mertuanya yang kala itu sama berurai air mata. Ia bangga memiliki anak perempuan yang kuat terhadap keyakinan agamanya, menempatkan suami jadi yang paling utama. Padahal ia tahu, ia tahu pada siapa harusnya hati anaknya bertumpu, kecuali pada lelaki yang sangat ia cintai. Subarkah, pria tampan, santun, pekerja keras dan sama dengan Patimah, sangat takut pada Tuhannya.


"Kalau begitu saya pamit, sekali lagi tolong, Patimah jangan sampai tahu dulu "


Pak Marjuki pulang dengan hati lapang, lalu ia berhenti disebuah mesjid, karena sebentar lagi adzan magrib dikumandangkan.

__ADS_1


* Masih Berlanjut *


__ADS_2